Terus terang saya bukanlah seorang muslim. Tapi saya tinggal di lingkungan yang hampir semuanya pemeluk agama Islam, bahkan di komplek kami, hanya keluarga ku yang bukan muslim.
Beruntungnya saya berada di lingkungan yang bertoleransi tinggi.
Saling menghormati antara pemeluk agama yang berbeda.
Bahkan posisi rumah ku tidak lah jauh dari mesjid, jadi saya sudah terbiasa mendengar Salat lima waktu (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya), bahkan setiap mendengar Salat hati saya merasa tenang, walaupun saya tidak mengerti.
Kalau bulan Ramadhan datang, saya juga ikut senang. Saya adalah seorang penjual makanan online.
Saya ikut merasakan berkat yang luar biasa di bulan Ramadhan.
Dagangan saya juga ikut ramai, kebetulan saya berdagang es yang cukup disukai sebagai menu untuk berbuka puasa.
Di bulan Ramadhan saya bisa menyaksikan orang-orang yang berbuat baik, mereka memesan di tempat saya untuk dikirimkan ke panti asuhan, terkadang ada yang membeli lebih, untuk diberikan kepada driver online nya.
Benar-benar bulan yang luar biasa, bulan yang penuh berkat.
Saya benar-benar mengagumi mereka yang menjalankan ibadah puasanya. Kadang saya berpikir, andai saya seorang muslim, akan sanggup kah saya menjalankan ibadah puasa?
Yang bisa saya lakukan hanya mengingatkan kepada anak-anak agar tidak makan dan minum di tempat umum, untuk menghormati mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Ketika malam takbiran tiba, saya merasa seperti ikut merayakannya juga. Bagaimana tidak? Setiap malam takbiran tiba, saya selalu mendapat kiriman lontong opor dari salah satu kakak saya yang menikah dengan TNI, dan sudah beragama Islam. Bahkan kadang juga mendapat lontong opor dari tetangga.
Itulah kisah yang saya alami di bulan Ramadhan, walaupun saya bukan seorang muslim, saya juga punya cerita di bulan Ramadhan, bisa merasakan perbedaan dengan bulan-bulan lainnya. Benar-benar bulan penuh berkat.
Saya kisah kan di cerpen kali ini, sekalian ingin mengucapkan kepada pembaca, "Selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankan nya🙏🙏"