'Kaaak, kita dapat undangan, gratis lagi, horee", teriak Anya.
"Ada apa sih Dek, siang-siang bolong begini teriak-teriak, udahlah panas ditambah lagi dengan polusi suara, aduh telingaku", jawab Ardi.
Walaupun ia sudah terbiasa dengan suara cempreng istrinya itu, tetap saja kalau mendengarnya di saat cuaca panas seperti membuat mood nya menjadi buruk.
"Kak, kita dapat undangan honeymoon gratis, nih tiketnya, tadi Kak Nita datang, memberikan undangan plus tiketnya, kita akan tinggal di sebuah hotel mewah secara gratis selama tiga malam, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, asik ga tuh", celoteh Anya lagi.
"Kok bisa, jangan-jangan itu tipuan", Ardi menjawab sambil memperhatikan tiket dan juga undangan itu.
"Tipuan dari mana?, Bosnya Kak Nita sendiri yang memberikannya untuk Kak Nita kok", melirik ke arah suaminya yang dari tadi sibuk membolak-balik undangan itu.
"Ya udah, malam ini kita siap-siap", ia ga enak juga bilang tidak, setelah menikah ia dan isterinya hanya diam di rumah saja, uangnya habis untuk biaya menikah, ia bukanlah tipe laki-laki yang suka berhutang, daripada berhutang ia lebih suka memakai uang tabungannya. Biarlah habis, yang penting ia tidak berhutang.
"Terima kasih ya, Kak", senyum manis mengembang di pipinya.
"Ga dapat hadiah nih", Ardi menggoda istrinya.
"Ga ada, Kak Ardi bau", dengan santainya ia meninggalkan suaminya dalam keadaan nyengir kuda.
"Tidak usah bawa baju banyak-banyak Dek, kita bukan mau pindah rumah", teriak Ardi.
"Tenang Kak, bawa bajunya dikit kok, peralatan perangnya yang banyak", teriak istrinya lagi.
"Aduh kupingku, sepertinya aku bakalan jadi pelanggan tetap Dokter THT nih", gerutunya.
"Anya dengar lho Kak", teriak Anya lagi.
"Luar biasa Istriku ini, bukan hanya suaranya saja, pendengarannya juga luar biasa", kata Ardi sambil mengelus dada.
"Nah gitu dong, yang sadar kalau sudah jadi suami", mendekati Ardi sambil menyalakan tv.
"Sabar Anya, yang sabar bukan sadar", Ardi membenarkan perkataan istrinya.
"Nah itu tau", seenaknya saja menjawab perkataan suaminya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tv.
"Baju-baju Kakak juga sudah Anya siapkan semuanya, besok tinggal berangkat", ujarnya lagi.
"Terima kasih ya Istriku, sekarang ayo tidur", Ardi menarik tangan Anya.
"Kakak aja duluan, Anya mau menulis untuk oleh-oleh apa aja yang harus di beli", jawabnya dengan ogah.
"Ya udah, awas kalau besok Kakak bangunin, kamu ga bangun-bangun, Kakak siram kamu", ancam Ardi.
"Biar, Anya sekalian mandi, yang repot kan Kakak juga harus jemur kasur", jawabnya sambil nyengir.
Ia hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan istrinya ini, dari pertama kali berpacaran ia tidak pernah menang menghadapi wanita yang sudah mengobrak-abrik isi hatinya ini. Anya adalah wanita yang bertindak apa adanya, sederhana dan bisa di bilang pintar. Terutama pintar menjawab perkataannya. Tapi disitulah keunikannya.
Keesokan harinya mereka berangkat ke tempat yang dituju, sepanjang perjalanan Anya bersenandung dengan gembira, Ardi tersenyum.
Sesampainya di hotel, mereka berdua terkagum-kagum melihat interior hotel, sampai-sampai keduanya tidak menyadari bahwa mulut keduanya terbuka lebar, mereka disambut dengan ramah layaknya tamu kehormatan.
Setelah sampai di kamar hotel, Anya melompat dengan gembira seperti anak kecil. Ardi memandangnya dengan gemas. Keduanya berbaring di tempat tidur. Tanpa mereka sadari, mereka tertidur dengan lelap, mungkin hal itu disebabkan kasur yang empuk dan udara di ruangan itu terasa sejuk.
Sekitar jam satu malam mereka terbangun. Anya yang terbangun duluan, membangunkan Ardi.
"Kak, bangun udah malam, Anya lapar", sambil mengguncangkan tubuh suaminya.
"Apa sih Anya", Ardi bangun dengan malas.
"Kak, tatap mata saya, saya lapar", ujarnya lagi.
"Dasar tukang hipnotis, ya, ya, Kakak bangun nih", kata Ardi, (perkataan siapa lagi yang ia tiru) batin Ardi.
"Kamu kan bisa pesan makanan lewat telpon, Anya", ujarnya lagi.
"Anya lagi manja", jawab Anya.
"Awas kamu ya", Ardi kemudian mengangkat telpon.
"Eh, Anya, telponnya mati", Ardi memeriksa kabelnya, ternyata tidak ada masalah.
"Yang bener kak?", Anya langsung bangun dan ikutan memeriksa telpon itu.
"Ayo kita ke restoran yang ada di hotel ini aja Kak, Anya beneran lapar nih", ia menarik tangan suaminya keluar kamar.
Begitu mereka melangkahkan kaki keluar kamar, suasana sepi menyambut mereka. Anya dan Ardi heran, ketika mereka sampai di lobi hotel mereka mendapati tidak ada siapa-siapa di tempat itu.
Anya mencubit tangannya dan berteriak aduh. melihat hal itu ia mengerenyitkan keningnya, Anya lalu mengatakan bahwa ia hanya memastikan ini bukan mimpi.
Mereka menuju ke restoran yang berada di dalam hotel. Di sana sama saja, tidak ada tanda-tanda bahwa di tempat itu ada orang yang makan.
Anya memeriksa bagian dapur, ternyata sama saja, dapur itu bersih seakan tidak pernah dipakai. Makanan pun tidak ada.
Ardi lalu mengajak Anya keluar hotel, tapi pintu keluar hotel juga tertutup dan anehnya lagi seperti di kunci dari luar. Mereka berdua terduduk lemas. Ardi lalu mengambil sebuah pot dan dilemparkan ke pintu hotel yang terbuat dari kaca tetap saja pintu itu tidak pecah malah pot itu yang pecah.
Anya terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja ia berteriak dan berkata, "Anybody home!". Pintu hotel itu pun bergetar.
Melihat hal itu mata Anya bersinar, ia serasa menemukan mainan baru. Ia mengajak suaminya untuk mengambil koper di kamar hotel, dan membawanya ke depan pintu masuk hotel.
Setelah sampai didepan pintu hotel, ia menyuruh suaminya berteriak. Tapi tidak terjadi apa-apa pada pintu hotel itu. Ia lalu meneriakkan sebuah kata dengan suara cemprengnya itu," Wahai laki-laki yang bernama Ardiansyah, Aku mencintaimuuu".
Praang, pintu hotel yang terbuat dari kaca itu pun hancur berantakan. Dengan cepat mereka keluar dari hotel dengan lega.
Ardi hanya bengong memandang wajah istrinya dan berkata", mengapa ketika dirimu mengucapkan kata yang semanis itu kacanya malah pecah?".
"Hehehe, kekuatan mata batin", jawab Anya sambil tersenyum manis.
"Alamak, ga kuat aku", kata Ardi sambil memegang dadanya.
Ketika mereka melihat keadaan pintu hotel itu, mereka terkejut melihat pintu itu tidak rusak sedikitpun. Mereka juga melihat sepasang suami istri masuk kedalam hotel tersebut.
TAMAT