Renita Anya Sofia panggil saja Reni cewek dengan kebaikan yang tiada tara. Reni juga memiliki wajah yang cantik, siapapun yang melihatnya kebanyakan akan langsung jatuh cinta.
Reni menutup pintu taksi yang Reni tumpangi setelah pulang kerja. Reni memberikan sejumlah uang untuk membayar ongkos taksi tersebut.
"Terima kasih pak. " Setelah mengatakan itu, Reni berlari menelusuri jalan celah sempit rumah diperkotaan. Jalan sepi, percahayaan yang juga remang remang plus jalan sempit tidak menambah rasa takut Reni. Reni memang sudah biasa.
Reni terpaksa melewati jalan ini, karena memang jalan satu satunya untuk ke rumah sahabatnya hanya jalan ini. Reni melajukan langkahnya, Reni tidak takut dengan hantu, Reninlebih takut jika ada orang yang berniat jahat mencelakai Reni dijalan ini. Karena nafas Reni sudah ngos ngosan, Reni memperlambat laju langkahnya. Hingga diseberang jalan yang begitu gelap Reni mendengar suara seorang pria yang meminta tolong.
Reni ingin kesumber suara, tapi hati Reni juga tiba tiba merasa takut kalo nanti ada orang yang meminta tolong tapi ternyata modus penipuan., maklum jaman sekarang harus pintar pintar membaca situasi.
"Aduh gimana ini? tolongin gak yah? " Gumam Reni melawan rasa simpatinya.
"Kalo nanti cuman modus gimana? "
Reni masih berperang dengan batinnya, dan tidak lama ada seseorang yang sepertinya merintih kesakitan. "Akkhhh." Teriak orang yang tadi meminta tolong.
Reni tidak berpikir lagi dan berlari untuk menolong orang yang ada disumber suara. Mata Reni membelalak kaget ketika dari kejauhan melihat seorang pria sudah jatuh diatas tanah sambil memegangi perutnya, di sampingnya juga ada orang yang berpakaian serba hitam. Reni berlari dan saat orang itu berdiri menatap Reni, Reni langsung memberikan tendangan taekwondonya.
Orang berpakaian serba hitam plus masker itu terjatuh, hendak melawan tapi Reni tidak takut. Reni akan membuka masker orang itu. Reni tampak lihai melawan orang serba hitam itu, orang bermasker itu kalah. Reni maju hendak membuka masker pelaku, tapi orang yang tadi diserang dansepertinya diambang kematian.
"Tolong saya. " Ucap orang yang diserang mengalihkan atensi Reni.
Saat Reni sudah mengalihkan pandangannya, pelaku penyerangan itu segera kabur. Reni hendak berlari mengejar pelaku, tapi sebuah tangan menghentikan niatan Reni.
"Tolongin saya. "
Reni terpaku melihat wajah tampan didepannya. Saat kesadaran Reni kembali berkumpul, Reni mengangguk dan segera menelepon polisi.
Tangan Reni tiba tiba digengam, dan dibawa keperut sang pria. Reni sudah berprasangka buruk, apakah pria itu yang tergeletak di tanah berniat buruk?.
"Kamu mau ngapain?" Reni gemetar ketakutan, tangan Reni tiba tiba basah sepertinya terkena benda cair. Reni mengangkat tangannya dan melepaskan genggaman pria itu, karna percahayaan yang remang remang Reni belum tau benda cair apa yang ada ditangannya. Reni mengambil handphone dari tasnya kemudian menghidupkan senter untuk melihat keadaan tangannya, mata Reni membulat sempurna melihat darah segar menempel ditangan Reni.
"Darah?, "
"Kamu tertusuk? "Reni menoleh kearah pria tampan itu, dan Reni memfokuskan netranya keperut pria tadi. Reni langsung membuka baju pria yang diserang, baju pria ini sudah basah oleh darah. Reni menutup mulutnya melihat luka diperut pria itu. Reni terus menenangkan pria itu agar tidak gugup dan darah bisa berhenti mengalir.
Sekitar 10 menit polisi dan ambulance datang, pria tadi sudah digotong dibawa ke dalam ambulance. Polisi ikut mengawal serta akan menanyai Reni untuk menjadi saksi. Reni sudah sampai dirumah sakit, kini Reni sedang berada didepan pintu ruang IGD. Setelah ditanyai beberapa pertanyaan oleh polisi, Reni dipersilahkan pulang, karena khawatir dengan keadaan pria tadi Reni berniat menunggu pria tadi sampai siuman.
Ruang IGD terbuka pria tadi telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Polisi langsung masuk setelah mengetahui keadaan pria tadi sudah lumayan pulih. Seorang Pria dengan jas berlari menerobos Reni dan langsung masuk kedalam ruang rawat inap. Sepertinya Reni kenal dengan pemilik tubuh itu. Tidak lama polisi pergi meninggalkan ruang rawat inap itu, ada juga yang menjaga didepan pintu. Karena ruang rawat inap itu masih ramai, Reni memutuskan untuk pulang.
#####
Pagi harinya Reni sudah sampai didepan pintu ruangan pria yang diserang dan diselamatkan oleh Reni. Pintu ruangan terbuka ada seorang pria yang wajahnya sangat familiar bagi Reni, sepertinya Reni pernah melihat pria ini.
"Kamu yang menyelamatkan tuan? " Tanya pria berjas itu.
'Tuan? apa dia dari keluarga kaya? 'Batin Reni.
Reni mengangguk. "Kalo begitu anda dipersilahkan masuk. "
Reni mengikuti langkah pria berjas itu, hingga netra Reni bertemu dengan pria tadi malam. Senyum Renipun mengembang.
"Selamat pagi tuan. " Reni menyapa dengan sopan.
"Duduklah aku ingin berbincang dengan mu. " Ungkap pria itu.
"Sebelumnya perkenalkan namaku Victor Darmanegara. "
Reni mengeryitkan keningnya, sepertinya Reni pernah mendengar nama itu. Reni kembali mengingat nama yang sedang banyak dibicarakan oleh teman teman kerjanya, "anda CEO di DN grup? "
Victor tersenyum kemudian mengangguk. Reni mematung dan juga entah kenapa hatinya seperti sedang berada diclub berjedag jidug ria melihat Victor tersenyum.
"Anda mengenal saya? " Reni mengangguk, "saya salah satu pegawai diDN grup. " Ungkap Reni.
"Benarkah? syukurlah ternyata takdir memang membawa kita bersama,"
"Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepadamu karena telah menolongku, walaupun pelakunya memang belum tertangkap tapi aku sangat berterimakasih. "
Reni tersenyum, "sama sama tuan, sudah sepantasnya saya sebagai manusia untuk menolong tuan. "
Reni tersentak karena ponselnya berdering, "maaf tuan saya harus mengangkat telepon terlebih dahulu. "
"Dari siapa? " Tanya Victor dengan nada datar.
"Dari ketua divisi tuan. "Jawab Reni.
" Jangan dijawab. "Perintah Victor.
" Tapi mungkin ini penting karena menyangkut pekerjaan. "
"Kenapa kamu takut? padahal didepanmu ini bosku sendiri, "
"Siapa nama ketua divisi mu? "
"Pak Akmal tuan. " Jawab Reni
Victor menoleh kearah asistennya, "tolong hubungi pak Akmal, suruh dia meliburkan Reni untuk hati ini. " Perintah Victor kepada asistennya. Asistennya mengangguk dan langsung pergi untuk menelepon pak Akmal.
Victor menatap lamar lamar wajah Reni yang terkesan putih dan manis.
"Aku ingin memberikan mu hadiah karena telah menyelamatkanku. " Ucap Victor masih fokus menatap wajah Reni. Reni yang tadi menatap asisten bosnya kini menoleh dan netra Reni bertemu dengan mata indah milik sang bos.
"Tapi aku tidak berminat meminta hadiah. "
"Aku memberikanmu kesempatan untuk memiliki hadiah menarik. " Reni tampak penasaran dengan hadiah apa yang akan diterimanya.
"Oke aku akan menerima hadiahnya, lalu hadiahnya apa? " Tanya Reni.
"Kemari mendekat kehospital bed, "
"Aku akan mengatakan hadiah apa yang kau terima ketika kau sudah didekatku. " Lanjut Victor.
Reni langsung mendekat dan mendudukan diri disamping tempat tidur Victor, "cepat aku tidak sabar mengetahui hadiah apa yang akan kuterima."
"Tutup matamu terlebih dahulu." Reni kembali menuruti perkataan Victor, Victor tersenyum ternyata gampang sekali mengelabuhi Reni.
"Hadiah yang akan kau Terima adalah menikah denganku. " Setelah mengatakan itu Victor mencium dan melumat bibir Reni, Reni yang kaget langsung membuka matanya hendak melepaskan pangutan bibirnya dengan Victor, tapi sepertinya tubuh Reni menolak dan malah menikmatinya.
~END
Author baper sama Victor, tanggung jawab lu vic😄
Terima kasih telah membaca cerpen karya ku ini. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan.
Happy reading.
Jangan lupa follow IG:griliyy