"Bae Jinsol!"
Bae—begitu orang-orang memanggilnya—,seseorang yang dipanggil tadi segera berbalik. Ia tersenyum saat melihat sahabatnya sedang berjalan mendekat sambil melambaikan tangan. Bae berjalan menuju Chaeyong, namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok hitam dibelakang sahabatnya.
"Bae Jinsol!" Chaeyoung kembali memanggil saat Bae tiba-tiba saja terdiam. Barulah saat pundaknya ditepuk, Bae menyahut.
"Iya?"
"Kamu daritadi terus saja melihat ke belakangku? Ada apa?" Chaeyong berbalik dan menoleh ke belakang. Bae ingin mencegahnya. Tapi reaksi Chaeyong tampak biasa-biasa saja. "Gak ada apa-apa kok."
Bae mengecek penglihatannya. Benar saja, tidak ada apa-apa. Ia mencoba bersikap biasa saja lalu kembali berjalan meunuju kelas. Ujian akhir hari ini, ia tidak mau memikirkan hal lain. Tanpa ia tahu, sosok tadi masih mengikuti dibelakangnya.
***
Sehari setelah ujian. Bae sedang duduk di kasurnya, menatap nyalang ke arah sosok hitam yang selama seminggu ini terus-terusan mengikutinya.
"Kenapa kamu selalu mengikutiku!" Saking marahnya, Bae bahkan melempar tasnya ke sosok hitam itu.
Melihat tasnya dengan mudah menembus si sosok hitam membuat Bae bergerak ke sudut dinding. "Ka-kamu hantu?!"
"Kamu baru sadar?!" Si sosok hitam bicara. Suaranya menyeramkan, sama seperti warna hitam dibalik tudung kepala—yang diyakini Bae adalah wajahnya.
"Ekhem," sosok hitam berdehem. Meski setelah itu suaranya tetap serak dan menyeramkan. "Meskipun begitu aku tidak bisa disebut hantu. Kalau dengan nama yang kalian para manusia tau, aku adalah malaikat pencabut nyawa atau grim reaper atau semacamnya."
"Pencabut ... nyawa? Aku akan meninggal?!"
Sosok hitam berpindah sangat cepat. Kini ia duduk di samping Bae. "Betul sekali. Kamu akan meninggal dalam seratus hari dikurang tujuh hari. Karena sudah seminggu aku mengikutimu kan?"
Bae masih menyimak. Sebenarnya ia antara percaya dan tidak percaya. Tapi sosok hitam itu benar-benar ada di hadapannya.
"Aku sendiri tidak tahu kenapa kamu bisa melihatku. Apa kamu punya indra keenam?" tanya sosok hitam.
Bae menggeleng. Ia takut-takut melihat ke arah si sosok hitam itu.
"Kenapa melirikku?" Sosok hitam malah mendekati Bae membuat gadis itu memekik ketakutan. "Ah, kamu takut rupanya."
Sosok hitam berdiri jauh dari Bae. Ia mulai mengelilingi kamar sambil terus bersuara. Kali ini entah kenapa suaranya berubah, lebih menjadi suara manusia pada umumnya. "Karena kamu akan meninggal aku akan berbaik hati untukmu. Aku tidak mau kamu meninggal lebih awal gara-gara takut padaku."
Sosok hitam berhenti di sebuah figura. "Apa dia temanmu?"
Bae menoleh. "Iya," jawabnya singkat.
Tiba-tiba sosok hitam itu menoleh ke arah Bae. Gadis itu terkejut dengan wajah sosok hitam yang sudah berubah. Amarahnya memuncak. "A-apaan kamu ini?!"
Sosok hitam itu terlihat bingung. "Loh, bukankah lelaki ini temanmu? Aku hanya meniru wajahnya agar kamu tidak ketakutan."
"Aku tidak mau melihat wajahmu! Pergi!" Bae menutupi diri dengan selimutnya.
Sosok hitam menghela napas. Ia akan menjauh dari Bae meski hanya diluar kamar. Bagaimanapun juga ia tidak bisa meninggalkan Bae.
Malam harinya setelah pertengkaran itu. Bae terbangun dengan selimut menyelimuti seluruh tubuhnya. Rupanya ia tertidur.
"Kau sudah bangun?"
Bae terkejut melihat Dongpyo ada di depannya. "Dongpyo...."
Sosok hitam itu terkejut. "Jadi namanya Dongpyo?"
Bae lanjut tersadar. Orang berwajah Dongpyo di depannya ini bukanlah Dongpyo sebenarnya. Air matanya menetes lagi. "Maaf aku membentakmu."
"Tidak apa-apa. Aku tidak tahu rasanya dibentak manusia dan sekarang aku tahu. Jadi kenapa menangis?"
Bae menatap 'Dongpyo' lalu tersenyum sedih. "Dia sahabatku. Dia meninggal dunia karena tawuran."
"Ah, masa muda yang tragis. Aku turut berduka cita."
"Boleh aku memanggilmu Dongpyo? Aku ingin dia seolah bersamaku di saat-saat terakhirku. Sama seperti aku bersamanya di saat-saat terakhirnya." Kini sebuah senyuman muncul di wajah Bae.
"Tentu."
Bae berdiri lalu berjalan dari kasur. Ia duduk di meja belajarnya dan mulai menulis sesuatu.
"Sedang apa?" Dongpyo menghampiri Bae.
"Sedang menghitung uang." Bae dengan cekatan menuliskan sesuatu. "Jadi karena biaya sekolahku sudah lunas aku tidak perlu khawatir. Waktu kematianku tinggal sembilan puluh tiga hari. Ditambah menunggu kelulusan sekitar seminggu maka jadi delapan puluh enam hari."
Bae menuliskan angka-angka di kertas. "Dengan uang tabunganku cukup untuk tiga puluh hari. Ditambah uang bekerja lagi maka setelah kematianku, uang tabunganku cuman bisa menghidupi ayahku untuk sebulan."
Bae menggigit jari. Ternyata uang tabungannya tidak terlalu banyak.
"Wah, kau sudah menghitung semuanya." Dongpyo melihat catatan Bae.
"Aku harus menghasilkan banyak uang. Dongpyo menurutmu kerja apa yang menghasilkan banyak uang dalam waktu singkat?"
"Kamu bertanya padaku?" Dongpyo menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Siapa lagi yang bisa kutanya."
"Bekerja dengan menjual tubuhmu?"
"Kamu g*la ya," Bae berusaha memukul Dongpyo tapi tangannya malah menembus. "Tapi patut dicoba."
"Oi oi Bae, kamu g*la? Sudah tahu akan meninggal masih saja mau berbuat dosa."
"Kamu sendiri yang memberi saran!"
"Aku kan cuman bercanda," ujar Dongpyo mengerucutkan bibirnya.
Bae terkesiap melihat Dongpyo. "Darimana kamu belajar memasang wajah seperti itu?"
"Ah, aku menonton di televisi. Para gadis suka jika lelaki mengerucutkan bibir. Terlihat lucu dan manis kata mereka."
"Memangnya siapa yang melihatmu?"
"Kamu," ujar Dongpyo lalu tertawa.
"Jadi apa ada saran lagi? Jangan bercanda, serius!" Bae berkacak pinggang dan memasang wajah garang.
"Menikah dengan orang kaya?"
"Jangan bilang kamu menonton di televisi?"
"Iya, hahaha."
Bae memikirkan saran dari Dongpyo. Tapi dirinya baru akan lulus seminggu lagi. Terlalu awal untuk menikah. Ia juga tidak punya calon suami kaya.
"Oi, jangan bilang kamu serius dengan saranku?"
"Saranmu masuk akal. Aku tinggal mencari lelaki kaya untuk dinikahi." Bae membuka handphonenya.
"Kamu kan baru lulus sekolah. Memangnya siapa yang mau menikahimu?" Dongpyo duduk di kasur Bae. Ia melihat gadis itu sibuk mengutak-atik sesuatu di handphonenya.
Bae lalu menunjukkan sebuah foto lelaki berjas dengan latar belakang mobil mewah kepada Dongpyo.
"Siapa dia? Kelihatannya kaya."
"James, sahabat Dongpyo. Aku akan meminta dia menikahiku dengan sebuah perjanjian untuk menafkahi ayahku bahkan setelah aku meninggal nanti."
Dongpyo menatap Bae dengan agak takut. "Kamu sudah memperhitungkan sampai ke sana ya?"
Keesokan harinya Bae meminta untuk bertemu James. Lelaki itu menyetujui dan akan bertemu dengan Bae di taman yang biasa mereka bertiga kunjungi.
James datang dengan mobil mewah. Di taman itu sudah ada Bae yang menunggu. Bae mengenakan hoodie simpel sementara James mengenakan setelan jas. Mereka berdua terlihat sangat kontras.
"Kalian boleh pergi. Nanti aku akan menelpon jika ingin dijemput," ujar James kepada supir dan beberapa pengawalnya.
"Ta-tapi Tuan Muda." Seorang pengawal muda ingin mengatakan sesuatu. Pengawal lainnya yang tampak lebih tua segera menarik pengawal muda itu.
"Baik Tuan Muda." Ia segera masuk ke mobil bersama dengan pengawal muda.
"Kamu itu harus menuruti keinginan Tuan Muda."
"Ta-tapi bukankah tugas kita melindunginya?" ujar si pengawal muda.
"Tidak perlu. Tuan Muda hanya bertemu dengan sahabatnya."
Sementara itu, James melangkah mendekati bangku yang diduduki Bae. Dongpyo memperhatikan James dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Dia memang orang kaya rupanya. Tapi dia terlihat lebih dewasa daripada kamu."
"Dia memang lebih tua. Tapi dulu kami bertiga bersahabat."
"Oi, Bae Jinsol!" James menyapa lalu duduk di samping Bae. Sementara Dongpyo tersisihkan ke ujung bangku.
"James, apa kabar?" Bae menyalami James.
"Baik. Kamu sendiri?"
"Ahaha, baik," sepertinya, sambung Bae di dalam hati.
James menatap langit sore hari itu. "Jadi kenapa meminta bertemu? Kita tidak pernah bertemu lagi setelah kejadian itu."
Kejadian yang dimaksud James adalah kematian Dongpyo. Mereka berdua begitu terpukul saat kehilangan orang yang paling mereka sayangi setelah keluarga. Apalagi ia meninggal karena dikeroyok oleh remaja lainnya saat tawuran. James dan Bae tidak ingin bertemu dan membuka luka lama.
"Aku ingin meminta tolong."
"Tentu, minta tolong apa?" James tersenyum. Ia dengan senang hati mau menolong sahabatnya itu.
"Kamu mau menikah denganku?"
James kaget bukan main. "A-apa?!" Segera ia memalingkan wajahnya dari Bae. Hal itu membuat Dongpyo terkejut karena tiba-tiba saja James menatapnya.
Wajah James memerah, degup jantungnya juga semakin kencang. Dongpyo mencurigai sesuatu. Dan kecurigaan Dongpyo benar adanya.
Dulu saat mereka bertiga bersahabat tentulah ada perasaan suka yang timbul. Bae menyukai Dongpyo. James menyukai Bae. Tapi karena James tau Bae menyukai Dongpyo, ia tidak pernah mengungkapkan perasaannya bahkan setelah Dongpyo meninggal.
"Boleh aku tau alasannya?" tanya James masih menghadap Dongpyo.
Bae mulai menjelaskan semuanya. Namun, ia merahasiakan tentang pancabut nyawa yang sekarang berhadapan dengan James. Penjelasan demi penjelasan Bae membuat James kembali menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Serius?"
"Entah kamu mau percaya atau tidak. Aku cuman minta kamu nikahin aku, setelah aku meninggal kan kamu bisa cari istri lagi atau tetap jadi duda."
"Akan ku pikirkan. Kalau begitu aku pergi duluan." James berdiri dan berjalan menjauh. Terlibat ia menelpon lalu beberapa menit kemudian mobil mewah tadi datang menjemputnya.
Sementara itu, Bae tetap duduk di bangku taman bersama Dongpyo. "Dia akan menikahimu," ujar Dongpyo.
"Kenapa kamu yakin sekali?" Bae menoleh ke arah Dongpyo.
"Dia mencintaimu," ujar Dongpyo membuat Bae tertawa. Kini Bae seperti orang gila karena berbicara dan tertawa sendirian.
"Mana mungkin. Kamu lihat sendiri kan dia seperti apa? Tentulah dia ingin gadis yang cantik, modis, pintar merawat diri dan minimal keluarganya ingin gadis yang berasal dari keluarga pengusaha. Ah, aku jadi pesimis dia menerima lamaranku."
"Kita lihat saja nanti."
***
Keesokan harinya.
"Apa? Serius?" Bae segera berganti baju setelah mendapatkan telepon dari James.
"Kenapa?" Dongpyo masuk menembus tembok setelah Bae berganti baju.
"James nerima lamaranku haha." Bae tertawa karena merasa aneh dengan perkataannya sendiri. "Abis ini kita ketemuan."
Bae berpakaian seadanya. Membawa tas kecil untuk membawa handphone lalu segera pergi. Betapa terkejutnya ia melihat mobil mewah James berada di depan rumahnya.
"Naik," ujar James mengeluarkan kepalanya di jendela mobil.
Bae dengan kebingungan menaiki mobil mewah itu. Ia bersama James duduk di kursi belakang. Setelah naik, mobil langsung melaju entah kemana.
"Jadi mau bicara apa?" tanya Bae.
"Tentang pernikahan. Nanti kita lanjutin di restoran." James lanjut terdiam. Ia tidak bisa menahan diri didekat Bae. Menurutnya Bae terlihat sangat cantik dengan dress biru polos dan kuncir kuda.
Bae melihat sekeliling. Ini pertama kalinya ia naik mobil bersama James. Biasanya mereka selalu bertiga.
Mobil berhenti di sebuah Restoran. James membukakan pintu untuk Bae, membuat gadis itu tersipu malu. Dongpyo ikut turun, ia ikut masuk ke dalam restoran sambil mengejek wajah merah Bae.
James dan Bae berbincang-bincang mengenai banyak hal. Dongpyo ikut tersenyum melihat Bae yang tersenyum. Ia menjauh sejenak untuk memberi waktu berdua kepada mereka.
"Dengan waktu tersisa sembilan puluh hari, aku harap dia bisa bahagia."
Dongpyo menunggu di rumah hingga beberapa jam kemudian Bae pulang. Bae terlihat sedikit berbeda dari biasanya.
"Bagaimana?" tanya Dongpyo.
Bae menghempaskan diri ke atas kasur. Ia menatap atap rumahnya. "Dia setuju untuk menafkahi ayahku. Dia bilang dia juga perlu pernikahan ini untuk mendapatkan warisan dan memegang jabatan penting diperusahaan. Yah, sama-sama untunglah ya."
"Bagus dong. Terus kenapa sedih?"
"Sedih karena setelah menikah dengan James, aku bakalan meninggal hahaha."
***
Setelahnya James dan keluarga besar datang melamar Bae. Ayah Bae sedikit terkejut tapi tetap senang. Mereka akan menikah segera setelah kelulusan Bae.
Bae sangat bahagia di hari pernikahannya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin. Bahkan James semakin terpesona dengan penampilan istrinya.
"Tinggal delapan puluh hari lagi," ujar Bae pada malam pertama mereka.
"Apa kamu benar-benar akan meninggal?" tanya James. Ia berbaring disamping Bae.
Bae tertawa. "Entah kenapa aku tidak ingin percaya. Tapi inilah yang terjadi."
"Jahat...," gumam James.
"Kenapa jahat?" Bae ternyata mendengar gumaman suaminya.
"Kalian berdua meninggalkan aku sendiri. Pertama Dongpyo sekarang kamu." James merasa sedih. Ia tidak ingin persahabatan mereka dipisahkan oleh maut. Ia hanya merasa Dongpyo pergi terlalu cepat, dan sebentar lagi Bae akan menyusul.
"Maaf," ujar Bae menangkup pipi James. "Tapi kamu harus berjanji jangan menyusul kami berdua jika belum waktunya."
"Tidak akan. Kan aku masih harus menjaga ayahmu."
Bae tersenyum. Ia memang bisa selalu mengandalkan James. Setitik air matanya jatuh dan membasahi kasur.
Melihat istrinya menangis, James menjadi gelagapan. Ia menyapu air mata yang mengalir. Karena Bae tidak berhenti menangis, ia memeluk istrinya sembari mengelus lembut kepalanya. Akhirnya Bae tertidur karena lelah menangis.
"Pagi sayangku," ucap James mencium dahi Bae.
Gadis itu tersipu malu. "Kamu tahu? Aku baru saja akan berteriak karena ada lelaki yang tidur bersamaku."
James ikut tertawa. "Tadi aku juga begitu. Karena baru kemarin menikah rasanya masih canggung dan aneh. Tapi aku senang menikah denganmu."
Kehidupan pernikahan mereka berdua sangat harmonis. Banyak yang iri dengan mereka. James memperlakukan Bae seperti seorang ratu dan Bae memperlakukan James seperti rajanya. Kebahagiaan menyelimuti rumah tangga Bae dan James.
Hanya satu masalah kecil. Orang tua yang meminta cucu. James dan Bae selalu beralasan kalau belum waktunya. Terkadang Bae menangis karena tidak bisa menjadi menantu dan anak yang baik. Tidak bisa memberikan cucu. Tapi James selalu menyemangatinya.
Mereka berdua bukan tidak melakukan hubungan suami istri. Mereka melakukannya, hanya saja dengan pengaman. Bae dan James sepakat untuk tidak memiliki anak. Karena waktu Bae tidak cukup untuk melahirkan. Mereka tidak ingin ikut membunuh anak yang tidak bersalah.
Hari ke sembilan puluh sembilan. Bae jatuh sakit. James ingin membawanya ke rumah sakit tapi Bae menolak. Bae hanya ingin berada dirumah bersama keluarga James, ayahnya dan suaminya.
Keadaan Bae semakin parah. Bisa dibilang ia sekarat. James dengan setia menggenggam tangan Bae.
"Aku mau bilang sesuatu Bae. Aku cinta kamu. Sejak dulu, aku selalu cinta. Tapi karena kamu mencintai Dongpyo aku tidak berani mengungkapkannya." James menangis.
Bae ikut menangis. "Maaf."
James menyapu air mata Bae. Ia mencium dahi, pipi, hidung dan bibir Bae dengan penuh cinta.
"Kamu tahu perjanjian kita kan? Setelah aku meninggal kamu tetap menjaga ayahku seperti ayah kamu sendiri."
James mengangguk. "Dia memang ayahku kan Bae?" Air matanya makin deras mengalir.
"Ada lagi, kamu harus janji tidak akan menyusul Dongpyo dan aku sebelum waktunya. Kalau kamu datang sebelum waktunya, aku akan marah. Aku yakin Dongpyo juga akan marah. Kamu janji?" Bae menyodorkan jari kelingkingnya.
Jari mereka bertautan. Tangan Bae mulai melemah. Sebelum menutup matanya Bae meminta agar seluruh keluarga besar masuk ke dalam kamarnya.
Dongpyo ikut merasa sedih. Meskipun ia selalu sedih dengan setiap kematian, tetapi Bae berbeda. Bae selalu berbicara dan menganggapnya teman. Dongpyo selalu ada didekat Bae. Ia bahagia melihat Bae bahagia di hari-hari terakhirnya.
Ayah Bae menggenggam tangan anaknya sembari menangis. "Jangan tinggalin Ayah, Nak."
"Maaf Yah. James bakalan jagain ayah kok. Aku cinta Ayah."
Bae beralih menatap James dan menggenggan tangnnya. "Aku juga cinta kamu James. Suamiku tersayang."
Setelahnya Bae pergi untuk selamanya.