ini adalah cerita sampingan dari cerita utama berjudul omerta city of gengster kalian bisa membacanya di profile saya.
-East bay Amerika serikat 1915-
Seorang pria berumur 30 tahunan, dengan gaya rambut Undercut, serta memakai stelan jas berwarna hitam dan mantel coklat tengah duduk di meja bar sembari ditemani dengan sebotol Rum diatas mejanya, pria itu kemudian menuangkan Rum dari botol kedalam gelas kaca lalu meminumnya satu teguk.
Dia adalah Salvatore Toto Maranzano, seorang Caporegime dari keluarga mafia Torento yang menguasai wilayah Dominham, Chinatown dan daerah industri Harlem.
Maranzano adalah orang yang mahir menggunakan pisau, ia juga pintar dalam berbisnis, oleh karena hal itulah mengapa Don Mancini De Torento memberinya posisi yang sangat penting di dalam keluarga.
Pria itu kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari balik mantel berwarna coklatnya, ia lalu mengambilnya satu batang, dan meletakan rokok itu di mulutnya kemudian menyalakan nya dengan korek, Setelah itu ia melemparkan bungkus rokok kemeja sembari menghisap candu tersebut.
Asap keluar dari hidung dan mulutnya, entah sudah keberapa batang rokok yang ia bakar hari ini, perang geng yang terjadi di distrik utara Harlem di pagi hari ini telah menjadi pukulan berat bagi dirinya, dalam kejadian itu ia kehilangan tiga orang bawahannya, sulit bagi pria itu untuk mencari pengganti mereka.
Perang geng yang telah berlangsung selama beberapa bulan antara keluarga Genovese dan Torento sudah menyedot banyak perhatian dari masyarakat, setidaknya delapan puluh orang dari kedua belah pihak telah di laporkan tewas.
lalu Muncul sesorang pria berambut pirang berumur 28 tahun dengan memakai stelan jas Tailored suit berwarna hitam serta topi fedora dengan warna yang sama di kepalanya. ia kemudian menghampiri Maranzano dan ikut duduk di sampingnya.
"Aku pesan segelas wine" Ucap pria itu kepada bartender yang di balas anggukan. Kemudian pria itu melihat kearah Maranzano.
"Kau terlihat pusing Sal"
"Ya seperti yang kau lihat Tamasino, bagaimana dengan tugas yang ku berikan kepada mu?, apa kau sudah membereskan nya? "
Pria berambut pirang itu bernama Henry Tamasino, salah satu bawahan kepercayaan dari Salvatore.
"Kau tak akan pernah melihatnya di dunia ini lagi, kawan"
"Bagus"
Bartender kemudian datang membawa segelas wine yang di pesan Tamasino, pria itu mengeluarkan beberapa sen dari balik mantelnya dan memberikan nya kepada sang bartender.
"Kau terlihat tertekan akan sesuatu sal" Ucap Tamasino sembari meminum wine miliknya.
Maranzano lalu meminum dua teguk rum yang tersisa di dalam gelasnya, ia kemudian menghela nafas sembari memikirkan sesuatu.
"Genovese kapra* itu telah menyerang berbagai bisnis kita, ditambah Don tetap meminta bagian mingguan nya, kita tidak punya uang untuk mempertahankan seluruh oprasi kita" Keluh Salvatore, wilayah Harlem yang di pegang olehnya berbatasan langsung dengan wilayah Genovese, karena hal itulah wilayah nya selalu menjadi sasaran serangan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? "
Salvatore menghisap rokok miliknya, dan menghembuskan asap nya secara perlahan, sembari memberi ruang bagi otaknya untuk berpikir. Setelah terdiam cukup lama pria itu kemudian memanggil salah satu anak buah nya yang berdiri di dekat pintu keluar bar.
"Ada yang bisa ku lakukan Sal?"
"Katakan pada Sanderson untuk memindahkan penyulingan nya ke bagian selatan harlem, Genovese mungkin sudah mengetahui tempat alkohol kita"
"Baiklah" Ucap pria itu, ia lalu beranjak pergi dari bar.
"Dan Tamasino, panggil kenny dan wiliam kita akan mencari uang sekarang" Perintah Maranzano yang hanya di balas anggukan oleh Tamasino, pria itu kemudian segera menghabiskan wine miliknya dan beranjak pergi.
Selang beberap menit Tamasino kembali dengan membawa dua orang yang di maksud Salvatore.
Yang pertama Kenny Alesandro pria berumur 25 tahun dengan tinggi di bawah rata-rata ia memiliki bekas luka sabetan melintang di mata kirinya, orang-orang selalu meremehkan pria itu karena pendek tapi aslinya dia seorang petarung yang tangguh.
Yang kedua adalah Wiliam Constanzo, berumur 26 tahun berbanding terbalik dengan Kenny, dia memiliki perawakan tinggi, dan cukup berbakat menggunakan senjata api.
"Kita berangkat" Ucap Maranzano sembari memakai topi Fedora berwarna coklatnya nya yang terletak di atas meja, tidak lupa juga memasukan kembali bungkus rokok kedalam mantel coklatnya.
Mereka berempat berjalan menuju mobil Dodge Brothers sedan dengan empat pintu berwarna hitam yang berada di dalam gerasi bagian belakang bar.
"William kau mengemudi" Perintah Salvatore sembari melempar kunci mobil dari tangannya kepada wiliam.
"Oke"
Wiliam masuk terlebih dahulu kedalam mobil, ia kemudian menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan nya dari gerasi,
Setelah mobil itu keluar, Mereka bertiga kemudian masuk kedalam mobil dodge tersebut.
"Semua orang ada di dalam? " Tanya wiliam.
"Yeah"
Mobil kemudian mulai melaju pelan menyusuri gang becek menuju jalan raya.
"Kita akan kemana sal?" Tanya Kenny. Pria itu tidak tahun tujuan apa ia di panggil, begitu juga dengan wiliam.
"Kita pergi Ke wilayah dermaga, berdasarkan informasi dari seorang Informan, keluarga Genovese sering mengangkut barang selundupan dari dermaga untuk di Didistribusikan, kita akan rampok truk yang membawa barang-barang tersebut"
"Barang Selundupan?"
"Ya, seperti perhiasan, atau pakaian, mereka membelinya dari jaringan pasar gelap"
"Baiklah sal, kami selalu percaya padamu"
Seperti yang di perintahkan oleh Maranzano Mobil dodge itu kemudian melaju kearah pelabuhan dengan kecepatan normal.
-pelabuhan-
Mobil dodge itu masuk kedalam pelabuhan, Maranzano lalu melihat-lihat kesekitar pelabuhan dari balik kaca mobil, mata coklatnya mengawasi setiap truk yang mereka lewati.
"Sal, itu mereka" Ucap Tamasino sembari menunjuk truk yang di maksud. Maranzano kemudian menengok kearah yang ditunjuk oleh Tamasino .
Disana terdapat delapan orang pria yang memakai stelan jas hitam, dan topi fedora berwarna putih Dan satu unit truk berada tepat di belakang mereka.
Maranzano merasa yakin, truk itulah yang digunakan oleh orang-orang Genovese untuk mengangkut barang seludupan mereka, ditambah dengan delapan orang yang terlihat tengah berjaga di sana.
"Tidak main-main Genovese sampai mengerahkan delapan orang tentara hanya untuk melindungi satu truk"
"Yeah, mungkin truk itu bernilai puluhan ribu dollar?"
"Berdasarkan informasi yang ku Terima mereka memiliki sepuluh truk pengangkut hari ini" Ucap Maranzano sembari melihat ke sekeliling.
"Sepuluh? Kalau begitu akan ada banyak tentara Genovese di pelabuhan, tapi dimana truk yang lain nya?" Tanya Tamasino.
"Mungkin mereka menyebarkan titik lokasi angkut nya untuk menghindari kecurigaan"
"Baiklah Wiliam kau tunggu di sini dan tunggu aba-aba dari ku, kami bertiga akan langsung menghadapi mereka, saat aku memanggil namamu datang ketempat kami dengan kecepatan tinggi setelah itu Kenny kau ikut dengan wiliam sedangkan aku dan Tamasino akan menaiki truk itu." Jelas Maranzano.
"Setelah itu kita akan pergi ke bagian selatan Harlem, selama perjalanan kalian berdua harus melindungi kami dari belakang. Ini hanya dugaan ku, kemungkinan Mereka hanya akan mengejar kita sampai pintu keluar pelabuhan," Terusnya.
"Baiklah sal"
Maranzano, Tamasino dan Kenny kemudian turun dari mobil, mereka bertiga berjalan menghampiri truk tersebut. Sampai jarak antara mereka dan orang-orang Genovese hanya tinggal belasan meter.
Merasa ada yang aneh salah satu penjaga melihat kearah mereka bertiga.
"Hey kawan ini peringatan, pergi dari sini!!!" Ucap salah satu penjaga sembari membuat gerakan mengusir dengan tangannya.
Maranzano, Kenny dan wiliam hanya berdiam di tempat mereka sembari menatap kearah para penjaga.
"Hey sudah ku bila---"
"TORENTO MEMBERI MU SALAM KAP**T!!!!" Teriak Maranzano sembari menarik pistol miliknya dari balik mantel begitu juga dengan Tamasino dan Kenny yang melakukan hal yang sama, dengan cepat ketiga orang itu menodongkan senjata mereka ke para tentara Genovese.
'Dor!!!Dor!!!! Dor!!! Dor!!! ' suara letusan senjata terdengar sebanyak delapan belas kali, orang-orang Genovese terkejut akan aksi tiba-tiba dari ketiga orang itu, akibatnya empat orang rekan mereka langsung tewas di tempat.
"Aaaaaaaa!!!!! "Teriakan panik orang-orang di dermaga terdengar bersahutan, mereka berlarian meninggalkan tempat ini.
"Kapr""!!!!" Umpat salah satu tentara Genovese sembari balas menembaki mereka. Maranzano, Kenny dan Tamasino segera mencari tempat untuk berlindung.
'Dor!!! Dor!!! Dor!!'
Suara letusan senjata api terdengar bersahutan, Maranzano bersembunyi dari balik tumpukan box kayu pria itu mengintip kearah para tentara Genovese yang bersembunyi di balik box-box yang tercecer di jalan.
Salah satu tentara Genovese mengintip kearahnya, Maranzano bisa melihat kepala pria itu menyembul sedikit, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Dor!! Dor!! Dor!!" Tiga letusan terdengar dari pistol revolver milik Maranzano, Tentara Genovese ini tumbang dengan kepala berlubang, serpihan tulang dan otaknya berserakan di lantai.
Kenny yang bersembunyi dari balik mobil menyelinap kesamping, ia bisa dengan jelas melihat dua orang tentara Genovese bersembunyi di bagian belakang tumpukan drump, mereka berdua sepertinya tidak menyadari posisi pria bertubuh kecil ini.
'Dor!!!! Dor!!!! Dor!!!' Kenny menembakan seluruh peluru revolver miliknya, satu orang tentara Genovese tumbang berkucuran darah, sedangkan teman nya terjatuh karena kedua kakinya tertembak.
'Dor!!! Dor!! Dor!!' pria yang kakinya tertembak balas menembak kearah Kenny. Tapi sayang tembakanya hanya mengenai badan mobil tempat Kenny berlindung.
'Dor!! Klek!!' Pria Genovese itu kehabisan peluru ia kemudian mencoba merangkak untuk mencari tempat perlindungan.
Kenny lekas mengisi kembali revolvernya, ia langsung menghabisi pria malang tersebut, dengan tiga tembakan, tubuh pria itu sudah tidak bergerak, darah keluar dari tubuh pria itu dan mulai membanjiri lantai beton.
Satu orang yang tersisa berlari dari tempat persembunyian kearah mobil truk, nampak nya pria itu mencoba kabur dengan mobil tersebut.
'Dor!!! Dor!!! Dor!!,' Tamasino memberikan pria itu empat tembakan.
"Akhhhh!!! " Teriak kesakitan pria itu, kepala dan punggungnya berlubang tertembus peluru 'Brakk' tubuh pria itu pun terjatuh.
"Yeah mampu* kau Genovese kap***!!!!" Teriak Kenny sembari mengacungkan jari tengah kepada mayat para tentara Genovese.
Maranzano lalu menghampiri mayat tentara Genovese yang dibunuh Tamasino, ia merogoh rogoh setiap saku pakaian milik pria malang tersebut untuk mencari kunci truk. Maranzano kemudian menemukan kunci truknya dari balik mantelnya.
"Sal!!!, lihat itu" Teriak Kenny sembari menunjuk kearah selatan.
Terlihat disana empat unit mobil heynes berwarna hitam melaju dalam kecepatan tinggi kearah mereka.
"Para baj*ngan Genovese!!!"
"Wiliam!!!!!!" Teriak Maranzano, wiliam yang mendengar teriakan dari atasan nya langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi kearah rekan-rekan nya.
'Dor!!! Dor!!! Dor!!' tembak para tentara Genovese dari jendela mobil, tubuh mereka setengah menyembul dari pintu jendela.
"Sialan!!, Tamasino ayo naik ke dalam truk!! " Perintah Maranzano yang di balas anggukan.
Wiliam sampai di tempat para rekan-rekan nya pria itu ngedrift untuk memutar arah mobilnya dan berhenti tepat di samping kenny.
"Kenny naik!!! " Teriak Wiliam tanpa membalas Kenny segera masuk kedalam mobil.
'Krieeet... Krieet' Maranzano men starter truk, tapi sayang mobil itu tidak menyala.
"Ayo sal mereka semakin dekat!!"
"Tenang Tamasino"
'Krieeet.... Krieettt'
"Bajing** ayo menyala lah!!!!" Teriak Maranzano sembari memukul kemudi.
'Krieettt.... Brrbrrrbrr' akhirnya truk itu berhasil menyala, mereka langsung tancap gas meninggalkan tempat tersebut sembari empat mobil pasukan Genovese mengejar mereka dari belakang.
'Dor!! Dor!!! Dor!! krakkk!!!' spion kiri dari mobil truk terkena tembakan.
"Tamasino!! Balas mereka"
"Yeah!! " Ucapnya sembari menembaki mobil yang mengejar mereka.
Situasi di dalam mobil dodge juga tidak kalah menegangkan, kaca bagian belakang mobil telah pecah terkena hantaman peluru, wiliam menyetir mobil dengan kepala menunduk sembari membanting stir kearah kanan dan kiri.
Begitu juga dengan Kenny yang mencoba membalas tembakan mereka melalui jendela belakang.
'DOR!!!
"Ahhhh!!! Kaper**!!! " Teriak Kenny kesakitan. Bahu kanan nya tertembak ia dengan reflek menunduk.
"Sialan!!! Genovese Bajinga*" Umpatnya sembari memegang bahu kanan nya untuk menghentikan pendarahan.
"Bertahanlan Kenny kita akan segera keluar dari tempat sialan ini" Ucap Wiliam.
Truk yang di kendarai maranzano terus melaju dalam kecepatan tinggi menabrak seluruh barang barang yang menghalangi lajunya, di ikuti dengan wiliam di belakangnya, meski bahu kanan nya tertembak Kenny tetap membalas tembakan mereka dengan tangan kiri meski sebagian besarnya meleset.
Sebuah pagar pembatas besi mulai terlihat yang menandakan ujung pembatas dari dermaga.
'BRAKKK!!!!'
Mobil truk itu menabrak pagar pembatas dengan kecepatan tinggi, Maranzano mengoper gigi truk dan membanting nya ke kiri untuk masuk ke lajur jalan, membuat mobil itu Ngedrift.
'DUAKKK!!' body samping truk tersebut menabrak mobil yang tengah terparkir, tanpa basa basi ia lekas menancap gas kembali.
Begitu juga dengan Wiliam yang mengikutinya dari belakang. Sedangkan orang-orang Genovese berhenti di pembatas dermaga, mereka hanya bisa menggrutu dan memaki kepada Grup Maranzano yang semakin menjauh.
"Hahahah lihat bajing** itu mereka tidak berani mengejar kita, Semuanya sesuai dengan dugaan mu sal"
"Yeah" Balas Maranzano sembari bernafas lega.
Orang-orang Genovese tidak mengejar mereka karena tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib, tentu saja tembak-tembakan di tengah kota akan menjadi berita besar di media massa, mereka takut polisi akan melakukan penyelidikan terkait jaringan penyelundupan mereka.
Kelompok Maranzano memilih jalan memutar yang lebih jauh untuk sampai ke bagian selatan Harlem, kalau mereka masuk melalui pusat kota itu akan menimbulkan kecurigaan karena mobil mereka yang penuh akan bekas tembakan.
-15 menit kemudian Di sebuah gudang kumuh bagian selatan harlem-
gerbang depan gudang itu di jaga oleh delapan orang pria mereka semua memakai mantel hitam, tiga orang tengah berdiri di depan pintu gerbang , dan empat orang yang lain nya berada di dalam pos penjaga.
Salah satu penjaga melihat truk yang di bawa Maranzano, ia langsung mengeluarkan senjata nya dari balik mantel begitu juga dengan rekan-rekan nya.
"Hey berhenti siapa kau!!? "
Rombongan Maranzano berhenti mengikuti instruksi penjaga tersebut.
"Ini aku Salvatore" Balas maranzano sembari mengeluarkan kepalanya dari balik jendela.
"Oh sal, buka grebang nya" Mengetahui siapa yang datang Mereka segera membuka grebang nya dan membiarkan rombongan Maranzano masuk setelah itu menutupnya kembali.
Maranzano lekas memarkirkan truk nya lalu keluar dari mobil.
"Kenny kau baik-baik saja?" Tanya maranzano saat melihat Kenny keluar dari mobil dodge, pendarahan di bahu kanan nya sudah berhenti tapi jas nya menjadi kotor karena darah.
"Ya sal, ini tidak seberapa"
"Hey wiliam antarkan Kenny ke ruang perawatan"
William mengangguk. Mereka berdua pergi menuju salah satu bangunan di sekitar gudang.
"Sal bagaimana kabarmu?" Tanya seorang pria dengan bentuk wajah oval, ia memakai stelan tuxedo berwarna abu dengan kumis kotak, dan gaya rambut finger up.
"Hey sanderson, aku baik-baik saja, bagaiaman dengan hal yang ku suruh? Kau sudah memindahkan nya? "
"Anak buah ku sedang mengerjakannya, setidaknya itu memerlukan waktu 3 hari, lalu apa yang kau bawa ini? "
"Yeah itu untuk cadangan devisa kita kawan"
Mereka berdua berjalan ke bagian belakang truk, membuka pagar pembatas truk lalu naik ke atas baknya.
Sanderson membuka salah satu peti kayu, pria itu terkejut setelah peti itu terbuka, didalam peti itu terdapat banyak sekali perhiasan.
"Wow, dari mana kau dapatkan ini semua?"
"Aku merampok nya dari basis tempat penyeludupan keluarga Genovese, langsung dari dermaga"
"Hahahaha, Kau gila kawan!!"
"Kita akan mendistribusikan barang-barang ini di Harlem, untuk hal itu aku percayakan padamu"
"Yeah serahkan padaku, kita bisa mendapatkan puluhan ribu dollar dengan ini,"
"Kalau begitu aku akan istirahat sebentar di sini"
"Kau mau wishky dan beberapa cemilan?"
"Siapkan itu,"
Mereka berdua pun turun dari bak mobil, dan berjalan masuk ke dalam kantor gudang di ikuti oleh Tamasino di belakang mereka.