"Hai Bang Galuh" Sapaku.
Galuh Setiadi, sosok tinggi, dengan ketampanan diatas rata-rata, badan proposional, maksudnya pelukable.
"Kantor!" Dinginnya.
Aku terkekeh, "Selamat Pagi Pak Galuh" Sapaku ulang. Dia hanya membalas dengan gumaman.
Seperti biasa pengabaiannya membuatku semakin gencar mendekatinya. Bang Galuh melangkah menjauh. Keuntunganku adalah dia anak sahabat orang tuaku.
Kedua keluarga menyetujui hubungan kami. Dan aku manfaatkan semua itu. Biar saja mereka menganggapku buruk. Terserah.
Yang pasti aku bisa selalu berada didekatnya.
Aku menjajarkan langkahku. "Hari ini bekal ISTRImewah" kataku penuh kelakar. Aku menyerahkan paper bag padanya.
Ia menerimannya, membuatku melayang ke angan tinggi. "Gak ada udang kan?" Pertanyaan pertamanya di hari ini. Senangnya.
Aku mengeleng keras "Enggak!"
Aku menjajari langkah besarnya susah payah.
"Hari ini sop ayam kembang tahu, sambel goreng kentang ati, sama ayam goreng ketumbar, terus ada dua puding sesuai requesnya matcha sama coklat juga ada susu cimory coklat seasalt"
"Bang nanti kita makan dimana?" Aku senang bekal yangbaku buat itu untuk dua porsi, yuhuu makan bareng abang bucinku.
Bang Galuh dahinya mengernyit. "Kita?" Aku mengangguk antisias.
"Saya makan bersama Hani, bukan denganmu" aku terbengong. Bang Galuh sudah berada di kubikel Hani temanku satu ruangan. Ia menyerahkan paperbag yang aku berikan pada Hani.
"Ini simpan untuk makan siang kita" Ucapnya. Aku meletakkan tasku pada kubikelku.
Dan aku melihat interaksi keduannya yang hangat. Sempat aku lihat Bang Galuh mengelus sayang kepala Hani, dan Hani tersipu malu.
"Bener ya ternyata gosip mereka jadian" Mbak Sonia, bertengger di atas kubikelku.
Aku terkejut.
"Dari kapan mbak gosipnya?" Tanyaku penasaran. Aku tak tahu apapun tentang gosip itu. Aku terlalu bersemangat mengejar Bang Galuh hingga tak ada waktu tentang masalah lain.
"Ya kira-kira semingguan yang lalu, itu lho setelah rapat besar di Nusa Penida waktu itu, oh ya lo gak ikutkan Mol"
"Lo dapet tugas di Singapur kalo nggak salah ya kan" Sial! Aku kecolongan.
Pantas saja Bang Galuh mengabaikan semua pesanku. Di baca saja enggak sampai sekarang. Sakit ternyata.
Belom! Aku harus konfirmasi. "Molly ikut saya melapor pada Pak Galuh" Pak Arga berjalan mendahuluiku.
Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada Bang Galuh. "Jadi kasus disingapura sudah selesai, kalian bisa kembali keruangan kalian" Perintah dari Bang Galuh.
Pak Arga sudah lebih dulu pergi. Aku masih menunggu. Berdiri ditempatku tadi. Bang Galuh membaca laporannya. Kepalanya terangkat, saat mendapatiku masih ada diruangannya.
"Bang! Abang ada hubungan sama Hani?" Tanyaku langsung. Aku tak suka penasarang. Ia menatapku lama. Kemudian mengangguk.
Membuat tulang belulangku rontok dengan seketika.
"Abang pacaran sama Hani?" Tanyaku lemas. Ia kembali mengangguk.
"Terus aku?" Pandanganku menerawang jauh.
"Kamu? Kenapa?" Ucapnya bingung. "Abang tahukan aku suka abang?" Ia mengangguk.
"Abang juga belum memberiku jawaban abang saat aku menyatakan cinta" Ia mengangguk.
"Dan jawaban abang apa?" Aku menatapnya nanar.
"Masih perlu dijawab?" Sakit hati. Itu perih sekali. Mataku sudah berembun.
"Jika enggak ada lagi keperluan, bisa kembali kekubikelmu" Bang Galuh kembali menekuni kertas-kertas di mejanya.
"Sebelum janur kuning melengkung dirumah abang, aku akan tetep mepetin abang, terserah, kalau abang pacaran sama Hani, aku gak peduli!" Kerasku.
"Dan jangan kasih bekalku pada orang lain!"
Aku keluar dengan tergesa. Marah dan sakit hati. Kalau harus jadi pelakor, okey aku jabani.
Didepan ruangan Bang Galuh aku melihat Hani yang sumringah dengan menenteng paperbagku. Aku rebut paprebagku. Dan kubawa pergi.
Hani hanya diam, terkejut.
*****
Sebulan sudah aku berjibaku menghadapi pasangan didepanku yang bukannya berpisah malah makin lengket.
Sekarang aku dilarang masuk keruangan Bang Galuh. Dimana insiden dua minggu laku aku menjambak Cewek protagonis lemah itu. Ck!
Kesempatanku mendekati Bang Galuh makin sempit. Bahkan Bang Galuh mengajak Hani bertemu keluarga besarnya. Aku tahu karena aku juga ada disana. Rasanya sakit berkali lipat. Melihat senyuman dan perlakuan Bang Galuh pada Hani.
Tapi aku harus kuat! Anak seorang Bagaskara harus kuat! Bahkan mama Mirna tak banyak membantu. Jika Oma Santi sudah suka maka kesempatanku jadi nol.
Aku tahu Oma tak begitu menyukaiku. Karna katanya aku terlalu mengejar Bang Galuh. Kata Oma wanita itu dikejar bukan mengejar. "Seperti wanita tak ada harga diri saja" ucapan menusuknya.
Saat sindiran demi sindiran itu terlontar. Aku masih bisa bertahan karena aku yakin usahaku selama ini tak akan mengkhianati hasil. Aku sedang menantikan hasil yang manis.
Aku masih bisa tersenyum.
"MOLLY KAMU KETERLALUAN!" Bentaknya. Aku sengaja mendorong nampan yang Hani bawa. Lalu menjatuhkan semua gelasnya.
Mata Bang Galuh menatapku tajam.
"Saya diam bukan berarti kamu bisa ngelunjak seperti ini! Wanita murah sepertimu ternyata jahat, kamu pikir saya sudi denganmu!" Lontaran pedasnya mengenai uluh hatiku.
"Wanita tak ada harga diri yang terus mengejar laki-laki tanpa malu sepertimu ingin bersanding denganku? Terlalu bermimpi kamu!"
"Berpendidikan? Apa orang tuamu tak mengajarimu tentang etika?!"
DUAR!!
Aku terkekeh mendengar ucapannya tentang orang tuaku. Aku mendekat.
"Kamu benar Galuh, semua yang kamu bicarakan benar adanya. Aku memang berpendidikan hanya aku tak mendapatkan pelajaran dari ibuku tentang kehormatan wanita yang kamu dan Omamu katakan" Aku mengatakannya didepan wajah Galuh yang pias.
Aku simpulkan ia lupa. Tapi semua sudah terjadi.
Aku akan terus mengejarmu hingga titik penghabisan. Tapi, jika, sekali kau ungkit tentang orang tuaku maka semua selesai. Itu prinsipku.
Aku mengelus pipi Bang Galuh. "Sayang" aku tersenyum. Mata Bang Galuh melebar. Aku melihat ia susah payah menelan salivanya. "Ternyata aku kalah"
Aku memeluknya. "Terima kasih selama ini memperbolehkan aku mencintaimu, Terima kasih memperbolehkan aku merasakan rasanya punya keluarga, LENGKAP!" Aku tekan pada kata lengkap.
"Terima kasih aku bisa merasakan mempunyai oma yang cerewet. Aku tahu oma berkata begitu untuk kebaikkanku"
"Mengapa aku sebegitu ngototnya ingin masuk kekeluargamu, karna aku menemukan perhatian, banyak perhatian, penerimaan, kasih sayang,"
"Galuh kamu tahu, walau Oma selalu ketus tapi ia setiap hari selalu menelpon menanyakan bekal apa yang akan aku bawa hari ini untuk cucunya, juga memastikan aku makan dengan baik" tak ada embel-embel "Bang" lagi dinamanya, meleleh air dari mataku.
"Bodoh kamu!" Celetuk Oma Santi.
"Iya Oma, Maaf tapi aku memang mencintainya. Selamat, Bang! Aku berhenti disini" Berjalan kearah Oma dan Mama. Aku memeluk mereka dan keluar dari sini.
*****
Kembali ke aktifitasku seperti biasa. Yang berbeda hanya tak ada lagi bekal "Istrimewah" dan juga aku yang menghindari Galuh seperti pengecut.
Tak menatapnya, jika berpapasan segera berbalik menuju arah berlawanan. Jika terpaksa satu tempat, anggap tak kenal. Ya kebiasaan yang sering Galuh lakukan padaku, sekarang aku lakukan juga padanya. Pengabaian.
Berbicara formal. Menolak jika kebetulan ada acara yang ada Galuh disitu. Dengan terang-terangan aku menghidarinya. Walau sia-sia. Karna kita sekantor.
Bukan tanpa alasan aku memdorong nampan Hani, ia tak sebaik itu. Tapi sudahlah. Itu pilihan Galuh. Selama ini aku berusaha menjadi tamengnya atas kelicikan Hani.
Dan malah menjadi petaka bagiku. Galuh manjadi anti pati padaku.
Aku sedang raker besar, di salah satu hotel dibandung. Aku sekamar dengan mbak Sonia.
"Mol kebawah yuk laper nih" divisiku yang ikut ada lima orang, aku, Banu, Suci, Mbak Sonia juga pak Arka.
Aku satu divisi dengan Hani, harusnya ia tak ikut, karna hanya boleh lima orang dalam masing-masing divisi, tadi saat berangkat aku melihatnya turun dari mobil Galuh.
Menegaskan hubungan mereka. Mungkin. Aku mencoba acuh. Bukan rahasia umum kalau aku suka dengan Galuh. Mereka memandang kasihan padaku,
"Hani lo bareng bos" sapa Mbak Sonia.
"Iya mbak" suara lembut yang membuatku malas, aku melipir saja menjauh. Ingatan tadi pagi, sudahlah Mol lupa lupa lupa aku semprotkan nano spray ke wajahku.
"Mumpung kita nginep dihotel bintang 5 ini ayok berenang, lo bawa bikini kan Mol" Mbak Sonia mengacungkan bikininya.
Aku mengangguk, mumpung, kolam renang dikelilingi dengan bangunan bergaya eropa. Seru. Medsosable.
Kesampingkan masalahmu sejenak, Mol! Ayo kita menyenangkan diri. Kami berencana berenang setelah makan.
Sudah, aku menggunakan bikini one piece biru gelap dengan luaran hoodie oversize hingga paha dan hot pant, Tak lupa kacamata hitam.
Mbak Sonia membawa sepiring penuh makanan, ia duduk disampingku. Ia mengenakan bikini yang ia tutupi dengan kimono bunga dengan rumbai panjang.
"Makan dulu Mol sebelum nyebur kita" katanya sambil mengunyah sosis bakarnya.
"Hmm"
Ponselku berdering. Pak Arka.
"Ya pak?"
"Mol bisa tolong kesini, kekamar 1157, ajak sekalian Sonia, Banu dan Suci"
"Okey pak"
*****
Aku berada di kamar Pak Arka dengan Suci, mengurusi data yang akan dipresentasikan, Sedangkan Banu, Pak Arka dan Mbak Sonia melihat tempat kami presentasi besok.
Selesai!
"Mbak Mol aku balik kekamar, istirahat bentar ya, ngantuk banget ini mata minta merem" Pamitnya,
"Sip" Suci sudah meninggalkanku disini. Menunggu Mbak Sonia, Banu juga Pak Arka kembali dan memeriksa kerja kami.
Bosan. aku berkeliling kamar untuk para atasan yang luas ini. Pemandangan yang indah dari jendela disugguhkan. Hijau. Memanjakan mata. Presiden suit kah ini?? Ada jacuzzi di balkonnya. Woah fasilitas Pak Arka enak juga Pikirku.
Aku ke meja pantri. Melihat sesuatu yang teronggok disana. Jam Tangan Aku mengenal jam tangan model jadul itu. Seperti yang aku perbaiki kapan itu.
Salah satu hobiku adalah mengutak-atik jam tangan khususnya yang antik dan analog. Aku sangat tertarik dengan Chronograp karena dulu Opa Hamid, ayah ibuku, suka sekali menyendiri sibuk dengan berbagai jam-jam diruang kerjanya.
Suara tik-tok, dan mesin jam membuatku senang dan nyaman. Aku sangat takjub melihat mesin yang bekerja pada jam. Rumit tapi aku suka. Ya itu sedikit tentang kegemaranku.
Kukeluarkan peralatanku. Kugunakan kacamata khususku. Fokus memperbaiki gear jam ini.
"Apa yang kau lakukan?" Suara berat dibelakangku. Terdengar heran.
Aku terjengit.
"Pak.. Pak Galuh? Kenapa disini?" Tanyaku aku melihat jendela ternyata telah gelap. Beginilah aku kalau sudah mengulik mesin jam, sudah pasti lupa waktu.
"Saya yang harusnya tanya padamu! Kenapa kau disini?"
"Kerja" kataku. "Ini kamar Pak Arka, tadi kami membuat presentasi buat besok, saya sedang menunggu team saya kembali Pak" jelasku dengan kembali memasang kacamata khususku.
Galuh hanya mengangguk dan fokusnya kembali pada meja pantri, matanya melebar.
"APA YANG KAU LAKUKAN HAH!" Teriaknya kencang. Ia menggeser tubuhku kasar dan melihat jam tangan yang belum sempat aku kembalikan seperti semula walau aku sudah memperbaikinya.
"Saya..."
"KAU MERUSAKNYA!" Matanya menatapku nyalang. Tak pernah aku melihatnya semarah ini.
"Saya memperbaikinya" lirihku ketakutan.
"LANCANG KAMU!" Aku bergidik, aku baru sadar, benar aku salah.
"Maaf pak!" Aku menunduk.
"Hani, bisa kau kekamarku," ia menutup ponselnya, aku mendongak Galuh menatapku dingin. Dan ini mengerikan.
"Kau!..." Tangan Galuh terangkat. Aku beringsut mepet meja pantri. Galuh semakin mendekat. Nafasnya memburu. Marah. Matanya yang memaku mataku.
Ting Tong!
Pandangan kami terputus teralih pada pintu kamar. Galuh menjauhkan tubuhnya, Aku menghembuskan nafas lega.
"Saved by the bell" gumanku.
"Kita. Belum. Se.Le.Sai." tanganya mencengkram daguku kasar. Lalu melepaskannya juga kasar.
Dengan susah payah aku menelan salivahku.
Hani masuk dengan gaun pendek yang ketat mencetak tubuhnya, juga hells tinggi. Ck! Ia sudah memulai aksinya.
"Bapak memanggil saya" suara genitnya membuat biku kudukku berdiri.
Ia belum menyadari ada aku disini.
"Bawa saya ketempat kau membetulkan jam saya waktu itu" mereka berjalan kearahku.
Mukanya pucat pasi, kontras dengan pewarnah bibirnya. Yang mengoda itu.
Menjijikan.
"Katamu kamu memperbaikinya di Bandung?" Tanya Galuh.
"Mumpung kita disini, Jam saya rusak lagi" lanjutnya.
Mata kami bertemu. Aku melihat kekagetan Hani. Kemudian ia bisa mengendalikannya kekagetannya.
"Orang... Orangnya sedang berlibur Pak"
Aneh bukannya mereka jadian, kok manggilnya Pak. Pak Galuh hanya mengangguk-angguk. Sedangkan Hani terlihat lega.
"Mbak Molly?" Aha! Ini waktuku melarikan diri dari pasangan ini. Aku menaikkan ponco hoodieku.
"Saya permisi Pak" aku melewati Galuh dengan cepat. Tapi ada yang mencekal tanganku.
"Kita belum selesai?"
"Kau boleh kembali Hani" Usir Galuh.
"Lho Pak apa yang akan kalian lakukan?"Hani yang mulai tak terima.
"Bukan urusanmu" jawaban Galuh dingin.
"Tapi Pak, Nanti bapak digosipkan dengan mbak Molli bagaimana? Kan bapak pacar saya" Hani masih bertahan, ia mendekatkan dirinya pada tubuh Galuh, memegang lengan Galuh, tersenyum sensual.
Dan sepertinya Galuh menikmatinya.
CK! Kucing garong! Dikasih ikan ya maulah Batinku Aku menghempaskan cengkraman Galuh.
"Maaf Pak saya permisi" Malas. Sakit. Jijik. Aku berada dipintu, ada tangan melewatiku, membukanya semakin lebar. Aku menatap Galuh dibelakangku, juga menatapku.
Mengusirku Huh! aku mendengus, tanpa diusir pun, sedari tadi juga aku dengan senang hati pergi. Aku mengeratkan rahangku, marah, Mataku berkaca.
Kulirik Hani yang berdiri ponggah dengan tangannya bersendekap dada. Bibirnya tersenyum mengejekku.
"Keluar!" Perintah Galuh.
Mengalihkanku padanya. Aku hanya bisa memandangnya kecewa. Iya aku masih mengharapkannya. Sakit. Aku berbalik bersiap keluar.
"HANI KELUAR!" Teriak Galuh. Dengan cepat aku memandangnya lagi. Yang juga masih memandungku.
"CEPAT!" Kulihat Hani yang ketakutan berjalan cepat keluar pintu. Kemudian Galuh menarikku masuk dan menutup kencang pintu kamarnya.
Galuh meraup bibirku, melumatnya lapar. Sekian detik aku hanya diam, bingung, Dan mulai terbawa oleh ciuman ganas Galuh.
Aku membalasnya dengan sama ganasnya. Galuh melolosi hoodieku. Ia terpanah melihat bikini atasku. Aku meraih cepat hoodieku, menutupi diriku.
"Apa ini?" Tanyanya menarik tali yang tersulur, memperlihatkan dada hingga pusarku
"Tadi saya... saya ingin berenang dengan mbak Sonia sebelum pak Arka memanggil kemari Pak" aku menunduk malu.
"Kau manggenakan ini?" Aku menggangguk.
"TIDAK BOLEH!" Bentaknya. Aku mundur, dari tadi teriak mulu.
"Kenapa pak? Kan saya menggunakannya pada tempatnya, kolam renang" ia menarik hoodieku lalu melolosi hot pantsku dan membuangnya ntah kemana.
"PAK!" Teriakku.
Galuh mendekat, ia menarikku kedalam pelukkannya. Mengecupi kepalaku.
"Jangan biarkan lelaki lain malihatnya. Aku yang boleh! Hanya aku!" Posesifnya.
"Kenapa? Kan bapak bukan siapa siapa saya? Lagian bapak kan punya pacar. Sudah dikenalin pula ke keluarga." Wangi tubuhnya membuatku betah dalam peluknya.
"Saya nggak mau jadi pelakor" aku menjauhkan diriku.
Memunggut Hoodieku dan mencari dimana hot pantsku berada.
GREB!
Ia memelukku dari belakang, hangat. "Saya enggak punya pacar" aku berontak!
"Bapak jangan bohong itu Hani apa? tempelan kulkas? Kesana kesini bareng!"
"Lepas pak!"
"Dia asisten Romi" Galuh mengeratkan pelukkannya.
"Kamu aja terlalu cemburu, saya selalu membawa Romi di setiap berpergian"
"Terus yang acara keluarga, Oma Santi suka dengan Hani, juga bekalnya bapak makan berdua dengan Hani" Mataku berkaca mengingat kejadian menyedihkan itu.
"Juga bapak mengangguk waktu aku tanya bapak pacaran dengan Hani" aku sudah mengganti kata Saya dengan Aku, isakkan yang tak bisaku tahan lagi. Sesak didada.
"Maaf Saya sengaja. Saya suka liat kamu cemburu" berbalik, aku pukul pelan Galuh.
"Sama, Saya mencari siapa yang memperbaiki jam antik saya, makanya saya mendekati Hani karena dia mengaku dia yang memperbaikinya."
"Enak aja dia, orang aku yang benerin" kesalku.
"Iya Myh, Molly Hamid" Ia membenamkan kepalanya dicuruk leherku. Mengecupinya.
"Bapak tahu?" Aku mendorong dadanya yang tentu saja sia-sia.
"Bapak?" Ia mendongak, wajahnya sejajar dengan wajahku. Kerutan dalam tercetak didahinya
"Iya Bap.." ia mencuri kecupan dibibirku.
"Panggil yang bener!" Astaga merajuk ini beruang. Aku tahan senyumanku.
"Bap..." jahilku lagi ia mengecupku.
"Sekali lagi kamu jahil, manggil Bapak, ke abang, abang bukan cuma akan mengecupmu tapi memakanmu habis" Ancamnya seraya mengelitik pinggangku.
"IYA... IYA B... ang" ia melotot dan melumatku hingga kurasa habis oksigen disekitarku.
Ia menggendongku. Aku menggalungkan tangan pada lehernya. "Buka pintunya" aku mengulurkan tangan membuka pintu balkon.
Ia masuk dalam jacuzzi sambil masih menggendongku. Kami berpandangan, wajahnya mendekat, kurasakan hangat bibirnya menyapu bibirku.
Aku meraih kepalannya. Memperdalam ciuman kami. Manis, hangat dan Romantis. Ia menjauhkan wajahnya.
"Jadi kita pacaran Bang?" Ia mengelus bibirku yang membengkak.
"Kamu maunya pacaran?"
Aku menggeleng.
"Maunya ISTRImewah"
"Jadi Nyonya Galuh Setiadi" Bisikkan gombal menggoda dikupingnya.
"Boleh, yaudah besok abang bawa keluarga abang kerumahmu" aku terkekeh.
"Abang becandanya suka lucu, besok kita baru selesai rakernya"
"Pulang dari sini kita langsung kerumahmu"
Aku Bengong.
Serius?!
Katanya marahnya orang kaku plus dingin itu menakutkan, ah... kalian harus tahu seriusnya mereka lebih mematikan!!
Ssstt... sssttt... Apalagi di ranjang!!!...^^v
*****
ini panjang yes, makasih sudah baca, tolong kritik dan sarannya ya guys karna diriku ini emak emak yang suka novel, mencoba buat nulis hehe
makasih^^
lazyafyernoon