Awal mula pertemuanku dengan seorang lelaki yang kini jadi suamiku,karena kami yang bekerja di toko minimarket yang sama,dari kebiasaan sering bersama² di toko,mengerjakan tugas bersama,nongkrong bersama walau tanpa ada ikatan apapun. Kami sama² tak memper-masalah-kan itu,lagipula apa pentingnya sebuah status ? kami sama² enjoy jalan berdua,makan,nonton,nongkrong,dan lain lain.
Orang² disekitar kami mengira kalau kami pacaran.
Suatu sore,aku yang sudah izin cuti kerja tiba² datang ke toko dan menyerahkan bingkisan kue untuk semua personel toko tak terkecuali Irta.
"Pak,ini ada sedikit kue untuk kalian dariku,makanlah!!" ucapku pada manager toko yang kala itu bertugas.
"Loh katanya cuti ?" tanyanya padaku dengan kesal karena aku bilang padanya kalau aku cuti sebab hari ini aku bertunangan dengan seorang laki².
Kenapa dia kesal? Karena diam² dihatinya mulai tumbuh benih² cinta seiring waktu kebersamaan kami yang seakan tak terpisahkan,dimana ada aku pasti disitu ada aku,pun sebaliknya.
Aku selingkuh ? tidak !! karena dengan lelaki yang baru saja menjadi tunanganku pun aku tidak pernah bersepakat menjalin sebuah hubungan,aku hanya bilang untuk jalani saja. Biarkan waktu yang akan mengarahkan akan kemana tujuan kita akhirnya nanti.
Dan sesungguhnya,aku juga terpaksa menerima pertunangan itu,karena dia sudah banyak membantu menopang perekonomian keluargaku.
Ibunya juga terlalu baik padaku,dia memperlakukanku sudah selayaknya pada anak sendiri,adik nya juga sangat akrab denganku. Tapi yang namanya perasaan tak bisa dipaksa.
Sejak hari itu,aku menyendiri. Aku menghindari Anan tunanganku,bahkan aku meminta padanya agar tidak sering² mengunjungiku di kos an,
"Jangan terlalu sering berkunjung di kos an,malu sama yang lain " alasanku.
Tanpa banyak pertanyaan lagi Anan pun mengiyakan. Dari yang dulu hampir tiap pagi mampir walau sebentar,lalu jadi 2 atau 3 hari sekali berkunjung.
Hubunganku dengan Irta juga masih dingin,dia bahkan selalu menghindar agar kami tidak saling bertemu,sampai pada akhirnya aku dipindah sementara ditoko lain karena personil toko disana sedang mengalami kecelakaan.
"Mungkin ini yang terbaik" fikirku
Hari demi hari kulalui dilingkungan kerja yang baru,tak ada yang berbeda dari sebelumnya. Datang jam 7 pagi,ambil peralatan bersih bersih dan mulai melakukan bersih² di depan toko. Kami berbagi tugas dengan rekan kerja yang lain,ada yang membuka toko,merapikan display barang,mengisi chiller yang mulai kosong,mengechek data penjualan dan lain lain.
Satu dua hari permulaan berjalan lancar² saja,tapi memasuki hitungan minggu aku mulai merasa ada yang kurang. Aku merasa merindukan kehadirannya didekatku.
"Irta,apa kau juga merasakan hal yang sama ?" batinku bertanya.
"mbak,Vina...? kalau kerja jangan kebanyakan nglamun,ntar kesambet setannya sini loooooh" ucap kepala toko memperingatkanku.
"Astaghfirullah hal adziiiiim" aku beristigfar seraya mengusap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Memang dari rumor yang beredar kalau di toko tersebut sering terjadi insiden karyawan yang tiba² kerasukan karena fikiran yang kosong. Sungguh,aku tak berminat sama sekali jika harus mengalamj nasib yang sama seperti karyawan toko sebelumnya. Aku kembali fokus denga kegiatanku,menata plano rak yang memang menjadi tanggung jawabku.
Saat aku akan membuang sampah di depan toko,tak sengaja aku melihat seseorang yang aku kenal,dia orang yang selama ini aku rindukan. Dia berkunjung ke toko menemani staff tokonya yang memberikan laporan pada staff di toko tempatku bekerja saat ini.
Aku beranikan diri menyapa walau sedikit canggung kurasa. Staff tokonya yang sudah faham dengan situasi kami pun memberinya kesempatan untuk kami ngobrol berdua. Kebetulan,jam kerjaku memang sudah berakhir dari beberapa menit yang lalu.
"Hay Vin" sapa staff toko yang baru kuketahui bernama Fika padaku.
"iya bu" jawabku singkat saja.
"Pak Mada ada di kantor kan ?" tanyanya menanyakan keberadaan kepala tokoku saat ini.
"iya bu,ada. Tadi lagi ngitung duit di brankas" memang tadi aku lihat pak Mada kepala tokoku sedang berada di kantornya.
Bu Fika pun masuk ke dalam area toko meninggalkan aku dan juga Irta yang memilih menunggunya didepan toko. Entah dorongan darimana,aku langkahkan kakiku mendekatinya yang duduk di jok motor milik bu Fika.
"H-hay..." sapaku sangat canggung.
Dia tidak meresponnya.
"Kamu tau? sejak pertunanganku dengannya bukan kebahagiaan yang aku rasa,bukan dia yang aku rindukan,bukan dia yang aku nantikan kehadirannya,justru orang lain yang aku rindukan,seseorang yang kemaren sempat menemaniku melewati berbagai keseruan bersama" ucapku lirih,mungkin hanya bisa didengar oleh kami berdua.
"apa peduliku?" ketusnya.
Aku tau dari caranya bicara dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja mungkin dia takut nantinya akan dianggap sebagai perusak hubungan orang. Jadi dia lebih memilih diam dan memendamnya sendiri.
"Besok aku cuti,kalau kamu bersedia mampirlah sebentar ke kos an ku" aku benar² berharap dia bersedia menemuiku.
Tak disangka keesokan harinya Irta benar² menemuiku di kos an,tapi dia tidak sendiri,dia datang dengan rekan di tokonya yang katanya juga ada perlu dengan teman kos ku.
"jangan suka ngundang cowok lain ke kos an,ingat mbak....kamu udah diikat sama Anan gendut" Dewi adikku memperingatkanku,tapi aku tak peduli.
"siapa dia ?" tanyanya memecahkan keheningan diantara kami.
"Dewi,adikku,anak toko LT" jawabku
"Adik kandung?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk sambil menyunggingkan sebuah senyum di bibirku. Senyuman yang bahkan tak pernah aku berikan pada Anan yang kini mulai curiga denganku yang mulai sering menghindar.
"kamu masuk sore atau libur ?" ganti aku yang bertanya.
"sebenarnya jadwal liburku kemaren,tapi karena Martin kemaren mendadak tidak bisa hadir kerja maka Bu Sofi menyuruhku masuk dan mengganti liburku hari ini" jelasnya panjang lebar.
"apa dia sudah tidak marah lagi padaku ?" batinku bertanya tanpa ada yang bisa menjawab.
Kami berdua terus saja ngobrol berdua dengan background suara candaan dari teman² kosku yang juga sedang menerima tamu di dalam kamar. Sesekali terlempar sindiran pada kami berdua,terutama pada Irta.
"Gas terus!!!! selama janur kuning belum melengkung,masih bisa lah ngambil dia"
Aku tak begitu menanggapinya,lain halnya dengan Irta yang justru menganggap itu semacam dorongan motivasi untuknya. Perlahan suasana mulai mencair.
Hubungan ku dengan Irta kembali membaik,kami mulai menjalin kedekatan lagi,bahkan lebih dari sekedar teman kerja,orang bilang kami pasangan TTM. Dia sering antar jemput aku kerja,padahal dia sendiri juga gak sedang libur. Tak hanya antar jemput kerja,dia mulai berani membawaku mampir ke messnya ditoko dan membiarkanku menunggunya sampai jam kerjanya habis.
"udah cinta mati Ir? gak bisa move on ke hati yang lain niiiiih? sampai udah jadi calon
orang masih aja dibawa bawa?" seloroh seorang staff nya yang sangat faham pada situasi kami.
"biariiiiiiin" jawab Irta asal.
Sementara aku sendiri merasa sedikit malu kala itu.
Kami jadi sering keluar bersama tiap kali ada kesempatan,mulai dari sekedar berkeliling tanpa tujuan,makan di pinggiran,ngafe,nemenin temen pdkt,dan lain sebagainya.
Aku tak peduli walau Dewi seringkali memberiku peringatan agar aku tau diri dengan statusku,tapi aku sudah terlanjur nyaman bersama Irta. Aku tau Dewi begitu bukan karena dia peduli padaku,tapi dia iri padaku yang dianggapnya selalu beruntung daripada dia.
Aku ingat saat dulu masih kecil dulu,mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis,masih cinta monyet gitulah. Ada seorang tetangga kami yang kedatangan kerabat jauhnya dari kota besar. Dewi menyukai salah seorang pemuda anak dari kerabat tetangga kami. Kalian tau kan anak kota pasti bening² ?
Aku yang sejak kecil sudah berwatak tomboy dengan mudahnya dekat dan bergaul dengan pemuda yang disukai oleh Dewi,aku yang menyadari gelagat cemburu Dewi pun berinisiatif mendekatkan keduanya. Tapi siapa sangka justru pemuda itu bilang pada adikku kalau dia merasa tertarik padaku. Dewi marah besar padaku,selama beberapa hari dia terus saja menghindariku dengan memilih pulang ke rumah saudara kami.
Aku tak tau harus bersikap bagaimana,yang jelas aku memang tak sedikitpun ada rasa pada pemuda itu. Aku tetap menjalin pertemanan dengan pemuda itu dengan terus berusaha memberi pemahaman pada Dewi adikku. Tapi seiring berlalunya waktu,dia yang memberiku rasa nyaman ketika bersamanya tak dapat dipungkiri pada akhirnya aku pun luluh setelah pernyataan cintanya yang entah keberapa kalinya padaku aku tolak dengan alasan tak mau merusak persaudaraanku dengan Dewi.
Aku berani menerima cintanya karena 2 hal,yang pertama ternyata perasaan suka Dewi yang kini beralih pada adik dari Kiki (nama pemuda yang ditaksir oleh Dewi) yang bernama Rahmat. Dan yang kedua karena tak ada alasan untuk aku menolak cinta dari Kiki.
Kita kembali ke topik utama.
Benar dugaanku,diam² Dewi memberikan jadwal kerjaku pada Anan,dan dia juga melaporkan setiap kegiatanku termasuk kebiasaanku yang sering keluar berdua dengan Irta,padahal aku selalu berusaha mati² an melindunginya dari segala kenakalan yang selama ini dia lakukan dibelakang orang tua kami. Aku tak mau kalau sampai dia kena marah atas sikap nakalnya.
Sudah hampir 2 bulan aku terus saja menghindar dari Anan yang mengajakku ketemuan. Hingga dia memergokiku yang baru saja diantar pulang kerja oleh teman Irta yang kebetulan tidak bisa mengantarkanku pulang karena ada tugas tambahan dari bu Sofi.
"Ternyata ini alasannya,kenapa kamu terus saja menghindariku" sergahnya saat aku akan membuka pintu gerbang menuju kamar kos ku.
Aku tak peduli ucapan Anan yang memang pada dasarnya aku tak ada rasa padanya sedikitpun. Aku sudah memutuskan untuk mengembalikan cincin pertunangan darinya,tak cukup 1 atau 2 kali tapi sudah berkali kali aku melakukan itu,tapi keluarga Anan menolak dan bersikeras melanjutkan pertunangan diantara kami.
Dia mengikutiku sampai di pintu kamar kos. Saat aku hendak masuk ke dalam kamar kos,dia mencegahku.
"katakan,apa maumu sebenarnya dek ?" tanyanya lembut padaku tak sedikitpun bernada kasar atau membentak
"apa mauku ? kamu bahkan sudah tau,dan aku juga sudah mengembalikan semua seserahan yang aku terima darimu dan keluargamu waktu acara tunangan kita dulu" jawabku datar tak berekspresi.
Berbeda jauh dari sikapku yang sudah tak peduli dengan hubungan kami,Anan justru mencoba mencari cari letak kesalahaannya yang mungkin pernah ia lakukan padaku sehingga aku merasa tersakiti lalu memilih mundur dan memutuskan pertunangan kami.
"Jangan lagi temui aku,hanya akan membuat hatimu terluka" ucapku lalu masuk kedalam kamar kos dan menguncinya dari dalam,membiarkan Anan yang masih saja memohon agar aku tak jadi memutuskan pertunangangan kami.
"Aku malu pada keluarga dan kerabatku kalau sampai pertunangan kita putus"kalimatnya memelas yang justru terdengar aneh ditelingaku.
"Terserah,aku sudah bilang jangan buat hatimu terluka dengan mencoba bertahan tetap mengikatku dengan cincin pertunangan" aku berharap dia sadar akan hal itu.
Kabar tentang keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengan Anan sampai ditelinga orangtuaku karena keluarga Anan yang datang ke kontrakan kami untuk mengkonfirmasi perihal hubungan kami.
"Kenapa tiba² mau putus ?" tanya ayahku terdengar kecewa.
"Coba dulu cari solusinya,jangan langsung main putus aja,jangan sampai menyesal dikemudian hari" dengan bijak ayah menasihatiku. Berbeda dengan ibuku yang hanya tertunduk menahan malu yang amat besar pada keluarga Anan karena keputusanku.
Pada akhirnya hubunganku dengan Anan kandas juga. Aku kembali ke kehidupanku yang disibukkan dengan urusan kerjaan dan juga kedekatanku dengan Irta yang dari hari ke hari semakin tak terpisahkan saja.
Melihat itu,Dewi sungguh tak terima,dia tak suka dengan Irta yang sering datang ke kos an kami bertiga. Aku dan Dewi memutuskan mengajak seorang teman untuk bergabung dalam kamar kos kami agar uang kos kami semakin murah karna dibagi 3 daripada dibagi 2.
Tiap kali dia ke kos an Dewi maupun Tika selalu saja memasang wajah ketus mereka yang merasa terganggu dengan kedatangan Irta. Walau begitu aku tetap tak peduli.
Tapi lama kelamaan aku mulai jengah dengan sikap mereka yang maunya menang sendiri. Aku memutuskan pisah kamar dari mereka dan menyewa kamar kos sendiri.
Aku tak sendirian dalam membayar tagihan kos,ada Irta yang sukarela membantuku membayar biaya tagihan kos. Tak jarang dia datang ke kos dan membantuku mengerjakan tugas piket di kos yang dijalankan secara bergilir tiap hari.
Kos an kami termasuk bebas,tak jarang penghuni kos membawa teman mereka bahkan sampai menginap berhari hari walau berbeda jenis kelamin. Termasuk Tika yang sudah tak terhitung entah berapa kali membawa teman prianya dan mengizinkannya menginap di kos an.
Aku tak bisa berbuat apa² karena Dewi tak melarangnya,mau tak mau aku pun memberinya izin juga walau dengan sangat terpaksa.
Tak terasa ini sudah hampir 1 bulan sejak aku memutuskan ngekos terpisah dari Dewi adikku ada. Irta juga tak sungkan bermalam di kamar kos ku. Hingga pada suatu malam. Terjadilah peristiwa tak terduga di kamar kos ku.
Malam itu hujan turun dengan derasnya,udara malam menjadi terasa sangat dingin dan menyengat sampai ke tulang. Kami berdua meringkuk dalam selimut yang sama untuk meredam rasa dingin yang menerpa.
Saat kulit kami bersentuhan dibalik selimut aku merasakan semacam sengatan listrik yang menjalar disekujur tubuhku kala tangan nakal Irta mulai aktif bergerak menyusuri tiap inci tubuhku.
Sekuat tenaga aku menepis rasa itu. Tapi nafsu yang sudah berhasil menguasaiku secara perlahan membawaku untuk semakin menikmati sentuhan demi sentuhan disekujur tubuhku yang membawaku menuju kenikmatan duniawi.
Malam yang dingin oleh derasnya air hujan yang mengguyur bumi berubah hangat seiring penyatuan antara aku dan Irta yang sudah sama² dikuasai oleh nafsu yang membuncah.
"kok belum datang juga ya tamu bulananku ?" batinku gelisah.
Oh tidak,ini sudah terhitung hampir 2 minggu aku terlambat dari tanggal seharusnya aku mendapat tamu bulanan. Aku diskusikan masalah ini dengan Irta. Dia mengusulkan untuk mengechek nya dengan alat tes kehamilan yang bisa dibeli secara bebas di apotik maupun toko swalayan.
Irta membelikanku 2 buah alat tes kehamilan dari sebuah apotik tak jauh dari kos ku. Aku membaca instruksi yang ada dikemasan. Menurut keterangan waktu yang efektif adalah pagi hari saat bangun tidur.
Aku pun melakukan sesuai instruksi yang sudah kubaca. Dan......bersambung
❤️❤️❤️❤️ pembaca yang terhormat mohon dukungannya untuk karyaku ini ya ❤️❤️❤️❤️
Berlanjut di Kisahku Hidupku 2 kalau sudah tembus 50 like dari kalian. Thanks