Setiap orang pasti memiliki cara untuk membahagiakan pasangannya. itulah kiasan yang aku baca di salah satu postingan sabahabat ku yang baru saja jadian dengan gebetannya.
Lalu bagaimana dengan aku? aku Memiliki kekasih yang sudah hampir 2 tahun mengisi hari hari ku. Namun tak pernah memeluk atau mencium ku? Lalu di mana letak Keromantisan yang di katakan para bucin tersebut?.
Alan Prayoga itulah nama yang kini menjadi kekasihku, lelaki dengan tubuh tinggi tegap dan dengan sikap dinginnya, entah apa alasannya mengapa aku dan dia bisa pacaran namun yang aku tau Aku mencintainya.
Namaku Reina Thalia, aku biasa di panggil Reina.
Di sekolah aku cukup di kenal karena prestasi ku. Dan begitu juga dengan Alan, ia mendapat posisi sebagai Ketua Osis. Alan selalu menutupi hubungan kami bukan karena tanpa alasan. Ia memintanya agar kami tidak terlalu dekat di sekolah mengingat ia adalah Ketua Osis yang harus memberi Contoh kepada siswa lainnya.
"Pagii sayang" ucap ku pada Alan yang tengah seorang diri di dalam ruang Osis.
Melihat suasana yang sepi aku mencoba mencium pipi Alan. Dan bukannya membalas Alan malah marah kepada ku.
"Reina! kamu apa-apaan sih? ini ruang Osis, kamu gak lihat di sini ada CCTV apa? " ucap Alan
"Emang knpa? salah kalau aku mencium kekasihku sendiri? apa aku harus meminta izin dulu sama kamu?" gerutu ku kesal dengan Alan.
"Bukan gitu Reina, ini ruangan umum gimana kalau ada siswa yang lihat? otomatis aku dan kamu bakalan malu kan?" balas Alan pelan sambil membelai manja rambut ku.
"Bodoh amat!" balas ku kesal kemudian meninggalkan Alan sendiri.
"Reina Knpa sih, kamu kayak Anak-anak? dari dulu gak ada berubahnya" batin Alan.
Sejak saat itu, aku memilih cuek kepada Alan. Aku ingin lihat gimana reaksi Alan apakah dia benar serius mencintaiku.
"Kita pulang bareng nanti yah Reina" Ucap Alan dengan senyuman manisnya kepadaku di tengah teman-temanku.
Aku hanya mengangguk sambil membalas senyum Alan yang tak bisa aku tahan.
"cieeee.... ada yang pulang bareng nih" ucap Lala, salah satu teman ku.
Aku tersenyum dengan wajah memerah ku, tak percaya untuk sekian lama akhirnya Alan menemuiku dan mengajakku pulang bersama.
Sesuai perkataan Alan, kami pulang bersama dengan mengendarai sepeda motornya. Perlahan tangan ku memeluk tubuh Alan dan aku mencium wangi parfum milik Alan,aku tersenyum bahagia.
Alan pun menghentikan Sepeda motornya di tepi danau. aku sedikit terpukau, bukan hanya mengajak pulang bersama tapi sekarang Alan mengajakku berduaan, di tepi danau lagi 😁
Kami berdua duduk di salah satu bangku yang di sediakan dan aku menyandarkan kepalaku ke bahu Alan lalu mengenggam tangan Alan.
"Reina, knpa akhir akhir ini kamu cuek sama aku? " tanya Alan membuka pembicaraan.
"Yah, aku hanya mau lihat kamu masih peduli gak sama aku. Tapi sekarang aku udah percaya kok kalau kamu memang masih mencintaiku dan peduli padaku." jawab ku dengan senyum.
"Aku minta maaf tapi aku mengajakmu ke sini bukan untuk berduaan tapi ada hal yang ingin aku bahas dengan mu" ucap Alan pelan
"Soal apa itu? " tanya ku Penasaran.
"Kamu masih ingat saat kamu meluk aku di Ruang Osis? "
"uhmmm... iya aku ingat! knpa emng nya? " tanyaku kembali
"Seseorang melaporkan hal itu dan guru mengancamku akan menurunkan prestasi mu jika hal itu terjadi lagi " terangkan Alan
"Gapapa kok, asalkan kita bisa terbuka soal hubungan kita" balasku tersenyum lepas.
"Kamu gak tau akibatnya itu apa Reina, kita masih dalam dunia pendidikan dan aku gak mau masa depan kamu terganggu hanya karena persoalan itu." ucap Alan kembali.
"Jadi maksud kamu apa? aku gak ngerti" ucapku lirih.
"Kita jaga jarak di sekolah ajah Reina," balas Alan
"Aku gak mau!" gerutuku tegas.
"Reina... knpa sih kamu kayak anak kecil, gak bisa di kasih pengertian." bentak Alan.
Mataku menatap tajam Alan
"Anak kecil? yaudah sana cari cewek yang dewasa, kamu pikir aku kayak gini itu bukan karena kamu? andai kamu seromantis cowoknya Lala, pasti Aku gak begini. " balasku membentak balik Alan.
Kemudian aku pergi tanpa pamit kepada Alan dengan perasaan kesal bercampur dengan kecewa.
Hari berikutnya, aku tak memperdulikan perkataan Alan pada waktu itu karena tak ada yang bisa menjauhkan aku dengan Alan.
"Aku udah lama gak lihat kamu barengan lagi sama Alan, rei" ucap Lala
"Iyah sih, dia lagi sibuk soalnya " balas ku singkat
"Oh yah malam minggu nanti kita ke cafe yuk. ajak Alan juga yah" ucap Leo pacar Lala yang Tiba-tiba datang.
"eh sayang " sapa Lala sambil memeluk dan kemudian mencium Leo di depan ku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis dan mencoba memalingkan pandangan mataku. Lalu Kedua sejoli itu pergi bersama dan meninggalkan Aku sendiri.
"Yah tuhan, kapan yah Alan begitu sama aku" batinku
Lalu aku menemui Alan di kelasnya yang tengah berbicara dengan seorang cewek sepupu dari Lala.
"Sayang, malam minggu kita jalan yah bareng
sama Lala dan pacarnya juga di cafe" Sapaku, langsung pada intinya dan tak memperdulikan cewek yang berada di dekatnya.
Melihat aku mengutarakan tujuanku membuat cewek itu pergi dengan tatapan sinisnya.
"Aku gak bisa janji Reina" jawab Alan
"Kamu harus bisa sayang, aku pengen ngedate sama kamu, jangan asik sibuk terus donk, masah hampir 2 tahun kita jarang ngedate sih, aku iri tau sama Lala yang terus di perhatiin sama Leo" Gerutu ku mulai kesal.
"Itukan Lala bukan kita" balas Alan singkat.
"Apa bedanya sih sayang? pokoknya aku gak mau tau, kamu harus datang yah aku tunggu kamu di Cafe biar kamu gak ribet jemput aku lagi." ucapku berharap Alan mau.
Alan hanya mengangguk pertanda iyah.
Hari yang aku tunggu pun tiba, aku berdandan secantik mungkin dan datang ke Cafe sendiri berharap Alan cepat datang. Tak lama kemudian Lala dan Leo datang. Dan langsung bermesraan di salah satu ruangan VIP yang mereka pesan. Aku hanya terdiam melihat mereka berdua yang semakin menjadi-jadi.
"Semoga ajh Alan bisa datang, dan aku akan mendapat ciuman mesra dari dia" batinku tersenyum senyum.
Beberapa Jam kemudian.
"Alan mana sih? ini udah hampir 1 jam aku nunggunya" batinku mulai kehabisan rasa sabar.
Aku mencoba menelfon, Sms dan bertanya kepada teman Alan, namun tak ada satupun yang tau Alan di mana.
Kesabaranku pun habis aku pulang sendiri meninggalkan Lala dan Leo yang tengah bermesraan.
Sejak saat itu banyak pendapat yang membuat ku semakin membenci Alan, aku mulai menyadari bahwa Alan tak mencintaiku.
"Dia gak pernah kan cium atau peluk kamu Reina?" ucap Lala
"Gak sih, dia bilang Jangan dulu" jawabku pelan
"Dari pada di cuekin gitu mending putusin ajh Reina, aku kasihan sama kamu yang tampak berjuang sendiri " ucap Leo
"Dia memang perhatian samaku setiap kami chat, tapii..... " jawabku lagi
"Tapi itu di dunia Sosial media Reina, Secara Fakta dia pernah memdatangimu sendiri dan memberi perhatian sama kamu? udah deh Reina lepaskan ajh" Ucap Lala mempengaruhi Reina.
Reina tak mengetahui kalau Lala dan Leo di bayar seorang cewek untuk mempengaruhi Reina agar Hubungan mereka berakhir.
Akhirnya aku mengatur pertemuan dengan Alan di taman dekat sekolah dan berniat mengungkapkan semua kekesalan ku dan akan memutus hubungan dengan Alan.
"Maaf yah Reina malam minggu itu aku gak bisa datang karena aku harus mendaftarkan diri untuk ikut olimpiade. Persyaratan masuk Universitas di luar negeri " ucap Alan dengan senyuman, merasa tak bersalah.
"Mudah yah kamu bilangnya, kamu pikir aku sebahagia kamu pada saat itu? " gerutu Reina mulai kesal.
Melihat reaksi ku yang berbeda, Alan mulai mengerti Kekasihnya tersebut sedang marah.
"iyah aku minta maaf Reina, aku tidak seharusnya membiarkan mu sendiri di Cafe itu" ucap Alan sembari mengelus manja rambut ku.
Aku menghindar dan sama sekali tidak terpengaruh dengan sentuhan Alan itu di rambutku.
"Aku ingin kita Putus, mari kita akhiri hubungan yang kita tutupi ini, itu kemauan kamu kan? biar gak ada orang yang menganggu jabatan kamu di sekolah" Balas ku tegas.
"Reina jangan bercanda, aku gak mau putus dari kamu, aku sayang sama kamu" balas Alan sambil memegang kedua tangan ku.
"Sayang kamu bilang? Aku gak bodoh Alan! mana buktinya kalau kamu sayang sama aku? " ucapku menantang Alan.
"Aku mempersiapkan masa depan kita sebaik mungkin, aku menjaga nama baik kita agar tidak tercemar seperti pasangan yang lain" Balas Alan mencoba memberi pemahaman kepadaku.
"itu ajah? lalu bagaimana dengan pelukan? ciuman? kamu pernah melakukannya untuk ku? bahkan untuk berduaan dengan ku ajh kamu gak bisa Alannn" Gerutu ku dengan emosi yang memuncak
"Reina... itu bukan salah satu hal yang harus kita lakukan" balas Alan singkat.
"Bukan kamu bilang? itu harus Alan, itu tandanya kamu serius sama aku! " ucap ku dengan nada lantang.
"Asalkan kamu tau, aku gak pernah bahagia selama ini Alan, Kamu gak Romantis, Gak seperti Cowok di luar sana yang bebas melakukan apa saja kepada kekasihnya, lalu mengapa kamu gak bisa? kamu cowok kan? Kamu benar gak sayang sama aku" Balas ku dengan penuh emosi
Sejenak Alan terdiam aku berpikir Alan akan memeluk ku, ternyata tidak, tidak sama sekali.
"Reina aku sungguh serius sama kamu soal ciuman atau pelukan itu tidak menentukan sayang atau gaknya aku ke kamu, aku gak mau hanya karena itu kamu di cap Wanita murahan, aku gak mau menodai kamu karena aku mencintai kamu dengan sungguh-sungguh bukan karena Nafsu.
Bagaimana bila kita melakukan hal yang melewati batas? sama artinya aku menghancurkan masa depan kamu, masa depan kita berdua Reina!" terangkan Alan dengan nada Tinggi dan mengenggam kuat tangan ku.
Kami terdiam sejenak, aku hanya tak percaya akan penjelasan Alan yang sungguh masuk akal.
"Aku juga tau aku terlalu mengabaikanmu, wajar saja kamu seperti ini, kamu ingin mengakhiri ini semua kan? baik lah aku terima keputusan kamu Reina, dan ingat yah, semua itu aku lakukan sebenarnya untuk masa depan kita bukan hanya untuk diriku sendiri. " ucap Alan dengan mata yang berkaca-kaca.
Perlahan Alan melepaskan genggamannya dan mulai melangkah menjauhi aku.
"Tuhan... aku sungguh salah menilai Alan, kini aku sungguh menyesal tolong kembalikan Alan pada ku yah tuhan" batin ku sambil menetaskan air mata.
Beberapa bulan kemudian, Kabar kehamilan Lala pun terdengar dimana-mana, Lala menemuiku secara diam-diam dan mengakui bahwa seorang cewek telah memerintah ia dan Leo untuk mempengaruhi aku yang tak lain adalah cewek yang bersama Alan saat aku menemui ia di kelas. Namun semua terlambat, aku sudah mengakhiri hubungan dengan Alan.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku menyadari perkataan Alan itu benar. Hari ini Tanpa sengaja aku bertemu Alan di teman tempat kami mengakhiri hubungan kami. aku dan dia terdiam, walaupun sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadanya.
"Kita satu sekolah tapi aku jarang melihatmu, Bagaimana kabarmu Reina" ucap Alan
"aku baik kok" jawabku pelan
"syukurlah, aku senang mendengarnya" balas Alan
Aku benar tidak bisa menahannya lagi akhirnya aku mengungkapkan isi hatiku kepada Alan
"Alan, aku minta maaf aku sadar apa yang kamu katakan semua itu benar. Maaf juga sudah salah menilaimu, dan jujur aku masih mencintai kamu, aku benar gak bisa move on." ucapku sambil tertunduk
"Akhirnya kamu sadar juga, aku senang kamu paham dan aku juga masih berharap kita bisa kembali seperti dahulu lagi" Balas Alan sembari mengenggam tangan ku.
"Reina aku ingin kita balikan lagi, Aku mohon" Tawar Alan memandang mataku.
sejenak aku terdiam tak percaya , aku membalas dengan senyuman pertanda setuju dengan perkataan Alan.
Perlahan Alan mendekati ku, dan akhirnya untuk pertama kali Alan memeluk ku dan mencium keningku dengan penuh rasa sayang.
Sejak saat itu hubungan kami kembali harmonis dan berkomitmen untuk menggapai masa depan bersama. Dan kami memutuskan untuk Bertunangan saat kami saling berjauhan. Akhirnya aku tau apa itu Makna Keromantisan yang tak harus di umbar tetapi mengarah kepada keseriusan dan saling menjaga.
The End.