Di malam yang gelap, gerimis menemani. Aku berjalan di antara genangan air. Walau gerimis tetap saja aku merasakan ada aliran air yang perlahan membasahi hoodie tebal ku. Aku memang sengaja memakai pakaian tebal seperti ini agar orang-orang mengira bahwa aku adalah seorang pria, karena tempat tinggal ku ini adalah lingkungan yang kurang atau tidak ramah sama sekali.
Brukkk...
Ku alihkan pandanganku, terlihat ada orang yang terjatuh. Di belakangnya terdapat beberapa orang berpakaian hitam yang mengejarnya. Dia bangkit dan terus berlari.
"Kenapa harus ke arah rumahku?" Gumam ku kesal.
Aku melanjutkan langkahku, sedikit lega karena dalam perjalanan tidak terlihat tanda-tanda mereka.
Tapi di saat aku berbelok ke arah gang rumahku...
"Hhmmm..." Ada yang menyergap ku dari belakang.
"Tolong saya." Lirihnya tepat di telingaku, membuatku meremang.
Ku balikkan tubuhku hendak menyerangnya, namun saat melihatnya ambruk aku menjadi urung. Setelah memastikan dia masih hidup dan lukanya telah ku balut, aku melanjutkan langkahku untuk meninggalkannya. Aku tidak mau mencari masalah dengan membawanya ke rumahku.
Baru beberapa langkah, aku dihadang oleh beberapa pria berpakaian hitam itu.
"Huh, sepertinya mau tidak mau tetap harus mencari masalah." Gumam ku.
"Tangkap dia! Bocah itu juga!" Seru sang pimpinan penjahat itu.
Lalu dalam beberapa detik mereka sudah mengepungku dan pria misterius itu. Saat salah satu dari mereka ingin mencekal tanganku, aku berbalik dan membuatnya ambruk dengan tendangan kakiku. Seketika terjadi perkelahian, dan aku melawan 5 orang sekaligus. Orang pertama berhasil, kedua berhasil, ketiga dan keempat juga ambruk di tanganku. Saat melawan orang kelima yang merupakan pimpinannya, aku sedikit kewalahan, apalagi ia jelas lebih terlatih dibanding anak buahnya.
Aku memang pemegang sabuk hitam taekwondo, tetapi dengan melawan banyak orang juga sangat menguras tenagaku. Aku kerahkan tenagaku dan menendang pria itu hingga berhasil membuat ia mundur beberapa langkah, kulihat dia memberi kode pada anak buahnya. Dan benar saja, semuanya kini berada di sekelilingku dan jumlahnya semakin banyak. Keluar dari mana, aku tidak tahu itu.
Sekali lagi harus bertarung, tidak seperti tadi dimana mereka maju satu persatu. Sekarang mereka menyerangku secara bersamaan. Awalnya aku bisa sedikit imbang, tetapi karena kalah jumlah akhirnya aku ambruk tepat di atas tubuh pria misterius itu. Kulihat ia mengerjapkan kelopak matanya dan di detik berikutnya ia mendorongku.
Ternyata salah satu penjahat tersebut ingin menikamku, meski aku tidak papa tetapi lengan pria itu terkena sabetan pisau itu. Makin banyak saja lukanya sekarang. Belum sadar dari keterkejutan ku, tiba-tiba saja...
Dorrr....
Suara itu? Senjata api? Pistol? Seketika kepalaku berputar, pandanganku gelap, dan tubuhku bergetar, sekelebat peristiwa 10 tahun lalu berputar bagaikan film di otakku. Aku memang bisa melawan banyak orang tetapi aku tidak bisa melawan ingatan itu, hingga akhirnya aku jatuh pingsan di dekapan pria itu.
Saat aku tersadar aku sudah berada di rumah sakit, tidak ada sama sekali jejak pria itu. Biaya perawatanku juga sudah terbayar lunas, jadi aku bisa langsung pulang setelah kondisiku baik-baik saja.
Satu tahun telah berlalu, aku sudah lulus kuliah dengan gelar cumlaude. Aku juga sudah diterima sebagai pegawai tetap di sebuah perusahaan besar tempatku magang dulu. Hari-hariku bekerja di sini sangat menyenangkan, ide-ide ku juga selalu diterima dengan baik oleh rekan sekerjaku dan leader timku. Kami adalah salah satu tim di departemen pemasaran, terdiri dari empat orang dan aku sangat senang menjadi anggota tim ini karena mereka ramah dengan mudah aku bisa berbaur dengan mereka.
Tidak terasa sudah enam bulan sudah aku bekerja di perusahaan ini, semuanya berjalan dengan baik. Hasil kerja kami juga sangat memuaskan, dan terkadang juga diberikan apresiasi oleh sang Presdir sebagai tim pemasaran terbaik.
Namun, semuanya berubah drastis ketika dia muncul. Pria itu, pria malam itu, saat ini sedang memberikan sambutan sebagai Presdir baru. Sadar tidak sadar, ia terus menatapku dan hal itu membuatku merasa risih.
Setelah hari itu, semuanya kembali normal. Aku juga berkerja seperti biasanya, namun pada suatu hari Presdir meminta kami merampungkan salah satu produk baru yang kami rancang. Tentu saja kami kelabakan, secara tenggat waktu yang diberikan hanya tiga hari. Akhirnya kami satu tim harus bekerja lembur setiap hari, hingga semuanya bisa selesai tepat waktu.
Aku dipercayakan oleh leader timku untuk melakukan presentasi produk tersebut. Semuanya tampak puas dengan hasil kerja kami, tetapi tidak dengan dia, Presdir kami tuan William Lynard.
"Siapa yang mendesain kemasan produknya?" Tanyanya dengan tatapan yang tajam.
"Saya tuan." Jawabku berusaha tenang.
"Ganti warna kemasan menjadi warna biru, setelah itu antarkan rancangannya langsung padaku! Saya tunggu secepatnya!" Pintanya tegas.
"Baik tuan."
Setelahnya rapat selesai dan kami kembali ke ruangan masing-masing.
"Ra, kamu tidak ke kantin?" Tanya Desi rekan setimku.
"Tidak Des, aku harus menyelesaikan desain produk ini dulu." Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Baiklah, semangat Ara! Nanti aku akan membawakanmu makanan."
"Siap Des, kamu memang yang terbaik." Ujarku sembari menunjukkan kedua jempol ku.
Setelah selesai mendesain kemasan produk tersebut, aku segera mengantar laporannya ke ruang Presdir. Naik ke lantai 18, kulihat sekretaris nya sedang menatapku.
"Maaf, saya ingin mengantar laporan desain produk pada tuan Presdir." Ujar ku pada wanita cantik itu.
"Dengan nona Kiara?" Tanyanya seraya tersenyum manis.
"Iya, saya Kiara Bu." Jawabku gugup.
"Langsung saja masuk ke ruang tuan Willy, Anda sudah ditunggu." Pintanya seraya berjalan menoleh ke ruang Presdir tidak jauh dari tempat duduknya saat ini.
Tok.. tok..
"Masuk!" Aku membuka pintu ruangan tersebut saat mendengar pintanya itu.
"Sore tuan, saya Kiara dari departemen pemasaran. Ini adalah revisi kemasan produk kita yang baru." Ujarku gugup seraya menyerahkan sebuah dokumen ke atasnya mejanya. Namun, ia bergeming membuatku semakin gugup.
"Maaf tuan, saya ijin kembali dulu. Jika ada masalah dengan laporan tersebut, saya akan memperbaikinya." Pamit ku hendak membalikkan tubuhku.
"Siapa yang bilang kamu sudah boleh kembali?" Tanyanya menatapku tajam.
"Kemari lah!" Ujarnya lagi seraya berjalan menuju sofa di ruangan tersebut.
"Duduklah! Apa kamu ingin menjadi patung di sana? Ada yang ingin saya diskusikan."
Aku segera duduk di hadapannya, namun ia malah menepuknya sofa disebelahnya. Mau tidak mau aku berpindah dan duduk di dekatnya.
"Lihatlah, bukankah produk kita adalah sejenis makanan beku? Seharusnya kamu menggunakan warna deep sky blue, bukan warna biru langit. Dan tambahkan juga variasi warna light sky blue sebagai bayangan tulisan mereknya. Kemudian warna biru dongker untuk tulisannya. Lalu campurkan warna biru muda sebagai dasarnya." Ujarnya seraya menatapku dan membuatku gugup setengah mati.
"Ba-baik tuan, saya akan memperbaikinya sesuai arahan tuan." Jawabku cepat ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Kalau begitu saya permisi tuan."
"Tunggu, besok Anda langsung saja keruangan saya. Bekerjalah dari sini, dengan begitu Anda tidak perlu bolak-balik naik-turun lift untuk lapor pada saya." Pintanya dengan tegas.
"Tapi tu..."
"Ini adalah perintah Kiara Florencia!"
Dia tau nama lengkap ku? Ah, aku lupa dileher ku ada tergantung data diriku.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Aku segera keluar dari ruangan tersebut dan akhirnya bisa bernapas lega.
"Bagaimana mungkin aku bisa bertahan satu ruangan dengannya dalam waktu yang lama? Sepertinya aku harus bekerja lebih giat lagi agar cepat selesai." Gumam ku ketika berada di dalam lift.
Keesokan harinya aku benar-benar bekerja di dalam ruangan tuan Willy. Aku juga berusaha keras mendesain kemasan sesuai keinginannya. Namun sekeras apapun usahaku, ada saja yang salah menurutnya.
"Bukankah ini terlalu berwarna? Ini seperti kemasan mainan anak-anak. Apa kamu hanya tau cara berkelahi? Buat lagi!" Gerutunya ketika aku memperlihatkan desain ku yang kesepuluh kalinya. Dan tunggu? Jadi dia mengenali ku? Hah, sudahlah. Aku menghela napas ku dan kembali mengerjakannya.
"Warna dasarnya terlalu cerah, buat lagi!"
"Mereknya jangan di bold, buat lagi!"
"Sepertinya jika di bold akan lebih bagus, buat lagi seperti yang tadi!"
"... Buat lagi!"
"... Buat lagi!"
"... Buat lagi!"
Begitu terus sampai satu minggu, rasanya kepalaku sudah penuh oleh kata "Buat lagi!"
"Hah, sepertinya aku harus protes, jika tidak kapan penderitaan ini akan selesai?" Gumam ku kesal.
"Tuan, ini adalah desain barunya."
"Hmm, warnanya sedikit terang..." Baru hendak kubuka mulut untuk menyanggah.
"Saya rasa desain mu yang kedua adalah yang terbaik, pakai yang itu saja!" Aku membelalakkan mataku tak percaya, sudah berpuluh-puluh kali aku melakukan revisi. Dan dia ingin menggunakan desain yang kedua? Rasanya aku benar-benar ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Sekarang kamu temani saya makan malam!" Pintanya tak terbantahkan, sikap bos besarnya semakin menjadi-jadi. Selama aku bekerja di ruangannya, ia memang selalu memintaku untuk menemaninya makan. Dan aku juga bisa menikmati makanan enak dan gratis setiap hari, anggap saja ini adalah kompensasi dari penderitaan ku.
Setelahnya kami turun untuk pulang, menggunakan lift khusus untuk Presdir. Aku ingin menolak tetapi perintahnya adalah keharusan, hingga akhirnya akulah yang selalu mengalah. Angka lift terus berjalan dan kini telah berada di lantai 6, tiba-tiba lift terhenti, semuanya menjadi gelap. Aku menjadi takut dan gelisah, tetapi suara rintihan dibelakang ku membuatku tersadar.
"Tuan, tuan tidak papa?" Tanyaku sambil meraba-raba dimana keberadaannya.
Aku hidupkan senter handphoneku, kulihat ia meringkuk ketakutan. Tubuhnya bergetar, matanya terpejam.
"Tuan..." Aku terperangah ketika ia memeluk tubuhku dengan erat.
"Jangan pergi, saya mohon jangan pergi!" Gumamnya lirih.
"Aku tidak akan pergi tuan, Anda tenang saja!" Pintaku seraya mengelus punggungnya.
Dua jam lamanya hingga lift bisa dibuka oleh teknisi dan petugas keamanan. Selama itu juga kami saling mendekap memberi kehangatan satu sama lain, memberi rasa keamanan. Ia juga menceritakan padaku bahwa ia trauma dengan gelap karena 11 tahun yang lalu ada tragedi yang menimpanya.
Sejak saat itu hubungan kami menjadi semakin dekat, ia bahkan tidak segan mengantarku pulang dan berkunjung ke rumahku yang sederhana. Dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan dan menjadi sepasang kekasih.
Dua bulan berlalu, hari ini dia membawaku makan malam romantis di sebuah restoran mewah, aku terharu ketika salah satu kakinya berlutut di hadapanku dan tangannya menyodorkan sebuah cincin yang terlihat sangat cantik.
"Kiara Florencia, will you marry me?" Mataku berkaca-kaca, ini sangat romantis. Ketika ingin menerima lamarannya, aku melihat sesuatu terjuntai di lehernya.
Deg...
Liontin itu? Seketika aku mundur beberapa langkah. Secara tidak sadar, setetes air mata mengalir di pipiku. Dia menatapku dengan aneh.
"Ara, apa kamu menerimaku?" Desaknya ketika beberapa saat aku terpaku diam.
Setelah beberapa saat, aku baru mampu berucap.
"Maaf tuan, sejak awal hubungan ini adalah sebuah kesalahan. Aku hanya ingin mengincar hartamu, namun tidak lagi. Aku sudah bosan sekarang, mari kita akhiri disini saja tuan." Ujar ku dengan suara bergetar, berusaha agar tangis ku tidak pecah.
Ia terdiam beberapa saat kemudian menggenggam tanganku.
"Apa maksudmu Ara? Jangan bercanda?" Tanyanya dengan sedikit gusar.
Aku menarik paksa tanganku hingga terlepas dari genggamannya.
"Maaf tuan, aku sudah bosan dengan sikapmu yang otoriter. Bagaimana mungkin aku mau menikah denganmu, aku tidak mau seumur hidupku terus diatur olehmu, tuan." Ujar ku dan kemudian membalikkan tubuhku meninggalkannya.
"Oh iya tuan, Anda tenang saja. Aku juga akan segera mengundurkan diri dari perusahaan Anda." Setelahnya aku benar-benar melangkahkan kakiku meninggalkannya walau langkah ini terasa berat.
Ku terobos hujan gerimis malam ini.
Hujan gerimis? Malam itu juga hujan gerimis. Malam di saat aku bertemu kembali dengannya setelah 10 tahun, dan malam ini hujan gerimis juga menjadi saksi bahwa aku harus terpaksa kembali berpisah dengannya.
Ku ulurkan tanganku, membiarkan rintik-rintik air membasahinya.
"Mungkin ini adalah yang terbaik." Gumam ku seraya berjalan di bawah hujan gerimis ini, kembali ke rumahku.
🌸🌸🌸TAMAT🌸🌸🌸