"Duh panasnya hari ini", Arinda sibuk mengipasi dirinya dengan buku sekolah. Bulan puasa, panasnya ga ada lawan, sudah pasti luar biasa haus. Arinda melihat air yang mengalir ketika teman-temannya mencuci tangan membuat dirinya ingin minum air itu.
"Hei Arin", sahabatnya yang bernama Diana menepuk pundaknya.
"Eits, Alhamdulillah kau mengagetkan aku, hampir saja aku batal puasanya", dengan santainya ia kembali menepuk bahu sahabatnya itu.
"Mikirin apa hayo, aku curiga", Diana kembali menggoda sahabatnya itu sambil menaikturunkan alisnya.
"Pikiranmu itu ya, ga jauh-jauh dari pemikiran yang mengerikan", memandang sahabatnya yang asik senyam-senyum sendiri.
"Pulang sekolah temani aku ke toko buku ya, Arin",
"Toko buku yang ada dimana?", tanya Arin, (please jangan toko buku yang terletak dibelakang pasar) Arin sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Yang di belakang pasar lah, di sana kan harganya lebih murah", jawab Diana.
"Tempat yang lain aja ya", bujuk Arin.
"Memangnya kenapa", Diana menatap Arin dengan serius, ia hanya heran mengapa sahabatnya yang satu ini sepertinya keberatan kalau harus beli buku di tempat itu.
"Tidak apa-apa, hanya kurang nyaman aja", memalingkan mukanya berpura-pura melihat ke dalam tasnya seolah-olah sedang mencari sesuatu.
"Ya udah", Diana menghentikan pembicaraan dikarenakan Bu guru telah memasuki ruangan kelas.
Sepulang sekolah mereka pergi membeli buku. Di perjalanan Arinda sibuk menulis sesuatu di hp nya. Akhirnya mereka tiba di pasar, saat itu pasar tidak begitu ramai, mungkin karena hari sudah siang.
Setelah selesai membeli buku, mereka pulang melewati parkiran kendaraan, karena tempat itu sangatlah teduh disebabkan banyaknya pohon. Dua orang laki-laki muncul secara mendadak dihadapan mereka, baik Arinda dan Diana kaget, tanpa sempat berlari mulut mereka dibekap dengan saputangan yang telah diberi obat bius.
Ketika mereka terbangun, mereka berada disebuah ruangan yang dipenuhi dengan gadis-gadis seusia yang masih berseragam sekolah. Melihat dari seragamnya mereka berasal dari sekolah yang berbeda. Teman seusianya itu masih dalam kondisi yang tidak sadarkan diri, sepertinya obat bius yang diberikan dosisnya lebih banyak dibandingkan dengan yang diberikan kepada mereka berdua.
"Pssst, Diana", bisik Arin.
Diana yang baru saja sadarkan diri mendekati Arin,"ada apa?, dimana ini?".
"Kecilkan suaramu, nanti penjahat itu mendengarkan kita", bisik Arin lagi.
"Coba kau dengarkan dengan baik, kira-kira kita dikurung dimana?", Tanya Arin masih setengah berbisik.
"Sebentar, sepertinya kita jauh dari kota, di luar tidak ada suara kendaraan, sangat sunyi disini, apa yang harus kita lakukan", Diana sedikit panik, terdengar dari suaranya walaupun pelan.
"Diana, bisa kamu ambilkan pisau kecil yang aku selipkan di kaos kakiku, kamu cukup membelakangi aku, aku akan mendekatkan kakiku ke tanganmu, tinggal raba bagian kaos kakiku, kamu akan bisa mengambilnya", jelas Arin.
Diana mengikuti instruksi dari Arin, dalam sekejap mata pisau kecil itu berpindah ke tangan Diana, setelah saling memunggungi pisau itu diberikan Diana kepada Arin.
Arin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia lalu mengiris tali pengikat ditangannya, setelah terlepas, ia melepas tali pengikat di kakinya. Setelah selesai ia melepaskan ikatan pada Diana. Keduanya lalu berdiri, diluar sama sekali tidak terdengar pergerakan apapun. Mereka melihat ke seluruh ruangan, ada sekitar 20 orang anak sekolah di ruangan itu. Mereka juga tidak menemukan tasnya, pasti sudah diamankan penjahat itu pikirnya.
Arin mengeluarkan sebuah pick lock yang ia sembunyikan di didalam kaos kakinya. Dengan perlahan ia mengotak-atik lubang kunci, klik terdengar suara halus dari lubang kunci itu. Dengan perlahan mereka membuka pintu itu. Tidak ada siapa-siapa di luar. Arin berpikir ternyata mereka berhadapan dengan penjahat bodoh, (he..he..he) tawanya dalam hati.
Matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di situ, mata Arin langsung berbinar-binar melihat tasnya ada di tumpukan tas lainnya, ia lalu membuka tasnya dan menemukan hpnya. Ia lalu menulis sebuah pesan, menghidupkan GPS, meletakkan hpnya ditempat tersembunyi.
Dari kejauhan terdengar suara mobil mendekat. Terdengar langkah kaki dari belakang gudang tempat mereka di sekap, ternyata selama ini penjahat itu sedang beristirahat. Diana dan Arin segera bersembunyi dibalik tumpukan barang yang terletak disamping gudang.
" Berapa hasil tangkapan hari ini, lebih banyak atau kurang dari yang kemarin", tanya seseorang yang merupakan bos penculikan ini.
"Banyak dari kemarin Bos", jawab salah seorang anak buahnya.
"Bagus, kita akan dapat uang lebih banyak dari kemarin, hahaha", orang tua itu tertawa puas.
"Cepat pindahkan mereka ke mobil box di luar, waktu kita tidak banyak", perintahnya.
"Gawat Bos, dua orang melarikan diri, bagaimana ini Bos", lapor salah seorang yang sudah menangkap Arin dan Diana.
"Apa!, bodoh kalian, cepat cari mereka", teriaknya.
Arin sudah mempersiapkan dirinya, sebuah botol kecil berisi campuran cabe halus dan merica tergenggam erat di tangannya siap untuk disemprotkan, begitu juga dengan Diana. Begitu salah satu dari mereka menampakkan wajahnya, Arin langsung menyemprotkan cairan itu ke mata orang itu, terdengar jeritan kesakitan, teriakan itu menyadarkan anak-anak sekolah yang ada di gudang.
Mereka berteriak. Hal itu menyebabkan Bos dan anak buahnya panik. Arin dan Diana dengan cepat keluar dari tempat persembunyian dan lari keluar dari tempat itu, pintu besar yang mengarah keluar gedung itu mereka ganjal dengan kayu yang terletak tidak jauh dari tempat itu.
Didalam gedung terjadi kegaduhan, terdengar suara sirine mobil polisi mendekat. Arin dan Diana bernafas lega. Mobil polisi datang tepat pada waktunya dan langsung mengepung gedung itu. Seorang polisi yang berpangkat lebih tinggi keluar dari sebuah mobil.
"Ayah!", teriak Arin sambil berlari memeluknya.
"Anak Ayah memang hebat", beliau berbicara sambil memeluk putrinya.
Para penjahat diborgol sementara bosnya meninggal ditempat dikarenakan melawan. Teman seusia Arin dilepaskan ikatannya dan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Para penjahat melirik ke arah Arin, dalam hati mereka mengutuki diri sendiri karena telah salah menculik anak seorang kepala polisi yang terkenal dan disegani.
TAMAT