Nana menghela nafas, Kopi yang ia minta buat kan dengan kang Agus satu jam yang lalu telah kosong, habis ia minum. Nana berdiri mengambil cangkir kosong tersebut lalu berjalan kearah pantry untuk membuat kopi yang baru.
"Percaya sama gue Na, ini pasti kerjaan si Sarah" perkataan Selly tadi sore terus saja mengganggu pikirannya.
Memang terasa janggal. Bagaimana mungkin, flashdisk berisi desain grafis yang ia kerjakan 2 hari belakangan ini bisa hilang, padahal ia yakin telah meletakkan flashdisk tersebut di laci meja kerjanya, tapi waktu pak Revan ingin melihat desain yang ia buat, ternyata flashdisk tersebut tidak ada di laci meja kerjanya lagi.
"Kalau memang ini kerjaan si Sarah, Gue akan tinggal diam" Gumam Nana kesal sembari meminum kopi yang baru saja selesai ia buat, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Setelah selesai mengerjakan desain untuk presentasi besok, Nana meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku lalu dengan cepat ia merapikan berkas yang berserakan dan memesan taxi untuk pulang.
Setelah menunggu selama 15 menit, Taxi yang ia pesan akhirnya datang. Nana dengan cepat masuk masuk kedalam taxi tersebut lalu memejamkan matanya untuk sesaat.
"Neng?" Panggil sang supir taxi tersebut, Nana membuka matanya.
"Sudah sampai pak?" Sang supir taxi mengagukkan kepala. Nana mengeluarkan uang dari tas kecil miliknya lalu membuka pintu taxi tersebut.
Nana mengeratkan tali sweater yang ia kenakan, malam ini terasa begitu dingin ditambah lorong tempat kos-kosannya berada terasa begitu gelap dan sepi.
Tap...tap...tap.... Terdengar suara langkah kaki yang berjalan tepat berada dibelakangnya, Dengan perasaan was-was Nana melirik kearah belakang, Namun tidak ada siapapun disana selain dirinya dan suara angin yang bertiup dengan kencang.
Nana menarik napas lalu ia melangkahkan kakinya dengan cepat, perasaannya mulai terasa tidak enak ditambah suara kodok yang berbunyi "Sebentar lagi pasti akan hujan" Gumam Nana
Nana hampir saja berteriak ketika seorang pria menodongkan pistol kearahnya.
"S-siapa?" Tanya Nana dengan suara gemetar
"Jangan banyak bertanya, Cepat jalan" Dengan tubuh yang lemas dan perasaan yang was-was Nana berjalan menuju ke kos-kosannya. Sesekali terdengar suara rintihan dari pria tersebut.
"H-hey,, kau baik-baik saja kan?" Tanya Nana dengan takut di tambah suara geledek yang sesekali terdengar.
"Nathan" ucap pria yang menodongkan pistol kearahnya itu dengan suara yang terdengar seperti gumaman.
"Nathan?" Ulang Nana sembari melirik kearah pria tersebut.
Nathan mengagukkan kepalanya "Cepat jalan, sebelum mereka menumukan kita, kalau sampai mereka menumukan kita, bukan hanya aku yang dalam bahaya tapi kau juga"
Nana menelan Salivanya lalu mengagukkan kepala, Setelah sampai didepan kos-kosannya, Nana mengambil kunci yang ada didalam tasnya lalu membuka pintu tersebut, sebelum masuk kedalam kos-kosannya Nana melirik kearah sekitar hanya untuk memastikan, tidak ada orang yang melihat ia membawa pria kedalam kos-kosannya itu.
Nathan membaringkan tubuhnya di sofa, Darah segar terus saja keluar dari tempat lukanya berada.
Nana bergegas mengambil air bersih dan juga handuk kecil untuk membersihkan luka tersebut, setelah selesai membersihkannya Nana mengambil kotak P3K dikamarnya.
Dengan telaten Nana mengeluarkan peluru tersebut dari dalam tubuh Nathan, setelah itu ia membalut luka Nathan yang telah ia jahit dengan kain kasa.
"Istirahatlah, aku akan membuatkan bubur untukmu"
Nathan menatap netra coklat milik Nana dengan lekat lalu ia menganggukkan kepalanya "Terimakasih" Ucap Nathan dengan tulus. Nana hanya membalas ucapan Nathan dengan senyuman lalu melenggang pergi menuju dapur. Setelah beberapa menit berkutat di dapur, bubur yang ia buat dengan penuh perjuangan akhirnya masak.
Untuk sesaat Nana terkesima melihat Nathan yang tengah memejamkan mata "Tampan" Gumam Nana tanpa sadar. Nathan menyunggingkan bibirnya sembari menikmati elusan tangan Nana yang berada di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tubuh Nana membeku dengan cepat ia menarik tangannya dari wajah Nathan.
"B-buburnya sudah siap" ucap Nana dengan gugup ditambah netra hitam lekat milik Nathan menatapnya dengan tajam.
"Bernapaslah" ucap Nathan sembari mengelus wajah Nana. "Aku bilang bernapaslah, kau bisa kehilangan nyawamu kalau terus menahan napas seperti itu"
Nana menundukkan wajahnya lalu mendorong dada Nathan dengan pelan. "Buburnya hampir dingin" Nathan tersenyum lalu mengambil bubur tersebut. "pengalihan yang bagus" pipi Nana memerah membuat Nathan kembali menyunggingkan sudut bibirnya.
Setelah selesai, memakanan, habis bubur buatan Nana, Nathan meletakkan piring tersebut ke wastafel.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan terlalu banyak bergerak?"
"Aku baik-baik saja" ucap Nathan lalu kembali rebahkan tubuh ke sofa. Nana menghela nafas "Lukamu bisa saja kembali terbuka"
"Aku akan baik-baik saja, selama kau yang merawatku"
"Aku bukan dokter kalau sampai lukamu kembali terbuka, mungkin kita harus benar-benar ke rumah sakit" ucap Nana dengan kesal. "Sudahlah, sekarang lebih kau istirahat, aku akan memapahmu ke kamar"
Setelah sampai dikamar Nana membaringkan tubuh Nathan dengan hati-hati, lalu Nana mengambil selimut baru dari dalam lemari.
"Khusus untuk malam ini saja kau boleh tidur di tempat tidurku"
Nathan mengerutkan keningnya "lalu kau, tidur dimana?"
"Sofa"
Nathan menarik pergelangan tangan Nana dengan kuat, membuat tubuh Nana tidak seimbang dan berakhir lah ia jatuh menimpa tubuh Nathan.
"Kita bisa berbagi tempat tidur, kalau kau takut aku akan mengambil keuntungan dari situasi ini, kau tenang saja aku berjanji tidakkan melakukan apapun terhadap penyelamatku"
"Kecuali_____" Nathan tersenyum ketika raut penasaran dari Nana terlihat begitu lucu dimatanya.
"Apa?"
"Kau yang memintanya" ucap Nathan sembari memainkan rambut Nana.
"Dasar gila"
Sudah lebih dari 20 menit Nana berada didalam kamar mandi, namun gadis cantik bersurai hitam itu bukannya melakukan rutinitas seperti biasa, ia hanya melamun memikirkan apa yang terjadi semalam sampai ia terbangun didalam dekapan Nathan.
"Aku pasti sudah gila" ucap Nana frustasi sembari mengacak-acak rambutnya.
Nana menahan nafas sembari mengecek setiap jengkal tubuhnya didepan cermin.
Nana menghela nafas, bersyukur tidak ada tanda kemerahan satupun ditubuhnya. Setelah itu Nana bergegas membersihkan tubuhnya.
Klekkkk.....
Nathan menatap kearah pintu kamar mandi yang terbuka, ia membeku ketika melihat Nana hanya mengenakan handuk.
"Ahhhhhh....." Teriak Nana lalu masuk kembali ke kamar mandi.
Nathan yang awal terkejut kini ia tersenyum lalu berjalan kearah kamar mandi. "Sampai kapan mau berada didalam sana?"
"K-kau k-keluarlah dulu, aku mau ganti baju" wajah Nana memerah membayangkan bagaimana reaksi Nathan ketika melihatnya tadi, mungkin Nathan akan berpikir kalau dia wanita penggoda.
Hening tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamarnya, Nana membuka pintu kamar mandinya. Setelah memastikan Nathan benar-benar tidak ada didalam kamarnya lagi, Nana dengan cepat mengambil baju kerjanya lalu kembali masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai merias wajahnya dengan make-up tipis, Nana bergegas kedapur menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Nathan.
"Nathan" panggil Nana, Nathan yang tengah menikmati nasi goreng sederhana buat Nana hanya mengangkat alisnya.
"Hubungi aku kalau ada apa-apa" ucap Nana sembari memberikan kartu namanya kepada Nathan. "Aku pergi kerja dulu"
"Pulang jam berapa?" Tanya Nathan sembari melihat kartu nama milik Nana.
"04:00" Nathan hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali menikmati nasi goreng buatan Nana.
Setelah sampai di depan Loyd Group, Nana melangkahkan kakinya memasuki perusahaan yang satu tahun belakangan ini, menjadi tempat ia mencari nafkah.
Ketika berada di lobi perusahaan, Nana mengerutkan keningnya. "Ada apa?" Tanya Nana ketika ia sampai didepan meja resepsionis. Felly yang tengah menjaga meja resepsionis, menatap Nana dengan heran.
"Pak Rafi mengundurkan diri" Nana mengagukkan kepalanya, kabar soal pak Rafi mengundurkan diri sudah tersebar sejak beberapa hari yang lalu.
"Terus....."
"Ceo yang menggantikan pak Rafi, datang hari ini" Nana membulatkan matanya lalu bergegas menuju ruangan Selly.
Brakkkkk.....
Pintu ruangannya Selly dibuka dengan kencang.
"Kenapa Lo, gak kasih tau gue kalau pengganti pak Rafi datang hari ini?"
Selly menatap Nana dengan tajam "Lama-lama rambut Lo gue jambak iya Na, coba cek ponsel lo, sekarang"
Nana dengan cepat mengecek ponselnya, ia hanya tersenyum ketika dilayar ponselnya tertulis 8 panggilan tak terjawab dari Selly.
"Maaf" 😬😬🙏
Terdengar suara Felly yang menginstruksi seluruh pegawai Lody Group untuk berkumpul di Lobi.
Nana dan Selly bergegas menuju ke Lobi. Terlihat seseorang pria keluar dari Rolls-Royce Boat Tail, Mobil yang di banderol mencapai hampir 28 juta dollar As.
Nana mengerutkan keningnya ketika melihat Nathan yang keluar dari mobil mewah itu.
Nathan berjalan dengan angkuh, menaiki podium lalu ia memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama saya Nathan Aditama Loyd"
[ End ]
Note: Jika ada yang typo tolong komen dibawah 👌👌