jam sudah menunjukkan pukul 21.00wib.waktunya aku pulang. segera ku kayuh sepeda miniku. melintasi jalanan, hingga melewati jalanan rumah komplek yang sudah sangat sepi. aku tidak takut karena sudah terbiasa. setiap hari aku melewati nya karena rumahku tepat dibelakang perumahan ini.
sebuah rumah yang bisa disebut gubuk tua.
akan tetapi tiba-tiba sebuah tongkat bisbol melayang dan menghantam roda sepedaku. otomatis lah aku langsung terjungkal.
"aduuuhhh" aku meringis kesakitan.mataku menyipit berusaha melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.
"hah"ternyata ada perkelahian. tapi tidak imbang karena 1lawan 10orang.ini mah keroyokan. aku bangkit sambil menahan sakit di badan.
" hay!!! "seruku lantang. 10 orang itu menoleh ke arah ku. salah satu dari mereka yang siap memukul korban jadi tertahan.
" mau apa kamu!!! sudah sana pergi jangan ikut campur!! "hardik salah satu dari mereka.
" gimana aku ngak ikut campur, kamu melempar tongkat bisbol sampai aku terjatuh. dan sepedaku rusak"
"apa kamu mau aku pukul juga? "
"kalo berani ayo maju" tantang ku. enak saja mengancam ku, sudah salah, ngak minta maaf malah menghardik ku.
"sudahlah bro.. cepat bereskan dia. biar cepat selesai kerjaan kita"
"ok bos"
benar saja, beberapa orang mendekati ku. ada yg bawa tongkat bisbol, ada yang megang pisau. ada juga yang bawa kayu.
aku tidak gentar, ku ambil tongkat bisbol yg tadi menghantam sepedaku. lalu aku pasang ancang-ancang. percuma aku belajar silat kalo tidak bisa melindungi diri sendiri.
secara serentak mereka menyerang ku, hiyat hiyat hiyat.. bum bum bum. dengan lugasnya aku menghindar dan menyerang. malah salah satu dari mereka ku tendang "burungnya" sampek keleyengan dia menahan sakit.
orang yang tadi menyuruh membereskan aku terlihat terhenyak melihat teman-temannya pada kesakitan.
dia pun menyuruh teman-temannya yang tersisa menyerang ku lagi.
hiyat hiyat hup hup bum bum
aku melawan lagi, mereka kalah lagi. tapi tak satupun para musuh aku lukai, aku hanya buat dia babak belur.
si pemimpin itu jadi bias mukanya karena takut. aku mendekati nya. tapi dia panik lalu memberi kode untuk kabur. semua pun pada berlarian luntang lantung.
"hm sok mau melawan ku" ucapku bangga. aku kibas kibas bajuku yang sedikit kotor.
"tolong... tolong" terdengar suara rintihan. aku menoleh ke arah si korban tadi. wahhh dia parah banget kayak ditusuk gitu.
"aduh tunggu tunggu aku cari pertokoan dulu ya" ucapku panik.
"tolong bawa aku kerumah sakit"
"mau dibawa pakek apa❓ sepedaku rusak"
laki-laki itu ingin berucap lagi tapi malah pingsan.
"aduh malah pakek acara pingsan segala" aku panik, bingung, tidak tahu harus gimana.
tapi aku harus segera menolongnya. akhirnya dengan terpaksa aku memanggul nya dipunggung ku. dan segera membawa ke klinik yang tak jauh di luar komplek.
"tolong dok... tolong Sus" aku berteriak memanggil para petugas. untung segera didengar dan beberapa petugas menyambut tubuh si Korban.
"ini kenapa mbak"
"dikeroyok orang"
"ok ok... anda tunggu disini dulu ya, kami akan segera menolongnya"
"baik"
aku membiarkan para petugas membawanya. seorang suster menghampiri ku.
"mbak tolong isi formulir ini"
"tapi saya ngak kenal dia sus"
"pakai identitas anda juga nggak apa apa"
aku mengalah. mengambil kertas dan pena dari tangan suster. dan mulai mengisi formulir.
"terimakasih mbak"
aku mengangguk.
-Dua hari berlalu sejak kejadian malam itu. aku bekerja seperti biasa sebagai OB disalah satu Mall.tiba-tiba supervisor ku memangil.
"Lita kamu dipanggil atasan disuruh menghadap"
"hah" aku terhenyak kaget
"yang benar aja pak"
"iya... aku juga nggak percaya, tapi benar nama kamu yang dipanggil LITA ANGGRAINI"
aku menggaruk kepala yang tidak gatal. mau nggak mau harus menghadap.
sesampainya diruangan yang dimaksud aku dipersilahkan duduk oleh asisten si Bos. dan si Bos tersebut duduk dikursi nya membelakangi ku.
"ada apa bapak memanggilku?? " dengan berani aku memulai bertanya.
"kamu ku pecat" jawabnya tanpa menghadap ku.
"hah??? salahku apa pak?? " aku kaget
"kamu tidak salah apa-apa"
"terus kenapa dipecat"
"karena kamu akan menjadi istriku"
"hah?? " bagai tersengat aliran listrik aku kaget bukan main.
si bos memutar kursinya. hah aku terperangah. ternyata si bos adalah orang yang aku tolong tempo hari.
Dia tersenyum tipis, tampan sekali.
"gimana?? apa kamu bersedia menikah dengan ku?? "
"t t tapi"
"tidak ada tapi-tapian... minggu depan kita akan menikah"
"mana bisa begitu pak.. kita kan.. "
"kita bisa saling mengenal setelah halal"
"pernikahan butuh perasaan pak"
"perasaan akan datang seiring waktu berjalan"
aku diam.
"aku anggap diammu sebagai jawaban bahwa kamu setuju"
hatiku berontak tapi tidak bisa mengatakan apa-apa.
pada akhirnya aku menikah dengan bos ku.