#Ramadhan Brother's Friend
Ini adalah cerpen fiksi dari penulis.
Semua latar belakang dan penokohan murni dibuat dengan referensi sana-sini.
Pembaca diharap bijak untuk menjauhi yang tidak baik dan kesalahan yang mungkin tidak patut ditiru dari penulis.
Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan nantinya dalam cerpen ini.
Happy reading!
***
Sore ini keluarga kecilku berkumpul di ruang tengah untuk menunggu waktu berbuka satu jam lagi. Ini adalah hari kelima kami berpuasa. Menu seadanya untuk berbuka sudah tertata rapi di meja makan.
Tiba-tiba ada ketukan dari pintu ruang tamu. Ibu beranjak lebih dahulu, sedangkan aku melanjutkan kegiatan membaca di layar ponsel.
"Tante, ada Ammar?" Suara dalam dan lembut seorang lelaki terdengar dari arah ruang tamu.
Aku meletakkan ponsel yang kubaca di atas pangkuan. Berusaha menajamkan telinga untuk mendengar percakapan dari arah ruang tamu.
"Dek Alzam datang mau mencari Ammar? Dia sekarang sedang mandi. Mau ditunggu?"
Sayup-sayup aku mendengar perkataan ibu. Aku ingin melihat Alzam. Sudah seminggu ini dia ikut lomba di luar kota. Aku hanya menghela napas menanggapi pikiranku yang sedikit kalut. Rasa lapar juga membuatku semakin merasa hampa.
Aku memilih berkonsentrasi membaca di layar ponselku, saat pundakku ditepuk pelan. "Shaza, kakak minta tolong kasih tahu Alzam buat tunggu lima menit lagi." Kakakku melihat datar.
Seperti diberikan suntikan adrenalin, aku membuang ponselku ke samping dan berdiri menghampiri ibu dengan langkah lebar.
Mengagumi seseorang sejak lima tahun yang lalu bukanlah perkara mudah. Apalagi jika dia lebih mudah tiga tahun. Itu yang aku rasakan selama ini.
Sejak usiaku menginjak 16 tahun aku telah menyukai salah satu teman bermain adikku yang bernama Alzam. Dia terlihat pendiam dan penurut dari luar. Tetapi jika sudah kenal dekat, dia adalah anak yang manis dan pengertian.
Awalnya aku tidak begitu menghiraukan sifatnya ini. Tetapi, sejak aku perlahan mengaguminya, semua sifatnya ikut menjadi bagian yang aku perhatikan.
Kekaguman ini berawal saat Alzam menolongku mengerjakan tugas sekolah. Pada saat itu, aku pikir jika dia hanya sedang bercanda. Anak berusia 13 tahun bisa membantuku mengerjakan tugas?
Adikku yang menceritakan mengenai Alzam di malam setelah kejadian itu. Ternyata Alzam adalah anak dengan kecerdasan di atas rata-rata. Masuk kelas akselerasi dan selalu menjadi nomor satu di sekolah.
Andai saja Alzam tidak pernah membantuku mengerjakan tugas, mungkin aku hanya akan menganggapnya sebagai seorang anak genius.
Tapi, saat dia mengajariku, suaranya mampu membuatku merasa lucu dan kagum di saat yang bersamaan. Seperti melihat keajaiban tepat di depan mata sendiri, aku merasa terpukau.
Sejak itu aku selalu memperhatikan tingkah laku di saat Alzam datang bermain ke rumah.
Ibunya adalah teman baik ibuku. Sejak kecil aku sudah mengenal Alzam, tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Terlepas semua itu, aku tidak menyesali keterlambatanku untuk mengaguminya.
"Ibu, kata Ammar dia akan keluar lima menit lagi." Aku tersenyum kecil ke arah Alzam yang ikut melihatku.
Kali ini adikku memiliki amanah dari tokoh agama untuk mengerjakan proyek pembuatan maket masjid mini untuk acara takbiran di malam hari raya Idul Fitri dua minggu yang lalu.
Alzam yang memiliki kemampuan desain juga ikut diseret ke dalam proyek ini oleh adikku.
"Duduk dulu Alzam." Aku berusaha bersikap tenang, walaupun dalam hati sudah tidak keruan.
"Terima kasih." Alzam menjawab singkat.
Ibu menyenggolku dari samping, membuatku tersadar dan dengan cepat menatap ibuku dengan mata bertanya. Ibuku hanya mengedipkan mata ke arah ruang tengah.
"Tante balik ke dalam dulu ya."
Alzam mengangguk dengan tersenyum. Senyumnya membuatku tanpa sadar juga ikut tersenyum.
Saat aku berbalik ke arah ruang tengah, Ammar sudah mulai berjalan ke arah ruang tamu membawa kertas berisi desain maket masjid.
Samar aku bisa mendengar mereka berbicara dari tempatku duduk semula.
Tidak lama lagi azan berkumandang. Alzam izin pulang. Tawaran Ibu untuk berbuka di sini ditolaknya halus. Aku ikut mengantarkannya hingga depan pintu.
***
Setelah itu, Alzam rutin bertemu setiap sore dengan adikku untuk mengerjakan maket. Saat ini yang mengerjakan maket tidak hanya mereka berdua. Jika ditotalkan ada sekitar 9 orang.
Salah satunya adalah Adnan. Dia adalah kakak sepupu Alzam dan kakak kelasku waktu SMA. Usianya hanya satu tahun di atasku. Seperti Alzam, dia terkenal pintar dan dikagumi kaum hawa selama sekolah dulu.
Kecuali diriku.
Alzam adalah tamengku selama lima tahun belakangan ini. Tidak ada yang bisa masuk ke dalan radarku selain dirinya. Anehnya sepintar apapun orang lain, aku tidak merasakan kekaguman yang sama.
Tetapi Adnan sedikit berbeda, karena dia sudah melamarku satu tahun yang lalu. Saat itu aku ingin menolaknya secara langsung, tetapi ibu ingin memberi muka untuk keluarga teman baiknya. Setelah tiga hari berlalu, aku tetap memberikan penolakan.
Aku tidak pernah bertemu dengan Adnan kembali sejak satu tahun yang lalu. Tapi sore ini, dia kembali muncul dan duduk tenang di samping Alzam di atas berugak.
Entah kenapa ada rasa bersalah yang muncul dalam hatiku. Seperti mengkhianati Alzam secara tidak langsung.
Meyakinkan diri, bahkan Alzam hanya melihatku sebagai kakak dari teman baiknya.
"Ayo, lihatin apa?" Ibu menagetkanku dari belakang.
"Nggak ada, Bu." Aku berbalik badan melihat Ibu yang mengenakan jilbab berwarna cokelat dengan gamis berwarna senada.
"Beneran?" Ibu menanyaiku jahil. "Ya sudah, ayo bantuin Ibu masak di dapur."
Sebelum mengikuti langkah Ibu ke dapur aku kembali melihat ke arah Alzam.
***
Ulang tahun Alzam yang kesembilan belas bertepatan dengan hari puasa kesembilan belas. Tiga bulan lagi aku yang akan bertambah satu tahun.
Alzam saat ini menempuh pendidikan yang setara dengaku. Alzam mengambil jurusan teknik dan aku mengambil jurusan ilmu komunikasi. Kami sama-sama di semester akhir.
Hari ini adalah hari ulang tahun Alzam. Tahun lalu Alzam juga merayakan ulang tahun di bulan suci Ramadhan dan membagikan makanan ke mereka yang membutuhkan.
Di luar itu, aku sedikit terkejut saat Alzam tetap ikut mengerjakan maket masjid sore ini. Aku kira Alzam akan merayakan di rumah bersama keluarganya.
"Tante, saya sudah bawakan makanan untuk berbuka bersama di sini." Alzam memberitahu ibu saat melihatku yang menyuruh Ammar membeli saus tiram ke warung.
Alhasil, hari itu Ibu tidak jadi memasak untuk berbuka. Bahan masakan kembali dimasukkan untuk makan sahur. Alzam membawakan makanan yang cukup untuk dibagikan hingga ke tetangga sekitar.
Dua hari setelahnya, Adnan datang kembali meminangku di malam hari setelah salat tarawih.
Sungguh mengejutkan. Kenapa harus sekarang?
Tidak hanya diriku yang terkejut. Bahkan Ammar melihatku sedikit prihatin. Di dapur, aku hanya bisa memijat kepalaku yang tiba-tiba migrain.
"Kamu buatkan teh saja. Tidak perlu keluar kalau tidak mau. Nanti Ibu akan ambil tehnya, jika sudah selesai berbicara." Ibuku bertitah.
Ibu dan Ammar menerima Adnan di ruang tamu. Ayah masih ada di luar kota sejak dua minggu yang lalu dan baru balik lusa malam.
Sekali lagi aku ingin menolak lamaran ini. Tapi, aku merasa tidak enak dalam hati dan bukan untuk Adnan, melainkan karena Alzam.
Adnan adalah sepupu Alzam. Aku tidak ingin memikirkan semua kemungkinan, tapi aku tahu lamaran kedua ini akan menutup segala kemungkinan antara Alzam dan diriku.
Aku sungguh merasa egois terhadap perasaan Adnan. Tetapi, tidak bisa kupungkiri di sini, kalau aku juga tidak bisa mencari celah lain untuk mengutarakan perasaanku sendiri.
Aku tidak akan berpikir untuk menolak jika Alzam yang melamarku sekarang.
Berbekal alasan ayahku yang sedang di luar kota, ibu memberikan waktu untukku kembali mempertimbangkan lamaran kedua dari Adnan selama dua hari ke depan.
Dalan pikiranku bukan Adnan yang aku pikirkan. Alzam yang memenuhi segenap hatiku. Apakah aku salah bersikap seperti ini?
"Ibu tahu bukan Adnan yang kamu pikirkan, tapi tolong tetap pertimbangkan dengan baik ya. Ibu gak mau kamu tersakiti ke depannya."
Aku bisa melihat kalau keluargaku dapat merasakan siapa yang sebenarnya aku kagumi. Tetapi, mereka tidak pernah menggodaku secara langsung mengenai Alzam.
Keesokan harinya, Adnan tetap datang ke rumah untuk membuat maket masjid bersama adikku. Tetapi, Alzam tidak datang hari ini.
***
Ayah sudah akan kembali malam ini dan besok Adnan akan datang kembali.
Sore ini, Alzam datang lebih awal. Belum ada anggota lain yang datang selain dirinya. Auranya terlihat sedikit berbeda.
"Alzam kenapa, Dek?" Aku menahan Ammar yang ingin kembali ke berugak setelah mengambil maket di dalam kamarnya.
Alzam terlihat lebih lelah dan tidak bersemangat sore ini. Apakah dia sedang sakit?
"Kayaknya dia lagi patah hati, Kak." Ammar menatapku cuek.
Aku tidak bisa menebak dari jawaban dan raut muka Ammar, jika dia sedang bercanda atau tidak.
"Maksudnya apa?" Aku bertanya kejelasan ucapannya.
Ammar mulai membuka suara, saat dari belakangku terdengar suara Alzam. "Ammar boleh aku berbicara dengan kakakmu sebentar?"
Aku terdiam di tempat dan tidak bisa membalikkan badan. Mataku melihat ke arah Ammar yang tersenyum tipis melihatku balik.
"Di teras aja, biar kelihatan. Tapi aku gak bakalan denger," ucap Ammar.
Aku gak tahu mau bersikap seperti apa sekarang. Setelah Ammar keluar, aku masih membeku di tempat. Sampai suara Alzam menyadarkanku.
"Kak Shaza, saya mau membicarakan sesuatu, boleh?" ucap Alzam pelan.
Hatiku lumer mendengar suaranya yang terdengar dalam dan manis. Aku berbalik badan dan melihat Alzam sudah melihatku. Ini pertama kalinya dia melihatku serius seperti ini.
"Kenapa gak boleh? Ayo kita duduk di kursi teras dulu." Aku berusaha bersikap setenang mungkin.
Ibu saat ini sedang berada di rumah tetangga dan sewaktu-waktu bisa melihatku yang sedang berbicara dengan Alzam.
Setelah duduk, aku melirik Ammar di berugak yang berjarak sekitar tujuh meter dari teras.
"Kak ...." Alzam memanggil perhatianku.
Aku melihatnya tanpa suara. Menunggu Alzam melanjutkan ucapannya.
"Kak Shaza akan menerima lamaran kak Adnan?" Alzam bertanya to the point.
Aku sudah merasa dari awal, jika Alzam akan membicarakan lamaran Adnan. Tapi, aku tetap tidak siap untuk mendengarkan.
Apa Alzam akan mendukung lamaran kali ini dengan menonjolkan kelebihan dari Adnan?
"Kakak belum tahu," ucapku dengan tetap melihatnya.
Aku menjawab secara netral, karena aku tidak ingin mendengar masukan dari Alzam mengenai kelebihan Adnan, jika aku bilang ingin menolak lamaran itu.
Alzam terdiam mendengar ucapanku. "Baik, saya mengerti."
"Hari ini mau berbuka di sini?" tanyaku berusaha mengakhiri topik lamaran.
Alzam menggeleng pelan dan berkata, "Om akan datang malam ini. Saya tidak ingin menggangu."
Aku menghela napas lega setelah melihat Alzam yang berdiri menghampiri Ammar di berugak.
Aku melirik Ammar dan mengisyaratkan kalau aku akan masuk ke dalam rumah yang dijawabnya dengan anggukan.
***
Aku menolak lamaran itu.
Aku memberikan jawaban atas lamaran Adnan di detik-detik terakhir waktu yang diberikan. Aku berbicara secara langsung. Sengaja kulakukan sebagai bentuk pertimbangan paling tulus.
Menghargai perasaan Adnan adalah satu-satunya bentuk jawaban yang mampu aku utarakan. Aku harap ke depan, keputusan ini tidak akan dipandang sebagai keegoisanku semata.
Sejak itu, Adnan tidak terlihat lagi ikut mengerjakan proyek yang kurang dari seminggu lagi akan dipamerkan.
Menurut Ammar, Adnan sudah menyelesaikan bagiaanya dan tidak perlu datang sejak dua hari yang lalu.
Penuturan Ammar membuatku merasa bersalah dan kembali memikirkan betapa egoisnya diriku.
"Adnan pasti mengerti resiko penolakan dari sebuah lamaran. Ayah dan ibu juga mengerti. Jangan muram seperti ini. Ini bukan salah Shaza." Ayah memberiku semangat.
Lamaran Adnan menyadarkanku kalau aku terus akan menjadi egois jika aku tidak bertindak dan hanya diam di tempat.
Akhirnya, lima hari sebelum hari raya aku memberanikan diri berbicara ke ayah dan ibu setelah salat tarawih.
"Shaza mau lamar seseorang." Aku memberanikan diri melihat bergantian ayah dan ibu yang sudah melihatku terkejut.
Ayah membalas, "Coba panggil Ammar dulu, Za."
Aku mengangguk dan beranjak ke kamar Ammar. Sebelum aku sempat mengetuk pintu, Ammar sudah terlebih dahulu membukanya.
"Kakak mau bicarain sesuatu. Ammar harus bantu Kakak."
Ammar terlihat bingung mendengar perkataanku yang tanpa sebab dan akibat. "Nanti ya kak. Ada tamu mau datang."
Aku mengangguk sedikit kecewa. Karena, tekadku di awal sudah berkurang setengah. Memikirkan kembali keputusanku untuk melamar Alzam.
"Kalau gitu setelah terima tamu kita bicara sama ayah dan ibu juga."
Ammar mengangguk pelan dan mengikuti ke arah ruang tengah. Aku terheran dan bertanya, "Gak ke ruang tamu?"
Kali ini Ammar tersenyum kecil mendengar pertanyaanku. "Tamunya mau ketemu sama ayah dan ibu juga."
Aku menganggukkan kepala dan tidak bertanya kembali siapa tamu yang datang. Sampai Ammar kembali berbicara dengan lugas.
"Alzam mau datang sama orangtuanya." Nada Ammar terdengar sedikit jahil di telingaku. Membuatku salah tingkah. Tidak ingin berpikir berlebihan.
"Ayah sama ibu mau ada urusan apa sama orangtua Alzam?" tanyaku sedikit kalut.
Ayah dan ibu saling melirik dan seperti menduga sesuatu, mereka kembali melihatku dan tersenyum.
Tidak sempat aku berkomentar dan terdengar salam dari arah pintu ruang tamu.
"Shaza akan menyiapkan teh dan jajan." Alam bawah sadarku mengambil alih perintah otak.
Aku merasa panik dan jantungku berdetak liar. Tidak tahu apakah aku harus berharap lebih atau tidak. Tanganku gemetar saat aku mencoba mengambil gelas di rak.
Hampir menjatuhkan gelas yang kuambil, aku hanya bisa mencoba minum air dan menenangkan diri terlebih dahulu.
Sebelum aku bisa menuangkan teh ke dalam masing-masing gelas, ibu sudah menemuiku.
Aku melepaskan semua benda di tangan sebelum bertanya, "Ada apa, Bu?"
Jantungku kembali berdetak dan kepalaku sudah sedikit pening menanti jawaban dari ibu yang terasa sangat lama.
"Alzam mau melamar Shaza."
Tanpa sadar air mataku mengalir tanpa suara dan ibu seketika ikut memelukku.
***
Duniaku terasa berubah sejak malam Alzam melamarku.
Saat itu, aku mencoba tetap tenang menjawab 'bersedia dilamar' di depan Alzam dengan lidah yang kelu dan mata yang kuyakini telah memerah.
Hingga acara ijab kabul yang dilaksanakan di masjid tiga hari setelah lamaran, aku masih belum bisa percaya jika telah sah menjadi istri Alzam.
Dia adalah teman baik adikku.
Dia adalah sosok yang aku kagumi sejak lama.
Sekarang dia sudah menjadi suamiku.
Dia adalah Alzam.
Dalam do'a aku telah memohon untuk dijadikan jodoh dan penyenang hatimu.
Saat ini dan seterusnya, kupanjatkan dalam do'a, kita bisa selalu bersama hingga mencapai surga.
***
💫 Dukung penulis dengan likes, votes, dan komentars! 💫