Ramadhan kali ini adalah ramadhan kali kedua saat aku menempuh pendidikan di pesantren. Seperti ramadhan tahun kemarin.
Para santri menjalankan puasa selama 2 minggu di pondok dan 2 minggu setelahnya di rumah, plus 2 minggu liburan Idul Fitri. Jadi aku akan akan berada di rumah selama 1 bulan.
Dan tibalah hari penjemputan para santri. Aku sudah bersiap mengemasi barangku dari jauh-jauh hari.
Aku sangat antusias untuk menyambut kedatangan orang tuaku. Aku sudah sangat merindukan mereka.
Dari pagi hari aku sudah menunggu kedatangan mereka di depan gebang bersama teman-temanku. Menit berganti menit, jam berganti jam. Tapi belum ada tanda-tanda jika akan ada yang menjemputku.
Aku tersenyum getir saat satu persatu temanku dipanggil namanya melalui pengeras suara, dan itu artinya mereka sudah dijemput.
Hingga matahari tergelincir ke arah barat, namun belum ada panggilan untukku. Bahkan sebagian besar temanku sudah dijemput pulang. Memang sih tahun ini ada segelintir santri yang tidak pulang karena rumah mereka yang jauh.
Tapi rumahku termasuk dekat dengan pesantren. Aku merasa tidak adil jika harus menghabiskan liburan di pesantren.
Karena lelah menunggu aku pun melangkah ke asrama dengan gontai. Di asrama aku melihat temanku yang tahun ini tidak pulang. Di tangannya terdapat ponsel yang ditempel di telinga. Mungkin menghubungi keluarganya.
Ah aku punya ide...
"Hai Rika, " sapaku saat dia sudah selesai menelfon.
"Eh, Naya. Belum dijemput ya?"
"Belum. Aku pinjam ponsel kamu boleh? Mau nelfon Abiku suruh cepet jemput."
"Boleh. Tapi jangan lama-lama. Nanti ketahuan ustadzah, kamu kena omel."
"Ah, makasih."
Aku langsung mengambil ponsel yang sudah disodorkan Rika kepadaku, lalu menekan nomor Abi yang sudah aku hafal diluar kepala.
"Halo, Abi? Bi, hari ini jadwalnya jemput Naya. Abi lupa ya?" tanyaku sedikit kesal saat sudah tersambung.
"Maaf ini siapa, ya?"
Suara dari seberang sana membuatku termangu. Ini bukan suara Abi. Ini suara... Perempuan. Tapi juga bukan suara Umi, aku yakin betul itu. Jadi siapa dia?
"Abi saya mana?" tanyaku yang sudah menahan tangis.
"Maaf dek. Salah sambung."
Pip.
Panggilan diputus sepihak.
Astaghfirullah! Apakah orang tuaku lupa dengan jadwal penjemputan hari ini?
"Ini, Rika. Jazakillah," ujarku mengembalikan ponsel pada Rika.
"Wa iyyaki. Aku kembaliin ponsel ke ustadzah Nurul dulu ya," pamit Rika yang hanya kubalas dengan anggukan.
Setelah kepergian Rika tangisku pecah. Apakah orang tuaku sudah melupakanku? Jadwal penjemputanku saja mereka tidak datang. Apakah mereka senang jika aku jauh dari mereka?
Setelah mandi sore aku mengurung diri di asrama tanpa seorang pun tahu. Aku tidur di kolong ranjang tanpa alas. Dengan tas ranselku sebagai bantalnya.
Hingga saat shalat Maghrib tiba aku masih di dalam asrama yang gelap itu. Sengaja tidak aku nyalakan lampunya agar orang-orang yang masih di pesantren tahunya aku sudah pulang.
Untung saja aku masih menyimpan beberapa makan serta sebotol air mineral untuk berbuka puasa. Setelah menyelesaikan sholat Isya aku tidur lagi di bawah kolong ranjang dengan ruangan yang gelap.
Berharap malam segera lewat, menunggu semua orang tidur. Agar aku bisa melancarkan aksiku untuk kabur.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan aku baru saja bangun. Ku raih ransel dengan segera. Setelah memastikan situasi aman, aku pun pergi ke bangunan baru di samping pesantren.
Di sana belum ada gerbang, karena bangunan belum sepenuhnya jadi. Setelah mengucap bismillah aku pun meyakinkan diri pulang ke rumah dengan jalan kaki di pagi-pagi buta.
Jarak rumah dengan pesantren sekitar 14 km, itu bukan masalah buatku yang sudah memantapkan hati karena perasaan kecewa ini sudah menguasai diri.
Aku beristirahat untuk sahur dan sholat Subuh di emperan toko yang sepi. Lalu melanjutkan perjalanan lagi ketika matahari mulai menampakkan sinarnya.
Aku tak memperdulikan orang-orang yang melewatiku dengan tatapan anehnya. Mungkin saat itu penampilanku terlalu mencolok. Mengenakan gamis warna gelap dengan jilbab besar beserta cadarnya, juga tas ransel besar seperti orang hendak kemping bertengger di pundak.
Matahari sudah semakin tinggi saat aku sudah sampai di depan komplek. Sepertinya tantangan belum selesai. Karena di depan sana seekor anjing sedang mengamati gerak-gerikku.
Dengan sangat berhati-hati aku lewat di depannya. Anjing itu melihatku seperti sedang melihat maling saja.
"Anjing baik, anjing imut nan comel. Aku mau lewat, tolong kerja samanya ya," ujarku sambil tersenyum manis.
Huft... Sepertinya senyumanku berhasil mengalihkan perhatiannya. Aku pun kembali berjalan dengan santai sampai terdengar suara...
Guk! Guk! Guk!
Dengan takut-takut aku menoleh ke belakang. Sedikit terlonjak dari tempatku berdiri ketika melihat anjing tadi berlari kencang ke arahku.
"Kyaaaa... "
Secepat kilat aku berlari. Tas yang tadinya berat kini terasa ringan, badan yang rasanya lelah dan hampir remuk seketika kembali bugar. Bahkan saking cepatnya aku berlari, badanku terasa seperti melayang.
"Alhamdulillah... " lirihku sambil ngos-ngosan ketika sudah sampai di dalam gerbang rumah.
"Dasar anjing!" pekikku kesal pada anjing yang menatapku tajam dari balik gerbang.
"Astaghfirullah, " ucapku sambil mengelus dada, saat sadar kalau aku hampir saja terbawa emosi.
Aku pun segera berbalik untuk memasuki rumah. Heran, kenapa sepi sekali? Kemana orang-orang?
"Abi... Umi... Adik... " teriakku sambil mengecek setiap bilik.
"Hiks.. Hiks.. "
Aku mendengar samar suara orang menangis. Ku tolehkan kepala ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara.
Kamar mandi.
Tok Tok Tok
"Umii... Umi di dalam ya?" tanyaku sambil mengetuk pintu.
Ceklek.
Wanita setengah baya muncul dari balik pintu dengan wajah sembab serta kaget yang sangat terlihat jelas.
"Umi... Nangis?"
"Kamu pulang sama siapa, Naya?"
"Sendiri. Jalan kaki, " sahutku sedikit ketus sambil melipat tangan di depan dada.
Entah tiba-tiba wajah sembab umi bahkan terkalahkan dengan kecewa yang merasuk dalam kalbu.
Grep.
"Maaf... Hiks..." ujar Umi sambil memelukku sambil terisak lirih.
Aku pun mulai luluh.
"Apa yang terjadi? Kenapa Umi menangis? Naya tidak marah kok. Harusnya Naya yang minta maaf, " balasku yang mulai merasa bersalah.
Setelah Umi merasa baikan, kini kami sudah duduk di ruang tamu. Umi mau membicarakan hal penting katanya.
"Naya puasa?" tanya Umi membuka pembicaraan. Bekas air mata masih tampak di wajah cantiknya.
"Insyaa Allah," balasku.
"Adik mana, Mi?" tanyaku cepat saat tak mendapati adikku yang bawel dimana pun.
Pantas saja rumah tampak lenggang.
"Abi pergi bawa adik kamu."
"Pergi ke toko?" tebakku.
"Pergi jauh dan tidak akan kembali."
"Maksud Umi?"
"Motor Abi kecelakaan saat hendak menjemputmu kemarin. Abi dan adik.. Hiks.. " Umi kembali berlinang air mata tak bisa melanjutkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin aku dengar.
".. Meninggal dunia.. "
Aku diam seribu bahasa. Lidahku kelu tidak bisa berkata-kata. Bahu yang tadinya tegap kini sudah merosot karena tubuhku rasanya lemas.
"Maaf, Umi gak bisa jemput kamu. Umi terlalu syok. Bahkan Umi gak sanggup ke pemakaman Abi dan adik.. Hiks.. "
Aku masih terdiam. Umi berbicara bahasa Indonesia tapi yang terdengar di telingaku seperti bahasa asing yang tak kumengerti.
"Meninggal? Abi? Adik?" tanyaku lirih.
Tak terasa cairan bening mulai berlinang membasahi pipi. Apakah ini ramadhan pertamaku tanpa sosok Abi yang aku hormati dan adik yang aku sayangi?
Apakah aku masih sanggup menyambut bulan kemenangan dengan senyum lebar seperti tahun-tahun kemarin?