"Raya ini selesaikan secepatnya" Perintah yang mulia Sugatot koso. Tidak sedikit yang memangilnya Suga. Jangan salah kaprah dia bukan anggota bi ti es. Dia akan meralat dengan tak suka, ia lebih nyaman dipanggil Koso, begitu titahnya.
"Siap Pak Koso" harus, kudu, mesti menerima dan tersenyum ramah, ingat etitut! Kata Mbok De Sri. walau dalam hati bagai lahar panas membara. Apalah terlalu hiperbola.
Selalu. Kenapa sih sukanya ngasih tugas mepet jam pulang. Kesel.
Padahal tadi disamperin katanya nanti, ditungguin sampe bosen, eh giliran siap-siap pulang, lha kok malah dikasih tumpukan bejibun, emang bangsul tuh bos dakjal satu.
Udah bener kemaren di pegang kakaknya, yang baik hati, tampan rupawan, tidak sombong, loyal dan yang pasti, tidak diktaror. Njaka Tarup. Ntah ini emaknya suka kali sama cerita dongeng nusantara.
Kuambil tumpukan durjana ini. Lalu menyelesaikan tanpa dumelan mulut tapi dumelan hati. Hahaha.
*****
"Kasur Sweet Kasur" helaku merebahkan diri, tadi setelah sampai kosan aku langsung mandi, wangi semerbak bunga setaman.
Nak gadis harus wangi sepanjang hari. Agar dekat jodoh, tutur Mbok De Sri. Kakak dari Mama.
Wejangan beliau selalu kuingat. Karena Mbok De Sri selalu memberi kami wejangan setiap kali bertemu. Iya, Kami. Aku dan para sepupu.
"Laper" ambil ponselku, scroll scroll cari diskonan. Ntahlah tak berminat.
Ah sudahlah. Aku mengabaikan perutku, nanti saja, pikirku, aku kembali berselancar didunia maya, instagram.
Melihat berita diakun gosip. Karena apa yang heboh sudah pasti jadi konten. Tak susah mencari berita baru.
Carilah diakun gosip yang terkenal. Dan kau akan tahu bagaimana keadaan dunia diluaran sana.
Saat aku melihat kegantengan Prince Mateen kok malah jadi pengen nasi goreng pak Duki di pengkolan depan.
Pernah enggak sih kalian seperti diriku yang luar binasa ini. Liat otot tangan yang nyembul aduhai, eh di otak malah pengen makan bakso super pedes pake bihun, kol, sawi dan kecambah kriuk. Duh gusti jadi ngiler.
Liat boyband bi ti es joget seksoy malah pengen tahu gejrot. Emanglah susah kalau diotak hanyalah makanan dan tidur yang mendominasi, dari pada hal yang penting.
Yuk bisa yuk! Sudah lapar ini. Mengenakan hoodie lalu turun menuju pengkolan depan. Menaikkan kupluk dan menutupi wajahku. Sebenarnya paling malas aku kalau ke nasi goreng satu ini.
Walau rasanya ciamik tapi harus melewati gang yang sepi. Kanan kirinya kebon dengan banyak pohon juga gelap milik Haji Dullah.
Biasa aku berlari kencang. Kalau tidak aku akan menunggu barengan motor. Sudah beberapa menit, aku menunggu motor lewat tapi tak ada satu pun yang terlihat.
Mana ini perut dangdutan lagi. Bah! Kau bisa Raya! Demi kemaslahat jiwa raga. Kalau busung lapar nanti siapa yang menderita!
Okeh berhitung dalam hati, aku melompat ditempat, Ancang-ancang dan Yak! Cuuuusss...
Aku melesat bagai kilat layaknya Lighting Mcqueen. Lumayan sudah pertengahan, dan...
DRUAK!
"Aaaaaaaa!" Teriakku yang langsung berbalik cepat bersembunyi di balik tiang listrik. Apapula itu?
Seonggok hitam menelungkup di jalanan.
"Toloong" kudengar gumanan lirih.
Aku menangkupkan kedua tangan didada.
"Tuhan jangan lah sekarang, lagi laper ini Tuhan"
"Aarrgh" rintihan tertahannya. Membuatku lebih beringsut di balik tiang listrik. Apa aku balik ke kosan aja.
"Tolong" lemah.
Dengan ketakutan dan was-was aku berteriak,
"Situ setan apa orang?" Tanyaku kencang.
Karna jarak kami yang lumayan jauh. Sapa pula yang mau ngedeket kan.
Aku melihatnya, tak bergerak. Waduh bahaya kalo koit, gimana? Ane gak mau jadi saksi polisi. Ngeri.
Aku mendekat. Sebelumnya aku mengambil ranting pohon. Berbekal itu aku mencoba. Menusukkan ranting ke-badan-nya. Tak ada respon. Waduh! Wasalamkah ini orang?!
Aku coba menjulurkan jariku. Kutarik lagi jariku. Ku ulurkan lagi ya begitu berulang. Takut Woy! Kalau udah jadi mayat pegimane?!
Raya kamu pemberani! Anak Haji Solihin, kamu bisa, kukuatkan tekat. Dan mencoba menoelnya.
GREB!
"AAAAAAAAAAA"
"Sssstttt..." Tangan besar membungkamku. Tuh kan! Mak... aku enggak mau tiwas Mak... Belom Kawin ini. Rancuku dalam hati.
"Tolong bawa saya kerumah sakit." Rintihan pelannya. Kepalanya yang sedari tadi menunduk pun terangkat.
"ASTAGA DRAGON DAKJAL!!" Terkejutku. Bos dakjal eike!
"BAPAK BOS KOK BISA AWUR-AWURAN BEGINI, BAPAK?"
"Berisik!" Lirih dan menusuk. Busyet, sudah tergelepar begini masih saja bisa ketus.
"Ck! Dasar" decakku kesal.
"Kalau kau mengenalku, cepat bawa aku ke rumah sakit!"
"Kau bisa menggunakan mobil kan?" Aku mengangguk.
"Ambil kuncinya di kantongku" aku terbelalak.
"Dimana pak?" Tanyaku ulang, memastikan.
Dia berdecak. "Kantong celana" katanya lirih.
Aku menelan saliva ku, serius.
Tuhan maafkan perawanmu yang berdosa ini. semoga tak menyenggol apapun.
Kumasukan tanganku kekantongnya. Dan untung langsung ketemu. Lega.
Aku melirik bosku yang melihatku malas. "Cepat!" Geramnya menahan sakit.
Aku berdirikan. Aku memapahnya, memegang perutnya yang basah. Aku melihat tanganku. Darah.
"Bapak? BAPAK BERDARAH" hebohku. Panik.
"Makanya cepat bawa saya kerumah sakit. Kamu mau dituduh membunuh saya kalau saya mati kehabisan darah disini!" Ngeri ya besti. Ya mana mau gue. Aku menggeleng.
Aku memapahnya hingga mobilnya, ku masukkan ia di kursi belakang supaya lebih efisien.
Aku duduk dibelakang kemudi. Mengkretek jari-jari tangan. Menghembuskan nafas berkali.
Namamu sekarang Raya Mcqueen! Jadi kau bisa melibas jalanan dengan mudah Mcqueen.
"Kamu bisa bawa mobil kan" Aku hanya mengangguk. Ragu. sedikit kok!
"Jangan bilang kau tak bisa menyetir?!"
Dugaannya salah, aku bisa menyetir tapi itu dulu, setelahnya aku tak pernah lagi membawa mobil. Dan ini pertama kalinya bagiku setelah 6 tahun tak menyetir.
"Bisa Bapak! Tenang saja kita akan sampai rumah sakit dengan cepat." Aku meniup kedua tanganku dan menepuknya dua kali.
Mulai mengegas kencang. Tak mau maju. Aku melirik bosku itu dari kaca spion tengah. Ia sudah berpegangan pada handel pintu atas.
"Kau lupa rem tangannya!" Lirihnya. Koso menutup matanya. Ia pasrah, ntah mati disini atau di jalan ia tak tahu.
"AHAHA HA HA HA..." kukeplak palaku. Bodohnya, mohon Raya otaknya yang bagus itu dipake! Makiku.
"Siapa kamu?"
"Jika aku tak berhutang nyawa, kamu sudah aku pecat!" Koso mengoceh dengan mata menutup menahan sakit.
aku meliriknya, lalu lebih kubenamkan wajahku dengan kupluk hoodieku. Semoga dia tak melihatku. Aku tak ingin dipecat.
*****
"Keluarga pasien Sugatot Koso" Aku yang ingin kabur, malah ditahan oleh susternya, karena aku yang mengantar maka aku penanggung jawabnya.
Aku hanya membawa dompet tapi tak membawa ponselku. Aku menunggu, ia siuman, bosku itu sudah selesai dioperasi. Ternyata lumayan parah saat dokter menjelaskannyan padaku.
Tapi sepertinya akan lama menunggu efek obat biusnya. Bodoh! Aku memukul diriku sendiri. Aku cek aja mobilnya, pasti ponsel si Bos dakjal ini ada disitu.
Aku melangkah menuju parkiran. Dan benar! Aku menelepon tangan kanan si bos dakjal ini. Pak Rasha.
Dengan sok seperti suster yang mengabarkan kalau bosnya itu ada dirumah sakit. Setelahnya aku memesan ojol dari ponsel si bos. Lalu ku letakkan ponsel si bos dibawa bantalnya.
Sip pelarian dan kabur berhasil. Aku menepuk pundakku, bangga akan kejeniusanku. Raya kamu hebat!
*****
Kehebatan dari monas! Ini didepan pintu kosanku. Koso berdiri dengan gantengnya. Kejutan yang meluluhkan lantakkan kepercayaan diriku.
"Raya kau harus bertanggung jawab!" Suara beratnya. Aku langsung menariknya masuk ke dalam kosanku.
"Bapaaakk ini hari minggu lho! Jangan bilang bapak masih pengaruh obat bius!"
"Aw!" Ku gosok kencang dahiku yang dia sentil. Tenaga kuda kali nyentilnya pedih ini.
"Sakit ya" ia mengangkat tanganku yang terus menggosok jidatku.
"Maaf ya sampe merah" ia menggosok jidatku lembut, suaranya juga ikutan lembut. Ade ape gerangan kok tetiba bos dakjal ini dimari.
Tak lama ia merengkuhku dan mencium bekas sentilannya lama. Tentu aku jadi kaku. Lha kenapose ini.
Kemaren-kemaren biasa aja. Udah tiga bulanan kan kayaknya dia keluar dari rumah sakit. Apa obatnya abis. selama itu aku kira dia tak akan mencariku.
"Kamu harus tanggung jawab."
"Aku sudah memberimu waktu tiga bulan untuk berpikir."
"Sekarang aku putuskan kamu harus menikah denganku" Telak katanya yang membuatku menganga. Barusan dia melamarku?!
"Mohon maaf sebelumnya bapak." Aku mencoba keluar dari pelukkannya.
Namun Koso, si bos sableng ini malah mengeratkan kedua tangannya dipinggangku.
"Emm bisa dilepas dulu ini bapak?" Aku menunjuk tangannya yang bertaut dipinggangku. Ia hanya menggeleng. Aku berdecak. Masih berusaha melepaskan diri.
"Saya kamu tolong, setelah jadi bulan bulanan warga, dituduh menabrak salah seorang warganya hingga masuk ICU. Lalu ada seorang warga yang membawa senjata tajam lalu menusuk saya, tapi setelah tahu saya terluka, mereka semua kabur gitu saja." jelasnya,
Dan ini pasti tentang lahan yang perusahaannya incar. Memang dekat tempat kosnya. Pemukiman padat penduduk ditengah gedung-gedung tinggi.
"Jadi Bapak ditinggalkan begitu saja, waktu itu" Koso hanya mengangguk.
"Untung waktu itu kamu lewat"
"Bapak? Saya bingung. Lalu kenapa saya harus bertanggung jawab? Tolong pencerahannya, Bapak?!" mohonku. Kenapa ini bos dakjal. Padahal kemaren adem ayem.
"Kamu penyelamat korban, walau kamu meninggalkan korban dan tak bertanggung jawab."
"Meninggalkan korban? Siapa?" Aku mengernyitkan dahi, dengan alis saling betaut heran.
"Kamu meninggalkan saya yang sedang lemah dirumah sakit sendirian. Itu tidak bertanggung jawab." Astagaaahhh... sabar Raya!
"Bapak ngarang itu bukan saya" Kelitku,
"Itu Kamu! Saya tahu," Koso menarik sudut bibirnya, yang membuatku sedikit oleng, sedikit lho ya...haha
"Kok bapak tahu itu saya?" Kenapa bisa? sudahlah berkelitpun sia-sia sepertinya, aku menunggu jawabannya.
"Kamu pulang naik apa waktu itu?"
"Ojol" pikirku, apa hubungannya, kemudian aku menepuk jidatku keras.
"Aw!" Perih. Pasti dia tahu alamat kosanku dari ponselnya.
"Kamu itu udah tahu sakit, masih aja, suka banget sih tepok-tepok jidat" Kan siapa pula yang awalnya bikin merah jidatku. Aku memajukan bibirku kesal.
Cup!
Koso mengecup bibirku.
"BAPAK!" Jeritku, Aku memukul pundaknya.
"Kenapa? bibirmu dimanyunin? Minta diciumkan" aku kesal.
Dan melihatnya mendekatkan wajahnya lagi aku buru-buru menutup bibirku dari serangannya.
Cup!
Koso mengecup tanganku yang menutupi bibirku. Nafasku berhenti. Terkejut. Juga membatu.
"Bernapas Ray" kuhembuskan napas kasar. Kulirik tajam dia yang terkekeh.
"Enggak usah sok kegantengan ya, Bapak?!" cibirku.
"Oh saya ganteng" senyum jahilnya. Aku terpaku melihat lesung pipinya yang tiba-tiba menyerangku. Manisnya.
*****
Ya kenalkan aku Raya Koso, Nyonya Sugatot Koso.
Baru dua minggu lalu. Ah malunyaaa...
Setelah dimana Mas Koso meminta pertanggung jawabanku. Sebulan yang lalu.
Seminggu kemudian ia melamarku dan ya kami menikah.
Kalian tahu ternyata, suamiku itu, cieee.. SUAMIKU! Aaaaaaaa... memanggilnya begitu saja, membuat pipiku panas.
Oke back to the topic.
Jadi suamiku itu tiga bersaudara, dia memiliki seorang adik perempuan namanya Ande Lumutia.
Dan Mas Koso, dia anak tengah, pantes songong, ternyata abcde~ F... gh~ ilove... U. Ahaha
Kakak pertamanya itu, Kak Njaka Tarup, yang pernah aku bahas dulu. Yang ganteng, charming, endesbra endesbroh... tapi Mas Kosoku lebih segalanya, ecieee... si Bos Dakjal kesayangan.
Aku pernah bertanya pada Mama mertua, kenapa menamai anaknya begitu, ternyata beliau terobsesi dengan cerita rakyat indonesia. Dan syukurlah Papa mertua tak protes dengan nama anak-anaknya itu.
Mama mertuaku itu dosen sastra indonesia. Makanya tak heran dia sesuka itu pada cerita rakyat, Dan dia sudah menyiapkan nama untuk cucunya. Alias anak-anakku nanti.
Katanya jika perempuan maka akan dinamai, Dayang Sumi. Dan jika lelaki akan dinamai Banu Bondowongso.
Dan aku hanya menatap ibu mertuaku itu pasrah. Lagian setelah di telaan namanya unik dan lucu.
Aku hanya berdoa semoga anakku ganteng dan cantik, pintar dan enggak begajulan seperti diriku. Aminkan beramai-ramai dikolom komentar guys.
Yuk bisa yuk...
Kalau begitu ini akhir ceritaku untuk saat ini, Wasalamualaikum... salam Hobah!