Dalam semalam banyak orang bergelimpangan tak bernyawa.
Entah virus apa yang mewabah itu, bukan hanya tenaga medis yang sibuk. Tapi seluruh manusia.
*****
Terbangun, gelap hanya terdengar tetesan air. Dingin lantainya terasa hingga ketulang.
Tertidur miring dengan tangan dan kaki yang terikat dengan plastik kencang. Mulutku tersumpal dan terlakban.
Ingatan ku mulai memutar kejadian sebelumnya. Aku sedang diburu, dan waktu sedang menyelinap ke tempat musuh, aku tertangkap, ya disini lah aku sekarang.
Mendudukan diriku susah payah. Untung mereka tak melacak softlens bening yang aku pakai.
Softlens canggih. Seperti layaknya otak yang mengendalikan tubuh bergerak dengan cepat, soflens ini juga tersambung dengan otak.
Penemuan yang membuatku dikejar para brengsek itu.
Tenang, aku sudah mengirim dataku pada pusat.
"Hi Camy, lokasimu berada ditengah hutan belantara" Suara terdengar dari chip yang tertanam di telinga.
(Mulutku tersumpal bodoh!)
Aku mengirimkannya teks.
"Mulut kau disumpal? Manusia mana yang berani denganmu Camy? Lagian bisa-bisanya kau diculik!"
Tawa mengelegar, Wina Bronya, Psikopat cantik, julukannya, dia tak segan-segan menghabisi siapa saja yang menghalangi jalannya. 《jangan lupa baca cerpenku Psikopat cantik, cuma 5 kalimat ja》
(Tutup mulutmu sialan! Cepat kirim Pedro padaku!)
"Tetap ya walau tersumpal pun, kau tetaplah kau, Cameroon Aldy. Pedro sudah sedari tadi meluncur, sebentar lagi mungkin ia sampai"
Aku memutar bola mata malas.
Ada jendela seukuran telapak tangan berteralis.
(Aku mendengar decitan engsel robot bergerak. Itu pasti Pedro)
"Okey kabari aku kal... sialan,wanita itu memutus panggilannya" Wina dengan kasar mengambil ramennya kemudian melanjutkan makan dengan kesal.
(Pedro kirim Bluster padaku)
(Baik Madam)
Masuk sebuah robot dengan ukuran lalat terbang menghampiriku.
Cklek!
(Diam ditempatmu Blus!)
Robot itu hinggap di lampu.
Seorang dengan baju serba hitam masuk. Ia membawa senjata laras panjang, juga membawa sebaki makanan.
"Ini makan!" Lelaki itu melemparkan bakinya pelan kearahku. Kemudian melepas sumpalan pada mulutku, dan ia memotong ikatan pada tanganku. Aku menatapnya tajam.
"Makan!" Perintahnya. Aku melihat roti isi dengan apel. Aku menggerutkan dahi.
Ia memandangku, "Apa? Kurang?"
Aku hanya menggeleng. "Makan!" Perintahnya lagi.
"Mana airnya" tanyaku lemah. Ia melemparkan seplastik air padaku. Aku mulai memakan makanan itu.
Ia meninggalkanku setelah aku menghabiskan semuanya. Ia hanya mengikat tanganku tak menyumpal mulutku lagi.
Ia mengikat tanganku didepan.
(Aktifkan pemindai)
Softlensku memindainya, menembus tembok ruangan. Aku bisa melihat ada beberapa penjaga disini dan bukan hanya aku tawanan disini. Ada beberapa dilantai ini.
(Blus, kembalilah ke Pedro)
Lalat itu melewatiku dengan kencang. Setelah ia membantuku membuka ikatan di tanganku.
Aku melepaskan ikatan kakiku dengan laser pada kuku palsuku.
"Navigasi active!" Perintahku. Dengan begini aku tak akan lagi repot.
Kubuat lubang seukuran tubuhku menggunakan laser kukuku, kubiarkan beberapa saat.
(Pedro tunggu aku ditempat aman)
"Hide" seluruh tubuhku menghilang. Aku tersenyum sumir. Jumawa. Penemuan baruku sangat memuaskan. Untuk saat ini.
Klek klek klek klek
"No. 581 KABUR!" Teriakkannya saat tak melihatku dan malah menemukan lubang seukuran tubuh, penjaga itu bergegas membuang nampan makanan yang isinya seperti biasa, roti lapis dan apel.
Ah mereka menamaiku seperti nomor yang ada dibaju rumah sakit ini, apa tadi, 581. Ck!
Apel itu mengelinding kedekat kakiku. Kuambil. Menggosokkan ke bajuku, kumakan. Haus.
Aku berjalan keluar. Banyak pasukan yang berlalu-lalang atas hilangnya diriku, kulewati lorong dengan santai.
Tepat dilorong depan, sebelah kiri. Ada jendela kaca besar yang mengusikku, aku mendekat, melihat, sebuah ruangan yang penuh alat medis. Kubuang sisa apel pada bak sampah disebelahku.
Apa sebenarnya tempat ini, disebelah kananku, juga ada jendela kaca besar. Aku melihat, kebawah, Aula besar dengan banyak orang yang sibuk, ntah melakukan apa. Mereka berpakaian serba putih rapi. puluhan ribu, mungkin. apa mereka semua peneliti?
Bertolak belakang sekali dengan pasukan bersenjata yang serba hitam disini. Tempat apa ini sebenarnya?
Bukannya kata Amber Spaldin. si Putri Es 《baca cerpenku yang putri es guys》 tempat ini tempat menyekap beberapa ilmuwan, juga laboratorium. lalu mereka mengerjakan apa? orang sebanyak itu.
"581, kau tak akan bisa kabur dari kami. Cepat! Serahkan dirimu"
Sial! Kenapa bisa mereka tahu? Aku berlari menuju pintu didepanku. Hanya ini satu-satunya pintu, mau tak mau aku perlu Pedro.
"Mau kemana kau, itu bukan pintu keluar hei 581" Ia tersenyum, dengan beberapa orang disana yang juga ikut memantau.
[Di dalam ruang pemantauan]
"Dia sangat jenius ternyata" salah seorang disana.
"Apa aku bilang dia harusnya tak kita biarkan keluar dari sini, Dia aset yang berharga juga berbahaya" Celetuk seorang paruh baya menuju uzur.
[Kembali ke Camy]
"Katakan dimana penawar itu" Suara dari speaker.
Aku menulis pada lembaran yang ada didepanku.
"KALIAN YANG MENYEBARKAN VIRUSNYA, KALIAN SENDIRI YANG KELABAKAN DAN MEMINTA PENAWAR PADAKU, MENGELIKAN!"
Aku memperlihatkan tulisanku pada cctv.
Aku menuliskan lagi di kertas yang lain.
"KALAU AKU TAHU PUN PENAWARNYA AKU TAK AKAN BERI PADA KALIAN!"
(Pedro lubangi area yang aku kirimkan segera)
Sudut lirikan kiriku melihat laser Pedro. Aku hanya perlu mengulur waktu.
"581 Berani sekali bermain-main dengan kami" Suara geraman dari speaker.
"Camy kau lupa Hide the Heat, Sayang" Wina mengintrupsiku.
Ah Bodoh. Hide the Heat Active!
(Thanks Win)
"Jangan belagak bodoh kau 581, kami tahu kau punya formula penawar itu"
"Berikan pada kami! Sekarang juga!" Bentaknya keras.
"Atau aku hanguskan saja, rumah mungilmu beserta keluargamu!" Ancamannya.
"OKAY, AKAN AKU BERIKAN!" Ck! 50 persen lagi.
Aku berjalan kedekat pasukan yang sengaja ditempatkan disitu untuk menjagaku. Bersembunyi dibalik tubuhnya mencoba mengecoh si ketua brengs3k.
Perlu beberapa saat untuk menghilangkan suhu tubuhku. Aku memantau pada jam di tanganku.
"Oh Ayolah 581 jangan mengulur waktu!"
"KAU TAK SABARAN SEKALI" pada kertas itu.
aku menulis kan sesuatu di kertas. lalu meletakkannya lagi.
"SUDAH! SILAHKAN AMBIL" kertasku.
[Didalam ruangan pemantauan]
"Kau kesanalah" merasa tak didengar.
Ia mengedikkan dagu ke bawahannya. Yang hanya menggangguk.
[Kembali ke tempat Camy]
Tiba-tiba masuklah seorang pasukan hitam, mengambil kertas yang aku berikan.
"Pergantian Shif. West 9. Silakan istirahat"
Pasukan itu meninggalkan tempatnya. Digantikan dengan seorang entah siapa ini. Meneliti apa yang ku tulis.
Sepertinya Hide the Heat sudah bekerja. Aku menyungging senyumku.
[Di dalam ruang pemantauan]
"SIAL! 581 HILANG! CEPAT CARI!" Teriakkan perintah dari Lamorna. Ketua divisi Blueish yang terdengar juga dari speaker.
"Bagaimana?" Tanya Lamorna pada bawahannya yang mengambil secarik kertas tulis tangan Camy.
"Nyonya, yang ditulis disini, adalah campuran larutan isotonik" Terang bawahannya takut-takut.
"Sialan! Beraninya dia macam-macam denganku! CEPAT CARI SAMPAI DAPAT!" bawahannya tadi dengan segera berjalan cepat, memerintahkan anak buahnya untuk mencari 581 alias Camy.
Lamorna mengebrak mejanya. "Robet, lenyapkan keluarganya, bakar habis rumahnya, berani sekali wanita itu melawanku!" Robet mengangguk
"Siap Nyonya" kemudian beranjak dari tempatnya.
[Balik ke tempat Camy]
Sebelumnya aku meletakkan penawar yang mereka inginkan bentuknya seperti krikil, Memang sengaja, kuletakkan dibeberapa titik, ia akan bekerja dengan sendirinya. aku menyelinap masuk keruangan sebelah, tempat Pedro membuat lubang.
BRAK! KRAK!
Aku aman bersama Pedro, sekarang, ah leganya. Kembali aku memantau dengan cctv yang ada dalam Pedro.
Pedro adalah kendaraan canggih dengan kepintaran komputernya tak perlu diragukan.
"Pedro bawa aku naik. Tapi tetap dalam mode Hide."
"Baik Madam"
Pedro membawaku naik. Aku menulis pada kertas. menempelkannya pada kaca jendela. Jendela yang ada pada ruangan pemantau.
"HAI LAMORNA! KAU PIKIR KAU BISA MENGENDALIKANKU!
"AKU SUDAH MENYEBARKAN VIRUS DALAM KERAJAAN KECILMU ITU"
"NIKMATI"
Ku intip sedikit sebelum mengetuk kaca, lantai dimana Lamorna melakukan kendalinya.
Ku ketuk. Tapi ternyata Virus yang ku sebarkan telah bereaksi pada semua orang di gedung itu.
"Selamat Tidur manis. Mimpi indah"
Ia melihat semua orang tergeletak. Aku memastikan lagi apa virus penawar sudah menyeluruh tersebar.
ku renggangkan tubuhku,
"Ah lelahnya" kemudian duduk dikursi empuk yang Pedro sediakan.
"Hei Pedro selimuti bangunan ini dengan Awan Roksy"
"Baik Madam"
Pedro mengeluarkan asap tebal yamg menyelimuti bangunan yang ada disana.
"Ya selamat berjumpa setahun atau dua tahun lagi."
Didalam Pedro, aku melihat banyaknya gedung berselimut Awan. Ini adalah gedung terakhir.
Ya namaku Cameroon Gladys. Biasa di panggil Camy, Aku adalah ilmuwan yang menciptakan virus mematikan itu.
Kekacauan yang Ku timbulkan dengan menjual virus itu pada perusahan Black Sea. Yang ternyata penjahat.
Membuatku harus susah payah, menemukan penawarnya. Dan sekalian ku tambahkan beberapa formula menghilangkan ingatan, bagi para mereka yang tamak.
Ya perlu satu hingga dua tahun prosesnya. Kerja Awan Roksy itu, menyelimuti gedung seperti lemari es. Ia akan mengatur suhu yang sesuai, agar tubuh dalam cangkupannya, hidup dan tak rusak.
"Selamat datang Camy" Wina menyambut. Saat Pedro mendarat di dalam gedung laboratorium Drakhole rancanganku.
"Bagaimana akhirnya bisa menyelesaikan kebodohanmu" Sarkas Wina.
"Membuat Pandemi menyebar luas dan membuat kiamat bagi dunia" Aku memijat pelipisku.
Penyesalan. Yang terlihat pada mataku. Wina merangkulku.
"Setidaknya kau bisa mengendalikannya" Ucapnya lagi. ia membawaku masuk kedalam. Suara tepuk tangan bergemuruh diruangan yang dipenuhi dengan komputer-komputer canggih.
"Selamat Madam"
"Selamat Camy"
"Hei tukang bikin rusuh! Selamat"
Ternyata para sahabatku berkumpul disana. merekalah yang membantuku memperbaiki keadaan karna kecerobohan yang kulakuakan membuat dunia hancur dalam semalam, akibat apa yang ku ciptakan dipergunakan dengan salah.
Ketamakan manusia yang membuatnya merasakan sepeti ini. Penyesalan.
"OKE GUYS, TERIMA KASIH! TAPI PERJALANAN KITA MASIH PANJANG, SETAHUN, DUA TAHUN KEDEPAN MOHON BANTUANNYA." Suaraku keras dan lantang.
Ya aku tak tahu kedepannya bagaimana. aku menggunakan pada seluruh dunia penawar jangka panjang. Sedangkan jangka pendek aku gunakan untukku dan para teamku.
Ini juga masih tahap percobaan. Doakan semuannya kembali seperti sedia kala.