Peringatan : Mengandung unsur2 sangat tak masuk akal, anggap saja masuk akal. Fantasi/Remaja
❤❤❤
Aku merasakan getaran yang membuatku lupa akan sesuatu. Tiba-tiba saja aku berdiri di tengah jalan yang super sibuk dihari kerja yang membuatku terkejut bukan main. Aku segera menghindar karena bisa saja aku tertabrak. Gerakan spontanku membuatku jatuh tersungkur di tepi trotoar. Aku berdecih karena terjatuh seperti anak kecil. Keributan yang sangat tidak biasa terjadi di sana. Sesosok tubuh tinggi dengan jubah hitam menatapku dengan sebuah senyuman yang membuatku tak nyaman.
"Kau bisa ikut aku sekarang." Suaranya yang menggelegar mengejutkanku. Aku mendongak tak mengerti.
"Siapa kau?" tanyaku mulai berdiri memperhatikan lenganku yang tak luka maupun sakit sama sekali.
"Aku, malaikat mautmu."
"Wah, haha." Lelaki itu benar-benar lucu, juga menakutkan. "Kenapa kau mau membunuhku? Kau tidak lihat? Di sini mereka bisa menangkapmu kalau kau membunuhku." ancamku, ucapanku malah membuatnya tergelak.
"Kau sudah mati. Buat apa aku membunuhmu. Cepatlah. Aku masih ada tugas lain," ucapnya tak sabar. Mencoba menggapai tanganku.
"Apa? Jangan sembarangan!" Aku harus lari dari manusia menakutkan itu, bagaimana dia bisa bicara seenaknya. Aku berlari menuju kerumunan, aku harus benar-benar di dekat orang banyak supaya aku selamat. Namun pemandangan berikutnya justru membuatku tambah ketakutan.
"Itu... . Kenapa, kenapa aku disitu?" Aku melihat tubuhku berlumuran darah didekapan seorang pria, itu ayahku!
"Kan sudah kubilang kau sudah mati," jawab lelaki hitam tadi santai. Aku terpaku di tempatku, pikiranku kosong melihat ayah menangis begitu sedih. Aku tak pernah melihat ayah menangis, apalagi sampai membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Ayah... . Ambulan yang baru saja datang segera membawa tubuhku.
"Hei, mau kemana kau!" Lelaki itu menghadangku dan menarik tanganku paksa.
"Aku mau ikut kesana!" Lelaki itu sungguh mengganggu. Aku harus melihat ayah dan memberitahunya aku masih disini.
"Tidak, kau membuatku kena teguran kalau aku tidak membawamu sekarang juga. Ayolah!" Lelaki itu sungguh kuat, rontaanku tak berarti sama sekali. Dia menarik tanganku dan berjalan menuju sebuah sinar. Aku menangis sekeras-kerasnya. 20 tahun hidupku, inilah saat yang membuatku sangat ingin menangis. Lelaki yang menamakan dirinya malaikat maut itu berhenti.
"Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan ekspresi tak peduli. Aku menjatuhkan diriku dan menangis sejadinya. Baguslah aku sudah mati, jadi tak ada yang melihatku kan? Kalau aku masih hidup, orang-orang akan menertawakanku. "Hah, laki-laki cengeng." Tapi aku masih mendengar cemoohan itu, dasar malaikat tak punya perasaan. Bagaimana dia menghina jiwa manusia mati sepertiku. Huhu
"Aku tak mau ke surga sekarang," kataku akhirnya dan mendekap kakiku. Di tengah lalu lalang kesibukan kota, aku melakukannya dengan keadaan yang memprihatinkan. Malaikat itu berdecak.
"Siapa juga yang akan membawamu ke surga," katanya dengan cengiran yang membuatku ingin membunuhnya.
"Maksudmu?"
"Apa yang kau lakukan sampai kau yakin aku akan membawamu ke surga?" tanyanya membuatku memberengut terdiam.
"Jadi, kau akan membawaku ke neraka?" tanyaku, dia menjawabnya dengan mengedikkan bahu tak tahu. "Dan lagi, kau sangat mencurigakan. Malaikat maut biasanya membawa sabit. Mana sabitmu?" tanyaku.
"Memangnya kapan kau pernah melihat malaikat maut?”
"Di TV," jawabku membuatnya tertawa.
"Aku bisa mengeluarkan apapun, sabit atau apapun itu," katanya membanggakan diri. Aku sama sekali tak tertarik.
"Kau bisa kembalikan aku ke tubuhku kan?" tanyaku berharap.
"Buat apa?"
Aku menunduk sedih.
❤❤❤
Seminggu sebelumnya.
"Ren, dimana uang tabungan ayah?" Aku yang baru saja terbangun menggosok mataku malas. Mendengar suara ayah membuatku jengah, apalagi pagi-pagi seperti ini.
"Aku tak tahu," jawabku acuh dan melanjutkan tidurku.
"Rendi, bangun! Uang itu buat uang sekolah gedung Ken, minggu depan dia mulai sekolah. Dimana kamu bawa uang itu?" Ayah menyeret selimutku hingga terjatuh. Aku sungguh kesal. Hanya Ken yang dipikirkan ayah.
"Aku pakai buat beli HP," jawabku kesal.
"HP? Itu tabungan ayah satu tahun, dan kamu belikan HP? Itu buat uang sekolah kamu dan Ken!" Ayah berteriak seperti kesetanan. Aku juga punya alasan melakukan itu. HP-ku yang lama sangat tidak mendukung kuliah online. Dan aku membutuhkan HP dengan kamera yang bagus juga bagus untuk game onlineku. Tapi aku memilih terdiam dengan perasaan kesal. Apa susahnya mencari uang lagi. Sepertinya ayah sangat kesal, dan meninggalkan aku begitu saja.
Aku buka HP-ku dengan banyak telepon dan pesan belum terbaca dari Arin. Ada apa gadis ini pagi-pagi ikut membuat pusing. Kalau tidak karena perjuangan panjangku mendapatkan perhatiannya, sungguh malas aku meladeninya. Tapi entah bagaimana, dia selalu bisa mendapatkan perhatianku. Aku yang tanpa sadar selalu memperhatikannya juga tak pernah menyesal.
Jemput aku beb, di Hotel Axella.
Sekarang beb
Beb??
Kamu masih tidur? Udah jam 7.
Aku segera mengusap wajahku dan berlari menstarter motorku. Ayah yang sedang di dapur bersama Ken segera menyusulku begitu aku keluar.
"Kamu mau kemana?" tanyanya masih ketus.
"Jemput Arin sebentar," jawabku segera mengeluarkan motor.
"Ayah mau berangkat kerja. Kamu jemput dimana?" Pertanyaan ayah tak kuindahkan, segera kulaju motorku dengan kecepatan penuh. Sebenarnya ini motor ayah. Tapi karena ayah tak membelikan aku motor, akhirnya aku harus memakai motor butut ini juga. Untung Arin tak mempermasalahkan itu.
❤❤❤
Sejak kejadian kemarahan ayah waktu itu, ayah jadi pulang sampai larut malam. Aku dan Ken jadi sering telat makan malam. Seandainya ibu masih ada, dia tidak akan membiarkan kami kelaparan. Dan karena aku masih menyimpan beberapa helai uang merah sisa membeli HP, aku putuskan membeli beberapa makanan untuk kami berdua. Ken yang tengah asyik menonton TV sepertinya tak kelaparan. Tapi aku sangat lapar.
"Ken, kau lapar?" tanyaku.
"Lapar Kak, tapi tunggu Ayah," jawabnya tak menghiraukanku. Dia selalu mengacuhkan aku, baiklah kalau itu maunya. Aku pesan saja makanan untuk diriku sendiri.
Beberapa jam kemudian, jam 11 malam suara motor ayah terdengar. Ken tertidur di depan TV. Aku melongok dari pintu kamarku. Dengan raut kelelahan, ayah menenteng sebuah plastik yang aku yakini makanan kami.
"Ken, bangun. Ayo makan dulu." Ayah mengguncang tubuh Ken pelan. Ken menggeliat pelan dan tiba-tiba memeluk ayah.
"Ayah, kenapa baru datang? Aku sms juga tidak dibalas. Aku takut ada apa-apa dengan Ayah di jalan," ucap Ken memeluk Ayah erat. Ayah hanya tersenyum dan melepas pelukan Ken dan memperlihatkannya bungkusan plastik di tangannya.
"Ayah beli ini dulu, makanya Ayah telat pulang," ucap ayah menjelaskan. Kalau aku jadi Ken, tak akan termakan kebohongan itu lagi, palingan ayah membeli martabak atau kerak telor. Mana ada beli martabak sampai telat pulang 6 jam. Aku memilih kembali ke kasurku.
"Rendi, ayo makan dulu." Ayah melongokkan kepala ke dalam kamarku. Aku hanya mengiyakan. Tak apa makan lagi, toh makanku yang tadi sudah lumat jadi tai.
Kami membuka bungkusan itu, dari 3 bungkusan, hanya dibuka 2 bungkus.
"Ayah sudah makan di sana tadi. Ini buat sarapan besok pagi. Kalian makan saja, setelah itu tidur. Ken, besok tidur dulu kalau Ayah belum pulang ya? Nanti Ayah bangunkan kalau sudah pulang." Ken mengangguk dan menawarkan makanannya lagi.
"Ayah ayo makan sama aku lagi, dikit aja. Aku tidak habis nanti," ucap Ken membujuk ayah mengurangi makanannya. Akhirnya ayah mengalah dan memakan beberapa sendok dari piring Ken.
"Biasanya makan banyak, ngapain sok-sok an tidak habis," gerutuku.
❤❤❤
Pagi ini.
Aku teringat mengambil uang ayah lagi, aku tak menyangka ayah mendapatkan uang begitu cepat. Aku tak yakin uang Ken sudah dibayarkan atau belum, tapi sepertinya aku bisa mengambil sedikit lagi. Aku janji membelikan Arin kalung. Dengan uang ayah, aku tak yakin bisa membeli yang Arin mau, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Ayah sudah berangkat kerja, jadi aku mengambil di tempat biasa ayah menyimpan uangnya. Padahal sudah sering aku ambil, tapi ayah tak pernah memindah tempat simpanannya. Ken masih tertidur, nikmatilah masa liburmu nak, 2 hari lagi kau akan merasakan sibuknya jadi anak sekolah. Aku tertawa dalam batinku.
Dengan ojek mobil online, aku menjemput Arin di rumahnya. Kami akan menonton bioskop kemudian membeli hadiah yang Arin mau. Aku sudah tak sabar melihatnya tertawa bahagia.
Ternyata harapan tak selalu sejalan dengan realita. Kami memasuki mall besar di kota kami. Aku melihat ayah disana. Sibuk dengan alat pembersihnya. Aku tahu ayahku seorang pembersih. Tapi Arin tak tahu, dan aku tak mau dia tahu. Biasanya aku tak pernah bertemu ayah, mall sebesar ini kenapa ayah harus membersihkan di bagian depan. Aku hanya berharap ayah tak melihatku.
"Kita lewat sana Arin," ajakku.
"Kenapa? Sana jauh tau," jawab Arin keberatan dan menarik tanganku kembali melewati pintu utama. Aku hanya pasrah dan berharap ayah tak mengenaliku, aku tak mau jadi malin kundang kalau sampai aku tak mengakui ayahku. Jadi aku hanya berharap kita tak bertemu.
"Arin!" Sesosok lelaki tinggi memanggil Arin, membuat gadis itu salah tingkah dan melepas genggaman tanganku.
"Oh, Daniel. Kau di sini," ucap Arin menutupi keterkejutannya. Aku yang kesal karena harus berlama-lama di sana segera menyeret Arin secepatnya. Tapi dia tak bergeming.
"Jalan-jalan? Siapa dia?" tanya lelaki itu.
"Dia temanku, aku mau beli beberapa barang. Jadi aku suruh dia antar aku," jawab Arin. Arin hanya tersenyum ketika aku menatapnya tak percaya dengan sebutan 'teman'nya itu.
"Arin, aku pacarmu. Sejak kapan aku jadi temanmu?" tanyaku gusar. Lelaki itu memandangku dan Arin bergantian. Kemudian tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang," ucap lelaki itu akhirnya. Aku menarik Arin pergi tapi tak disangka gadis itu justru menepis tanganku dan berlari menyusul lelaki itu. Aq mendengar dia mengucapkan akan menjelaskan. Apa yang harus dijelaskan? Sepertinya aku yang butuh penjelasan sekarang. Dengan kesal aku memutuskan untuk pulang saja. Dengan langkah cepat aku berusaha menjelaskan beberapa keganjalan sikap Arin padaku. Tapi tak kutemukan. Mungkin aku tak menyadarinya. Sudah kuberikan apapun yang kubisa berikan untuknya, tapi kenapa? Otakku bekerja sangat cepat dan dadaku bergolak tak menerima kenyataan pahit bahwa Arin pergi meninggalkanku demi lelaki lain. Dan...
Tiiiiiiiinnn Bruagh ...
Aku merasakan tubuhku melayang di udara. Berbeda dari biasanya, seakan aku bisa merasakan itu dalam gerakan lambat, merasakan kepalaku terantuk sesuatu yang padat, aku melihat juga mobil lain kembali menabrak tubuhku dan aku masih merasakan tubuhku bergulir seperti bola dengan ringannya. Aku tak merasakan apapun, sebelum semuanya menjadi gelap.
❤❤❤
"Jadi kau ingin kembali ke tubuhmu buat mengembalikan uang ayahmu?" malaikat itu berdecak dan menatapku prihatin. "Tapi aku tak bisa mengabulkannya," ucapnya akhirnya.
"Kenapa tidak?"
"Tentu saja tidak, kau sudah mati. Tidak bisa hidup lagi."
"Beberapa orang bisa. Mereka menyebutnya mati suri."
"Itu karena mereka belum ditakdirkan untuk mati."
"Tapi aku mau kembali, aku mohon,"
"Tidak, ayo cepat kita pulang."
"Kau sudah dengar ceritaku."
"Aku tak memintamu buat cerita. Cepatlah, kita sudah ditunggu." Malaikat itu kembali menarik tanganku sama sekali tak peduli. Aku menghela napas.
"Aku mohon," pintaku buat yang terakhir kali. Malaikat itu terlihat menyerah dan memandangku lama.
"Baiklah, aku berikan waktu 12 jam. Tapi bukan kembali ke tubuhmu. Aku memberimu waktu untuk menyelesaikan masalahmu di dunia." Aku bersorak kegirangan. Tapi kata-katanya selanjutnya membuatku kembali bersedih. "Tapi kau tak bisa menyentuh atau berbicara pada manusia," ucapnya.
"Lalu, bagaimana aku menunjukkan dimana uang Ayahku?" Malaikat itu hanya mengedikkan bahunya dan berlalu pergi.
"Aku akan menjemputmu nanti malam jam 12."
"Hei, tunggu!" Dia menghilang begitu saja.
❤❤❤
“Ayah... .” Seperti anak kecil yang kehilangan ayahnya, aku mengelilingi rumah sakit dengan menangis. Walau tak ada air mata yang keluar. Karena kelelahan -tidak, aku sama sekali tak merasa lelah- aku akhirnya memutuskan menunggu ayah di ruang administrasi. Ternyata otakku masih berguna juga. Pasti ayah akan mengurus administrasi tentu saja. Benar saja, satu jam kemudian ayah terlihat sibuk mengurus ini itu, beberapa orang tampak menemaninya.
“Aku harus kembali ke tempat kerjaku,” ucap ayah tanpa tenaga.
“Maafkan saya, saya benar-benar menyesal. Saya tak tahu anak Bapak tiba-tiba menyeberang begitu saja, sekali lagi saya mohon maaf. Dan sungguh terima kasih Bapak mau berdamai dengan kami,” seorang pria paruh baya menggenggam tangan ayah. Sepertinya dia yang menabrakku. Ayah terlihat berkaca-kaca dan meninggalkan mereka disana.
“Semua tagihan biar saya yang bayar,” ucap pria itu kepada kasir setelah ayah pergi. Aku segera mengikuti ayah. Kenapa ayah meninggalkan tubuhku di rumah sakit?
❤❤❤
Ayah, ini bukan saatnya untuk bekerja. Aku melihat ayah masih sibuk dengan alat pembersihnya setelah beberapa jam lalu, orang yang sepertinya atasan ayah memarahinya karena meninggalkan tempat tanpa memberi tahu. Aku sungguh ingin menempeleng laki-laki itu. Apa dia tak tahu anak dari staffnya kecelakaan. Dasar.
“Pak Budi, pulang saja. Hari ini tidak ada yang perlu dikerjakan lagi.” Seorang wanita meminta ayah berhenti. Karena kerja disana menggunakan sistem shift, tapi biasanya ayah shift pagi terus, entah aturan darimana.
“Wah Bu Yulia, apa tidak bisa saya 2 shift lagi hari ini? Bulan besok saya harus bayar hutang,” pinta ayah.
“Masalahnya sudah tidak ada yang dikerjakan Pak. Yang shift selanjutnya sudah tidak perlu bantuan lagi. Bapak di rumah saja, istirahat. Seminggu kemarin sudah full lembur. Jangan dipaksa, nanti sakit Bapak sendiri yang susah,” jelas wanita itu menepuk pundak ayah. Ayah terlihat kecewa. Entah kenapa hatiku jadi terasa teriris. Aku tak pernah tahu seberapa berat pekerjaan ayah. Bagiku ayah selalu saja ada uang ketika aku minta. Dan selalu saja menemukan uang segera ketika kami benar-benar membutuhkannya. Aku tak pernah tahu darimana ayah mendapat uang itu. Aku baru tahu. Aku memandang wajah penuh lelah ayah. Ternyata alasan ayah pulang larut karena lembur. Aku bahkan tak pernah bertanya. Aku berlari mendekap ayah. Ingin sekali aku memeluknya. Sekali saja.
Tembus. Aku seperti udara, bahkan aku tak bisa merasakan tubuh ayahku. Ayah... .
“Bagaimana keadaan anak Bapak?” tanya wanita itu.
“Lukanya sangat parah. Dokter bilang hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya. Dia masih koma,” ucap Ayah menutup matanya, menahan air mata. Aku bisa melihat kerutan yang tak pernah kusadari di wajah ayah.
Ayah, ini anakmu. Tolong dengarkan aku. Aku mohon. Aku bersuara kepada angin. Tak ada yang mendengar teriakanku.
❤❤❤
Pukul 10 malam, dan aku hanya mengikuti ayah tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Ken menangis sepanjang perjalanan ke rumah sakit.
“Kak Rendi bakal sembuh kan Yah?” tanyanya terus menerus. Ayah hanya mengelus kepala Ken tanpa mengucap sepatah katapun. “Ken janji bakal bantuin Kak Rendi beresin kamar terus kalau Kak Rendi sembuh,” ucapnya kembali menangis. Aku tersenyum kecut, ternyata itu ulah Ken. Setiap hari aku menemukan kamarku dalam keadaan bersih, dan aku tak pernah mempedulikannya selama ini. Seolah angin lalu. Ternyata Ken yang aku kira selalu mengacuhkanku, dia bisa melakukan itu bahkan tanpa aku memintanya. Aku ingin mengelus kepala Ken juga. Aku tahu aku tak bisa menyentuhnya, paling tidak aku melakukannya. Walau kami tak bisa merasakan apa-apa.
Aku keluar dari ruangan tempat tubuhku dirawat. Aku sangat sedih. Malaikat itu sungguh keterlaluan, untuk apa dia memberiku waktu 12 jam kalau aku tak bisa melakukan apapun. Dengan sedih aku sedikit bersyukur, aku bisa melihat ketulusan keluargaku yang tidak pernah aku pedulikan. Dan melihat bagaimana aku menjadi anak dan kakak yang sangat buruk.
“Hei, kau baru saja mati?” Aku kaget bukan kepalang ketika seorang gadis menatap tajam kearahku dan berbicara padaku!
“Kau, bisa melihatku?” tanyaku.
“Hm ya. Kau tak seburuk hantu lainnya. Jadi aku pikir kau baru saja mati,” jelasnya. Tiba-tiba aku menemukan ide.
“Bisakah aku meminta tolong?”
“Tidak, aku tahu apa yang ingin kamu katakan.”
“Kenapa kau tidak mau menolong?”
“Karena sekali aku membantumu, kau akan terus meminta bantuanku. Itu membuatku kesal.”
“Malaikat maut janji akan menjemputku jam 12. Aku tak punya waktu lagi untuk mengganggumu lain kali,” kataku membujuknya. Hanya dia kesempatan terakhirku.
“Jam 12?”
“Iya.”
“Ini sudah 11:45.”
“Untuk itu, aku mohon.” Aku menangkupkan tanganku memohon padanya.
“Baiklah.” Ucapan dia benar-benar membuatku kegirangan, melebihi menang lotre. Aku tahu aku tak akan pernah menang lotre sekarang. Aku segera mengajaknya masuk ke ruangan tubuhku dan keluargaku berada.
Gadis itu bernama Aulia. Dia menjelaskan bahwa dia akan mengatakan apa yang ingin aku katakan.
“Rendi minta maaf karena mengambil uang bapak. Uang itu dia masukkan ke dalam atmnya.” Aulia sungguh sangat membantu, dia mengatakan semua yang kukatakan tanpa terkecuali. Aku memang mengirim uang itu ke rekeningku sebelum aku menjemput Arin. Supaya terlihat bahwa aku memiliki tabungan untuk digesek. Yang aku sesali kebodohanku dengan bergaya bak orang kaya, namun menyusahkan orang-orang yang seharusnya lebih aku sayangi. Aku berikan kode pinku juga pada mereka. Aku teringat bahwa Ken harus menghapus semua akun media sosialku dan memberikan mereka passwordku. Aku menutup muka begitu Aulia menyebut password yang sangat alay itu.
“Terakhir. Rendi bilang dia sangat menyesal dan ingin meminta maaf pada Bapak juga Ken. Dia bilang sangat menyayangi kalian.” Aku melihat ayah tak kuasa menahan tangisnya, Ken yang sedari tadi sudah menangis kini makin menjadi.
“Rendi, anak Ayah. Kami memaafkanmu nak. Kami sudah ikhlas sekarang. Kamu yang tenang di sana. Ayah dan Ken akan bahagia di sini, kamu tak perlu khawatir,” ucap ayah terbata-bata berusaha tersenyum. Aku sungguh tak ingin meninggalkan mereka sekarang. Aku ingin berbakti jika diberi kesempatan.
“Hei, nak. Sudah habis waktumu.” Tiba-tiba sosok malaikat maut muncul dibelakangku, mengejutkanku. Aku berterima kasih pada Aulia. Dan berpamitan pada ayah dan Ken.
“Dimana malaikat itu?” tanya Aulia padaku. Aku menatap malaikat maut yang berada persis di depan Aulia.
“Katakan padanya, dia akan melihatku juga jika waktunya datang,” ucap malaikat itu membawaku pergi.
Selamat tinggal ayah, Ken.
THE END.