Violeta, murid kelas 2 SMA, adalah satu-satunya yang nonis di kelasnya, tapi dia begitu tak sabar menunggu Ramadhan tiba.
Tapi apa yang dia tunggu-tunggu? Dia kan tak ikut serta dalam kegiatan Ramadhan apapun? Begitulah pertanyaan dari teman-temannya.
"Iiih, aku tuh gak sabar banget nungguin makanan-makanan yang cuma dijual pas bulan Ramadhan, kayak kolak, es goyobod, es campur..."
"Es campur mah masih ada kok yang jual walaupun bukan Ramadhan. Orang yang tinggal di sebelah rumah gue buka usaha es campur tiap hari tuh," ucap Aulya.
"Ya pokoknya makanan-makanan yang manis nan menyegarkan yang selalu dijual ketika bulan puasa gitu deh," ucap Violeta, "Duh mudah-mudahan besok puasanya! Oh hilal, cepatlah datang," Violeta memukul-mukul mejanya karena terlalu gembira.
Teman-temannya tertawa melihat tingkah Violeta.
"Tapi aku masih bingung..." Violeta bergumam.
"Bingung apanya?" tanya Afifah.
"Kenapa sih makanan manis kayak yang aku sebutkan tadi cuma dijual pas bulan puasa?" pertanyaan tersebut sudah Violeta pikirkan sejak lama, tapi dia masih belum tahu jawabannya.
"Oh, itu..." jawab Ebrahim, "jadi kita tuh berbuka dengan yang manis-manis karena makanan manis tuh dapat mengembalikan gula darah yang sempat turun selama berpuasa. Toh selama kita berpuasa, gula darah kita turun, apalagi cairan."
"Halah, sok tau lu mah," ujar Afifah.
"Idiiiih."
"Canda atuh, Him." Kamu memang benar," ucap Afifah.
"Iya dong," ucap Ebrahim.
"Aaaaaa, gak sabar, gak sabar, gak sabaaar!" Violeta berseru lagi sambil memukul-mukul meja!
"Kamu kenapa pukul-pukul meja?"
Itu bukan suara milik salah satu temannya.
Tapi guru seni budayanya! Guru tersebut sudah ada di dekat pintu kelas.
Violeta pun salah tingkah sambil berkata, "Eh, gapapa kok, pak. Cuma lagi terlalu semangat aja, hehe."
Teman-temannya pun segera berlari ke tempat duduk masing-masing ketika tahu guru seni budaya mereka masuk ke kelas, tak tertawa melihat wajah masam Violeta.
"Ya ampun," hanya itu respon dari guru seni budaya.
Guru seni budaya pun duduk di kursi guru, lalu para murid mengucapkan salam.
"Oke baiklah anak-anak. Untuk tugas hari ini dilakukan secara berkelompok, jadi..."
"ASIIIIIIK!" satu kelas bersuka ria.
"Aulya, sekelompok sama aku, yuk!" ajak Violeta.
"Gas lah!" Aulya setuju.
Belum apa-apa, para murid sudah sibuk menentukan anggota kelompok sesuai keinginan mereka.
"Diam dulu anak-anak," guru seni budaya menenangkan keributan itu, dan seketika kelas menjadi hening, "Bapak yang menentukan kelompoknya."
"YAAAAAH..." kini satu kelas dipenuhi rasa kecewa.
"Sudah-sudah! Oke, jadi tugasnya adalah kalian membuat gerakan senam, mulai dari pernapasan, inti, sampai pendinginan. Minggu depan akan ditampilkan di depan kelas. Senamnya gak usah terlalu bar-bar, toh minggu depan sudah puasa, nanti kalian cepat haus. Senamnya minimal 3 menit, maksimal 5 menit per kelompok. Nah, nilainya nanti tak hanya masuk ke nilai seni budaya, tapi juga masuk ke dalam nilai olahraga," begitu penjelasan panjang dari guru seni budaya.
Para murid menyimak dengan saksama.
"Oke, bapak bakal atur kelompoknya."
Violeta berharap bahwa dia akan sekelompok dengan Aulya, sebab Aulya sudah dia anggap seperti sahabat sendiri.
☪️☪️☪️
Benar saja, Violeta sekelompok dengan Aulya! Juga puasanya, jatuh pada esok hari!
2 keinginan Violeta terkabul.
Kelompok Violeta memutuskan untuk latihan saat hari Jumat besok, mumpung tanggal merah, Jumat Agung.
Ketika hari Jumat telah tiba, pukul 13:00, semua anggota kelompok sudah berada di rumah Violeta. Kelompok Violeta terdiri dari Violeta sendiri, Aulya, Efendi, Gazali, dan Maufid.
Mereka membahas formasi senam, gerakan-gerakan senam, tak lupa mereka menghafal seluruh gerakan senam tersebut, dan mulai latihan di depan teras.
Tapi baru 2 kali latihan...
"Duh, capek banget nih. Teman-teman, kita istirahat dulu, yuk," keluh Violeta, lantas duduk di kursi teras.
"Yaelah, masa baru latihan 2 kali aja, kamu udah capek," ucap Aulya.
"Iya nih, gue rada-rada capek plus (+) malas sebenarnya," keluh Violeta lagi.
Maufid berjalan ke arah Violeta, lantas berkata, "Ta, kamu ini gimana sih. Jangan malas-malasan dong. Lihat, kami datang jauh-jauh ke sini, dipancari panasnya matahari siang sampai-sampai kami kepanasan dan keringat, setelah sampai ke sini kami senam, keringat lagi, kami hendak makan dan minum untuk menghilangkan rasa capek dan haus, tapi kami sedang puasa, menderita memang, tapi kami tetap semangat, kami berusaha berjuang untuk menjadi yang terbaik di antara seluruh kelompok. Lah kamu, tak perlu jauh-jauh jalan, toh kamu tetap berada di rumahmu, masih bisa makan dan minum, tapi kok baru latihan bentar aja kamu udah malas. Semangat dong! Kamu gak mau kan kelompok kita menjadi kelompok yang paling buruk?"
Violeta terdiam seketika.
Benar juga yang dibilang Maufid. Walau teman-temannya menderita, mereka mencoba mengalahkan rasa penderitaan tersebut dengan semangat yang penuh. Lah Violeta, tubuh sudah dikasih asupan makanan, dari awal gak terlalu capek, tapi kenapa dia cepat mengeluh, mematahkan rasa semangatnya. Violeta pun sadar akan itu.
"Ayo semangat!" seru yang lain, menyemangati Violeta.
Violeta pun bangkit berdiri. "Baiklah, teman-teman. Ayo kita lanjutkan latihannya!" Violeta seakan lupa akan rasa lelahnya.
"Nah, itu baru Violeta!" Aulya riang melihat temannya semangat lagi.
Mereka pun melanjutkan latihan sampai sore hari.
☪️☪️☪️
Pukul 16:35
Semua teman-teman sekelompok Violeta sudah pulang semua. Sekarang hanya ada Violeta di dalam rumah. Ibu dan ayahnya masih kerja di kantor.
"O iya, aku kan kepengen beli kolak hari ini!" Violeta hampir lupa.
Dia pun berjalan meninggalkan rumah, menuju bazzar Ramadhan.
Suasana ramai bagai bazzar pada umumnya. Di sana sudah ada ramai orang yang menjual macam-macam makanan, dan juga ada ramai pembeli yang sibuk memilih-milih makanan.
Violeta segera menuju ke tukang kolak, lalu memesan 1 gelas kolak.
Ketika sudah sampai ke rumah, ia bergegas mengambil sendok untuk memakan kolak tersebut.
Baru saja dia membuka mulut, dia mendadak diam mematung.
Dia teringat akan kata-kata temannya.
Bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk makan di saat orang lain berpuasa, tapi justru cepat malas, tak bersemangat, tak memanfaatkan energi itu untuk melakukan aktivitas.
"Mereka benar, Ta. Jadi mulai sekarang, setelah kau memakan kolak ini, begitupun dengan makanan yang lain, kau tak boleh bermalas-malasan, jangan kalah dengan orang yang berpuasa," Violeta berbicara dengan dirinya sendiri, lantas dia melahap sekaligus menenggak kolak itu.
☪️☪️☪️
1 minggu kemudian.
Saatnya penilaian kelompok.
"Semangat Violeta!" Gazali menyemangati Violeta.
"Iya, biar kelompok kita dapat nilai yang terbaik!" Efendi ikut-ikutan.
Iya, dari awal pun Violeta sudah menumbuhkan rasa semangatnya.
"Sip, teman-teman," ucap Violeta.
"Baiklah, kelompok Violeta, maju ke depan, sekarang giliran kalian!" Perintah guru seni budaya.
Kelompok Violeta maju ke depan, memasang lagu, lalu melakukan gerakan senam seperti yang sudah mereka latih.
Violeta tahu ini melelahkan, tapi selelah apapun dia bergerak, dia tak mau mengecewakan kelompoknya dengan berhenti saat itu juga. Ia lagi-lagi menumbuhkan rasa semangatnya, meretakkan rasa malas yang menyerang.
Violeta dan yang lain melakukan senam hingga mendapat nilai yang terbaik.
☪️☪️☪️
3 minggu kemudian.
Ramadhan sudah berakhir, dan diganti dengan Idul Fitri.
Violeta akan menunggu Ramadhan tiba lagi, tiap tahun ia tunggu.
Tapi untuk kedepannya, ia tak hanya menunggu makanan-makanan manis itu.
Tapi juga pelajaran yang didapat dari orang yang berpuasa, juga makna dari Ramadhan.
Violeta masih belum tahu pelajaran apa lagi yang akan dia dapat untuk Ramadhan tahun depan, tapi itu pasti akan membuat hidup Violeta menjadi berubah ke arah yang sangat baik.
~ TAMAT ~
Jangan lupa untuk mampir ke cerpen-cerpenku yang lain.
Jangan lupa juga untuk mampir ke novel dan chat story ku juga ☺️.