Aku berlari menyusuri jalan. Hujan yang tadinya jatuh satu per satu, perlahan mulai jatuh keroyokan alias deras. Banyak orang berlarian bersamaku memilih berteduh di depan ruko yang tutup. Minggu pagi yang semula cerah, mendadak dikerumuni awan hitam, hingga membuat suasana jadi mendung dan langsung hujan.
Aku yang tengah melakukan healing, begitu istilah orang-orang ketika tengah menenangkan diri akibat dilanda stress karena tekanan pekerjaan yang menumpuk di akhir bulan.
Hujan seakan makin deras. Bajuku sudah basah kuyup akibat air yang turun tidak terhingga dari langit. Kepalang basah. Akhirnya aku berhenti berlari dan membiarkan hujan membabi buta menghajar kepalaku.
“Neng, berteduh aja sini,” tawar seseorang yang berteduh di depan ruko yang tutup.
Aku menoleh dan menggeleng dan menolak ajakannya.
“Nggak pak, makasih, udah kehujanan.”
Memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Kebetulan rumahku dekat dengan lokasi taman kota yang kukunjungi sekarang. Aku menatap toko-toko yang tutup. Dua tahun lalu sebelum pademi melanda. Deretan itu buka dan penuh dengan pelanggan yang datang. Letaknya yang memang di pusat kota, membuat lokasi ini sangat strategis untuk mendulang rejeki.
“Roda berputar. Yang tadinya bergelimang harta, kini mulai menutup rapat dompet mereka, untuk menekan biaya hidup yang makin melonjak,’ monologku.
Aku berjalan melewati jalan pintas. Jaraknya hanya sekitar 700 meter saja jika melalui jalan itu. Aku pun mulai bersenandung pelan sambil menikmati tetesan air yang jatuh langsung dari langit.
Sebuah slide film Bollywood melintas di ingatanku. Salah satu adegan di mana pemain utama wanita menari dan bernyanyi di bawah hujan bersama lawan mainnya. Aku langsung memperaktekkannya.
“Mumpung sepi,” gumamku dalam hati.
Aku mulai menari dan bernyanyi. Kurentangkan tangan dan menegadah sambil berteriak keras.
“Tuhan ... kenapa aku jomlo?!”
Hujan terus mengguyur bumi dengan derasnya, aku terus menari dan bernyanyi. Bahu kugoyangkan terkadang pinggul aku putar sedemikian rupa. Aku terkikik melihat tingkahku yang sudah seperti orang gila.
“Mumpung nggak ada yang liat,” gumamku lirih.
“Tumpa se ae ... rumus kora e ... tumere de jale ja ... sabetini jahe ....” aku meyanyi asal salah satu lagu Bollywood yang kau tahu.
“Abetum meradel ... jakina so tahe ... kyaka roha e ... kuch ... kuch ... hota hai!” lanjutku sambil menggoyang bahuku naik turun.
Aku terus bernyanyi, terkadang berlari kecil. Andai ada orang lain, aku pasti dilaporkan sebagai orang gila, akibat tingkahku ini. Terkadang aku mempraktekkan sebuah adegan di salah satu film Bollywod yang pernah aku tonton.
Nyanyian dan tarianku berhenti ketika tiba-tiba ada orang yang berteriak memaki dengan kencangnya. Aku langsung bersembunyi cepat di balik lindungan pohon besar.
“Keluar Lo, berengsek!”
Hujan yang cukup deras membuat pandanganku sedikit buram. Aku meneysal tak membawa ponselku, tadi aku pergi hanya membawa uang tak seberapa untuk jajan es. Pertengahan bulan membuatku harus sedikit irit dalam mengelola keuanganku.
“Satu, dua, tiga, empat,” aku menghitung jumlah pria yang hendak menjungkir balikan mobil itu.
“Kenapa nggak tancap gas aja, atau bunyiin klason ya?” tanyaku dalam hati.
Empat pria itu makin marah, tapi yang di dalam mobil seakan tenang saja. Umpatan dan makian kasar terdengar. Aku memindai sekelilingku. Hanya ada beberapa rumah yang letaknya berjauhan. Jika pun demikian, para penghuni rumah lebih asik bergelung di Bawah selimut ketimbang memeriksa keadaan sekitar. Terlebih hari hujan.
“Kalo pun nggak ujan juga, nggak bakal ada yang peduli,” gumamku.
Aku melihat sekeliling, mencari senjata yang bisa mengusir dan menolong orang yang ada di dalam mobil. Asumsiku jika orang yang ada di dalam mobil tidak dalam keadaan baik-baik saja. Satu batang kayu lumayan besar dan panjang.
“Boleh deh,” ujarku lalu menenteng kayu itu.
Perlahan aku mendekati mereka yang masih berusaha menghancurkan kaca mobil. Sepertinya kaca mobil itu anti peluru, hingga sabagaimana kerasnya mereka menghancurkan, jangankan pecah, tergores saja tidak.
“Hai ... ngapain kalian!” bentakku.
Hujan perlahan reda, walau titik-titik air masih jatu secara rapat dari langit. Kini aku dapat melihat rupa empat orang yang akan menjadi lawanku. Empat pria itu menoleh, hanya tiga pria yang menatapku dengan pandangan liar.
“Jangan ikut campur jika tak ingin celaka!” hardik salah satu di antara merka.
Aku memprediksikan jika pria yang bicara adalah ketua dari ketiga pria yang masih setia menjelajahi tubuhku yang basah kuyup. Aku hanya menggeleng sambil meletakan kayu di bahuku.
“Memang, tapi kalian mengusik jalanku menuju rumah. Dan sepertinya kalian hanya bisa main keroyokan,’ ejekku pada mereka.
“Berengsek. Aku pastikan kau tak dapat berjalan lagi!” bentak pria itu.
Ia mulai menyerang dengan pukulan tinjunya. Aku yang seorang ahli bela diri judo mampu menghindar dengan mudah. Pria itu makin kalap ingin menjatuhkanku ke tanah.
“Gadis sialan!” teriaknya.
Aku hanya tertawa meledek sambil terus menghindar pukulannya. Mukanya mulai memerah menahan amarah sekaligus malu luar biasa. Aku yakin dia marah karena tidak dibantu oleh ketiga rekannya, selain itu dia belum bisa menjatuhkanku yang hanya seorang perempuan.
Bug! Aku menggebuk bahunya dengan kayu. Pira itu mengerang kesakitan. Di sanalah tiga pria itu maju membantu atasannya. Aku melawan mereka dengan segenap kekuatan juga keahlianku dalam bela diri.
Brug!
“Ughh!”
Ketiganya jatuh ke aspal yang basah. Mereka mengusap semua bagian tubuh yang aku pukuli dengan kayu. Salah satu pria berdiri, aku hendak menghajarnya, ia segera memohon ampun.
“Nona ... ampun ... saya menyerah!”
“Pergi sana!” usirku membentaknya.
Pria itu berlari diikuti ketiga anak buahnya. Aku menggertak mereka, makin kencanglah larinya. Mereka menaiki mobil sedan warna putih dan langsung tancap gas melarikan diri. Aku bernapas lega. Sebenarnya dadaku sudah sesak dan napas mulai ngos-ngosan.
“Udah lama bolos ke dojo, beginilah jadinya,” sesalku.
“Senshei ... maafkan aku.”
Aku mendekati mobil. Kaca nampak gelap dari luar. Aku berusaha mengetuknya dan mengatakan jika semua sudah aman.
“Tuan atau nyonya ... anda tidak apa-apa?’
Aku mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil berusaha menyadarkan seseorang di dalam. Terdengar bunyi ‘klik’. mencoba peruntungan, membuka pintu mobil. Sosok pria paruh baya terduduk lemas di sana.
“Tolong ... tolong aku!” cicitnya lemah.
Aku mulai panik. Terdengar deringan ponsel. aku berusaha mencarinya, sambil membuka beberapa kancing baju pria itu dan melonggarkan gespernya. Setelah dapat benda pipih itu, aku segera mengangkatnya.
“Halo pa ... papa di mana!” teriak suara seorang lelaki di seberang telepon.
“Halo tuan!”
“Hei ... siapa kamu!” teriak pria itu.
“Jangan banyak bicara tuan. Segeralah ke lokasi xx!”
“Kau apakan ayahku, berengsek!” maki pria itu yang membuatku kesal.
“Jangan banyak bertanya bodoh, aku kirim lokasinya dan segera bawa ambulan!” aku balas teriakannya
“Bangsat ... jika terjadi apa-apa ....”
“Hei bego ... kebanyakan ngomong. Cepat datang ke sini!” bentakku murka dan langsung menutup sambunga teleponnya.
“Sialan. Ditolong malah maki,” gerutuku.
Pria tua itu makin lemah, aku memeriksa nadinya, sesekali kuusap telapak tangannya dan kuletakkan telapak itu ke dadfanya. Sebelah tanganku merogoh saku celana training, mencari botol plastik kecil isi minyak angin yang selalu kubawa. Kubuka dan kudekatkan pada hidung pria itu.
“Hhh ...”
Terdengar helaan napas. Aku sedikit lega. Pria itu sudah siuaman dari pingsannya. Aku kembali menggosok telapak tangannya dan meletakkan di dada. Pria itu menatapku lekat-lekat.
“Siapa namamu, nak?” tanyanya dengan suara lemah.
“Ridanty Septiana, tuan.”
“Ridanty?’ aku hanya mengangguk sambil mengulas senyum.
“Kau bekerja?” lagi-lagi aku mengangguik.
“Di mana?”
“PT Sentoso Berdikari,” jawabku.
Butuh waktu nyaris satu jam. Ambulan datang dan langsung mengevakuasi pria itu. Aku memilih pergi dari sana dan pulang.
Pagi menjelang, semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka, begitu juga aku. Sebagai kepala staf admin, membuat pekerjaanku dua kali lebih banyak.
“Ri!” aku menoleh.
“Ya bu,” sahutku.
“Kamu dipanggil boss,” ujar manager admin.
Keningku berkerut, dengan langkah tegap sambil mengigat ada kesalahan besar apa yang aku perbuat hingga pemimpin perusahaan memanggilku. Dengan menggunakan lift, aku mendatangi ruangan mewah yang terletak di lantai paling atas gedung.
“Nona Ridanty, anda sudah ditunggu. Silahkan masuk,’ ujar sekretaris cantik sambil membuka pintu.
Aku masuk dengan perlahan. Di jendela besar sosok pria berdiri dengan tongkatnya.
“Permisi tuan, saya Ridanty,” sahutku memecah hening.
Pria yang berdiri menoleh, aku hanya diam dan meqnunggu. Pria itu mendekat.
“Ridanty, apa kau mengingatku?” tanyanya, sedang aku menggeleng.
“Aku adalah pria yang kau tolong kemarin,” aku terdiam dan mulai mengamati wajahnya.
“Ah ... tuan, anda baik-baik saja?” tanyaku dengan antusias.
“Ya ... terima kasih atas pertolonganmu kemarin, jika saja metodemu menghangatkan jantung dengan telapak tangan yang digosok, aku pasti sudah mati,” jelas pria itu.
Ia mengajakku duduk dan kami mulai bercengkrama. Pria itu menjelaskan betapa metode yang aku terapkan disanjung para dokter yang menanganinya. Pria itu juga menjelaskan siapa yang menyerangnya kemarin.
“Dia anak salah satu kerabatku yang tak puas karena kalah tender di salah satu proyekku.”
Aku hanya diam dan tersenyum saja. Sesekali aku melirik jam di dinding tengah ruamham ini.
“Sudah, jangan khawatir, kau bersamaku. Tak ada yang berani memarahimu<” ujarnya seakan mengetahui kegelisahanku.
“Papa ... eh ada tamu,” kami menoleh.
Aku menelan ludah melihat ketampanan pria yang datang tiba-tiba.
“Buset deh ... ganteng amet!’ teriakku histeris dalam hati.
“Perkenalkan ini putraku,” ujar bossku.
“Rico Sentoso!”
“Ridanty Septiana!”
“Roc. Ini lah gadis yang menolong ayah kemarin dengan gagah berani,” jelas atasanku.
“Oh, jadi gadis ini yang berani juga membalas makianku?”
Aku menelan ludah. ‘Mati aku!’
“Bagaimana, apa kau setuju menjadikan dia istrimu?’
“Eh ... apa?” sahutku tak percaya.
Ketika takdir tak bisa dielak, siapa sangka, kini diriku sudah bersandung duduk di sebelah pria yang pernah kusahuti makiannya. Ancaman pemecatan dan black list membuat aku menerima lamaran pria ini. Padahal aku sangat senang dengan hari suci ini.
“Hei,” sapanya ketika sudah berada dalam kamar pengantin kami.
Aku hanya bisa menunduk. Lengan kekar itu meraih tubuhku dalam dekannya. Aku gugup bukan main dan berusaha berontak.
“Jangan berontak Ri,” ujarnya. “Kau membangkitkan sesuatu di bawah sana.”
Aku akhirnya diam, karena memang ada seperti benda tumpul yang menusukku di area itu.
“Kau tau kenapa aku memaksamu menikah denganku?” aku menggeleng.
Wajahku sudah seperti kepiting rebus. Jantungku seakan menggila dan melompat keluar dari sarangnya.
“Karena kau adalah gadis yang selama ini aku inginkan,” jelasnya.
Pria yang kini menjadi suamiku bercerita ketika melihatku pertama kali. Ternyata dia juga satu dojo di mana aku melatih bela diri, hanya saja, suamiku ini dua tingkat di atasku. Dan hanya aku satu-satunya gadis yang mampu membantingnya di atas matras, walau aku kalah juga pada akhirnya.
“Sekarang aku akan mengalahkanmu sekali lagi ... di atas ranjang.”
Tak lama aku pun terpekik tertahan. Malam itu pun berlangsung kejadian panas yang hanya boleh orang dewasa dan sudah menikah yang melakukannya.
Tamat.