Hari ini langit begitu cerah dengan mentari yang begitu terik bersinar diatas kepalaku. Pukul 07.00 aku memiliki sebuah jadwal interview disalah satu perusahaan ternama untuk menduduki posisi sebagai staf gudang disana. Walaupun aku seorang wanita, tapi ku yakin bahwa tenaga serta keterampilan yang aku miliki pasti akan membuatku lulus tes kali ini.
Pagi ini aku bangun terlambat karena semalaman menonton drama korea, hingga membuat angkutan umum yang selalu aku tumpangi telah pergi dari pangkalanya.
Kupastikan bahwa aku akan gagal sebab terlambat sampai disana karena harus berjalan kaki menuju kantor tempat interview.
Kutatap jalanan yang begitu lenggang karena hari sudah siang, dan tanpa sengaja aku melihat pria dengan jas hitam sedang terduduk memegang keningnya dipinggir jalan. Ku hampiri dirinya karena kulihat wajahnya kian memucat dan nafasnya terlihat begitu sesak.
Biarlah aku gagal kembali bekerja diperusahaan itu asalkan pria yang kini berada didepanku segera mendapatkan pertolongan. Tak dapat kuduga ternyata dirinya begitu menatapku dingin dan berkata bahwa dirinya baik baik saja.
Namun aku tetap membujuknya untuk segera pergi kerumah sakit dan memeriksakan keadaannya yang mengkhawatirkan. Lambat laun, hatinya mulai luluh dan mau mengikuti saranku untuk pergi ke rumah sakit terdekat. Dengan langkah yang dipapah dan tangannya yang mulai terasa dingin, akhirnya kami sampai di halaman rumah sakit dengan berjalan kaki walaupun ia tetap bersikap acuh dan cuek terhadap kekhawatiranku.
Para perawat segera membawa pria itu kedalam ruangan hingga ia mendapatkan pertolongan dan diperiksa dengan rinci oleh dokter. Aku meninggalkannya dirumah sakit dengan beberapa lembar uang yang ku punya didalam dompet sebagai biaya administrasinya tak lupa mengisi daftar formulir berisikan nama serta nomor ponselku agar pihak rumah sakit bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu pada pria tersebut. Aku tahu memang itu semua tak penting, tapi aku tak ingin terlibat hal aneh aneh jika terjadi hal buruk pada kondisinya, apalagi sampai jika harus berurusan dengan kepolisian. Kemudian langkahku kini tertuju pada perusahaan yang memanggilku untuk interview, siapa tahu interviewnya belum selesai.
Lama aku berjalan menyusuri jalanan ibu kota, karena uangku habis untuk biaya pengobatan pria misterius tadi. Hingga tak lama saat aku sudah sampai di halaman kantor tempat aku melamar pekerjaan, kulihat sebuah mobil sport terparkir disana dengan seorang supir yang terlihat linglung. Ku hiraukan ia karena tergesa gesa masuk kedalam kantor tersebut untuk menanyakan perihal wawancara interview yang seharusnya pagi tadi kulakukan.
Namun sial, ternyata perusahaan ini telah membuat keputusan untuk menerima karyawan yang tadi pagi sudah melakukan interview sebelum aku datang. Langkahku gontai dan segera pergi berlalu meninggalkan kantor tersebut.
Hingga beberapa minggu kemudian, sering sekali aku mendapatkan surat didepan pintu kosan yang ditulis tangan oleh sang pengirim yang akupun tak tahu siapa orang tersebut. Sampai akhirnya pagi itu ku sengaja terbangun lebih pagi untuk melihat dari kaca jendela siapa pengirim surat surat romantis yang selama ini aku terima.
Seorang pria tinggi dengan pakaian yang lusuh berjalan mendekat kearah kosanku dan menyimpan sepucuk surat dengan wajahnya yang tertutup topi. Setelah orang tersebut pergi, akupun mengambil surat tersebut dan membaca surat panggilan bekerja diperusahaan yang sebelumnya aku datangi.
Esok hari, ku bangun lebih pagi dan pergi menuju perusahaan itu kembali dengan doa dan harapan yang begitu besar agar aku bisa bekerja disana. Beberapa staf kayawan disana menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan hingga salah satu dari mereka menuntunku untuk bertemu dengan pemilik perusahaan tersebut.
Kuucapkan salam dan terlihat pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih tersenyum kearahku dan menyatakn bahwa aku diangkat menjadi sekertaris disana padahal tes serta interview belum aku lakukan. Dengan keterkejutan serta kebingungan yang melanda pikiranku, pria paruh baya didepanku kemudian bangkit dan memegang tanganku untuk masuk kedalam ruangan yang berada di samping ruangannya, hingga akhirnya aku berdiri berhadapan dengan pria tampan bermata indah menatapku dingin yang tak lain adalah pria yang kutolong waktu itu.
Pria paruh baya di sampingku tersenyum dan mengatakan bahwa pria dihadapanku adalah anaknya yang telah aku tolong tempo lalu. Hingga akhirnya pria yang kupastikan adalah pengirim surat surat selama ini mendekatkan tubuhnya kearahku dan berbisik lembut ditelingaku.
"Sekarang kau adalah bagian hidupku. Kau telah mesuk kedalam hidupku dan takan pernah kubiarkan kau jauh dariku"
Suaranya yang lembut berhasil membuatku tertegun dan menatapnya tak percaya. Sampai akhirnya kami pun menjadi partner di perusahaan miliknya serta aku pun menjadi wanita beruntung yang dipersunting oleh pria dingin sepertinya.