"Kamu manis kayak coklat. Aku suka banget sama coklat!"
***
“Viola, di loker lo ada coklat lagi gak? Gue mau dong..”
Gadis yang dipanggil Viola itu menoleh ke kiri, melihat perempuan berambut hitam sebahu yang tak lain adalah teman sebangku nya, Silla.
“Gue gak tau juga sih, seharian ini belum ada cek loker. Coba aja lo cek sana, kalau ada ya ambil aja."
“Vi, masa lo gak kepo sih siapa yang selalu simpan coklat di loker lo. Itu loker pribadi lo, masa orang lain punya kunci nya sih?”
“Huft, gue gak mau mikirin itu, yang penting barang-barang gue aman. Lagian gue udah tanya sama pengurus sekolah, mereka bilang enggak tau apa-apa soalnya kunci cadangan loker gue ada sama mereka.”
Silla mengangguk-anggukan kepalanya, “Ah, bodoamat lah. Gue juga gak mau tau, yang penting gue makan coklat gratis.”
Viola melirik Silla sambil berdecak kecil, teman nya itu sangat maniak dengan coklat sementara Viola benci dengan coklat.
---
Viola dan Silla berjalan ke kantin, hari ini semua kelas bebas dari pelajaran karena semua guru sedang rapat. Kantin terlihat penuh, Viola mengedarkan tatapan nya mencari meja yang kosong. Gotcha! Ada satu meja kosong. Viola menarik Silla menuju meja tersebut. Tangan mereka bergerak hendak meraih kursi namun mereka kalah cepat.
“Sorry kak, kita duluan yang nemuin tempat ini.”
“Lo gak lihat kalau tangan gue duluan yang pegang nih kursi?”
“Tapi gue yang sampe duluan, berarti gue yang berhak duduk disini.”
“Memang lo pikir ini kantin nenek moyang lo? Semua berhak duduk disini. Cabut lo, gue mau duduk disini.”
“Vi, udahan ah. Kita ngalah aja, mendingan ke taman aja gak enak tau di lihatin banyak orang gini. Lihat tuh fans nya kak Arkan, serem.”
Viola melihat sekeliling, benar saja mereka menjadi pusat perhatian.
“Ck! Ngeselin lo jadi manusia.”
Viola dan Silla pergi meninggalkan kantin.
---
“Viola, nih coklat buat lo.”
Viola sedikit terkejut, dia baru sampai di sekolah namun sudah beberapa orang yang memberinya coklat. “Eh, ini buat apaan sih? Gue gak suka coklat."
“Gak tau, Vi. Gue cuman disuruh aja.”
Viola memandang 10 coklat di tangan nya. Dia langsung memasukkan semua coklat itu kedalam tas-nya.
Di koridor Viola berpapasan dengan Arkan, senior yang paling menyebalkan menurut Viola. “Minggir kak.”
“Lo aja yang minggir. Tuh jalanan masih luas juga.”
“Ck, kak Arkan bisa gak sih jangan nyebelin sehari aja. Gue capek tau berantem sama lo mulu.” Viola berkacak pinggang.
"Kok jadi salah gue?, kan lo sendiri yang suka marah marah gak jelas."
"Itu karena lo nyebelin!"
"Apa salah gue coba?"
"Au deh, lihat muka lo dah bikin gue jengkel."
Arkan memicingkan matanya melihat Viola, dia diam sebentar lalu berjalan melewati Viola.
“Dasar orang aneh!” Viola mendengus lalu kembali jalan menuju kelasnya.
Sampai dikelas, disana sudah ada Silla. Viola duduk disamping Silla dan langsung membuka tasnya, mengeluarkan 10 batang coklat dan menyerahkan nya pada Silla. “Widih, pagi-pagi udah banyak aja coklat lo.”
“Au tuh, sepanjang jalan gue disamperin terus dikasih coklat.”
“Kok fans lo makin menjadi ya? Berawal dari coklat diatas meja, terus ke loker sekarang nitip ke murid-murid. Lo gak nanya siapa yang ngasih?”
“Oiya, gue lupa nanya.” Viola menepuk jidad nya.
“Vi, gue nanya dong. Kenapa lo gak suka makan coklat?”
“Au deh, gue benci kata coklat. Bikin gue sakit hati.”
Viola melipat kedua tangan nya diatas meja, “Sebenernya ini salah gue sendiri yang terlalu berharap sama seseorang yang gue sendiri gak kenal dia siapa tapi dia buat janji sama gue dan hati gue yang bego ini selalu nagih janji dia.” Wajah Viola cemberut, kesal dengan dirinya sendiri.
“Hadeh, gue gak paham masalah lo apaan, sekarang yang harus kita lakukan adalah cari tau siapa yang sering ngirim lo coklat.”
“Au tuh orang bikin gue badmood aja tiap lihat coklat. Kalau dia fans gue harusnya dia tau dong kalau gue gak suka coklat.”
“Viola, lo dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah.”
Viola menoleh kepintu kelas, disana ada murid laki-laki yang berdiri menatap dirinya. “Gue?” Viola menunjuk dirinya.
“Iyalah, siapa lagi Viola di kelas ini?”
“Oh, hehehe.”
“Nanti gue kesana, makasih ya.”
---
Viola berjalan lesu menuju kantin, dia langsung duduk di samping Silla. “Lo habis ngapain disana kok lesu gitu?”
“Huft..,”
“Sial banget gue, masa pak kepsek nyuruh gue wakilin sekolah ikut olimpiade Biologi untuk kelas 10."
“Bukannya bagus ya? Lo kan memang jago nya Biologi sama Fisika dari SMP.”
“Masalahnya bukan itu,” Viola meremas rok nya menahan kesal, “Gue disuruh belajar privat sama Arkan.”
“Hahahaha”
“Jadi maksud lo, Arkan bakalan jadi guru les pribadi lo? Hahahaha..”
Viola melirik sinis Silla, “Kok lo malah ketawa sih?”
“Hehe maaf. Lagian lucu banget. Gue gak bisa bayangin gimana hari-hari lo sama Arkan nanti. Ketemu di kantin aja lo berdua kayak mau bunuh-bunuhan apalagi pas berduaan.”
“Ish! Sebel banget gue.”
“Ekhem!”
Viola dan Silla berbalik badan, mereka sedikit terkejut melihat Arkan sudah berdiri disana dengan wajah garang nya. “Puas lo berdua gosipin gue?”
“Dih, pede bener lo. Siapa juga yang gosipin lo. Huh!”
“Nanti lo pulang bareng gue, kita belajar.”
“Apa-apaan lo, gak mau! Gue gak mau di ajarin sama lo!”
“Oh yaudah, gue tinggal bilang ke kepsek terus dia kasih sanksi sama lo. Gue sih bodoamat ya, bukan hal yang penting buat gue ini.”
“Jahat banget sih lo.”
“Bodo.”
Arkan pergi dari kantin.
“Kenapa sih diantara semua senior disini cuman dia yang paling ngeselin.”
“Gue rasa enggak deh Vi, ini semua karena lo yang sensi banget sama dia. Dari awal ketemu dulu kan lo duluan yang ngibarin bendera perang sama dia.”
Viola diam, memikirkan ucapan Silla.
Teman nya itu benar, selama ini Viola sendiri lah yang bersikap sensi pada Arkan. Dia baru sadar, tapi kenapa bisa? Arkan tidak pernah mencari masalah padanya tapi dia selalu sensi melihat Arkan.
“Gue gak tau Sil, tiap gue ketemu dia bawaan nya pengen marah. Ada sesuatu dalam diri gue yang pengen meledak kalau lihat muka dia,”
“Au deh ah, kita ke kelas yuk udah mau bel.” Viola menarik tangan Silla. Yah, Silla cuman bisa pasrah menghadapi Viola yang aneh.
Seperti kebiasaan lama, Viola menemukan 5 batang coklat diatas meja nya. Dia bertanya pada teman-teman nya tapi mereka bilang tidak melihat orang yang meletakkan coklat di meja nya. Dan seperti biasanya, coklat itu di ambil Silla.
---
Viola menyerah, dia menekan egonya. Dia menerima Arkan sebagai guru les nya seminggu ini. Dan selama seminggu juga dia akan pulang bersama Arkan, sudah tiga hari berlalu dimana Arkan selalu menunggu nya didepan pintu kelasnya. Mereka belajar di perpustakaan kota.
Ini hari ke-empat dia pulang bersama Arkan tapi kali ini tidak langsung ke perpustakaan, mereka singgah ke café karena Arkan dan Viola belum makan siang. Mereka sudah duduk di meja, menunggu pesanan nya datang. Arkan sibuk dengan handphone nya, sementara Viola sibuk dengan novel romantic nya. “Arkan,” pemuda itu menatap Viola. Viola kikuk, entah kenapa tatapan Arkan kali ini membuatnya sedikit terpesona. Ingat, hanya sedikit!.
Arkan menaikkan sebelah alisnya, menatap Viola yang tak juga membuka suara. “Kalau gak penting mendingan jangan panggil gue.”
“Dih, sensi amat lo.”
“Lo kenapa?”
“Gak jadi.” Suara Viola terdengar ketus, muka nya cemberut. Arkan tidak perduli, dia kembali fokus pada handphone nya. Tapi lagi lagi Viola merusak fokusnya, “Arkan, gue mau nanya. Menurut lo ada gak sih cowok yang mau nepatin janji yang dia buat bertahun lalu?”
“Kenapa lo nanya gitu?”
“Gakpapa, cuman nanya. Gak usah dijawab, gak penting juga.”
“Maaf, mba, mas, ini pesanan nya.”
Pelayan itu meletakkan semua pesanan keatas meja, “Loh mba, saya gak pesan es krim coklat.”
“Iya mba, tadi ada orang yang pesan katanya kasih ke mba. Saya gak tau apa apa mba saya cuman nganterin pesanan aja.”
“Yaudah deh, gapapa. Makasih ya mba.”
“Huft! Coklat lagi..” – batin Viola.
Tidak ada yang bicara. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Setelah makanan nya habis, Viola menatap es krim coklat yang hampir mencair. “Dimakan kali, gak baik mubazir.”
“Gue gak suka coklat, Ar.”
“Kenapa? Coklat itu enak tau, manis.”
“Gak tau, gue udah lama gak makan coklat.”
“Cobain deh, lo pasti suka.”
“Gue gak mau.”
“Cobain dulu, kasian tau nanti es krim nya nangis,” Arkan mengambil sesendok es krim, mengarahkan nya pada mulut Viola, “Cepat buka mulut lo, pegel ini.”
Reflek, Viola membuka mulutnya, menerima suapan Arkan.
“Gimana? Enak kan?”
“Iya, kok enak banget? Kayaknya karna gue udah lama gak makan coklat deh jadi lidah gue rindu sama coklat, hehehe..."
Arkan hanya tertawa mendengar omongan Viola. Setelahnya, Viola memakan es krim coklat itu sampai habis. Acara makan pun selesai, mereka segera menuju perpustakaan untuk belajar.
Hari-hari terasa cepat berlalu, ini adalah hari terakhir Viola belajar bersama Arkan dan hari ini Arkan berniat mengajak Viola jalan-jalan, katanya untuk merefresh otak biar gak stress. Sepulang sekolah mereka berdua pergi ke danau, tidak jauh dari rumah Viola.
“Kok lo tau danau ini? Lo pernah kesini?”
“Iya, dulu. Lagian juga tempat ini paling terkenal di sekitar sini kan? Gue tau dari internet sih karena banyak yang posting tempat ini makanya gue pengen kesini lagi. Udara disini sejuk, cocok buat tenangin pikiran.”
“Oh begitu,” Viola mengangguk-anggukan kepala nya.
Mereka berdua duduk dibawah pohon rindang, menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita. Dan disini lah Viola semakin sadar kalau Arkan tidak semenyebalkan itu.
Haha, ternyata memang dia yang terlalu sensi selama ini. Tapi sekarang tidak lagi, dia mulai berteman baik dengan Arkan. Arkan membawa pengaruh besar untuk hati Viola, perlahan-lahan dia mulai melupakan hal yang membuatnya benci dengan coklat. Arkan adalah sosok baru yang mengisi hati Viola tiga hari ini meskipun masih sekedar suka.
---
Arkan, Viola dan Silla serta beberapa guru bersorak gembira sembari mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa atas kemenangan Viola hari ini. Viola berhasil meraih juara satu. “Viola selamat ya,” ucapan selamat itu tak henti-hentinya membanjiri telinga Viola.
Setelah acara selesai mereka semua kembali ke sekolah. Arkan mengajak Viola ke taman sekolah, disana sudah berdiri beberapa teman sekelasnya dan teman sekelas Arkan. Viola terkejut melihat taman sekolahnya sudah di hias sedemikian rupa, balon berbentuk hati, dan hiasan-hiasan kecil lain nya. Dia menatap Arkan yang menarik tangan nya menuju ke tengah perkumpulan itu.
Viola kembali terkejut ketika semua orang disana masing-masing memberinya sebatang coklat. Dia bingung karena Silla juga memberinya coklat, “Sil, kan biasanya lo yang ambil semua coklat kok sekarang lo ikutan ngasih gue coklat?”
“Heheh, gue cuman bantuin Arkan hari ini tapi lain kali kalo lo dapat coklat gue orang pertama yang bakalan ambil.” Silla mengedipkan sebelah matanya lalu menjauhi Viola.
Viola kembali menatap Arkan yang sekarang sudah memegang buket coklat dan balon berbentuk hati.
“Arkan, ini maksudnya apaan sih?”
Jantung Viola berdetak lebih cepat sekarang ketika Arkan tiba-tiba berlutut didepan nya. “Arkan bangun, lo ngapain sih?!”
“Viola, lo mau kan jadi pacar gue?”
“Arkan jangan bercanda deh, gue gak suka ya.”
“Gue gak bercanda, gue serius. Gue udah lama cinta sama lo meskipun selama ini gue cuek sama lo, hehe..”
“TERIMA TERIMA TERIMA TERIMA”
“Udah Vi terima aja. Kalian cocok kok.”
“Iya Viola terima aja. Lo kan kemaren curhat sama gue kalau lo mulai suka sama Arkan. Haha..”
“Sillaaaa”
“Vi, jawab dong. Pegel nih gue berlutut gini.”
“Siapa suruh lo berlutut, berdiri cepat. Baru gue jawab.”
Arkan langsung berdiri, menyerahkan buket coklat dan balon. “Kalian kenapa sih ngasih gue coklat? Gue bosen tau hampir setahun sekolah disini dikasih coklat mulu.”
“Karena kamu manis kayak coklat. Aku suka banget sama coklat!”
Viola melotot mendengar kalimat itu.
#Flashback
“Kamu manis kayak coklat. Aku suka banget sama coklat!”
Viola kecil tertawa sembari memakan coklatnya. Dua anak kecil berbeda usia itu duduk ditaman komplek rumah mereka, “Aku juga suka sama coklat.”
“Kita sama sama suka coklat, berarti kita jodoh!”
“Aku aja enggak kenal kamu”
“Kamu panggil aku pangeran coklat, dan kamu puteri coklat. Kalau udah besar nanti kita akan menikah dan tinggal di istana coklat. Kamu suka?”
“Iya, aku suka! Tapi kamu jangan bohong ya! Janji?!”
“Aku janji!” mereka membuat janji jari kelingking.
“Puteri coklat, aku harus pergi sekarang. Kamu janji ya buat nunggu aku di taman ini, aku pasti datang buat jemput kamu.”
“Iya, aku pasti tungguin kamu.”
Dua menit mereka saling melempar senyum lalu anak laki-laki yang lebih tua dua tahun dari Viola itu mencium bibir mungil Viola. “Puteri coklat, sekarang kita sudah menikah. Kamu gak boleh menikah sama orang lain.”
“Iya.”
“Aku pergi dulu ya, sampai ketemu lagi.”
#Flashback off.
“Kamu udah ingat sekarang?”
Viola tersadar dari lamunan nya, “Kamu..”
“Iya, aku pangeran coklat. Suami kamu,hehehe..”
BUG!
Viola meninju lengan Arkan, berkali kali. “LO JAHAT!”
“Maafin gue Vi, gue udah ninggalin lo terlalu lama.”
“Lo jahat! Gara-gara lo, gue jadi benci sama coklat.
Lo gak pernah tau kan tiap hari gue dateng ke taman nungguin lo. Bertahun-tahun gue lakuin itu, gue dateng ke taman cuman nungguin lo jemput gue.”
“Maafin gue Viola, orangtua gue bawa gue pindah ke luar Negeri. Gue gak bisa cari lo karena gue gak tau nama asli lo. Gue bisa ngenalin lo lagi karena waktu itu gue gak sengaja lihat orangtua lo di gerbang, gue masih hapal muka mereka setelah itu gue cari tau dan beneran lo itu puteri coklat gue.”
“Gue yang selama ini nerror lo pake coklat. Maafin gue udah buat lo nunggu.”
Air mata Viola meleleh, “Terus kenapa selama ini lo cuek sama gue?!”
“Maaf, gue memang cuek, hehe.” Arkan menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.
“Pantesan waktu SMP lo nolak semua cowok ternyata udah ada pujaan hati toh, dan ini juga alasan lo mendadak benci coklat yaa”
“Diem deh Silla, lagi momen romantis nih.” Viola merengut.
“Jadi, sekarang lo nerima gue? eh, gue gak butuh jawaban sih, karena lo kan dah jadi milik gue, sejak dulu dan sekarang.”
Arkan memeluk Viola. Teman-teman nya bersorak sambil bertepuk tangan.
TAMAT