[boss] My Boss is My Money Tree
Ini adalah cerpen fiksi pertama dari penulis.
Semua latar belakang dan penokohan murni dibuat ngawur dengan referensi sana-sini.
Pembaca diharap bijak untuk menjauhi yang tidak baik dan kesalahan yang mungkin tidak patut ditiru dari penulis.
Mohon maaf apabila ada yang tidak berkenan nantinya dalam cerpen ini.
Happy reading!
***
Dina adalah anak yatim piatu sejak orangtuanya hilang dalam pesawat yang jatuh di lautan. Dia tinggal bersama bibinya hanya satu tahun, sebelum bibinya divonis menderita kanker darah stadium akhir.
Bibinya harus menanggung derita penyakit itu di umurnya yang hanya 28 tahun dan di saat itu Dina masih berumur 17 tahun.
"Maafkan Bibi ya. Bibi hanya bisa menemani Dina sampai saat ini. Terima kasih karena sudah menganggap Bibi sebagai keluarga, walau waktu kita bersama hanya sebentar di dunia ini, " ucap bibi Dina sebelum menghembuskan napas terakhirnya satu jam kemudian di rumah sakit.
Dina tidak bisa berkutik, melihat kain putih menutupi tubuh kurus bibinya yang sudah menjalani kemoterapi hanya kurang dari satu tahun lamanya.
Dalam diam, Dina meraung sedih. Air matanya mengalir cepat dan matanya tidak fokus menatap keluarga terakhir yang dimilikinya.
***
Satu bulan kemudian.
Dina sudah lulus SMA dengan nilai memuaskan. Gurunya berharap dia dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu Dina hanya menjawab dengan ucapan terima kasih--tanpa anggukan maupun gelengan kepala.
Hidup ini sulit untuknya yang hanya sebatang kara. Peninggalan orangtua dan bibinya tidak cukup untuk menaggung biaya hidup yang semakin tinggi. Dina harus bekerja untuk menutupinya.
Sejak lima bulan yang lalu Dina sudah bekerja di salah satu hotel bintang lima di kotanya yang bernama V hotel. Hotel ini adalah salah satu cabang yang baru beroperasi sekitar dua tahun.
Salah satu teman kos Dina yang bekerja sebagai office girl menawarkan pekerjaan di hotel itu untuknya. Pembukaan lowongan ini adalah bentuk penambahan lapangan pekerjaan untuk penduduk di sekitar hotel.
Dina menjadi cleaning service dan gaji di V hotel adalah upah minimum kota dan ini membuat Dina memutuskan secara langsung untuk bekerja di sana.
Dua hari kemudian Dina sudah mulai bekerja secara resmi. Dia ditugaskan membersihkan bagian tempat rekreasi seperti taman dan kolam renang.
Hotel dengan sepuluh lantai ini memiliki lebih dari 100 kamar. Berdiri di daerah kota yang ramai dan strategis--dekat dengan daerah pariwisata pantai yang sudah diakui dunia akan keindahannya.
Di luar waktu sekolahnya, Dina secara teratur bekerja selama 8 jam dan kemudian merawat bibinya.
Setelah bibinya pergi, Dina menimbang apakah ingin melanjutkan pekerjaan saat ini. Beranggapan bekerja di hotel ini bukan jalan yang ingin dia pilih.
"Dina saya akan merekomendasikan kamu untuk menjadi office girl. Saya lihat kamu bekerja dengan baik dan telaten, tidak ceroboh dan berpenampilan rapi." Salah satu karyawan hotel bagian HRD menyahut Dina.
Tidak lebih dari sehari memikirkan untuk berhenti, Dina yang baru lulus SMA ditawari menjadi office girl dengan gaji lebih besar.
Dina mengalah dan mengurungkan niat untuk pindah bekerja. Setidaknya untuk saat ini hingga dia dapat menemukan pekerjaan lain.
Sudah hampir setengah tahun Dina bekerja di hotel ini. Job desk Dina sebagai office girl berbeda dengan menjadi cleaning service. Bekerja standby dengan shift pagi.
Dia bekerja di dalam hotel dengan melayani permintaan karyawan hotel lainnya, seperti membersihkan ruangan dan melayani kebutuhan makanan dan minuman.
Saat makan siang, Dina sesekali akan pergi ke taman untuk makan. Ini sebenarnya melanggar aturan hotel. Karyawan tidak boleh makan di depan tamu. Jadi, Dina akan pergi ke salah satu taman di rooftop, karena tamu jarang pergi ke rooftop di siang yang terik.
Di taman yang akan Dina datangi terdapat beberapa varietas bunga seperti mawar merah dan melati. Saat siang hari harum bunga tidak terlalu tajam jika dibandingkan saat malam hari.
Di tangga depan pintu geser, Dina berpapasan dengan salah satu karyawati hotel yang tidak pernah ditemuinya selama ini. Pakaiannya terlihat mahal dan berkelas. Wajah yang dingin dan profesional membuat wajah cantiknya terlihat berwibawa.
Wanita itu melirik Dina yang memakai pakaian office girl dan berlalu begitu saja ke arah lift tanpa membalas senyuman yang Dina telah lontarkan.
Dina tidak merasakan apapun dengan sikap dingin karyawati itu. Bahkan bisa dikatakan sedikit merasa bersalah karena apa yang akan dia lakukan saat ini akan melanggar aturan.
Dina hanya membawa satu botol air mineral dan dua roti berisi selai yang dibuatnya sendiri. Ada selai kacang dan nanas.
Setelah melewati pintu geser, hal pertama yang Dina lihat adalah setengah badan dari seseorang yang berada di luar railing pagar pembatas. Erangan keras keluar dari orang itu.
Dina syok melihat apa yang terjadi di depannya. Dengan sigap Dina melangkah cepat ke orang itu. Jarak hampir sepuluh meter dilewatinya hanya dalam sedetik. Sadetik kemudian, Dina telah memeluk pinggang seseorang.
"Pak, Anda sedang melakukan apa?" Suara keras Dina menggema di taman.
Dina membayangkan beberapa skenario yang mungkin dilakukan lelaki yang ditariknya sekuat tenaga. Terpeleset atau mungkin karena wanita dingin tadi menolaknya dan lelaki ini memutuskan untuk bunuh diri.
Apapun itu, jika terjadi sesuatu ke depan maka reputasi hotel dapat ternodai dan Dina akan menjadi saksi hidup yang dirongrong untuk menjelaskan semua hal.
Dina berusaha menarik kembali orang di pelukannya ke dalam lingkup aman dan tiba-tiba saja Dina terjungkal jatuh ke belakang dengan lelaki itu.
Bruk!
"Aduh, duh!" pekik Dina saat badannya beradu dengan lelaki yang menindihnya.
Untungnya lantai taman di rooftop ditanami rumput hijau. Ini meredam rasa sakit yang dirasakan oleh Dina. Tetapi, rasa sakit tertindih lebih dirasakannya saat ini.
"Pak, berdiri dulu!" Dina merasakan sesuatu menindih kakinya.
Lelaki itu mengangkat badannya sedikit agar Dina tidak tertindih. Dari sejak Dina melihat orang ini hingga dia tertindih hanya terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Anehnya, tidak ada suara yang keluar sedikitpun dari lelaki di atasnya.
"Maaf, apa ada yang sakit?" Suara serak dan dalam terdengar dari lelaki di atasnya.
Dina masih sedikit merintih sambil memejamkan matanya karena sinar matahari. "Kaki saya, Pak! Tolong berdiri dulu."
Lelaki itu langsung bergerak ke samping dan membantu Dina ke posisi duduk.
"Sini coba saya lihat kaki kamu."
Suara dalam lelaki itu membuat Dina mengalihkan matanya untuk mencari sumber suara. Dia melihat lelaki berpakaian formal rapi lengkap dengan jas dan dasi yang serba hitam.
Dina sedikit terkejut, karena dia pernah tidak sengaja melihat muka yang sama satu bulan lalu di restoran hotel. Lelaki ini sedang makan seorang diri.
Dina mengira dia adalah tamu. Tapi, saat ini Dina merasa bahwa lelaki di depannya kemungkinan seorang karyawan level atas yang jarang ditemuinya.
"Ah!" Dina memekik kecil saat lelaki di depannya menekan betisnya dari luar celana kain yang dia kenakan.
Lelaki di depannya melihat name tag di bagian kiri dada Dina dan membantu Dina duduk di atas kursi taman.
"Saya adalah pemilik hotel ini." Suara dalam lelaki itu terdengar sendu terbawa semilir angin.
Ucapan itu berhasil membuat Dina membeku dan tidak berani mengangkat kepalanya. Dalam hati bertanya maksud dari perkataan lelaki ini barusan.
"Maafkan saya. Saya tidak tahu jika Anda adalah pemilik hotel ini." Dina menjawab lirih.
Rasa sakit di kakinya setengah sudah tergantikan dengan adrenalin yang entah datang darimana. Jantung Dina berdetak sedikit lebih cepat.
"Kamu tidak mengerti maksud perkataan saya, " terang lelaki di depan Dina.
Dina mendongakkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan. "Maksud perkataan Anda apa?"
"Saya tidak membuat peraturan untuk dilanggar sembarang orang, " jawabnya melirik roti isi dan air mineral yang berada di lantai tepat di samping kursi yang didudukinya saat ini.
Dina mengikuti arah pandang lelaki di depannya dan rasa sakit Dina hilang seketika. Keringat mulai bermunculan di telapak tangannya.
"Tapi saya menyelamatkan Anda barusan," tukas Dina pelan.
"Saya tidak butuh diselamatkan."
Dina bertanya, "Lantas kenapa Anda keluar dari lingkup aman pagar pembatas?"
"Bukan urusan kamu," jawab lelaki itu dingin.
Dina bergumam kecil seraya menunduk. "Tapi itu juga melanggar aturan hotel, bukan sih?"
Lelaki di depannya mengeluarkan napas kalah mendengar suara Dina yang terdengar olehnya. "Ya sudah, kali ini saya akui kita sama-sama salah."
Dina bernapas lega mendengar pemilik hotel di depannya berkata demikian.
"Kaki kamu sudah gak sakit?" tanya lelaki di depan Dina.
Dina menggerakkan kakinya dan tidak lagi merasakan sakit yang menusuk seperti di awal.
"Tidak apa, pak. Saya sudah tidak lagi merasakan sakit seperti di awal."
Lelaki itu mengangguk. Dina akui dirinya tidak tahu siapa nama pemilik hotel tempatnya bekerja saat ini.
Lelaki di depannya tiba-tiba bergerak ke samping Dina untuk mengambil roti isi dan air mineral miliknya.
"Jangan diulangi lagi. Kamu bisa makan di ruang khusus karyawan." Lelaki itu terdiam melihat dua roti isi sederhana yang berada di genggamannya kini. "Rotinya isi selai apa?"
Dina menjawab pertanyaan bosnya dan setelah itu melihat sang pemilik hotel mengeluarkan dompet.
"Saya beli kedua roti ini." Lelaki itu memberikan Dina lima lembar uang seratus ribu. "Kamu bisa membeli makanan yang lebih baik untuk diri kamu sendiri hari ini."
Dina terdiam melihat roti isinya yang berganti lima lembar uang merah di genggamannya. "Saya tidak apa, Pak." Dia merasa lelaki di depannya ingin membuat kompensasi untuk dirinya.
"Saya sudah kasih kamu, jadi kamu harus terima," sanggah bosnya.
Dalam hati Dila merasa bingung. "Kapan aku setuju buat jual roti isinya?"
"Kamu lapar?" tanya lelaki itu.
Dina tentu saja otomatis menganggukkan kepala tanpa sadar.
"Ini saya kasih satu roti isi," ucap lelaki di depannya kalem.
Mendengar perkataan bosnya, Dina sedikit merasa lucu, tetapi dia masih tetap terlihat biasa saja dari luar. "Saya sudah kenyang, Pak!"
"Gak usah malu."
Dalam hati Dina berkata, "Siapa yang malu?"
Satu hal yang tidak diketahui orang lain selain keluarga dari pemilik hotel itu sendiri adalah lelaki itu sangat suka dengan selai kacang.
Siang itu ada dua orang yang akhirnya melanggar aturan dengan makan di tempat umum milik hotel.
***
Dua minggu kemudian.
"Dina, kamu mau bertemu pak Alden?" tanya seorang sekretaris saat Dina berada di depan ruangan bosnya.
"Iya Kak, saya mau antar roti isi ini." Jawab Dina sembari mengangkat kotak makan transparan di tangannya.
"Pak Alden lagi ketemu tamu penting dan belum balik ke ruangan."
"Kalau begitu, saya titip di Kakak boleh?" tanya Dina.
"Jangan deh. Pesan pak Alden kalau Dina yang harus antar roti isinya langsung tanpa perantara lain."
Dina menyanggupi kalah. Dia menyadari perubahan sikap Alden seminggu yang lalu. Saat dia sedang libur kerja.
Resiko bekerja di hotel, Dina tidak memiliki hari libur. Tetapi dia tetap dapat memilih tiga hari libur dalam sebulan bekerja.
Seminggu yang lalu, Dina tidak enak perut karena hari pertama datang bulan. Jadi dia memutuskan untuk meminta libur kerja tiga hari sekaligus.
Alden yang memiliki semua kontak karyawan di tangannya, menghubungi Dina yang tidak mengantarkan roti isi hari itu. Saat tahu Dina sedang sakit, Alden langsung menyuruh Dina untuk ke rumah sakit.
Dina dengan berat hati akhirnya harus menjelaskan sakit apa yang sedang dideritanya. Malu dan rasa nyeri menyiksanya di saat bersamaan.
Alden hanya terdiam saat mendengar penjelasan Dina dan tidak lama memutus sambungannya. Dina tertawa kecil sambil tetap menahan rasa sakit di perut dan kepalanya.
Memikirkan itu sekarang tetap bisa membuat Dina tersenyum, walau rasa malu tetap ikut menyelinap.
Dina kembali bekerja membersihkan ruangan hotel. Menunggu kedatangan bosnya yang entah kapan.
Kerelaan Dina untuk mengantar makan siang saat ini, karena dia dibayar untuk membuat roti isi. Satu roti isi dengan tiga lembar roti tawar dihargai lima puluh ribu dan setiap hari Dina harus memberikan langsung tanpa perantara.
Ini rezeki yang Dina tidak pernah sangka akan pernah didapatkannya. Cara yang unik dan tidak sulit.
***
Satu jam kemudian, Dina kembali ke ruangan bosnya setelah mendapat pesan melalui ponselnya.
Ruangan Alden berada di lantai satu bersama karyawan lainnya. Bedanya ruangan Alden di satu ruangan berbeda dan tertutup rapat. Saat ini Alden sedang duduk di sofa berwarna putih dekat jendela ruangannya.
"Maaf, saya lupa mengirim pesan kalau tadi saya sedang tidak di dalam ruangan." Alden melihat Dina lekat.
"Tidak apa, Pak. Kepentingan tamu itu adalah nomor satu." Dina mengucapkan salah satu aturan milik hotel.
Alden tersenyum mendengar ucapan Dina. Melihat Dina dengan tatapan hangat.
"Roti isinya, Pak." Dina menyerahkan dua roti isi. Tumben kali ini bosnya memesan dua roti isi.
"Kamu sudah makan?" Alden bertanya.
Pertanyaan Alden membuat Dina merasakan deja vu. Tapi, kali ini Alden tidak perlu membuat kompensasi apapun.
"Saya sekarang mau ke ruang istirahat karyawan untuk makan."
"Makan apa?" tanya Alden.
Dina memiliki perasaan aneh yang bergelut ingin membuktikan diri. "Mungkin membeli mie goreng di restoran depan hotel."
"Gak perlu. Temani saya makan di sini." Suara Alden terdengar menggema di kepala Dina. Memikirkan berbagai kejadian dari awal hingga hari ini.
"Pak, saya mau tanya satu hal." Dina berkata tanpa sadar.
"Ada apa?" balas Alden sembari mengeluarkan roti isi dari tempat makan.
"Kenapa bersikap baik seperti ini ke saya?"
Suara Dina terdengar kecil, tetapi Alden tetap bisa mendengarnya.
Sejenak tidak ada suara yang terdengar di ruangan. Dina merasa bahwa dirinya akan dipecat mempertanyakan hal seperti itu ke bosnya.
"Apa harus ada alasan untuk seseorang dapat berbuat baik?" tanya Alden balik.
Dina sedikit kesal mendengar pertanyaan bosnya. "Saya hanya penasaran. Anda bilang waktu di taman rooftop saya gak selamatin Anda," jawab Dina.
"Sudah gak usah dipikirin. Ini makan roti isi buatan kamu sendiri." Alden menyodorkan roti isi yang sedikit terlalu besar untuk Dina habiskan.
Di rooftop saat itu, Dina hanya menggunakan roti tawar biasa, tapi kali ini untuk penyesuaian harga dia mencari roti tawar premium yang lebih lebar, tebal, dan lembut.
Tok.
Tok..
Tok...
Sekretaris Alden masuk memberikan berkas. "Ini berkas pertemuan tadi yang sudah dikirimkan oleh tamu."
Alden mengambil berkas dan membacanya. Saat Dina melihat ke atas, sekretaris Alden memberikannya kedipan mata dengan tersenyum. Dina meringis kecil melihatnya.
Alden melihat Dina. "Kenapa?"
Dina menggelengkan kepala dan berkata, "Bibir saya kegigit sedikit."
Alden mengernyitkan dahi melihat Dina. "Sini saya lihat berdarah atau tidak."
"Nggak berdarah, nggak berdarah." Dina bersikeras.
Sekretaris Alden sudah tersenyum menahan tawa. Untungnya Alden masih fokus melihat Dina.
Pada akhirnya Dina tidak mendapatkan jawaban atas keraguannya.
***
Hanya dalam waktu semalam, rumor mengenai bosnya menyukai karyawan kantor menyebar luas secara merata di V hotel. Dina yakin seratus persen bahwa sumber rumor ini adalah sekretaris Alden.
Saat makan siang datang, Dina sedikit enggan memberikan roti isi. Selama perjalanannya ke ruangan Alden, hampir semua karyawan melihatnya. Baik secara terang-terangan ataupun gerilya.
Sekedar melihat boleh. Tetapi, sebagian besar karyawati jelas-jelas berusaha menusuk Dina dengan tatapan setajam silet.
Sekretaris Alden hanya tersenyum manis saat melihat Dina membawa kotak makan berisi roti isi. Dia hanya menghela napas melihat sekretaris satu ini.
Dina terlambat sepuluh menit datang ke ruangan Alden. "Maaf, saya habis dari kamar mandi sebelum ke sini."
"Kamu ikut bawa kotak makannya ke kamar mandi?" Alden mengangkat satu alis.
Dina merasa seperti menembakkan peluru ke kakinya sendiri. Dia benar-benar tidak pintar berbohong.
"Saya nggak ke kamar mandi tadi." Dina langsung mengakui ketidakjujurannya.
"Sekarang kamu bohong ke saya?" Alden menekan Dina untuk berbicara.
Dina menyesal sudah berbohong tanpa berpikir. "Sebenarnya Anda lebih pilih saya masuk kamar mandi bawa roti isi atau saya berbohong?" tanya Dina ragu dengan suara pelan.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan saya. Apa. Kamu. Bohong?" Alden menekan setiap kata.
"Saya tidak akan berbohong lagi." Dina menunduk sedikit merasa kesal.
"Tidak apa berbohong sesekali." Suara Alden terdengar dingin.
Dina melirik Alden bingung. "Maksud ... Anda?"
Alden tersenyum ke arah Dina. "Selama kamu tidak berbohong ke saya, kamu boleh sesekali berbohong."
Dina tersenyum setengah hati. Dia mengerti jika Alden kemungkinan sedang menggodanya. Tapi, bukan berarti dalam konteks mengajarinya bahwa berbohong itu boleh, kan?
***
Satu minggu lagi akan diadakan acara ulang tahun berdirinya V hotel di kota ini yang ketiga. Selama persiapan acara, Dina tidak membantu sama sekali. Dia tetap sibuk melayani tamu dan karyawan. Tetapi setelah adanya rumor yang beredar, perlakuan karyawan hotel jelas beda Dina rasakan. Jadi, Dina teralihkan ke pelayanan tamu.
Salah satu tamu adalah teman sekolah Dina. Namanya Damar. Dia sekelas dengan Dina selama dua tahun dan menjadi murid berprestasi di angkatannya.
Sebagian besar murid sekolah mengagumi Damar. Dia baik, pintar, dan ganteng. Dina juga kagum dengan Damar semata-mata hanya karena prestasinya.
"Kamu tidak melanjutkan sekolah?"
Damar yang mengetahui kepintaran Dina menyayangkan pilihan Dina saat ini.
"Aku mungkin akan lanjut sekolah setelah cukup mengumpulkan uang." Ini adalah salah satu rencana yang sempat Dina pertimbangkan.
"Kamu punya nilai yang mendukung untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi. Jangan berhenti ya." Damar tersenyum melihat Dina.
"Kalau nanti ada kesempatan lain yang datang, aku akan ambil." Dina memberi balasan.
Damar melirik ke arah belakang Dina dan sedetik kemudian terdengar suara dalam dan nyaring yang Dina hafal betul, karena hampir satu bulan ini dia bisa dengar.
"Dina, kamu sedang apa dengan dia?" Suara Alden terdengar dingin dan datar.
Dina menoleh ke samping dan merasa Alden sedikit lebih menakutkan dari biasanya. "Pak, ini saya sedang melayani tamu."
Damar terhibur melihat ekspresi tidak biasa dari Dina dan Alden. Dina yang tanpa sadar menjadi lebih serius dan Alden yang menjadi lebih dingin dari biasanya.
Alden melirik Dina dingin dan sekilas melihat Damar tanpa senyum.
"Ini sudah siang, jangan lupa antar makan siang saya sekarang." Alden mengusir Dina halus.
Dina yang mengerti maksud dibalik perkataan Alden hanya mengangguk dan berbalik pergi.
Alden melihat Damar secara seksama setelah tidak lama Dina kembali mengambil roti isinya.
"Calonnya Om Alden?" tanya Damar.
Alden masih diam melihat anak dari kakaknya ini. Bertanya-tanya ada hubungan apa dia dengan Dina.
"Bukan urusan kamu. Sama siapa ke sini?" tanya Alden balik.
Damar tersenyum miris mendengar ucapan Alden. "Sama ayah. Ada pertemuan dengan klien di hotel ini, sekalian kunjungin Om Alden."
Alden mengangguk dan berlalu begitu saja, tanpa menghiraukan keponakannya lagi.
"Om, aku mau ikut," ucap Damar.
Alden tiba-tiba berhenti di tempat. "Jangan jadi kayak anak kecil."
Damar masih belum menyerah bertanya tentang hubungan Alden dan Dina yang ditanggapi hanya dengan tatapan dingin.
***
"Ini roti isinya," ucap Dina setelah menyerahkan kotak makan di depan Alden.
Dina melirik Damar yang balas tersenyum ke arahnya. Dia mengira-ngira ada hubungan apa antara Alden dan Damar.
Damar dapat melihat jika Dina penasaran dan akhirnya membuka suara. "Bos kamu ini adalah adik dari mama saya."
Dina mengira jika Damar adalah teman beda umur dari Alden. Tidak menyangka, ternyata Damar adalah keponakan Alden.
"Keponakan kandung?" Tanya Dina takjub.
Pertanyaan Dina terdengar salah di telinga Alden. "Kamu mengatai kalau saya sudah tua?"
"Saya tidak ada maksud seperti itu." Dina menyangkal kuat.
Awalnya Dina murni takjub, karena menganggap dunia ini ternyata kecil. Tapi, setelah Alden bertanya, Dina kepikiran juga berapa umur Alden sekarang.
"Dia ini paman bungsu. Beda usianya jauh dari Mama saya. Om saya sekarang umurnya 29 tahun." Damar berusaha menjelaskan hubungannya dengan Alden.
Dina tersenyum mengerti, tetapi dalam hati dia tetap merasa kaget. "Bos Alden punya rahasia awet muda darimana?"
Alden tetap merasa sedikit gusar setelah mendengar perkataan Damar dan melihat ekspresi Dina yang tercetak jelas. "Kamu masih menganggap saya tua."
Kali ini Dina tidak menyangkalnya. Alhasil, Dina diberikan selembar uang berwarna merah oleh Alden dan tidak diizinkan untuk makan bersama dengan bosnya itu hari ini.
Dina tidak tahu, apakah ini adalah hukuman atau anugerah untuknya? Menerima uang dibandingkan dengan makan bersama bosnya. Dina yang sekarang tentu saja masih condong ke arah bunga uang.
***
Acara ulang tahun V hotel diadakan di ballroom hotel. Acara ini diadakan dengan meriah dan dengan pertunjukan antar karyawan berbakat. Sejauh ini hanya menyanyi dan bermain musik.
Dina hanya menjadi penonton setia yang terus dekat dengan buffet hotel. Hanya untuk bisa menikmati sepenuh hati makanan hari ini, dia rela puasa sehari semalam.
Dina tetap melayani karyawan lain jika ada yang meminta, tapi untuk hari ini dia juga bisa ikut menikmati makanan dari hotel. Mulai dari berbagai appetiser, main course, dan dessert. Semua minuman juga tidak lupa dia cicipi.
Dina makan diiringi suara merdu dari sekretaris Alden yang sedang bernyanyi di tengah panggung dengan background music lagu barat.
"Jangan makan berlebihan, Dina!" Peringatan itu datang tiba-tiba dari depan Dina.
Dina tersedak cheese cake blueberry favoritnya. Alden menyodorkan gelas berisi air berwarna oranye. Dina meneguk setengah gelas sekaligus untuk kembali pulih.
"Bos! Sudah makan?" sahut Dina.
Acara diadakan dari pagi hari hingga selesai. Sekarang jam sudah memasuki waktu makan siang dan Dina berpikir apa alasan bosnya datang menyapa.
Dalam hati Dina berkata, "Apakah Alden lebih memilih makan roti isi dibandingkan masakan chef bintang lima?"
"Belum makan siang. Mana roti isi saya?" tanya Alden kalem.
Pertanyaan Dina terjawab sudah. Tapi, dia tidak membawa roti isi hari ini. "Saya tidak bawa roti isi hari ini. Saya pikir Anda akan makan di acara hari ini, jadi saya tidak perlu bawa."
Dila meletakkan sisa cheesecake yang masih dipegangnya di atas meja kosong di pojok ruangan--dekat tempat berdirinya saat ini.
"Kamu perlu atau tidak perlu bawa itu urusan saya. Selama saya gak bilang apa-apa, jangan berasumsi sendiri." Alden menatap Dina dengan dingin.
"Baik, lain kali saya tidak akan berasumsi sendiri tanpa seizin Anda." Dina menjawab sedikit melenceng.
Alden yang mendengar ucapan Dina terlihat sangat puas. Kekesalannya hilang seketika. "Iya, kamu harus ikuti setiap perkataan saya."
Dina menganggukkan-anggukkan kepalanya cepat untuk mengakhiri pembicaraan kali ini. "Saya ambilkan makan siang Anda?"
"Hmm, jangan ambil appetiser, langsung main course." Alden menyendok sisa cheesecake di piring Dina.
Perilaku Alden yang memakan cheesecake di piring Dina membuat dirinya terkejut. Seperti tidak terjadi apa-apa, Alden melihat Dina yang masih diam di tempat.
"Tidak jadi mau ambilkan makanan?" Alden bertanya heran.
Dina berpikir cepat memikirkan alasan. "Saya mau bertanya, apa Anda memiliki alergi tertentu?"
Alden menjawab, "Tidak ada alergi."
Dina menanggapi positif dan berlalu mengambilkan makanan. Dia tersadar walaupun Alden tidak ada alergi, tapi belum tentu menyukai semua jenis makanan.
Saat berbalik badan untuk melihat posisi Alden, Dina mendapati Alden sudah duduk dengan tamu pentingnya lagi.
Dina sedang berada di samping panggung, ketika teringat sekretaris Alden. Dia bermaksud meminta pendapat.
"Kak ...." Dina menyapa sekretaris Alden yang baru turun dari panggung.
"Hai, Dina! Kebetulan ada kamu. Sini bantuin kakak."
" ...?" Dina melihat sekretaris Alden dengan mata bertanya-tanya.
"Karyawan yang menjadi MC sedang di kamar mandi dan belum balik. Kakak sudah nyanyi tiga lagu. Kamu bisa bantuin kakak buat unjuk bakat."
Dina tidak pernah tahu jika dirinya berbakat. Tapi, dia tahu jika dirinya tidak pernah bermain musik dan tidak pernah bernyanyi di depan umum.
"Kakak bercanda?" tanya Dina ragu.
"Dari jawaban kamu, kakak bisa tahu kalau kamu tidak ada bakat, bukan?" ejek sekretaris Alden.
Pertanyaan sekretaris Alden seperti pisau yang tajam di dua sisi. Dina merasa serba salah.
"Maaf Kak. Aku memang gak ada bakat." Dina lebih memilih mengakui kekurangannya.
"Jangan sedih. Kakak cuma bercanda ngajak kamu nyanyi," ucap sekretaris Alden.
" ...!"
"Kayak undian berhadiah, siapa tahu kamu sanggupin permintaan kakak? Pak Alden bakal senang lihat sisi baru kamu. Tapi, kalau nggak, juga gak apa sih." Sekretaris itu tertawa melihat wajah Dina.
Dina hanya menanggapi dengan lemah ucapan sekretaris di depannya. Berusaha mengingat kembali alasannya datang ke sekretaris ini di awal.
"Kak, pak Alden biasanya makan apa selain roti isi waktu makan siang?"
"Pak Alden selalu memesan makanan dari chef langsung dan biasanya kakak hanya antar makanan ke ruangan saja."
Berbekal ilmu seadanya dari sekretaris Alden, Dina pergi mengambil makanan.
"Ini buat pak Alden, ada rekomendasi?" tanya Dina kepada karyawan dapur.
"Makanan pak Alden yang menyiapkan adalah kepala chef langsung. Tapi, beliau biasanya lebih memilih makanan dengan rasa ringan dan tidak pedas."
Dina mengamini dalam hati dan akhirnya memilih nasi dengan ayam bumbu lada hitam dan capcay jamur kuping.
Berbalik badan dan hampir menabrak Damar yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu belum balik?" tanya Dina.
Damar menggeleng dan bertanya, "Kamu mau makan?"
"Bukan punya aku. Ini makanan untuk pak Alden." Dina melihat ke arah Alden di balik punggung Damar yang saat ini sudah mulai berdiri dan menghampirinya. "Sudah ditunggu sekarang. Saya duluan ya. Nanti ada yang marah kalau makanannya lama dateng."
Damar tertawa mendengar penuturan Dina. "Iya, semangat ya ngejer om Alden. Beda umur bukan halangan." Damar menepuk pelan pundak kiri Dina.
Dina membeku dan mengomentari dalam hati, "Siapa yang ngejer om Alden?"
Tanpa sadar Dina memanggil Alden dengan sebutan om Alden dalam hati.
"Dina, kamu kenapa lama sekali ambil makanan saya!" celetuk Alden dari belakang Damar.
"Panjang umur, baru diomongin sama Dina." Damar berbalik badan sembari mewakili Dina menjawab pertanyaan Alden.
Alden sudah memicingkan mata melihat bergantian ke Damar dan Dina. Sedangkan Dina sudah melotot melihat Damar saat bisa memproses ucapan yang terkesan menyalahinya.
"Ini makanannya. Mari saya bawakan ke meja Anda." Dina menjawab semanis mungkin. Dia buru-buru berjalan ke arah meja Alden.
Alden masih terlihat dingin dan akhirnya pergi mengikuti Dina yang sudah menuju meja makannya. Sementara itu, Damar tidak ikut ke arah yang sama setelah mendapat isyarat mata dari pamannya.
"Posesif banget om Alden. Harus kasih tahu mama." Damar menggerutu pelan.
***
Setelah acara ulang tahun, sikap Alden dengan Dina semakin terlihat berbeda. Dia bertanya mengenai pendapat pribadi Dina mengenai Damar.
Tidak mampu berkutik, akhirnya Dina hanya menjawab dengan hati-hati. Jika tidak, maka akan ada hati yang terluka.
Sekarang Dina dapat mengakui, bahwa bosnya menyukai dirinya. Entah sejak kapan dan bagaimana, biarlah tetap menjadi misteri antara mereka berdua.
Tersenyum dingin, Alden selalu melihat Dina dengan mata memicing setiap kali dirasa apa yang diucapkannya adalah tidak sesuai dengan ekspektasi.
Dina lelah. Setiap hari dia hanya akan berinteraksi dengan Alden di siang hari. Tetapi, aftereffect yang ditinggalkan Alden terus menghantui Dina di setiap langkah selama sisa harinya.
Dina merasa aneh. Alden lebih tua dan dewasa darinya, tetapi Dina seperti hanya melihat sikap kekanakan Alden setiap dia bertemu.
Dina merasa istimewa. Sikap Alden hanya berbeda di depannya. Atau itu yang Dina lihat dan harapkan.
Dina akhirnya jatuh juga. Alden berhasil membuatnya berharap sesuatu yang tidak pernah dia miliki sebelumnya.
Dina tersadar. Bahwa dirinya tidak setara secara latar belakang dan pendidikan.
Dina ingin menjauh. Tetapi, Alden tidak mengizinkannya.
Dina hanya bisa pasrah. Menerima semua yang diberikan Alden tanpa pamrih. Karena dia juga tidak bisa membalas setiap perlakuan Alden dengan intensitas yang sama.
Saat tiga bulan kemudian, Alden dengan lugas melamar Dina. Dia hanya bisa mengatakan, "Iya, saya menerima lamaran Anda."
Dina tidak sanggup membuat Alden marah. Dia tidak ingin membuat Alden kecewa. Apalagi membuat Alden sedih.
Alden menerima segala kekurangan Dina dengan lapang dada disaat Dina merasa selalu insecure di samping Alden.
Dina tidak pernah bertanya alasan Alden menyukainya. Tapi, Alden masih memberikan jawaban saat Dina tanpa sadar menyuarakan.
"Apa harus ada alasan untuk seseorang dapat mencintai orang lain?"
Jawaban Alden membuat Dina salah tingkah. Karena ini kali pertama Alden menyatakan rasa cintanya.
***
Satu bulan kemudian.
Pernikahan kedua mempelai--Alden dan Dina--diselenggarakan di V hotel bagian pusat. Ini disetujui oleh Dina saat keluarga Alden mengusulkannya.
Dina sudah tidak memiliki ikatan di kota ini, kecuali Alden sebagai calon suaminya.
Dina bagaikan seekor burung yang terbang bebas tetapi ingin mencari tempat yang dapat melindunginya dari hujan dan badai.
Dina lelah. Berkelana tanpa arah terus-menerus tanpa tujuan yang bisa dijadinkannya tempat istirahat.
Alden adalah tujuan Dina untuk mencari tempat yang aman dan nyaman di dunia ini. Merengkuh Dina dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dina melepas rasa lelahnya dan kembali berpijak ke bumi bersama Alden yang penuh perlindungan.
Dina sadar kalau dia yang sekarang dapat memulai perjalanan hidupnya kembali.
Janji Alden mampu membuatnya selalu merasa, jika dunia saat ini jauh lebih indah dari yang Dina telah lalui seorang diri.
***
💫 Dukung penulis dengan likes, votes, dan komentars! 💫