Disaat aku mempertanyakan keberadaan ku di dunia ini semakin aku tak mengerti alasanku masih dapat berdiri dengan tegak di dunia ini. Di saat banyak orang menangisi kepergian seseorang yang mereka cintai, aku masih dapat menghirup udara segar meski tak ada yang peduli dengan keberadaan ku. Di saat seseorang yang begitu penting bagi banyak orang terlihat akan kehilangan nyawanya membuatku berpikir, ah, aku ingin menggantikan posisinya.
Dan... itulah yang aku lakukan beberapa detik yang lalu begitu aku sadar seorang pria berjas rapi tengah sibuk menerima telepon dari smartphone nya berada dalam bahaya. Seorang pria bertubuh tinggi mengenakan Hoodie hitam menyembunyikan sesuatu dari saku bajunya yang tak sengaja terintip olehku yaitu sebuah pisau kecil yang tampak tajam. Awalnya pria Hoodie itu berjalan begitu perlahan ke arah pria berjas itu namun tiba-tiba dia mulai menaikkan tempo langkah kakinya seolah bersiap untuk melarikan diri dan pada saat itulah aku berlari menghampiri pria berjas itu lalu memeluk punggungnya dengan erat hingga akhirnya aku berakhir seperti ini.
Aku bisa merasakan sesuatu menancap di punggungku yang entah mengapa tak sesakit yang aku pikirkan atau mungkin lebih tepatnya membuatku berpikir aku sedang bermimpi. Aku tidak pernah membayangkan hal sedramatis ini akan terjadi padaku. Pandanganku perlahan semakin memudar saat aku melihat orang-orang mulai mengerumuniku samar-samar hingga akhirnya semua tampak gelap gulita. Sakit sekali. Kenapa baru terasa sekarang sakitnya? Ah, ini bukan mimpi rupanya.
"Tuan bisa kembali ke kantor sekarang biar saya yang menemani nona ini di sini."
"Dia menyelamatkan nyawaku bukan nyawamu kenapa malah kamu yang harus menemaninya?"
"Tapi Pak Direktur sudah..."
"Kenapa berisik sekali?" Gumamku kesal karena merasa waktu istirahatku telah terganggu.
"Nona sudah sadar?" Tanya seseorang yang suaranya terdengar asing bagiku.
"Siapa ya?" Tanyaku sambil membersihkan kotoran di mataku lalu mengerjap-ngerjap berusaha menjernihkan pandanganku yang masih kabur. Aku mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan menyapa orang itu dengan benar tapi segera kuurungkan karena rasa sakit di punggungku yang luar biasa.
Kini pandanganku sudah sangat jelas. Aku dapat melihat seorang pria yang mengenakan kemeja putih dan dasi abu-abu sedang menatapku dengan tatapan sendu penuh kekhawatiran. "Siapa ya?" Aku bertanya lagi.
"Nona sudah menyelamatkan nyawa saya, apa Nona tidak ingat?" Jawabnya tergesa-gesa.
"Rupanya itu bukan mimpi ya?" gumamku pelan.
"Perkenalkan saya adalah sekretaris pribadi Direktur Utama LKS company, saya mewakili atasan saya untuk memberikan kompensasi pada Nona akibat kemalangan yang Nona setelah menyelamatkan Tuan Muda," kata seorang pria paruh baya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka.
"Kompensasi? Kenapa?" tanyaku tak mengerti. "Maaf, saya masih belum bisa membedakan mimpi dan kenyataan jadi saya masih bingung tentang apa yang baru saja terjadi."
"Mohon maaf Nona kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu Nona jadi Nona bisa langsung menyebutkan nominal yang Nona inginkan sebagai balasan atas jasa Nona," desak sekretaris itu tak sabaran.
"Pak Arman!" Bentak pria berkemeja itu marah. "Apakah begini caranya memperlakukan orang yang sudah menyelamatkan nyawa saya?"
"Maaf Tuan tapi Pak Direktur..."
"Kalau kalian memang sedang terburu- buru kalian bisa pergi sekarang," selaku sambil menahan sakit kepala karena mendengar dua orang ini berdebat. "Ah, tapi tolong bayar tagihan rumah sakitnya karena saya tidak bisa membayarnya dan juga bisakah saya beristirahat di sini satu malam lagi? Kepala saya masih sakit jadi saya masih ingin beristirahat."
"Baiklah Nona, nanti malam saya akan kembali untuk membicarakan masalah kompensasi," kata sekretaris itu masih tetap ngotot membahas kompensasi.
"Tidak perlu!" Sahutku tegas. "Silahkan lanjutkan kesibukan kalian dan tidak perlu menemui saya lagi," tambahku setelah itu menutup wajahku dengan selimut mencoba untuk kembali beristirahat.
Lapar. Aku kembali terbangun setelah tak lebih dari tiga jam tertidur karena perutku keroncongan. Kapan ya terakhir kali aku makan? Setelah ini apa yang harus aku lakukan ya? Panti asuhan tempatku tinggal sudah di tutup jadi sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan. Kenapa dulu aku tidak menurut pada ibu panti untuk pergi ke sekolah sih? Pekerjaan macam apa yang bisa aku dapatkan tanpa memiliki ijazah sekolah apa pun? Sial, harusnya tadi aku menerima uang kompensasi itu jadi aku masih bisa makan selama mencari pekerjaan.
"Dasar tak tahu diri!" Aku memaki kesal.
"Siapa yang tidak tahu diri?" Tanya pria kemeja putih itu yang entah sejak kapan telah berada di ambang pintu sambil tersenyum manis.
"Tuan kembali lagi?" tanyaku senang. Aku masih bisa meminta uang kompensasi itu kan?
Dia mengangguk lalu menghampiriku dan duduk di sebuah kursi kosong di samping kiri tempat tidurku. "Saya lupa untuk membantu Nona menghubungi keluarga Nona, mereka pasti cemas sekali kan?"
"Tidak perlu repot-repot."
"Setidaknya saya ingin meminta maaf dan berterimakasih dengan benar pada orang tua Nona."
"Saya bilang tidak perlu," jawabku lesu.
"Apa terjadi sesuatu pada keluarga Nona?"
"Saya tidak ingat mereka dan tidak mau mengingat mereka."
"Saya minta maaf sepertinya saya sudah menyinggung perasaan Nona," sesalnya.
"Jika Tuan memang merasa bersalah..." Bagaimana cara menyampaikannya ya? Rasanya memalukan sekali menarik kembali ucapanku setelah tadi siang aku sok keren. Tidak. Aku harus membuang egoku karena perutku lebih penting sekarang. "Bisakah saya menerima uang kompensasi?"
Pria itu tersenyum lega. "Berapa banyak yang Nona mau?" tanyanya enteng seolah dia dapat memberiku berapa pun yang aku minta.
"Sekitar uang makan dan sewa kamar selama sebulan?" jawabku ragu-ragu. Apakah meminta dibiayai hidup selama sebulan terlalu keterlaluan? Seharusnya aku minta dua minggu saja tadi.
"Jadi berapa banyak tepatnya? Seratus juta? Dua ratus juta?" tanyanya lagi masih dengan nada enteng ketika menyebutkan nominal uang yang luar biasa itu.
"Hei, memangnya makanan dan kamar macam apa yang menghabiskan uang sebanyak itu dalam sebulan?" sahutku kesal.
Pria itu menutup mulutnya lalu mulai tertawa. Apakah aku baru saja mengatakan hal yang lucu.
"Ah, maaf karena nada bicara saya kurang sopan."
"Kalau boleh tahu umur Nona berapa ya?"
"Mungkin sekitar delapan belas atau sembilan belas? Bisa jadi dua puluh? Entahlah saya juga tidak tahu."
Mendengar jawabanku pria itu langsung berhenti memasang senyum lalu mulai menunjukkan raut wajah serius. "Nona tidak ingat?"
"Ibu panti bilang umur saya sekitar lima atau enam tahun saat beliau menemukan saya di depan pintu panti asuhan jadi saya tidak tahu umur pasti saya. Ah, tapi saya sudah punya KTP di sana tercantum saya kelahiran tahun 2003," jawabku dengan tempo cepat.
"Nona tidak merasa sedih?"
Aku menggeleng. "Ibu Panti bilang saya tidak perlu mencoba mengingat masa lalu saya dengan begitu saya akan baik-baik saja."
"Maaf, sepertinya saya terlalu banyak bertanya dan membuat Nona mengingat kejadian yang Nona benci."
Aku menghela nafas panjang. "Tidak masalah, sepertinya sekarang saya sudah mati rasa jadi saya tidak merasakan apa pun ketika mengingatnya kembali. Selain itu bersedih tidak akan membuat saya merasa kenyang saat saya kelaparan dan justru membuatnya semakin parah, kan?" Candaku mencoba mencairkan suasana ketika aku melihat pria itu tampak begitu merasa bersalah.
"Jadi daripada membahas yang tidak mengenakkan bagaimana kalau Tuan Muda kita ini mentraktir saya makan?" Ucapku berusaha tampak seceria mungkin.
Pria itu terkekeh lalu merogoh smartphone mahalnya dari saku bagian dalam jasnya. "Apa yang mau Nona kesatria ini makan malam ini?" Katanya menanggapi candaanku.
"Apa pun yang enak dan cepat," jawabku penuh semangat.
Aku tidak bisa menahan diri untuk membelalakkan mataku begitu melihat satu kantong kresek besar yang entah ada berapa banyak kotak makanan di dalamnya. Pria itu menarik meja yang ada di pojok ruangan mendekat ke samping tempat tidurku lalu mulai mengeluarkan makanan satu persatu.
"Saya tidak tahu makanan enak yang Nona maksud itu seperti apa jadi saya memesan semua makanan yang paling dekat dari sini."
Suara pria itu mulai terdengar samar begitu dia mulai membuka tutup kotak makanan. Aroma makanan yang semerbak itu dengan cepat sampai ke indera penciumanku. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya.
"Boleh saya makan sekarang?" Aku sudah tak bisa menunggunya lagi mengeluarkan dan membuka makanan yang tersisa. Mulutku tiba-tiba saja terasa jadi penuh air. Aku harus segera memasukkan sesuatu ke mulutku.
"Tentu saja."
Pria itu menghentikan pekerjaannya lalu menghampiriku dan membantuku menaikkan sandaran tempat tidur dan meletakkan meja kecil di depanku. Dia tidak pernah meninggalkannya senyumannya tiap kali aku melirik padanya seolah ingin memberitahuku bahwa dia senang bisa membantuku. Seandainya saja dia tahu kalau waktu itu aku hanya bermaksud mengakhiri hidupku sendiri bukan menyelamatkannya nyawanya apakah dia akan tetap bersikap semanis ini padaku?
"Terimakasih," ucapku atas kebaikannya.
"Dibandingkan dengan apa yang nona lakukan untuk saya ini tidak ada artinya kan?" jawabnya tulus. Ah, dia malah membuatku semakin merasa bersalah.
"Dira." Ucapku tiba-tiba.
"Eh?" Pria itu kebingungan.
"Nama saya Dira. Bukannya terasa kurang nyaman terus memanggil saya Nona?"
"Kalau begitu kamu juga bisa memanggil nama saya, Angga," katanya sembari mengulurkan tangannya padaku.
"Baik Om Angga," sahutku menerima uluran tangannya dengan ceria.
"Hey, apa saya kelihatan sangat tua sampai kamu panggil saya Om?" tanyanya merengut kesal. Ah, wajahnya sekarang menggemaskan sekali aku jadi ingin mencubit pipinya.
"Kamu menertawakan saya?" Tanyanya tampak makin kesal sekaligus makin menggemaskan.
"Eh?" Ah, aku tertawa tanpa sadar saking gemasnya. "Bukan begitu, maksud saya maaf. Om mengerti maksud saya kan?" Kenapa bicaraku jadi tidak karuan begini sih.
Aku menghela nafas lalu mengoreksi ucapanku dengan cepat. "Karena Tuan sangat sukses jadinya saya pikir..."
"Hahaha... Maaf tadi saya hanya bercanda," kata Tuan Angga ini terbahak-bahak.
Hah? Apa maksudnya? Bagian mananya dia bercanda?
"Kalau dibandingkan kamu saya memang jauh lebih tua dan pantas untuk kamu panggil Om," katanya menjelaskan.
"Sebenarnya menurut saya Tuan terlihat sangat muda dan tampan selain itu juga..." Aku segera menghentikan ocehanku yang tak bisa aku kontrol lalu menampar pipiku sendiri dengan pelan untuk menyadarkan diriku agar berhenti bicara.
"Terimakasih sudah menilai saya seperti itu," ucapnya senang.
Aku memalingkan wajahku darinya lalu bergumam. "Malu banget."
Kami terus berbincang-bincang dan saling bercanda, tertawa bersama sambil menikmati makanan yang tersedia cukup lama sampai tak terasa sudah hampir tengah malam.
"Maaf saya malah banyak membuang waktu kak Angga padahal kakak pasti sibuk sekali," sesalku. Oh ya, kami sudah sepakat kalau aku akan mulai memanggilnya kak Angga bukan Om Angga.
Dia menggeleng. "Ngobrol sama kamu sangat menyenangkan padahal saat datang ke sini beban pikiran saya sedang banyak karena pekerjaan yang menumpuk."
"Jadi kakak benar-benar sedang sibuk? Kalau Om-om waktu itu datang lagi dan memarahi saya bagaimana?" tanyaku cemas.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Sudah hampir tengah malam, sebaiknya sekarang kamu istirahat," jawabnya sambil mengelus-elus puncak kepalaku dengan lembut.
Aku menganggukkan kepalaku dengan kaku. "Oke, kakak juga hati-hati di jalan dan selamat beristirahat."
"Kenapa malah bilang begitu? Memangnya saya mau pergi kemana?"
"Eh? Bukannya tadi kakak bilang..., Eh? Tunggu dulu. Eh? Kakak mau menginap di sini?" tanyaku kaget.
"Ini sudah terlalu malam saya ngantuk jadi tidak bisa menyetir sekarang."
"Taksi. Kakak bisa naik taksi kan?" Usulku mulai panik.
"Susah mencari taksi semalam ini dan lagi pula memangnya kamu tidak tahu kalau sekarang sedang musim perampokan berkedok supir taksi."
"Tapi besok pagi kakak harus kembali bekerja jadi..."
"Selamat malam." Dia menyela ucapanku lalu pergi ke sebuah sofa panjang yang ada di sudut ruangan lalu berbaring meringkuk karena tubuhnya yang terlalu tinggi.
"Selamat malam," ucapku akhirnya pasrah.