Ku kemudikan mobil yang kucicil dengan gajiku di tengah kemacetan perjalanan Jakarta-Bogor hari ini.
Seandainya saja Ibu tidak memintaku untuk pulang weekend ini, aku pasti sudah sedang bersantai di kamar kost ku yang nyaman.
Ya, Ibu dan Bapak memang memaksaku untuk pulang karena mereka ingin memperkenalkan aku dengan seorang laki-laki anak sahabat Ibu semasa SMA dulu, yang konon katanya adalah lelaki yang shalih dan cocok untukku.
Kupikir, darimana Ibu dan Bapak tau kalau lelaki ini cocok untukku? Sedangkan Ibu bilang, mereka baru pertama kali bertemu. Itupun secara tidak sengaja ketika Ibu dan Bapak umrah sebulan yang lalu.
Terkadang Bapak dan Ibu terlalu bersemangat mencarikanku jodoh karena menurut mereka aku tidak serius ingin menikah sedangkan umurku sudah hampir 24 tahun. Sudah setua itukah umurku sampai-sampai mereka tidak mengijinkanku menyendiri untuk beberapa tahun lagi saja??
Dalam pemikirianku ditengah kemacetan kudengar adzan maghrib berkumandang dari aplikasi di ponsel pintar ku. Segera ku sudahi shaum hari ini dengan sebotol minuman dingin yang ku beli dari tukang asongan di perempatan lampu merah sebelumnya.
Ku layangkan pandangan ke sekeliling jalan sampai akhirnya kutemui SPBU setelah beberapa ratus meter mobilku melaju. Kuparkir teman perjalananku dengan sangat hati-hati di sebelah mobil expander berwarna hitam mengkilat. Mobil idamanku.
Langkah kakiku lantas mengikuti petunjuk arah ke tempat wudhu. Kulonggarkan sedikit hijab yang menutupi kepala dan kunikmati basuhan segar air di wajah, lengan dan kakiku. Sampai di mushalla, aku cukup kikuk karena di hadapanku ada seorang lelaki muda yang juga berniat untuk shalat. Bukannya apa-apa, mushalla sempit berukuran 2x3 meter yang hanya terdiri dari 3 shaf ini letaknya tersembunyi di belakang lokasi pengisian bahan bakar, dan sekarang disini hanya ada aku dan seorang lelaki yang sama sekali tidak kukenal.
Sama sepertiku, laki-laki itu juga terlihat kikuk dan serba salah sampai-sampai kami mengurungkan niat untuk segera mulai shalat. Sampai kemudian datang lagi seorang bapak dan berdiri di shaf kedua, membuatku merasa lega. Kulihat laki-laki itu juga tersenyum lega.
"Silahkan di imami Mas," ujar Bapak itu.
"Silahkan Bapak saja," jawab si lelaki
"Berhubung Mas sudah berdiri paling depan, jadi silahkan Mas saja yang jadi imam," sahut Bapak itu lagi.
Tanpa mengulur waktu kami pun memulai shalat berjamaah.
Lalu entah kemana perginya si Bapak, setelah selesai salam lagi-lagi hanya ada kami berua. Aku dan lelaki muda itu. Dengan cepat ku bereskan perlengkapan shalatku dan meninggalkan mushalla.
Aku sedang mengenakan sepatu saat lelaki itu mengejarku.
"Mbak, Mbak!" panggil lelaki itu.
Meski aku ragu tapi tidak sopan rasanya jika aku tidak menjawab panggilannya.
"Iya Mas,"
"Ini kunci mobil Mbaknya bukan? Saya lihat ketinggalan di mushalla,"
Lelaki itu menunjukkan kunci mobil dengan dompet STNK berwarna cokelat tua. Ya ampun, bagaimana aku bisa seceroboh itu meninggalkannya di sana.
"Oh iya betul, terima kasih," ucapku sambil mengambil kunci dari tangannya.
Lelaki itu hanya tersenyum kecil tanpa menjawab.
Sesaat kemudian kulihat dia menerima panggilan telepon. Dan tidak lama ponselku juga berdering. Panggilan dari Ibu.
"Assalamualaikum... Iya Bu, ini sebentar lagi sampai. Iya, jalanan macet. Iya iya bu, sabar ya.. Wa'alaikum salam.."
Sambungan telepon terputus. Ibu bilang, lelaki yang sedang dijodohkan denganku sebentar lagi akan sampai ke rumah dan Ibu berharap aku juga segera sampai.
Ya ampun Ibu.. Kenapa kali ini serius sekali sih?? Belum apa-apa sudah menjodoh-jodohkan. Bagaimana kalau lelaki itu tidak cocok denganku? Bagaimana kalau lelaki itu bukan type yang aku inginkan? Bagaimana kalau lelaki itu ternyata tidak seperti yang Ibu pikirkan?
Ah, terlalu banyak 'bagaimana' di benakku sekarang ini. Tapi untuk menolak keinginan Ibu pun tidak mungkin, bisa durhaka aku nanti.
Dalam lamunanku kulihat lelaki yang mengimami sholatku tadi masuk ke dalam mobil expander yang terparkir tepat di sebelah mobilku.
"Ooh.. Ternyata dia pemilik mobil itu," gumamku dalam hati.
Mungkin sebenarnya, lelaki seperti itulah yang bisa disebut lelaki shalih. Dia mengerti adab shalat berjamaah, dan fasih menjadi imam seperti orang yang sudah terbiasa mengimami shalat. Wajahnya pun bersih sedap dipandang, dan kelihatannya kehidupannya cukup mapan.
Astaghfirullah... Apa sih isi kepalaku ini?! Lebih baik aku bergegas pulang sebelum Ibu menghubungiku lagi.
Akhirnya, setelah 30 menit melanjutkan perjalanan sampai juga aku di rumah, disambut meriah Ibu dan Bapak.
"Kenapa sampainya malam sekali Sya?" tanya Ibu setelah kami saling bertukar salam.
"Macet Bu,"
"Bukan karena kamu sengaja menghindar kan?"
Aku tersenyum malu karena Ibu begitu tahu apa yang ada dalam pikiranku.
"Bukan Bu, tadi pulang kantor Ais langsung pulang kok," jawabku berbohong
"Sudah buka puasa?" tanya Ibu lagi.
"Sudah Bu, tadi di jalan sekalian mampir shalat maghrib,"
"Ya sudah, kamu langsung mandi, ganti baju, sebentar lagi tamunya datang," ucap Ibu semangat.
"Ibu beneran mau jodohin Ais?" tanyaku, barangkali bisa merubah pikiran Ibu.
"Memangnya kenapa?"
"Kenapa pake jodoh-jodohan segala, Aisyah kan bisa cari sendiri Bu," protesku segera.
"Iya, Ibu percaya sama kamu. Tapi ngga ada salahnya kan kenalan dulu? Siapa tau cocok,"
"Terserah Ibu aja deh," keluhku pasrah.
Semenit kemudian ponselku berdering dan kuterima panggilan dari sahabatku Ana sambil masuk ke dalam rumah. Selagi bertelepon kusadari ada mobil yang datang dan parkir di halaman rumahku meski aku tidak tertarik untuk melihatnya.
Lalu samar-samar kudengar suara salam dari seorang lelaki, sepertinya itu tamu yang Ibu tunggu-tunggu. Ku putus saluran telepon dan bersiap menerima kedatangan tamuku.
Bismillah, semoga ini memang yang terbaik.
Kumajukan pijakan kaki beberapa langkah sampai akhirnya kami berpapasan di ambang pintu.
"Aisyah, ini Mizan yang Ibu ceritakan ke kamu. Mizan, ini Aisyah anak Ibu,"
Betapa terkejutnya aku melihat lelaki yang ada di hadapanku itu, begitupun dengannya. Untuk sesaat kami hanya tertegun sebelum akhirnya kudengar lelaki itu mengucap salam dengan fasih, suaranya pun sudah tidak asing lagi di telingaku.
"Assalamu'alaikum Aisyah,"
"Wa... Wa'alaikum salam," jawabku terbata.
Demi memastikan apa yang kulihat, kualihkan pandanganku ke palataran. Mobil expander hitam mengkilat yang sebelumnya kutemui di SPBU maghrib tadi sekarang sudah kembali terparkir di sebelah mobilku.
Jantungku berdetak sangat cepat. Bermacam rasa di hatiku bercampur aduk jadi satu.
Ya Allah.. Indah sekali caraMu mengatur pertemuan ini...