Seharusnya Nala sekarang sudah berada di apartemennya yang nyaman dan hangat. Pun sudah berbaring di atas ranjangnya yang empuk, di bawah selimut tebal yang bisa menghalau udara dingin di akhir tahun ini. Namun, itu semua harus tertunda karena teman-teman Nala semasa kuliah mengajaknya untuk reuni bersama di sebuah klub malam. Padahal baru berselang tiga bulan sejak kelulusan mereka.
"Nala, ayo, minum lagi! Jangan menahan diri, kita tidak perlu begadang lagi untuk menyelesaikan tugas." Jeana, salah satu teman Nala yang malam ini memakai gaun bertali spageti, menyodorkan gelas shot yang sudah diisi Martini. "Minumlah sampai puas!"
Tidak dapat menolak lagi, akhirnya Nala mengambil gelas yang disodorkan padanya itu, lalu isinya langsung dia habiskan dalam sekali teguk. Rasa pahit dan panas merayapi kerongkongannya setelah itu. Sensasi yang tidak menyenangkan, tetapi membuat ketagihan para peminumnya.
"Aku akan ke toilet dulu," ujarnya sembari bangkit dari stool bar.
Tiba di toilet, Nala disambut oleh pemandangan sepasang manusia yang asik saling mencumbu dengan panas. Bunyi cecapan mengudara, suara musik yang menggema dari luar nyatanya tidak begitu menyamarkannya. Ketika menyadari keberadaannya, kedua orang itu segera masuk ke salah satu bilik. Nala sangat yakin kalau kedua orang itu akan melanjutkan apa yang sempat tertunda, dan pasti berlanjut lebih jauh. Suara erangan dan desahan lemah dari dalam bilik itu menjadi bukti.
Memilih untuk tidak menghiraukan kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu, Nala memasuki salah satu bilik lainnya guna menuntaskan panggilan alamnya. Begitu selesai dia berdiri di depan wastafel dan mulai mencuci tangannya. Dia juga memperbaiki riasan tipisnya, terutama lipstik yang telah keluar dari garis bibirnya. Setelah dirasa semuanya kembali sempurna, Nala segera beranjak dari sana. Suara-suara dari dalam salah satu bilik itu benar-benar mencemari pendengarannya.
"Menjijikkan."
Nala memang sering menenggak minuman beralkohol, sejak tahun terakhirnya di sekolah menengah atas, tetapi dia benar-benar tidak akan menyerahkan dirinya pada 'hubungan' bebas. Hell no! Bahkan tidak pernah terlintas di benaknya untuk itu. Ada banyak hal yang bisa dijadikan pertimbangan seorang Nala jika ingin melakukan itu, dan dari banyaknya pertimbangan itu pasti akan berakhir pada jawaban tidak.
Kembali pada teman-temannya di meja bar, Nala menyadari beberapa di antara mereka telah menghilang dari tempat masing-masing. Tidak perlu berpikir keras untuk menebak keberadaan teman-temannya itu, Nala sangat yakin kalau mereka sudah turun untuk menari bersama lautan manusia di sana.
"Tidak ikut menari bersama yang lainnya?" Dia bertanya pada Jeana yang masih asik pada gelas minumannya. Pertanyaan itu mendapat gelengan kecil sebagai balasan.
"Aku sedang tidak ingin." Pandangan Jeana entah menerawang ke mana sekarang. Maniknya tidak fokus di satu titik, membuat Nala yakin temannya itu sudah melewati batas toleransi alkoholnya. "Tom benar-benar brengs*k! Bisa-bisanya dia mau terjebak bersama jal*ng itu."
"Sekarang waktunya kau pulang, Jeany-ku. Aku tidak bisa menggendongmu jika kau kehilangan kesadaran," ujar Nala seraya mempersiapkan temannya itu untuk pulang. Dia memanggil bartender untuk memesankan taksi.
Ketika taksi pesanan itu sudah tiba, Nala meminta bartender itu untuk membantunya membawa Jeana.
"Lalu bagaimana denganmu, Nona?" Bartender itu bertanya setelah taksi yang membawa Jeana melaju.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk membantuku tadi." Nala segera beranjak dari sana. Udara musim dingin membuatnya harus mengeratkan kardigan yang membalut tubuhnya. Pun untungnya dia memakai syal yang bisa membantu menjaga suhu tubuhnya.
Tersisa dua blok lagi untuk sampai di gedung apartemennya, tetapi Nala harus menghentikan langkahnya kala mendapati sebuah kaki yang menjulur dari gang gelap di antara dua gedung. Banyak kemungkinan akan apa yang ditemukannya nanti, dan kemungkinan besarnya adalah sebuah mayat. Namun, hal itu tidak membuat Nala mengenyahkan rasa penasaran.
Jadi, dia melangkah perlahan ke arah gang itu. Ketika benar-benar berdiri di samping kaki itu, Nala menemukan seorang pria yang tergeletak tidak berdaya dengan darah yang mengalir dari perutnya. Dari banyaknya darah yang mengalir, dia tahu jika luka pria itu cukup dalam dan serius.
"Sir? Apa Anda masih bisa menjawabku?" Nala berlutut di sampingnya, berusaha menyadarkan pria itu—kalau benar kehilangan kesadaran—dengan gerakan pelan agar tidak menambah darah yang keluar.
"Ukhuk!" Darah kali ini keluar dari mulut pria itu, membuat Nala semakin panik.
Tanpa pikir panjang Nala melepaskan syalnya untuk menekan luka pria itu, untuk menghambat darah keluar lebih banyak. "Oh, Tuhan! Aku harus bagaimana sekarang?!" Dia berseru dengan panik. Tangan masih membantu menekan syalnya pada luka pria itu.
"Ponselku.." Meskipun lemah, dan terasa sulit, pria itu mengangkat tangannya untuk menunjuk letak ponsel miliknya yang tadi dilempar oleh pelaku. "Tekan nomor paling atas ... di daftar panggilan. Orangku akan datang."
Nala bergerak dengan cepat menuju tempat yang ditunjuk oleh pria itu. Ketika menemukan ponsel yang dimaksud, dia segera melakukan apa yang dikatakan pria itu. Tidak lama, seseorang menjawab panggilan itu.
"Ha-halo, aku menemukan tuanmu dalam keadaan terluka parah di Jalan St. Antonio, di seberang sebuah toko roti kecil."
Untuk beberapa waktu Nala sudah bisa menghela napas dengan tenang. Sekarang dia hanya perlu memastikan pria itu tidak kehilangan kesadaran, karena dari apa yang dibacanya, itu bisa bertambah buruk. Sembari itu tangannya masih setia membantu menekan luka di perut pria itu.
Suara mesin mobil yang mendekat membuat Nala mengalihkan pandangannya, untuk melihat ke arah sumber suara. Beberapa mobil berhenti di depan gang itu, kemudian belasan orang keluar dari mobil dan mendekati mereka—atau lebih tepatnya mendekati pria itu.
"Apakah kalian orang-orang yang menjawab panggilan tadi?"
"Ya, Nona." Salah satu pria, yang tampak seperti pemimpin dari mereka, menjawab dengan suara berat. "Terima kasih telah membantu Tuan. Kami akan segera membawanya ke rumah sakit."
"Y-ya ... ya. Kalian harus."
Setelah pria itu dimasukkan ke dalam salah satu mobil, mereka langsung beranjak dari sana, meninggalkan Nala yang masih gemetar di tempatnya.
"Haish! Malam yang menyebalkan. Aku tidak ingin terlibat apa pun lagi."
***
"Apa kau tidak bisa sekali saja bekerja dengan benar?!"
Nala hanya bisa menunduk dalam sambil merelakan telinganya menerima setiap omelan yang dilontarkan oleh atasannya itu. Dalam hati dia merutuki pria bernama Aaron yang berstatus sebagai atasannya itu. Pria itu, entah mengapa, selalu suka mencari-cari kekurangannya. Setelah itu, pasti dirinya akan dimarahi habis-habisan di ruangan pria itu.
Namun, kali ini dia dimarahi di depan banyak orang. Tepatnya sekarang mereka berada di ruang rapat dengan belasan orang dari berbagai divisi di perusahaan itu.
"Cepat kembali ke ruangan saya, cetak ulang file yang sudah rusak itu!"
Dengan cepat, Nala segera beranjak dari ruang rapat. Dia melangkah dengan cepat sampai tidak menyadari salah seorang seniornya berada di jalur yang sama, mereka hampir saja bertabrakan jika Nala terlambat menyadarinya.
"Biar kutebak, pasti kau berulah lagi sampai atasan kita memarahimu. Entah apa yang membuat Tuan Aaron masih mempertahankanmu sebagai sekretarisnya." Komentar pedas itu dilontarkan oleh si senior. "Apa kau menjual tubuhmu untuk mendapatkan posisi sekretaris itu?"
"Saya—"
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara berat dan dalam itu membuat Nala dan si senior menatap ke arahnya. Penglihatan mereka mendapati sang atasan yang telah berjalan mendekati tempat mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Aaron bertanya pada Chara, senior itu. "Selain ketua divisi dan karyawan yang bertugas, tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di sekitar sini."
"Ma—maafkan saya, Sir." Chara menunduk dengan takut. Suaranya terdengar bergetar.
"Kembali ke tempatmu, dan jangan pernah berniat untuk mengganggu orangku lagi!" Aaron kemudian beralih pada Nala yang sedari tadi hanya terdiam. "Kau, Nala, cepat selesaikan tugasmu!"
Nala mengangguk dengan cepat, lalu berlari kecil menuju ujung koridor di mana lift berada. Untungnya, ruangan sang atasan berada tepat di lantai atasnya sekarang, jadi dia tidak perlu menunggu lama di dalam.
Ketika lift akhirnya membuka, Nala segera menuju ruangan yang berada di koridor kanan dari lift itu. Begitu masuk dia langsung mengeluarkan flashdisk yang selalu setia dalam kantung roknya, lalu menghubungkannya ke komputer. Jari-jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Saat mesin pencetak berbunyi, dia akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Di detik berikutnya, setelah mengalihkan pandangan dari mesin pencetak itu, netra Nala mendapati sebuah benda familiar di atas tumpukan berkas-berkas. Tampak lupa disimpan karena posisinya. Tanpa Sadar tangannya terulur untuk mengambil syal itu. Setelah syal berpindah ke tangan, dia bisa melihat jahitan namanya.
Ya, penglihatannya tidak salah, pun dengan ingatannya.
Syal itu adalah miliknya yang telah hilang enam bulan lalu. Namun, bagaimana bisa itu berada di sini, di atas meja ruangan atasannya? Kalau ingatannya memang benar, lagi, seharusnya syal itu ....
Ceklek.
"Apa yang membuatmu lama sekali mencetak file itu?"
Nala sontak berbalik ke arah atasannya yang baru memasuki ruangan itu, dengan syal yang masih berada di tangannya. Dia bisa melihat netra pria itu membulat untuk sesaat.
"Anda mendapatkan ini dari mana?" Nala bertanya, sambil menatap lurus pria itu. Dia sangat menginginkan jawaban saat ini.
"Itu milikku." Aaron balik menatap Nala dengan tajam. "Sekarang berikan kembali syal itu."
"Bukan, Sir, syal ini milik saya. Dari mana Anda mendapatkannya?"
"Sudah kubilang, itu adalah milikku. Syal seperti itu tidak hanya ada satu di dunia!" Pria itu membalas dengan geram. "Cepat kembalikan padaku!"
"Anda lagi-lagi salah, Sir. Syal ini memang hanya ada satu di dunia. Ada nama saya di sini." Nala menunjukkan jahitan namanya yang ada di permukaan syal itu, membungkam Aaron sehingga tidak bisa membalas lagi. Pria itu terdiam untuk beberapa saat, netranya tidak lagi menatap Nala.
"Lalu, apa maumu sekarang?" Dia bertanya.
"Saya sangat yakin di mana seharusnya syal ini berada. Mengapa ada pada Anda sekarang?"
"Karena akulah orang yang kau tolong malam itu."
Kini giliran Nala yang mematung di tempatnya. Dia melihat pria itu dengan tidak percaya. Tanpa sadar matanya bergerak ke arah perut pria itu, di mana dia sangat ingat adalah tempat luka itu seharusnya berada.
Sadar dengan tatapan Nala, Aaron pun tanpa ragu membuka jas lalu kemeja yang membalut tubuhnya. Dia menunjukkan bekas lukanya pada malam itu. "Apa ini tidak cukup membuktikan kalau aku memang orang yang kau tolong?"
"Jika saja kau tidak menemukanku hari itu, aku pasti sudah kehilangan lebih banyak darah dan tidak bisa tertolong lagi. Lima bulan setelah sadar dari koma, aku mencarimu ke mana-mana. Kau tidak lagi tinggal di daerah itu sehingga aku membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukanmu."
"Mengapa Anda mencari saya dengan begitu keras? Urusan malam itu sudah selesai setelah Anda dibawa ke rumah sakit."
Aaron merasa kesal dengan apa yang terlontar dari bibir mungil Nala. Tangannya melayang, bergerak mengusak rambut yang selalu terlihat rapi itu, menyebabkan beberapa helai jatuh ke keningnya. "Kau .... Itu karena aku ingin membuatmu berada di sisiku," ucapnya dengan pelan.