Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Langit cerah, suhu udara tinggi. Namun di sisi langit lainnya, awan mendung sedang bersiap menunggu waktunya mencurahkan air yang dikandungnya.
Aku yang baru sampai di rumah, setelah dijemput suamiku dari sekolah, buru-buru ke kamar mandi. Sepertinya ada yang tak sabar tercurah dari dalam diriku. Tak lama kemudian, aku pun keluar dari kamar mandi.
"Bang, ada tanda merah muncul, Bang."
"Ha?" suamiku terkejut. "Serius?"
Aku mengangguk meyakinkannya.
Ia segera mengambil ponselnya. Memencet beberapa tombol, lalu memposisikan ponselnya di sisi kanan pipinya.
"Pa, sedang sibukkah, Pa? Bolehkah kami minta tolong Papa ke sini menjemput kami? Si Dya sudah keluar flek. Kami rencananya mau di kampung saja. Terima kasih Pa".
Suamiku menutup teleponnya. Lalu segera mengemasi pakaian yang dirasa diperlukan selama kami di kampung. Sepertinya hari ini benar-benar akan menjadi hari istimewa untuk keluarga kecil kami. Dedek bayi dalam perutku sepertinya sudah tak sabar ingin bertemu ayah bundanya. Dari jauh-jauh hari kami memang sudah merencanakan kelahiran bayi kami di kampung kami, Kotatinggi. Sebenarnya bisa saja kami memilih dedek bayinya untuk dilahirkan di sini, di kota perantauan kami ini. Namun mengingat kami hanya berdua saja di sini, tak ada keluarga dekat yang juga tinggal di sini, kami menjadi ragu jika aku melahirkan di sini. Pasalnya, calon dedek bayi yang kami nanti ini adalah anak pertama kami. Kami benar-benar belum berpengalaman mengurus bayi. Secara teori, mungkin kami paham cara mengurus bayi. Tapi karena belum pernah praktik, kami menjadi tidak percaya diri.
Aku hanya diam berbaring melihat suamiku bolak-balik dari kamar, ke luar kamar, sesekali menghampiriku. Lalu kembali sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Ia berusaha tampak tenang di hadapanku, namun bahasa tubuhnya tak bisa menutupi kekhawatiran yang muncul di hatinya. Untung saja beberapa waktu lalu kami sudah menyiapkan segala keperluan calon dedek bayi dan meninggalkannya di rumah kedua orang tuaku di kampung, sehingga kalau anak kami lahir hari ini, satu tas perlengkapan bayi sudah tersedia untuk di bawa ke rumah praktek bidan atau rumah sakit tempatku melahirkan nanti.
"Sakit, Dek?", tanyanya saat melihatku mengusap perutku sambil meringis menahan nyeri.
"Ssh.. Iya, Bang. Tapi sudah berkurang."
Ia pun ikut mengelus perutku yang sudah sangat besar, mencoba memberikan ketenangan padaku. Kemudian ia segera mengambilkan air minum untukku. "Minumlah. Batalkan saja puasanya. Siapa tahu dedek bayinya lahir hari ini."
Aku pun mengangguk sembari menyambut gelas dari tangannya.
Di luar sana, langit semakin mendung. Perlahan hujan turun, semakin lama semakin deras, seolah tak sabar memeluk Bumi.
Pikiranku menjemput kembali memori pagi tadi. Saat aku bersiap-siap ke sekolah, perutku mulai melilit seperti mau datang tamu bulanan. Rasa nyerinya berulang setiap sekitar tiga puluh menit.
"Perutku mulai mulas-mulas, Bang." Aku memberi tahu suamiku.
"Apa mungkin kamu melahirkan hari ini?
"Ah, ini pasti hanya kontraksi palsu, Bang. Bukankah beberapa hari yang lalu dokter bilang bahwa dedek bayi dalam rahimku diperkirakan lahir dua minggu lagi. Dokter juga memprediksi calon dedek bayi kita berjenis kelamin laki-laki."
Mama pernah cerita bahwa Hamdan dan Ikhsan, dua adik laki-lakiku, dulu proses menjelang lahirnya berunyai. Dari sejak kontraksi awal hingga mereka lahir, butuh waktu hingga dua hari.
"Aku yakin, dedeknya bukan hari ini lahirnya, Bang."
"Lalu bagaimana? Apa Adek tetap mau ke sekolah hari ini? Bagaimana kalau Adek izin saja hari ini. Takutnya kontraksinya semakin sering dan kuat?"
"Adek mau tetap sekolah saja, Bang. Rencananya hari ini Adek mau menemui kepala sekolah untuk mengurus cuti melahirkan."
"Abang antar ya."
Aku mengangguk menyetujui.
Sesampainya di sekolah.
"Abang pulang dulu ya, Dek. Nanti Abang jemput lagi. Kalau ada apa-apa segera hubungi Abang."
"Iya, Bang. Terima kasih Abang sayang," ucapku sambil mencium tangan suami tercintaku.
Di sekolah, urusan surat cutiku berhasil diselesaikan. Sambil menunggu jadwal pulang tiba, datang pesan dari suamiku.
"Bagaimana, Dek? Apakah kamu baik-baik saja?"
"Alhamdulillah. Baik Bang."
"Perutnya bagaimana, masih nyeri?
"Iya, Bang. Jedanya makin dekat dibandingkan tadi."
"Urusan cutinya bagaimana? Sudah beres?"
"Sudah, Bang. Sekarang cuma nunggu bel pulang berbunyi saja. Adek juga sedang tidak ada kelas."
"Oke, Dek. Sebentar lagi Abang jemput ya."
"Iya, Bang."
Percakapan kami selesai. Aku menyimpan ponselku.
"Kapan lahirannya, Dya?", kak Sukma, rekan kerja yang duduk di sampingku bertanya.
"Kata dokter, dua minggu lagi, Kak."
"Wah, sebentar lagi ya. Mudah-mudahan lancar proses melahirkannya nanti. Kamu dan dedek bayinya sehat."
"Aamiin, Kak. Kak Sukma dulu sebelum melahirkan Lady, ada mengalami kontraksi palsu kah?"
"Ngga, Dya. Waktu itu pagi, mulas-mulas, makin siang makin sering dan kuat. Waktu ke toilet, muncul tanda merah. Malamnya Lady lahir. "
"Hmm? Iyakah, Kak? Aku sekarang mulai mulas-mulas, Kak. Tapi belum ada tanda merah."
"Siap-siap aja, Dya. Boleh jadi kamu memang sudah mulai proses melahirkan."
Aku tercenung. Pengalaman yang diceritakan kak Sukma membuatku ragu dengan keyakinanku tadi pagi. Jangan-jangan dedek bayinya memang akan lahir hari ini. Jantungku berdebar.
"Dek," sapaan suamiku membuyarkan lamunanku. Aku menoleh padanya. "Bagaimana rasanya sekarang?"
"Rasa nyerinya semakin kuat dan lama, Bang. Jaraknya pun semakin dekat."
"Apa sebaiknya, kamu melahirkan di kota ini saja?"
"Bagusnya bagaimana ya, Bang? Tapi kalau Adek melahirkan di sini, siapa yang akan menolong kita dihari-hari awal pasca melahirkan. Kita sama-sama tidak punya pengalaman merawat bayi. Memandikan, mengganti popok. Aku belum berani. Sepertinya susah juga kalau Mama minta cuti di kantornya karena mau mengurus cucu kan, Bang?"
"Iya, juga sih. Atau kita cek dulu ke bidan di sini."
"Nanti kalau cek ke bidan dan ternyata Adek memang mau melahirkan, kita jadi tertahan di sini."
"Jadi, Adek pilih melahirkan di kampung saja?
"Iya, Bang. Seperti rencana awal kita."
"Baiklah kalau begitu."
Tak lama terdengar deru mobil yang semakin pelan, lalu berhenti di depan rumah kami. Papa mertuaku tiba. Sejenak beliau memperhatikan keadaanku. "Bagaimana, Dya?"
"Pa. Perut Dya sudah mulai mulas-mulas, Pa."
"Ayo, Man. Segera bawa Audya ke mobil."
"Iya, Pa."
Suamiku segera membantuku naik mobil. Lalu Menaikkan barang-barang yang sudah disiapkannya tadi.
"Pa, Rahman bawa sepeda motor Rahman, ya."
"Maksudmu bagaimana?"
"Maksudnya, Papa dan Audya ke kampung naik mobil, Rahman iringi sepeda motor."
"Jangan, begitu Rahman. Mana bisa istrimu dibiarkan sendiri tanpa didampingi kamu."
"Tapi, Pa, kalau nanti perlu bepergian karena ada keperluan bagaimana, Pa? Ya, kalau mobilnya tidak sedang Papa pakai sih, aman. Tapi kalau Papa juga sedang perlu pakai mobil, kan repot, Pa"
"Sudah, jangan pikirkan itu sekarang. Audya harus didampingi. Nanti kamu akan paham mengapa kita harus semobil."
"Hmm.. Baiklah,Pa."
Perjalanan ke kampung pun dimulai. Hujan yang tadinya agak reda kini mulai deras lagi. Papa sebisa mungkin melajukan mobilnya secepat yang beliau bisa, meskipun hujan menghambat jarak pandang beliau.
"Man, Papa Mama mertuamu sudah kamu kabari?
"Belum, Pa."
"Kabarilah!"
"Iya, Pa.
Suamiku menghibungi papaku.
"Pa, kami sedang dalam perjalanan ke Kotatinggi. Audya sudah mulai mulas-mulas. Mungkin dia akan melahirkan hari ini. Papaku sudah menjemput kami, Pa."
"Oh, ya, nak Rahman. Semoga perjalanannya lancar. Audya dan bayinya sehat dan selamat. Kalau begitu kami di sini juga menyiapkan segala sesuatunya"
"Baik, Pa. Terima kasih Pa."
Suamiku melirik padaku yang duduk di samping kanannya. Tangannya merasakan genggaman tanganku yang tiba-tiba menguat.
"Kenapa, sayang?"
"Nyerinya menguat, Bang."
"Sabar ya, Sayang. Terus berdzikir dan berdoa. Semoga Allah berikan kekuatan untuk kamu."
Aku mengangguk. Aku tak henti berdzikir dan doa. Perjalanan ke kampungku biasanya butuh waktu dua jam. Kami tadi berangkat jam dua siang. Setengah jam sudah berlalu. Aku yang awalnya hanya berdzikir dalam hati, perlahan-lahan mulai bersuara, karena semakin kuat dan seringnya rasa nyeri muncul. Genggaman tanganku pun semakin menguat setiap rasa nyerinya muncul.
"Sabar ya, Dek. Abang yakin kamu kuat, sebentar lagi dedeknya akan bertemu kita", ucapnya sambil mencium dan mengusap kepalaku.
"Iya, Bang," jawabku dengan dahi yang masih berkerut dan mata terpejam menahan rasa nyeri yang muncul.
Satu jam berlalu. Terdengar dering ponsel suamiku. Tangan suamiku merogoh ponsel di saku jaketnya. Lalu melihat nama yang muncul. Papa Mertua. Suamiku segera menerima panggilan telepon dari papaku.
"Assalamu'alaikum, Rahman. Sudah sampai di mana?" rupanya Mamaku yang berbicara di seberang sana.
"Wa'alaikumussalaam, Ma. Baru masuk Kotapanjang, Ma."
"Audya bagaimana sekarang."
"Katanya perutnya semakin sering nyeri ma."
"Rencananya bagaimana?"
"Rencananya Dya mau melahirkan di klinik bersalin yang Mama ceritakan waktu itu. Biar dekat dari rumah."
"Mm.. begitu.. Nanti kalau Audya sudah tidak sanggup menahan sakitnya, rumah sakit atau klinik praktek bidan mana pun yang ketemu di sepanjang perjalanan, bawa saja Dya ke situ. Jangan paksakan harus sampai di Kotatinggi. Mama khawatir nanti terjadi hal yang buruk terhadap Dya dan bayinya."
"Iya, Ma. Nanti Rahman coba bujuk Audya."
"Baik, Nak. Gimana-gimananya nanti kabari kami ya, Nak."
"Baik, Ma."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalaam, Ma."
Suamiku menyimpan lagi ponselnya di saku jaketnya.
"Bagaimana, Dek. Mama bilang jangan paksa kamu melahirkan di Kotatinggi jika kamu sudah tak sanggup."
"Iya, Bang. Nanti kalau Adek sudah tidak kuat. Adek kasih tau Abang."
Kami di batas Kotapanjang. Di sekitar ini ada sebuah Rumah Sakit. Aku sempat terpikir untuk melahirkan di sana.
"Bagaimana, Dya. Mau ke sini saja?" papa mertuaku bertanya sambil matanya melirik ke rumah sakit beberapa meter di kiri depan kami. Laju mobil beliau pelankan.
"Mm.. lanjut dulu sajalah, Pa. Sekarang nyerinya sedang hilang."
Papa mertuaku lalu mempercepat kembali laju mobilnya. Beliau tampak serius kembali melajukan mobilnya. Saat mobil melewati tanggul atau lubang disepanjang perjalanan, dengan sigap beliau memelankan mobil, agar badan kami tak merasa terhempas. Kalau ada audisi untuk pemain film The Fast and The Furius di sini, mungkin Papa bisa lolos audisi. Pikirku bercanda saat nyeri perutku sedang hilang.
Tak lama setelah itu nyerinya muncul lagi. Kali ini semakin lama dan kuat. Mataku yang memang lebih sering kupejamkan, kini semakin kuat terpejam. Keringat di dahiku semakin banyak mengucur. Suaraku semakin kuat mengucap doa dan ayat kursi. Berharap dengan itu nyerinya berkurang. Tangan kirik terus mengusap perutku. Tangan suamiku pun tak lepas dari cengkeraman kuat tangan kananku. Aku tak peduli jika cengkeraman tanganku membuatnya sakit. Yang aku tahu aku hanya mencoba mencari ketenangan dalam kuatnya rasa sakit yang saat ini muncul. Aku lelah. Kesadaranku sejenak hilang. Tak lama setelah itu kurasakan rasa sakitnya menghilang. Aku terbangun kembali.
"Dek, dek.." suamiku menepuk lembut pipiku. Ia pun menguatkan genggaman tanggannya yang satunya ditanganku.
"Dek, kita ke rumah sakit dekat sini saja ya."
Aku yang merasa sudah baikan menggeleng. Di Kotatinggi saja, Bang. Sekarang sakitnya sedang hilang.
Kami pun memasuki batas Kotatinggi. Sudah hampir dua jam perjalanan kami tempuh.
Lalu suamiku menawarkan agar kami menuju rumah sakit terdekat dari batas kota ini.
"Mm.. lanjut lagi saja dulu, Bang. Aku takut nanti dioperasi. Aku masih berharap melahirkan tanpa operasi."
"Tapi kamu masih sanggup menahan sakitnya?"
"Masih, Bang."
"Baiklah."
Papa mertua yang menyimak percakapan kami, semakin mempercepat laju mobilnya. Sekitar sepuluh menit lagi, kami akan sampai di rumah praktek bidan yang kami rencanakan dari awal.
"Pa, kami sebentar lagi lewat gang depan rumah. Kita langsung menuju tempat praktek Bidan Darma ya Pa." Suamiku rupanya sedang menelpon papaku mengabari bahwa kami hampir tiba.
Suara azan belum lama berakhir. Waktu menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit. Akhirnya kami tiba di tempat praktek Bidan Darma. Papa mertuaku memarkirkan mobilnya. Suamiku segera turun mobil, dan mengetuk pintu rumah Bidan Darma yang tertutup. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Kami sempat ragu bahwa Bidan Darma ada di rumahnya. Suamiku terus mengetuk pintu hingga akhirnya seseorang membuka pintu. Rupanya asisten Bidan Darma yang membuka pintu. Bidan Darma rupanya sedang shalat Ashar. Setelah bercerita singkat dengan asisten tersebut akhirnya kami dipersilakan masuk.
Suamiku setengah berlari menuju tempat dudukku di mobil. Dan mengajakku turun mobil. Aku pun mencoba mengangsur posisiku semakin dekat ke pintu mobil sebelah kiri. Saat aku mencoba menurunkan kaki kiriku, entah mengapa aku merasa tak sanggup bergerak lagi. Kedua kakiku bergetar kuat.
"Ayo turun, Dek."
"Aku tak kuat, Bang. Kakiku gemetar," ungkapku pada suamiku.
Lalu kudengar suara letupan lembut dari arah tempat dudukku. Kurasakan sensasi seperti mengompol.
"Apa mungkin ketubanku pecah, Bang?"
Suamiku langsung memposisikan dua tangannya sejajar. Ia menggendongku ke dalam ruang praktek Bidan Darma. Walau tak mudah, namun ia berhasil mengangkatku hingga sampai ke atas tempat tidur.
Bidan Darma mengecek kondisiku.
"Sudah bukaan sepuluh, Bunda," ujarnya kepadaku.
"Iyakah, Bu?"
"Tahan dulu ya, Bunda. Jangan diejan dulu!"
"Baik, Bu."
Sejenak bidan Darma tampak sibuk dibantu asistennya menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk membantu proses persalinanku.
Suamiku sepertinya ingin bertahan dalam ruangan bersalin ini. Aku pun berharap demikian. Namun masih ragu, khawatir tak di izinkan bu Bidan.
"Saya boleh tetap di sini, Bu?" Suamiku memberanikan diri bertanya.
"Boleh, Pak. Mamanya juga boleh."
Kami pun tersenyum lega. Aku akhirnya ditemani oleh suami dan mamaku.
"Nanti kalau muncul rasa mulas seperti ingin BAB, beritahu saya,ya," bidan Darma memberi petunjuk.
"Iya, Bu. Ini dia muncul, Bu."
"Oke, Bunda. Coba ejan dengan satu napas, ya Bunda!"
"Mmmm... hh.." Aku mencoba menerapkan petunjuk bu Darma. Lalu rasa mulasnya hilang.
"MasyaAllah. Bagus sekali Bunda," Bidan Darma menyemangatiku.
Suamiku mengusap-usap kepala yang terus berkeringat. Udara terasa panas bagiku. Sedangkan mama mengusap bahu kananku.
"Coba tangannya di taruh di sini. Dan kakinya seperti ini!" Bidan Darma memberi instruksi sambil membantu membenarkan posisi tangan dan kakiku.
"Dia muncul lagi, Bu."
"Coba ejan lebih kuat lagi ya, Bunda. Masih dengan satu napas."
"Aaaaaaaah...," aku mencoba lagi.
Kali ini, puncak kepala bayiku sudah muncul, namun tenagaku belum sanggup untuk melanjutkan prosesnya. Bayiku bersembunyi kembali.
"MasyaAllah Bunda. Terus semangat ya, Bunda. Usahakan tidak teriak Bunda, agar energi Bunda terfokus untuk mendorong bayinya," bidan Sukma terus menyemangatiku.
"Semangat Nak, Bunda juga semangat berjuang agar kamu lahir dengan selamat. Kita berjuang sama-sama ya, Nak. Bunda sudah tak sabar berjumpa sama kamu," hatiku bicara, mencoba berkomunikasi dengan calon bayiku.
Gelombang cinta itu datang lagi. Aku berusaha mengerahkan segala kekuatanku agar anakku segera lahir.
"Eeeeeeeh......h."
"Kita perluas jalannya ya, Bunda," ujar bidan Sukma dalam proses mengejanku kali ini.
Zigzig..
Kudengar suara gunting berbunyi. Rasa sakit dari gunting tak lagi kurasa. Sepertinya dikalahkan oleh sakitnya gelombang cinta ini. Terbayang betapa besarnya perjuangan Mama dulu saat melahirkanku dan adik-adik. Terlintas salah dan dosaku selama ini kepada Mama. Rasanya sampai saat ini, saat aku akan menjadi ibu, belumlah mampu kumembalas segala pengorbanan Mama untukku. Perjuangan melahirkan ini benar-benar perjuangan terberat yang pernah kualami. Tak heran jika Ibu yang gugur saat melahirkan, dimuliakan sebagai syahidah. Allahuakbar. Kuatkanlah hamba-Mu ini, ya Allah.
Zrrr rrrtt..
Tiba-tiba gerakan cepat yang membuat perutku terasa lega terjadi.
"Oak.. Oak.." Terdengar tangisan pertama bayiku.
Alhamdulillah.. Suara tangisnya memecah suasana tegang beberapa detik sebelumnya.
Selamat datang putra kecilku. Marhaban yaa Ramadhanku.
MasyaAllah.. Seketika rasa sakit yang seharian ini kurasakan segera berganti dengan kebahagian yang tak dapat digambarkan bagaimana rasanya. Seolah-olah rasa sakitnya telah sirna.
"Terima kasih, Sayang," suamiku mengecup dahiku. Sejenak aku merasa segan. Kami tak pernah sebelumnya melakukan ini di depan umum. Apalagi di depan mertuanya.
"Biar saja, kan aku mencium istriku," ujarnya berbisik memahami rasa segan yang tampak dari wajahku. Aku hanya tersenyum.
Tatapan kami beradu. Bulir-bulir kebahagiaan mengalir dari sudut mata kami.
"Selamat, nak," Mamaku pun segera menciumku. Hari ini Mama resmi menjadi nenek.
Kemudian bidan Sukma menggunting tali pusar bayiku, lalu membantu proses keluar "kakak" bayiku. Asistennya membersihkan bayiku, lalu menyerahkannya pada suamiku.
"Allaahu Akbar. Allaahu Akbar..., " suamiku menunaikan kewajiban pertamanya terhadap putranya yang baru lahir.
Di pertengahan Ramadhan, putra pertama kami lahir. Cucu pertama dari pihak keluargaku dan keluarga suamiku. Semoga engkau menjadi anak yang shaleh, Nak. Menjadi penyejuk hati kami. Menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
Marhaban yaa Bintang Langit Ramadhan-ku sayang. Semoga engkau diberi-Nya kemuliaan sebagaimana mana mulianya bulan Ramadhan. Aamiin.