"Sial!! Dasar pak tua breng*sek" gumam Airin sambil menghentakkan kakinya melangkah menuju ke bar. "Dia pikir dia siapa? Seenaknya saja memerintahku. Aakkkhhh ... Bajing*an busuk" lanjutnya lagi sambil duduk di depan meja bar lalu menaruh kepalanya ke atas meja. "Setidaknya ... Biarkan aku menikmati ulang tahunku" Air matanya pun mulai menetes. "Bajingan itu malah tidak memberikanku kesempatan untuk bernafas"
"Mau pesan apa nona?" kata bartender.
"Jus jeruk saja" ucapnya tanpa bergerak dari tempatnya.
"Apa?" kata bartender itu tak percaya.
Airin pun mulai kesal. Ia mendongakkan kepalanya dengan cepat membuat rambut panjangnya terlihat berantakan.
"Kau tuli? Aku bilang- Eh? Kau orang baru di sini?" kata Airin.
"Iya, saya baru bekerja hari ini"
"Pantas saja" gumamnya. "Bawakan aku jus jeruk saja"
Bartender itu pun segera pergi. "Kalau mau minum jus jeruk kenapa datang ke sini? Datang saja ke cafe seberang sana" gumam bartender itu.
"Aku bisa mendengar mu. Berani berbicara lagi akan aku buat kamu tidak bisa bekerja di sini" ucap Airin penuh penekanan.
"Maaf nona"
"Cih, kenapa kakak mencari pegawai yang tidak tau tata Krama sih? Mau bangkrut apa?" gerutu Airin sambil mengerucutkan bibirnya.
Di saat Airin tengah duduk melamun di depan meja bar. Terdengar ada keributan di belakangnya. Saat Airin menoleh, terlihat beberapa preman sedang memukul seorang pria.
Brakk
Suara Airin menggebrak meja.
"Mereka lagi. Mereka benar-benar mau membuat bar kakakku ini hancur" Airin pun segera beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri beberapa preman itu.
Salah satu dari mereka hendak mukul pria berjas itu.
"Hey!! Lepaskan dia" kata Airin sambil berkacak pinggang.
Mereka semua pun menoleh ke arah Airin.
"Tidak dengar apa yang aku bilang? Lepaskan dia!!"
Preman itu pun melepaskan kerah pria berjas itu dan menghempaskannya.
"Heh? Memangnya siapa kau?"
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya tidak mau bar ini hancur karena kalian" Airin pun mengeluarkan pistol dari tas kecilnya. "Pergi dari sini atau aku akan menghabisi kalian semua!!"
"Bos, dia bawa pistol"
"Sebaiknya kita pergi saja"
"Awas kau ya"
Para preman itu pun pergi dari bar itu. Sedangkan pria berjas tadi masih duduk termangu melihat Airin. Ia tampak menyeringai melihat Airin yang dengan beraninya mengusir para preman itu.
"Dasar berandalan" gumam Airin sambil meletakkan pistolnya ke atas meja. "Kau tidak apa-apa?"
Pria itu masih terbengong melihat Airin.
"Hey!! Aku tanya apakah kau tidak apa-apa?"
"Hah? Eh ... Ugghhh. Tidak apa-apa. Hanya luka kecil" kata pria itu sambil berpura-pura memegang dagunya.
"Ck, tunggu di sini" Airin pergi untuk mengambil kotak obat.
"Hemm ... Menarik"
Tak berselang lama Airin kembali dan duduk di samping pria itu.
"Sini, biar aku obati lukamu" ucapnya sambil membuka kotak obat. "Kau seharusnya tidak usah berurusan dengan para berandalan itu. Mereka selalu mencari keributan di sini. Aku sudah muak dengan mereka" Airin pun mengoleskan obat ke sudut bibir pria itu. Sedangkan pria itu sedari tadi terdiam mendengar Airin yang terus mengoceh.
Sesaat Airin menghentikan kegiatannya. Ia menatap pria yang ada di hadapannya. Kulit yang putih, sangat halus, bulu mata yang lentik. Inci demi inci Airin mengamati wajah tampan itu dengan terpesona. Tatapan matanya pun berhenti di bibir indah pria itu. Airin menelan salivanya, ia tergiur dengan bibir pria tampan itu yang menurutnya begitu seksi.
Pria itu hanya menatap Airin keheranan. Lumayan, tidak buruk, dia juga cukup manis. Pikir pria itu yang sedari tadi juga memperhatikan Airin.
Cup
Tanpa sadar, Airin mendaratkan bibir mungil merahnya ke bibir pria yang ada di hadapannya itu. Tubuh Airin serasa bergerak sendiri. Pria itu terkejut namun tidak menarik dirinya. Terlihat Airin memejamkan matanya menikmati momen itu.
Sepersekian detik kemudian, Airin tersadar lalu menarik dirinya dengan cepat.
"Aakkkhh, maafkan aku" Airin hendak berlari namun pria itu dengan cepat menangkap tangannya.
"Mau kabur setelah menciumku?"
"Tidak, tidak, maafkan aku"
Pria itupun berdiri dari tempatnya, ia bergerak mendekati Airin.
"Kau ... Bukankah harus bertanggung jawab kepadaku" bisik pria itu di telinga Airin.
"A-aku ..." Sial ... Airin kau bodoh sekali. Airin pun membalikkan tubuhnya dengan cepat. Pria itu menyeringai lalu memeluk pinggang Airin.
"Aku akan bertanggung jawab ... Eh?" gumam Airin yang tersadar pria itu sedang memeluknya. "Kau, apa yang kau lakukan?"
Pria itu menyeringai sambil mengeratkan pelukannya. "Tentu saja meminta pertanggungjawaban darimu"
"Kamu-"
"Airin?" kata seseorang di belakangnya. Airin menoleh ke arah pria di belakangnya. "Kakak?" seketika Airin mendorong tubuh pria itu, namun tanda pengenal Airin tersangkut di kancing bajunya.
Pria itu membantu Airin melepaskan tanda pengenal itu. Ia tersenyum penuh kemenangan ketika melihat tanda pengenal itu.
Dengan cepat Airin menarik diri dan pergi menghampiri kakaknya.
"Kau sedang apa di sini?"
"Tidak ada, aku hanya mampir kak. Aku akan pulang" Airin pun langsung pergi dengan cepat meninggalkan bar itu.
"Aneh sekali" gumamnya.
"Dia adikmu?''
"Ya, dia adik bungsuku. Kau mengenalnya?"
"Hemmm ... Tidak. Tapi sebentar lagi aku akan menangkapnya"
Di rumah, Airin pergi ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Bodoh, bodoh, bodoh kamu Airin. Bisa-bisanya kamu mencium pria sembarangan. Auuuhh, bodohnya aku" gumamnya sambil memukul-mukul kecil kepalanya. "Tidak apa-apa, dia tidak tau siapa aku. Setelah ini kita tidak akan bertemu. Benar, jangan khawatir Airin"
Keesokan harinya, Airin pergi bekerja seperti biasa. Ia terlihat tidak bersemangat semenjak duduk di meja kerjanya.
"Kau tidak enak badan?"
"Tidak, aku baik-baik saja" kata Airin sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
"Kau terlihat pucat"
"Silahkan pak, tim kami sedang mengerjakan proyek ..."
"Airin. Berdirilah. CEO kita ada di sini" bisik salah satu karyawan.
"CEO? Keyno Weisten?" buru-buru Airin berdiri dan mengangkat kepalanya. Sepersekian detik kemudian ia tercengang melihat sesosok pria yang berada di hadapannya.
"Kau ..." gumam Airin.
Pria itu, tidak. CEO itu, tersenyum kecil ke arah Airin. Ia mengangkat salah satu alisnya. "Kita bertemu lagi, pencuri" seperti itulah makna dari tatapan sang CEO itu. Ya, CEO itu adalah pria yang di cium Airin kemarin di bar.
"Matilah aku" batin Airin.
"Tuan Roy, aku mau dia ada di ruangan ku dalam lima menit" ucap Keyno menunjuk Airin lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
Brugghh
Airin pun duduk lemas di kursinya. "Habislah aku, habislah aku" gumamnya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Airin, sepertinya bos tidak suka sikapmu tadi. Kamu tau sendiri, bos kita orangnya pemarah dan pendendam. Habislah kamu"
"Ya, kau benar. Habislah aku"
Lima menit kemudian, Airin mengetuk pintu ruangan Keyno.
"Masuk"
Airin masuk ke dalam, ia berjalan menghampiri Keyno yang sedang berdiri di depan jendela kantornya.
"Kamu sudah datang?"
"Pak ... Saya minta maaf. Saya tau saya salah. Saya tidak mengenali atasan saya sendiri. Saya tadi sangat lelah jadi terlambat memberi salam. Bapak adalah CEO di perusahaan ini. Bapak juga orang yang baik hati. Seharusnya bapak tidak boleh marah ataupun dendam kepada saya, karena kesalahan kecil saya" kata Airin begitu saja.
Keyno pun menyeringai, ia lalu berbalik menghampiri Airin yang sedari tadi tertunduk di tempatnya.
"Oh ya? Kamu memang benar, aku adalah orang yang pendendam. Tapi ada satu yang salah. Aku bukan orang baik" ucapnya sambil memegang beberapa helai rambut Airin.
"Ka-kamu..."
"Tenang saja. Lagipula aku masih belum meminta pertanggungjawaban darimu. Kamu boleh pergi sekarang"
Airin segera berlari keluar dari ruangan itu.
"Dia benar-benar gila. Dia cuma mau memberitahuku kalau dia CEO di sini? Cih, memangnya kenapa? Hanya satu ciuman saja. Kenapa begitu dendam sekali?"
Satu hari itu, Airin benar-benar lelah. Keyno tak habis-habisnya mengerjai Airin. Meminta kopi, meminta cemilan, meminta dokumen, bahkan membenarkan dasinya. Airin benar-benar kesal. Semua pekerjaan asisten Keyno di kerjakan Airin seharian ini.
Seharian ini bahkan dia tidak bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri. Hari sudah mulai gelap, beberapa pegawai sudah pulang ke rumah masing-masing. Airin terlihat duduk di meja kerjanya dengan wajah masam.
Bruaakk
Satu tumpuk dokumen di taruh di meja Airin.
"Apa ini?"
"Kau tidak lihat? Ini adalah pekerjaan mu. Seharian kau hanya keluyuran ke kantor bos. Kau lupa tugasmu?"
"Aku lelah, besok aku kerjakan" ucap Airin malas.
"Tidak bisa. Kau harus kerjakan sekarang!!"
Bruakkk
Airin menggebrak meja dengan keras.
"Aku tidak mau!! Aku tidak mau kau suruh suruh seenaknya. Kau pikir kau siapa? Hanya kepala tim saja bisa seenaknya" teriak Airin.
"Kau berani berteriak kepadaku? Hey, dengar ya wanita jal*ang. Aku bisa saja memecat mu"
"Aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli"
Airin pun segera pergi dari tempat itu. Tanpa dia sadari Keyno mendengar pertengkaran mereka di luar ruangan.
"Kevin"
"Ya, tuan"
"Pecat kepala tim itu. Besok aku tidak mau melihat dia ada di sini"
"Baik tuan"
Airin pulang ke rumah dengan kesal. Hari ini dia terlihat sangat lelah. Entah kenapa, padahal biasanya dia tidak selelah itu.
"Huh" ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Airin memegang dahinya yang terasa hangat. "Sial"
Ya, dia sepertinya demam akibat kelelahan bekerja. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun beberapa saat kemudian ponselnya pun berbunyi.
"Ada apa kak?"
"Pergi ke bar sekarang"
"Kak ... Aku-"
"Cepat, aku tunggu sekarang"
Ia sangat enggan. Kepalanya sangat berat. Tubuhnya terasa panas. Namun ia tidak bisa menolak permintaan kakaknya itu.
Dengan berat hati ia pergi ke bar milik kakanya itu. Ia terlihat memakai baju tidurnya dan hanya memakai blazer warna peach.
"Kak ada apa?"
"Kau? kenapa pakai baju itu?"
"Ada apa? kenapa kau menyuruhku ke sini?"
"Ada seseorang yang mencarimu. Pergilah ke ruang VIP nomor 5"
"Aku tidak mau"
"Kalau kau tidak mau, dia bilang kau akan menyesal"
"Huh"
Airin pun berjalan ke ruang VIP itu.
"Kamu lagi? Apa yang kau mau?"
"Temani aku minum"
"Aku tidak bisa minum"
"Aku tidak yakin itu"
Airin benar-benar geram, Keyno seolah-olah tidak membiarkan dia hidup tenang. Dia begitu pendendam hanya karena sebuah ciuman? pikir Airin.
"Jika aku minum. Apa kau membiarkan ku pulang?"
"Kita lihat saja"
Dengan cepat Airin duduk di sofa samping Keyno. Ia menenggak wine yang ada di atas meja. Keyno memandang Airin yang menurutnya begitu cantik saat minum.
"Kenapa?"
"Hem?"
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Apa?"
"Kenapa kau terus menggangguku?"
Keyno terdiam karena melihat kesenduan di mata Airin. Ia tidak menyangka, ia hanya ingin lebih dekat dengan Airin saat mengajaknya minum. Tanpa di sangka Airin begitu terlihat sedih.
Airin mendekatkan wajahnya ke arah Keyno.
"Hanya satu ciuman. Itu memang salahku. Aku tidak tahan dengan bibirmu. Tapi, tidak bisakah kau membalasnya hanya dengan satu ciuman lagi? Kenapa kau malah menggangguku?" tak terasa air mata Airin jatuh ke pipinya.
"Aku-"
"Aku lelah. Bahkan saat aku ingin istirahat kau tidak mau melepaskan ku"
"Apa?"
"SEBENARNYA APA YANG KAU MAU DARIKU?" teriak Airin.
"Aku menyukaimu" tutur Keyno.
Airin terdiam tak berkutik. Untuk pertama kalinya, jantung Airin berdebar saat ada yang bilang menyukainya. Wajah Airin terlihat pucat. Matanya merah, bibirnya kering.
"Uhuk" Tiba-tiba Airin batuk dan muntah darah.
"Airin? Airin, kau kenapa?" ucap Keyno khawatir sambil memegang bahu Airin.
Airin mendongak menatap Keyno. Perlahan ia mengarahkan bibir pucatnya ke bibir Keyno. Airin lagi-lagi mencium Keyno. Keyno tidak mengerti apa yang sedang di lakukan Airin.
"Aku alergi minuman beralkohol. Setidaknya, saat aku mati. Aku bisa tenang karena bisa mencium mu lagi. Terimakasih sudah mengutarakan perasaan mu. Pak bos"
Seketika Airin pun memejamkan matanya di pelukan Keyno.
"Airin? Airin" kata Keyno menepuk pelan pipi Airin. "AIRIN!!"