Aku bersandar disebuah peti yang luarnya terlihat cat warna putih. Disekelilingnya ramai orang berdatangan. Kebanyakan orang mengenakan pakaian bernuansa hitam. Tidak ada kebisingan, semua terlihat hening menatap peti yang berada dihadapanku.
" Yah, bangun" Teriakku dengan penuh isak tangis didepan sosok yang terbaring pucat dan tak bernyawa.
Siang itu bumi seperti berhenti memberikan kehidupan, sunyi kurasakan ditambah sesak didada. Bagaimana tidak, orang yang begitu kusayangi tiba-tiba pergi begitu saja untuk selama-lamanya. Sudah banyak air mataku yang mengiringi kepergian ayahku, kini suaraku pun semakin lama semakin menghilang dengan penuh harapan ayahku dapat kembali bangkit menghapus air mataku dan memberikan segelas air putih untuk membasahi kerongkonganku yang sudah mulai kering seperti sawah dimusim kemarau.
" Sudah nak, iklaskan ayahmu pergi! Tuhan lebih mencintai ayahmu!" Ujar bibiku sambil mengusap bahuku yang terlihat tidak berdaya seolah-olah ingin memberikan kekuatan kepadaku. Namun tidak kuhiraukan perkataan itu, semakin lama tangisku menjadi-jadi seperti orang yang kehilangan kendali.
Tiba-tiba tubuhku merasakan pelukan yang begitu tenang, namun aku belum bisa fokus terhadap sosok itu.
" Sudah kak, biarkan ayah tenang disurga bersama Sang Pencipta" Kata ibu dengan suara yang terbebani.
Kali ini kuusap air mataku dengan sehelai selendang hitam dibahuku, aku terpaku diam dihadapan ayahku. Tidak ada yang bisa mengerti perasaanku saat itu, itulah yang ada dalam pikiranku.
Namun langit mulai kehilangan cahayanya, seolah-olah memberikan sinyal bahwa ayahku siap untuk dimakamkan. Dengan rasa penuh terpaksa aku berjalan mengiringi beberapa orang mengangkat jenazah ayahku menuju tempat pemakaman. Lagi-lagi air mata membasahi pipiku. Namun dengan sekejap ibuku mengengam tanganku memberikan kekuatan. Tangan kananku gemetar menaburkan bunga segar diatas makam ayahku. Aku berharap ayahku benar-benar tenang disana walau kutahu setelah kepergiannya kami tidak akan baik-baik saja.
Setelah kepergian ayah, aku semakin sadar banyak hal yang berubah dikeluarga kami. Terutama perekenomian kami semakin hari semakin memprihatinkan. Biasanya ayah dan ibu yang bekerja kekebun, mereka selalu berkerja sama. Namun kini semuanya pekerja dikebun ibu yang ambil alih. Setiap hari ibu pergi kekebun peninggalan ayah. Dia begitu cekatan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan untuk makan kami. Panas dan hujan tidak dihiraukan, kecuali hari minggu ibu selalu pergi kekebun. Terkadang aku dan adik-adikku membantu ibu dikebun.
" Kak, ibu kekebun dulu ya" Kata ibuku dipagi hari yang masih terlihat gelap.
" Kok cepat bu, agak terang ajh" Kataku penuh kwatir.
" Ibu berangkatnya sekarang ajh, sekalian olahraga pagi" Katanya sembari melempar senyumannya
Aku anak kedua dari 4 bersaudara, ibu selalu memanggil ku dengan sebutan kakak. Mungkin karena aku anak perempuan paling besar dirumah. Aku memiliki seorang abang, dia sedang kuliah sambil bekerja diluar kota. Dia benar-benar menjadi inspirasi bagiku, dan selalu memberikan motivasi kepada kami adik-adiknya. Namun ibu cukup mengerti dengan kondisi abang disana. Dia susah payah bekerja sambil kuliah tanpa membebani siapapun itulah sebabnya ibu tidak pernah meminta bantuan kepada abang sesulit apapun kondisi keuangan ibu. Selain memiliki Abang, aku juga memiliki satu saudara laki-laki yang sedang duduk dibangku SMA dan satu lagi saudara perempuan yang sedang duduk dibangku SMP.
" Kak, ada tamu" Kata adikku tiba-tiba menghentikan aktivitas ku yang sedang menyetrika beberapa pasang pakaian sekolah.
" Siapa La?" Tanya ku penuh kebingungan
" Lala nggak tau siapa namanya kak, tapi sepertinya teman kakak."
" Yasudah, kakak minta tolong semua pakaiannya masukin kedalam lemari ya!"
" Baik kak".
" Nyusunya yang rapi ya La" Teriakku kepada adikku yang mulai pergi kedalam kamar sambil membawa pakaian yang sudah selesai aku setrika.
Aku bergegas keluar rumah dan pandanganku tertuju kepada seorang perempuan sebayaku yang sedang duduk di bangku depan teras rumah.
" Hai" Sapaku memulai pembicaraan
" Hai Citra" katanya sembari memelukku
" Aku sungguh tidak menyangka yang datang kamu" Kataku sambil tersenyum
" Cit , sorry bangat aku nggak bisa datang pas pemakaman Almarhum Om Rudi. Karena kebetulan aku lagi diluar kota mengurus pendaftaran kuliah aku"
" Nggak papa kok Ra, aku bisa mengerti"
" Are you okay?" Tanyanya sambil menatap mataku yang mulai berkaca-kaca
Aku mengangguk " Ya, aku baik-baik saja, cuman....."
" Cuman apa Cit? " Tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
" Aku nggak tau lagi, apakah aku harus melanjut kuliah atau tidak"
" Emang kenapa Cit?"
" Aku... Aku tidak ingin membebani ibuku"
" Tapi kamu berniat melanjutkan?" Tanyanya sambil mengengam kedua tanganku
Lagi-lagi aku mengangguk sambil meneteskan air mata.
" Aku mengerti kondisi keluargamu Cit, tapi aku paham kamu sangat berniat kuliah."
" Kehilangan orang yang paling kita sayangi itu sangat jauh lebih menyakitkan, bagiku tidak masalah kalau tahun ini belum bisa melanjut. Atau aku tidak bisa kuliah juga tidak masalah asal aku tidak membebani ibuku".
" Aku benar-benar turut prihatin Cit atas apa yang kamu rasakan saat ini".
" Makasih Ra" Kataku sembari memeluk sahabat ku tersebut
" Oh iya , aku baru ingat" Katanya tiba-tiba dengan nada yang agak tinggi
" Kenapa Ra?"
" Kamu bisa mencoba beasiswa Cit"
" Percuma juga Ra , karna palingan itu hanya dibiayai beberapa semester saja"
" Dengerin aku, beasiswa sekarang itu ada yang full dibiayai oleh pemerintah sampai lulus dan bahkan diberikan uang saku tiap semester"
" Kamu serius? Kamu tau infonya dari mana sih?"
" Serius dong, masa bohong sama sahabat sendiri. Aku dapat info dari anak tetanggaku, kebetulan dia juga kuliah dibantu sama beasiswa. Sekarang dia sudah semester 4 malahan.
" Aku pengen mencoba Ra" Kataku penuh kegirangan
" Kamu harus lolos dan dapat beasiswa itu Cit"
" Tapi kamu bantu aku ya! Soalnya aku tidak tau cara mendaftarnya"
" Tenang Cit, aku pasti membantu kamu sampai lolos"
" Makasih Ra"
" Okay, aku pulang dulu ya nanti kita bahas ini lagi melalui WhatsApp ajah"
" Baik Ra, hati-hati ya!"
" Siap, semangat Cit" Katanya sambil tersenyum manis
Setelah selesai makan malam, aku mendekati ibuku yang sedang menonton televisi diruang tamu.
" Bu, Citra mau ngomong sesuatu"
" Ngomong apa kak?" Tanyanya sambil mematikan televisi yang tadi menyala.
" Tapi janji ibu nggak bakalan marah sama Citra"
" Baik ibu janji, mau ngomong apa kak?" Tanya ibu mulai penasaran
" Citra berencana mau kuliah tahun ini Bu"
Ibu terdiam mendengarkan ucapanku, dari raut wajahnya aku bisa menangkap bahwa ibu sedikit bingung memberikan tanggapan kepadaku.
" Ibu tidak usah kwatir soal biaya kuliah, karena Citra berniat mau mencoba beasiswa tapi yang Citra butuhkan hanya doa dan dukungan ibu"
Dengan spontan ibu memelukku " Kak maafkan ibu belum bisa melanjutkan pendidikan kakak, tapi ibu janji akan selalu mendoakan kakak supaya mendapatkan beasiswa"
" Terimakasih bu, mendengarkan ibu menyetujui rencana Citra sudah cukup membuat Citra bangga sama ibu"
Dengan didasari niat yang begitu besar akhirnya aku memutuskan untuk mencoba beasiswa. Tidak sedikit cobaan yang aku hadapi selama mengurus berkas-berkas sebagai persyaratan pendaftaran. Ibu dan Tiara sebagai sahabatku selalu mendukungku. Itu semua membuat ku tak patah semangat. Setelah pulang dari rumah sakit, dan kantor kepala desa akhirnya segala berkas-berkas ku telah tersusun rapi dan siap untuk mendaftar beasiswa dari pemerintah.
Akhirnya aku dinyatakan lulus seleksi berkas, namun belum membuat ku tenang karena ada dua lagi tes yang harus aku lewati. Tes kedua yaitu menjawab beberapa soal ujian. Pada saat itu aku tidak bisa fokus , karena badan kurang fit. Namun kembali bangku kuliah terbayang-bayang dimataku. Kali ini aku memaksakan diri untuk yang terbaik. Aku tidak yakin dengan jawaban ku, akhirnya aku hanya bisa pasrah pada seleksi kedua.
Beberapa hari kemudian pihak kampus memberikan pengumuman melalui email. Aku sangat gembira pada saat itu tertera namaku didaftar yang berhasil lolos diseleksi tes ujian. Semangat ku kian tumbuh dan aku sangat berharap keberuntungan diberikan kepadaku. Sesuai dengan jadwal yang diberikan maka aku mengikuti seleksi ketiga yaitu tes wawancara. Mendengar kata wawancara membuat ku tidak tenang, aku takut tidak bisa menjawab segala pertanyaan dengan benar dan tepat.
Hari yang ditentukan satu persatu dari kami calon beasiswa dipanggil untuk tes wawancara. Raut wajahku semakin pucat dan tak menentu karena pada hari itu namaku tidak dipanggil. Aku menduga kalau aku ditolak, namun kuberanikan diri menghubungi pihak kampus untuk memberitahukan bahwasanya namaku belum dipanggil. Pihak kampus mengatakan bahwa ada beberapa dari kami yang belum diwawancarai dikarenakan kondisi waktu tidak mencukupi. Aku sedikit lega mendengar penjelasan tersebut.
Keesokan harinya, aku diminta pihak kampus untuk mengikuti tes wawancara. Walaupun dengan penuh persiapan, aku tetap terlihat panik pas diwawancarai oleh pihak kampus. Namun setiap pertanyaan yang diajukan kujawab dengan sejujurnya. Akhirnya beberapa menit kemudian tes wawancara selesai. Aku berharap mendapatkan pengumuman yang baik.
Hari demi hari aku sibuk memeriksa email yang masuk melalui handphone ku. Aku berharap pengumuman dari pihak kampus sudah keluar. Aku sangat bangga kepada ibu setiap hari dia selalu mendoakan ku bahkan tidak jarang tengah malam aku mendengar dia berdoa sambil menangis menyebut namaku.
Bulan Agustus tepatnya pada minggu kedua pengumuman dari pihak kampus telah disebarkan melalui email.
" Bu... Bu pengumumannya sudah keluar" Kataku berteriak
Ibu dan kedua adikku menghampiriku
" Yasudah kak, buka saja" Kata ibuku sembari menyentuh bahuku seolah-olah memberikan ketenangan bagiku.
Kutarik nafas ku perlahan-lahan kuhembuskan kembali. Aku membuka email dan mulai mencari namaku didaftar tersebut.
" Sepertinya aku belum lolos Bu" Kataku sedikit kecewa
" Masa sih? cek ulang manatau terlewatkan kak" Kata ibu memberikan harapan
" Coba aku cek kak" Kata adikku
Aku menyodorkan handphone, dengan raut wajah penuh sedih. Dia mulai mengamati dari atas sampai kebawah sambil memainkan jari telunjuknya untuk menelusuri namaku
" Kak... Kakak lolos" Katanya tiba-tiba mengagetkan
" Serius? yang mana " Tanya ku penasaran
"Ini nama kakak kan?" Tanyanya sambil menunjukkan dengan jari telunjuknya
" Ya Tuhan, Bu aku lolos" Kataku terharu
" Selamat kak, kamu harus rajin-rajin belajar" Kata ibuku sambil memelukku diiringi tangis yang penuh haru.
" Terimakasih Bu selama ini sudah mendoakan Citra"
" Ibu akan selalu mendoakan kakak, abang, Roy, dan Lala" Kata ibuku sambil memeluk kami anak-anaknya.
" Citra janji akan selalu rajin belajar, Citra tidak akan menyia-nyiakan beasiswa ini bu"
" Jangan lupa selalu berdoa juga nak!" Kata ibuku sambil memberikan senyuman penuh hangat.
SELESAI