Orang tua mana yang tidak marah bila kita sebagai seorang anak yang telah dewasa hanya duduk di rumah dengan menyandang status pengangguran. Namaku Avika Nadira dan baru dua minggu ini, aku lulus kuliyah dan ingin sekali aku santai di rumah selama sebulan saja, tapi nyatanya ibuku memarahiku dan sering mengomeliku habis-habisan tiap hari.
"Vika, pergilah mencari pekerjaan. Jangan jadi seorang pemalas yang pengangguran. Malu dong dengan ijazah sarjana kamu!" maki ibuku dengan perkataan yang menusuk di hati.
Bukannya aku malas ataupun tidak mau bekerja, tapi aku hanya ingin menikmati sedikit saja waktu bersenang-senang setelah menyelesaikan pendidikan. Eh malah ibuku berpikir aku tidak mau bekerja.
Padahal setiap hari aku selalu mencari pekerjaan dan memasukkan lamaran pekerjaan lewat email tapi ibu malah berpikir aku hanya bermain dengan ponselku setiap hari. Jujur aku terkadang kesal dengan makian ibu yang berpikir buruk padaku.
"Ok, ok, Vika akan pergi tapi bukan mencari pekerjaan melainkan Vika akan wawancara pekerjaan. Do'akan Vika agar diterima bekerja ya, Bu!" ujarku dengan meminta do'a dan restu pada ibu, karena do'a seorang ibu insya Allah akan terkabul.
Aku pun pergi dari rumah menuju perusahaan untuk memenuhi panggilan wawancara kerja. Aku sangat gugup, tapi saat aku sudah berada di sana, Alhamdulillah semua lancar dan aku diterima sebagai sekretaris di perusahaan besar itu.
Aku senang, akhirnya Allah mengabulkan do'a hambanya. Dan benar do'a seorang ibu memang yang paling mujarab.
Setelah itu aku mampir ke restoran terlebih dulu sebelum pulang ke rumah. Aku akan membelikan ibu makanan kesukaannya sebagai rasa terima kasihku pada ibu. Sambil menunggu pesanan selesai, aku pun pergi ke toilet untuk menuntaskan hajat kecil yang sedari tadi aku tahan.
Aku pun masuk ke dalam toilet, setelah selesai dan keluar dari sana, tiba-tiba saja aku mendengar suara orang meminta tolong di toilet seberang, yaitu toilet pria. Sontak aku pun berhenti dan membalikkan badanku lalu berjalan mendekat ke arah sumber suara.
"Tolong, tolong, apa ada orang di luar? Tolong bantu saya. Saya terkunci di toilet ini."
Dan benar saja, suara pria yang minta tolong sambil menggedor pintu toilet itu dengan berusaha membukanya.
"Hello, apa ada orang di luar? Tolong bantu saya!" teriak pria itu lagi dengan kencang.
Situasi dan tempat yang terbilang sepi juga hening, apalagi hanya ada aku dan pria itu saja. Jadi terpaksa aku membantu pria itu, tidak peduli aku seorang wanita. Karena sesama manusia bukankah harus saling tolong menolong?
"Tuan, anda terkunci di dalam? Bagaimana jika aku mendobrak pintu ini? Jadi Tuan mundurlah dulu," ujarku pada pria di dalam toilet yang belum aku ketahui siapa dia.
"Baiklah, tapi bagaimana kau mendobrak pintu ini? Bukankah kau seorang wanita? Kau tidak akan bisa melakukannya, Nona. Kau cari bantuan pada pelayan atau security restoran ini," ucap pria ini sungguh meremehkanku.
Aku tidak suka bila ada orang yang menganggapku lemah, walaupun aku seorang wanita tapi aku cukup kuat, kok.
"Hei, Tuan kau meremehkan aku? Tidak perlu minta bantuan orang lain. Aku bisa melakukannya. Lihat saja, sekali dobrak pasti pintu ini terbuka!"
"Jadi Tuan mundurlah dan menjauh dari pintu ini, mengerti?" ujarku percaya diri sembari aku memulai memasang badan seperti pemanasan.
"Hei, Nona ... jangan macam-macam ya. Jika tidak bisa, nanti kau malah akan merusak pintu ini dan membuatku terluka!" pria itu banyak bicara seperti kicauan burung Beo.
"Aku hitung sampai tiga, ya! Satu ... dua ... tigaaaa!" teriakku sembari berlari-lari ditempat hendak mendobrak pintu itu.
"Hei, Nona berhati-hati lah!" ujar pria itu tak mau diam dan was-was.
Masa bodoh, aku nggak peduli. Aku akan menunjukkan pada pria itu bahwa aku adalah wanita yang kuat, huft.
"Hiyaaaaaa!" teriakku dengan keras dan mengeluarkan jurus sembarangan meniru gaya di film kungfu panda.
DUBRAKKKK
Yeay ... dan benar saja, hanya sekali tendangan bisa merobohkan pintu itu dengan kekuatan yang aku punya. Hebat bukan, hahaha.
Tapi sejurus kemudian aku baru menyadari bahwa tubuhku menimpa tubuh pria itu. Ups, oh my God. Benar-benar tampan pria di depanku ini. Aku membatin dan tersenyum-senyum.
"Aghhh sialannn, dasar kucing garong! Apa yang kau lakukan padaku?" suara pria itu memecahkan kesadaranku.
Astaga, apa yang aku lakukan? Dasar memalukannya diriku. Aku pun bangkit berdiri dan tidak mempedulikan pria itu yang tergeletak di lantai.
"A-apa yang kau katakan, Tuan? Dan kau ... siapa yang kau bilang kucing garong, hah?" Jelas aku marah padanya karena aku tersinggung dengan ucapannya.
"Kau kucing garong yang suka menerbab seseorang, dan lihat sekarang diriku. Gara-gara jurus gilamu itu aku jatuh begini," maki pria itu dengan amarahnya.
Bukannya terima kasih tapi malah pria itu memakiku dengan sebutan yang membuat darah dalam tubuhku mendidih.
"Kau ... kau bilang aku kucing garong? Dasar kau singa hutan yang tak tahu terima kasih. Bisanya marah-marah seperti singa hutan setelah aku menolongmu," makiku padanya dengan makian yang setimpal.
Ya, singa hutan adalah sebutan yang cocok untuk pria yang tidak tahu terima kasih seperti dia.
"What? Singa hutan? Wah, kau benar-benar ... cepat bantu aku berdiri," pinta pria itu yang berusaha bangkit namun kakinya tidak mampu berdiri.
"Apa? Bantuin kamu? Idih ogah bantuin singa hutan seperti kamu. Bangun aja sendiri," tolakku mentah-mentah padanya dan hendak pergi meninggalkan pria itu.
"Hei, kau kucing garong! Aku berharap Tuhan tidak mempertemukan aku dengan wanita jahat seperti kamu lagi," pria itu menghentikan langkahku penuh dengan amarah.
"Aku harap juga begitu, good bye singa hutan!" Aku pun melangkah pergi dan tak peduli pada pria itu.
Aku tertawa di atas penderitaan orang lain? Oh no no ... salah dia sendiri yang sombong dan nggak tahu terima kasih udah dibantuin, eh malah dia ngatain aku. Rasakan tuh gimana rasanya nggak ada yang nolong dia. Ah bodoh amat, i don't care.
"Hei, hei Nona kucing gar ... siapa pun nama kamu, bantuin aku dulu dong! Kalau bantuin orang nggak boleh setengah-setengah," pria itu menghentikan langkahku lagi.
Aku berpikir sejenak, karena aku tidak tega meninggalkan dia sendiri, jadi terpaksa aku membantu pria angkuh itu bangkit dari lantai.
"Terima kasih," ucap pria itu dingin dan raut wajahnya pun tak bersahabat.
"Aku nolongin kamu itu semata-mata karena kasihan, mengerti?" bisikku pelan lalu pandangan mata kami bertemu.
Aku menyeringai kecut kemudian melangkah pergi meninggalkan pria itu.
"Apa? Kasihan? Wah berani-beraninya dia mengasihani aku. Dia belum tahu siapa aku. Dasar wanita menyebalkan!" umpat pria itu kesal sambil menahan sakit di tubuhnya.
Keesokan harinya, aku telah bersiap-siap dengan pakaian kerja yang rapi dan berdandan cantik serta berlipstik merah merona agar terkesan menarik perhatian di hari pertamaku kerja.
Gemintang Group, perusahaan terbesar di Ibukota, di mana tempat aku bekerja. Begitu menegangkan untuk pertama kali aku bekerja di perusahaan itu.
"Vika, ini ada berkas laporan keuangan dari awal bulan sampai bulan kemarin. Semua laporan ini kamu pelajari dan tolong kamu teliti kembali jika ada yang salah," ujar bu Indah, dia adalah atasanku dibagian akuntan.
"Saya tunggu berkas laporan itu sebelum jam makan siang. Setelah itu saya akan perkenalkan kamu pada pak Delvin, CEO dari perusahaan ini. Dan satu lagi, jangan buat kesalahan apapun pada pak Delvin, karena dia seorang bos yang killer, kau paham!" bu Indah menjelaskan panjang lebar hingga membuatku penasaran dengan CEO yang killer itu.
"Selamat bergabung di perusahaan Gemintang Group. Semoga kamu betah bekerja di sini," ucap bu Indah ramah dan tersenyum padaku.
"Iya, terima kasih Bu Indah, tolong bimbingannya!" ujarku dan membalas senyumannya.
Akhirnya, selesai juga laporan keuangan yang telah aku pelajari dan kuteliti sesuai dengan susunan yang rapi. Kini saatnya aku akan diperkenalkan oleh bu Indah pada pak Delvin selaku CEO yang killer membuatku bertambah penasaran saja.
Tok tok tok
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Bu Indah masuk ke ruangan CEO diikuti aku yang berada dibelakangnya.
Jantungku dag dig dug saat aku memasuki ruangan itu. Aku takut dengan julukan CEO killer yang dibilang oleh bu Indah.
"Pak Delvin, saya membawa laporan keuangan yang Bapak minta, dan saya juga ingin memperkenalkan Pak Delvin pada anggota tim saya yang baru, namanya Avika Nadira," ujar bu Indah sambil melirik ke arahku.
Aku menarik nafas dalam dan mencoba merapikan pakaianku.
Pak Delvin yang tadinya membelakangi kami dengan kursinya, akhirnya dia pun berbalik ke arah kami, sejurus kemudian matanya menatap bu Indah lalu bergantian ke arahku.
Deg
Bagaikan petir di siang bolong, jantungku berdetak tak karuan serasa ingin copot, rasanya sekarang aku ingin lari saja dari ruangan ini. Tapi sialnya, kakiku tak bisa bergerak, dan aku tak bisa berteriak. CEO killer ini seolah siluman yang mengerikan.
"What, singa hutan ini ... dia adalah bosku? Apa aku tidak salah lihat?" batinku sembari tak henti menatap wajahnya
Aku terpaku serasa mendapat serangan mendadak.
"Vika, Vika, hei Vikaaa!" bu Indah menyenggol lenganku hingga aku kaget dan kembali ke alam sadarku.
"Oh, kenapa?" tanyaku asal menatap bu Indah.
"Apa yang kamu lamunkan? Beri salam pada pak Delvin!" bisik bu Indah pelan dan memberi perintah.
"Hah, i-iya Bu!" jawabku gugup.
Aku melihat wajah pria dihadapanku itu sedang tersenyum jahat padaku. Aku semakin cemas dan takut.
"Kucing garong ini ternyata bekerja di kantorku. Semakin menarik," batin pak Delvin tersenyum smrik padaku.
Baru saja aku akan memperkenalkan diri, tiba-tiba saja singa hutan itu mengeluarkan suaranya terlebih dulu.
"Emm, Bu Indah silahkan keluar dari ruangan ini. Biar saya yang memberi pelajaran sedikit pada dia," ujar pak Delvin menunjuk ke arahku.
What? Habislah aku. Bagaimana jika singa hutan itu melakukan hal yang buruk padaku? Pasti dia akan membalaskan dendamnya padaku. Oh no, jangan biarkan itu terjadi, Tuhan.
"Baiklah, pak Delvin. Saya permisi," Bu Indah berbalik dan melangkah pergi.
Tinggallah aku dan pak Delvin di ruangan. Tanganku mulai bergetar dan keringat di keningku pun mulai bermunculan.
"Ekhem!" pak Delvin menetralkan suasana canggungnya.
Aku hanya menunduk tak berani menatapnya.
"Ini hari pertama kamu bekerja disini, kan?" tanya pak Delvin tak henti menatapku.
"I-iya Pak!" jawabku gugup.
Pak Delvin mulai meraih laporan keuangan di meja kerjanya lalu dia membolak-balik berkas laporan itu, kemudian dia menatapku kembali dengan pikiran liciknya.
"Saya ingin kamu perbaiki laporan ini, saya tidak suka ada garis-garis tebal di kolom laporan ini, mengerti?" ucapnya dingin dan menunjuk ke arah berkas lalu bergantian menatapku yang masih menunduk ketakutan.
"Hei lihat saya jika saya sedang berbicara!" bentaknya yang buat aku kaget.
"Iya Pak!" aku pun melihat ke arahnya, sejurus kemudian beralih ke arah berkas laporan itu.
"Saya ingin kamu fokus pada pekerjaan, jangan banyak melamun. Dan satu lagi, perbaiki laporan keuangan dari 3 tahun yang lalu dengan rapi. Saya tunggu berkasnya sebelum jam pulang kantor, kau paham?" perintah pak Delvin.
"Apa? Sebanyak itu?" jawabku begitu saja tanpa berpikir.
Pantas saja dia dijuluki bos killer, karena dia memang bos yang seenaknya saja memerintah bawahannya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Delvin Pradipta seorang CEO yang angkuh dan dingin serta terkenal killer jika berada di lingkungan kantornya. Dia orang yang sangat berpegang teguh pada prinsipnya dan paling benci jika ada karyawan yang membantah perintahnya.
"Kenapa? Kamu mau protes dan membantah perintah saya, hah? Ini kantor saya dan saya bos di sini, mengerti?" bentak pak Delvin menakutkan.
"I-iya pak, akan saya perbaiki laporan ini secepatnya!" Aku meraih berkas laporan itu kemudian berbalik dan berjalan cepat ke luar dari ruangan terkutuk itu.
Pak Dalvin tersenyum puas telah mengerjai aku untuk membalas dendam dengan memerintahkan aku pada setumpuk pekerjaan yang cukup banyak. Ah dasar singa hutan menyebalkan.
"Mati kutu loe, Vika. Kucing garong mau bermain-main dengan Delvin, kamu nggak akan bisa. Rasakan pembalasanku, akan aku buat kau menderita bekerja disini," gumam pak Delvin penuh seringai bahagia.
Pukul 16.30 aku bergegas ke ruangan pak Delvin untuk menyerahkan laporan keuangan yang telah kuperbaiki sesuai dengan apa dia minta.
"Perbaiki lagi semua laporan keuangan ini. Tulisannya terlalu kecil, ganti dengan yang sedikit lebih besar. Besok saya tunggu sebelum jam makan siang!" perintah pak Delvin dengan membuat alasan yang tidak masuk akal bagiku.
"Tapi, Pak ini sudah standar tulisan yang benar," ucapku protes, tapi sayangnya pak Delvin tak peduli ucapanku kemudian dia langsung bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan aku.
Aku kesal dibuat oleh bos killer itu. Sudah berapa jam aku habiskan waktuku hanya untuk memperbaiki laporan yang sederhana ini saja sangat dipermasalahkan olehnya. Kurasa memang dia sengaja mempermainkan aku. Aghhh, menyebalkan.
Berhari-hari selama satu minggu aku bekerja di Gemintang Group, setiap hari pula tiada henti aku mendapatkan makian atas pekerjaan yang selalu disalahkan oleh pak Delvin. Sungguh aku bekerja di bawah tekanan oleh bos killer singa hutan itu.
Tapi di satu sisi, setiap hari pula pak Delvin menjahiliku semakin lama dia selalu ingin bersamaku. Tiada hari tanpa menjahiliku. Jika aku sibuk bekerja pada bu Indah, maka pak Delvin ada saja alasan untuk bertemu denganku. Aku menjadi tidak enak pada bu Indah.
"Kenapa Bapak selalu memanggil saya di saat saya sedang sibuk bekerja? Bu Indah marah pada saya karena pekerjaan saya selalu terhambat karena Bapak selalu menyuruh saya melakukan pekerjaan yang bukan tugas saya. Jadi tolong mengerti posisi saya, Pak!" Aku benar-benar mengeluh dan frustasi dibuat oleh pak Delvin.
Ingin rasanya aku berhenti saja dari kantor ini agar aku tak akan pernah merasakan penindasan oleh si Delvin killer itu. Aku benar-benar lelah dan ingin sekali aku pukul pak Delvin itu.
"Kamu di pecat!" ujar pak Delvin tiba-tiba.
Deg
"Apa salahku?" sahutku kaget menatapnya.
Pak Delvin bangkit berdiri dan mendekatiku.
"Mulai sekarang kamu tidak bekerja pada bu Indah lagi. Kamu saya tarik menjadi sekretaris saya agar kamu tidak perlu mengerjakan tugas double lagi. Urusan bu Indah, kau tak perlu khawatir. Itu akan menjadi urusan saya," Pak Delvin melangkah pergi ke luar ruangannya meninggalkanku.
"Tapi Pak...," ucapku tertahan, sedangkan pak Delvin tak peduli padaku.
"Aghhh sial, jika aku menjadi sekretarisnya, pasti aku selalu menderita dibuat singa hutan itu," gumamku sangat was-was dan khawatir menjadi sekretarisnya.
Kalau begini jadinya, mending aku dipecat saja dari pada menjadi sekretaris orang angkuh dan tidak sopan seperti pak Delvin. Huh, pasti aku akan kurus kering kerja di dekatnya.
Keesokan harinya, pak Delvin mengumumkan aku sebagai sekretaris barunya pada semua karyawan di perusahaan. Aku benar-benar resmi menjadi sekretaris baru pak Delvin. Sebisa mungkin aku tersenyum walau hati tak ingin melakukannya.
"Kita makan siang bersama di restoran pertama kali kita bertemu," ucap pak Delvin mengajakku tanpa basa-basi.
"Hah, tidak mau Pak. Saya biar makan di kantor saja bersama teman yang lain," tolakku dengan halus.
"Ayo, ikut. Tidak ada penolakan," pak Delvin menarik tanganku sampai di depan mobilnya.
"Masuk!" ucapnya ketus.
Aku hanya menuruti apa yang dia mau. Hingga tanpa sadar, kami telah sampai di restoran tempat kami pertama kali bertemu.
Sebenarnya aku tidak ingin berada di restoran ini, tapi kenapa pak Delvin malah mengajak kemari? Padahal di antara kami berdua ada kenangan buruk di tempat ini. Ah, memalukan sekali kalau di ingat-ingat karena nyatanya kami berdua dipertemukan kembali.
Apakah kami berjodoh? Ah, mikir apa aku ini? Mana mungkin pak Delvin menyukaiku. Tapi aku mengakui bahwa pak Delvin memang orang yang baik walau ada sisi buruk yang paling menyebalkan. Tapi tidak mengapa jika aku berjodoh dengannya. Lagian dia lelaki yang tampan dan gagah. Huft, jangan bilang jika aku mulai menyukai singa hutan itu. Oh Tuhan, tolong hamba. Jangan jatuhkan hatiku pada orang yang tidak mungkin aku bisa menggapainya.
"Vika, kamu tahu kenapa saya mengajakmu ke restoran ini?" tanya pak Delvin menatapku.
Aku hanya menggelengkan kepala yang tertunduk lesu.
"Padahal saya ingin lihat kamu seperti kucing garong yang pemberani waktu itu," ungkapnya jujur.
"Apa? Kucing garong? Kenapa kau masih menganggapku sebagai...," bentakku memakinya tanpa sadar hingga aku mengantungkan ucapanku menahan emosi.
Lagi-lagi aku tertunduk tak berani menatapnya.
"Sifat kamu seperti itu yang saya rindukan, tidak seperti di kantor yang hanya diam dan menuruti perintah saya," ungkap pak Delvin yang membuatku kaget oleh ucapannya.
Aku tak mempedulikan apa yang sedang dia ucapkan, lagi pula dia sekarang sudah menjadi bosku.
"Singa hutan ini sangat menyukai kucing garong yang nakal," ujar pak Delvin yang tanpa henti menatapku penuh arti.
Aku perlahan mulai mendongak menatapnya.
"Apa?" tanyaku tak fokus.
"Saya ingin mengakui kesalahan saya waktu itu. Saya minta maaf sekaligus terima kasih sudah menolong saya membuka pintu toilet walau berakhir dengan kecelakaan kecil. Tapi saya bersyukur bertemu dengan kamu," ungkapnya dengan sungguh-sungguh.
Pak Delvin meraih tanganku yang berada di atas meja.
"Saya ingin kita melupakan masa lalu buruk itu, dan saya ingin kita bersama menjalin hubungan baik," ucap pak Delvin yang kali ini menggenggamnya dengan erat.
Aku terkejut dan sedikit gemetar. Aku terpaku dan menikmati sentuhannya.
"Jadilah pacarku. Aku sangat menyukaimu, Avika Nadira!" ungkapnya dengan tiba-tiba.
Deg
Aku gugup tak bisa berkata-kata. Aku ingin melepaskan tanganku darinya tapi dia malah mempererat genggaman tangannya padaku.
"Diam kamu itu saya anggap kamu mau menjadi pacar saya!" pak Delvin tersenyum bahagia dan mengelus pipiku lembut.
Sungguh wajahku pasti memerah karena merasa malu tapi jujur aku sangat bahagia.
Tak lama kemudian pak Delvin bangkit dan mendekatiku lalu dia membungkuk mensejajarkan tubuhnya untuk mencium bibirku dengan lembut, dan sialnya aku membalas ciuman darinya.
"Oh Tuhan, inikah jawaban darimu. Pak Delvin memang benar menyukaiku. Thank you, God. Ternyata cintaku berbalas," batinku masih dengan ciuman kami yang menggebu.
Dan akhirnya aku dan pak Delvin resmi menjalin hubungan. Pertemuan di awal yang terkesan buruk malah membawa kami pada kisah yang bahagia.
Cinta terkadang tak disadari dan tak diketahui kapan datangnya. Bisa jadi pertemuan merupakan awal dari kisah yang akan membawa pada pertemuan berikutnya dengan kenangan-kenangan yang mungkin masih membekas untuk diceritakan kelak. Seiring berjalannya waktu, cinta akan tumbuh bersemi di hati.
-----END-----
Hallo semuanya, terima kasih udah mampir dan membaca cerpenku.
Maaf jika ceritanya kurang menarik ya😂