Zrash.. zrash.. zrash..
Hujan turun dengan begitu derasnya, aku Lira harus keluar rumah untuk membeli obat untuk ibuku. Sakit lambung ibuku kambuh di saat saat seperti ini. Hari ini aku baru saja pulang kerja dan mendapati ibuku sedang menangis kesakitan di kamarnya, karena panik aku langsung berlari ke kamar ibu, langsung memapahnya dan memberikannya air hangat untuk meredakan sakitnya. Aku mencari cari obat ibu tapi tidak ketemu, ternyata obatnya habis. Langsung saja tanpa berlama-lama aku pamit pada ibu tuk pergi ke apotek.
Dalam perjalanan hujan turun makin deras membuat tubuhku basah meski sudah memakai payung, namun tak ku hiraukan asal aku bisa membeli obat dengan cepat untuk ibu.
Obat sudah aku dapatkan, dan sekarang saatnya pulang. Hingga waktu pulang hujan tak kunjung berhenti. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari pulang tak menghiraukan lagi baju dan badanku yang sudah basah semua.
Dalam perjalan itu aku samar samar melihat ada satu mobil yang mengalami kecelakaan, sontak saja aku langsung berlari ke mobil tersebut.
"Duh, gimana ini kira kira orangnya gak papa kan ya? " ujar ku dalam hati.
Saat aku mendekat, ternyata di dalam mobil itu ada seorang laki-laki yang cukup tampan, meski ada wajahnya mengalir darah pun masih terlihat tampan. Segera aku cek dan ternyata dia masih hidup, segera aku cari handphone ku, aku cari cari di kantong baju atau celana tidak ada, baru aku sadar ternyata aku tak bawa handphone.
Dengan gugup aku mengambil handphone laki-laki tersebut di saku jas nya, saat tanganku mau mengambil handphone nya tiba tiba dia sadar dan menggenggam tanganku
"To.. long, ja.. ngan telepon siapa siapa, bawa aku pulang bersamamu". Ujar nya dengan terbata bata.
Aku dilema, di rumah, ibuku sedang sakit dan menungguku tuk pulang, tapi aku juga tak tega meninggalkan orang itu sendirian dan lagi dia sedang terluka
" Tolong bawa aku ", katanya lagi.
Sudahlah siapa suruh aku ini berhati lembut,aku bawa dia pulang ke rumah.
Sampai di rumah, langsung aku kasih obat tadi ke ibu dan membantunya minum obat.
" Kasihan kamu nak, baru pulang kerja langsung beli obat, hujan hujanan lagi ", kata Ibu
" Gak papa bu, biar ibu cepat sembuh. Oh iya bu, maaf aku bawa pulang seorang laki-laki ke rumah, dia terluka mau aku obati, ibu gak marah kan? "
"Gak nak, nanti suruh saja dia tidur di kamar tamu, udah malam juga, besok saja baru pulang".
" Iya ibu, terimakasih, aku keluar dulu ya bu".
Setelah dari kamar ibu, aku langsung berlari ke tempat laki-laki tadi istirahat, aku mengambil perlengkapan P3K ku untuk mengobati nya.
"Diam ya jangan bergerak, aku bersihkan dulu luka mu, mau aku balut ", Ucap ku padanya.
Dia menurut, tapi sesekali meringis kesakitan juga karena lukanya agak parah.
"Terimakasih sudah membantuku, nama kamu siapa biar aku ingat " , Ucap laki-laki itu.
"Gak apa apa, udah seharusnya juga sebagai manusia saling bantu, namaku Lira".
"Lira ya, baiklah sudah saya ingat. Itu bolehkah saya pinjam handphone mu tuk memberi kabar ke asisten ku? "
"Oke bentar aku ambil ".
Dia pun mengirim sesuatu ke asistennya tersebut, aku tak tau apa isi pesannya karena langsung dia hapus.
"Terimakasih banyak Lira, berkatmu aku selamat ". Laki-laki itu tak henti hentinya mengucapkan terimakasih.
Tak berselang lama, selesai lah aku dalam mengobati nya.
Aku kemudian ke kamar tuk mengganti bajuku yang basah, setelah itu ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk laki-laki tadi.
Aku dan dia duduk berseberangan dengannya tuk menikmati teh tadi, tak lama handphone ku bunyi, telepon masuk dari nomor yang tak aku kenal, coba ku tanyakan ke dia saja, siapa tau asistennya yang menelpon
"Emm anu, ini HP ku ada telpon dari nomor tak dikenal, apa ini asisten mu yang menelpon?"
"Coba aku lihat, iya benar, bisa berikan telponnya padaku?"
"Oh tentu ", Kataku sambil menyerahkan HP itu.
Dia pun agak menepi ke samping menerima telpon itu, setelah beberapa saat dia pun kembali lagi dan mengembalikan HP ku.
"Terimakasih Lira, kamu sudah banyak menolongku, aku harus pergi, asisten ku sudah sampai ".
Hah sampai secepat itu? ucapku dalam hati, baru saja telpon kok bisa sampai secepat ini.
Laki laki tadi pun segera pamit denganku dan tak henti hentinya mengucapkan terimakasih.
" Tunggu, aku belum tau namamu", ucapku sambil mengejarnya.
"Masalah nama gampang, kalau ada jodoh kita bisa ketemu lagi, nanti kamu juga tau siapa namaku", jawabnya lalu segera meninggalkan rumahku dan masuk ke dalam mobil.
"Apaan sih sok misterius banget, nama aja gak mau kasih tau", gumam ku dalam hati.
Hari sudah semakin malam, aku pun bergegas masuk ke dalam kamar karena sudah merasa lelah.
.........
Satu bulan kemudian
Hosh... hosh.. hosh..
Nafasku serasa mau berhenti, hari ini aku kesiangan, dengan langkah tergesa-gesa aku segera naik ke bus umum untuk menuju tempat kerja ku. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke sana.
Akhirnya sampailah aku di tempat kerja, buru buru aku duduk di tempatku karena waktu sudah sangat mepet. Tiba tiba teman di sebelahku bilang
"Eh Lira, kamu tau gak, hari ini bos besar mau datang, katanya dia ganteng banget loh, mimpi apa coba, bos yang selama ini tersembunyi akhirnya nongol juga", ucapnya dengan wajah berbunga-bunga.
"Emm aku gak tau, aku jadi penasaran seperti apa wajah bos kita ".
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, semua pegawai sudah berdandan rapi untuk menyambut kedatangan bos, aku sih biasa aja, gak peduli juga bos mau datang apa gak.
Terdengar langkah kaki yang sedang menuju tempat para pegawai berada, terlihat sang bos yang sedang berjalan dengan penuh kewibawaannya.
Saat sudah mendekat ke arahku, karena aku penasaran akhirnya aku beranikan diri tuk melihatnya, alangkah terkejutnya aku bos itu adalah orang yang pernah aku selamatkan. Karena malu, aku pun langsung menunduk.
Tiba tiba bos memanggil namaku
"Lira, ikut saya ke ruangan".
"Baik Pak".
Segera aku mengikuti langkah kaki bos, sampailah aku ruangan bos yang amat luas. Aku merasa gugup di dalam ruangan bos yang hanya berdua dengannya. Ditengah keheningan, tiba tiba bos bicara
"Halo Lira, ijinkan saya mengenalkan diri, saya Nevan bos dari perusahaan ini, waktu itu beneran terimakasih sudah mau menyelamatkan saya , sebagai permintaan maaf saya traktir kamu makan malam gimana?" Tanyanya setelah berbicara panjang.
Aku ternganga mendengar perkataan bos.
"Lira, hei Lira", panggilnya sambil menggerak gerakkan tangannya.
"I.. iya bos, maaf saya gak fokus".
"Haha, kamu pasti kaget ya, maaf maaf saya terlalu buru buru, tapi ajakan saya tadi kamu mau ya? ".
" Ajakan makan malam bos?", tanyaku.
"Iya, nanti malam ya jam 7 , saya tunggu di sini ". Ujarnya.
Malam hari pun tiba, tiba saatnya untuk ku makan malam dengan bos, gugup menyelimuti ku, bagaimanapun ini pertama kalinya aku makan malam dengan bos yang wajahnya juga tampan.
Tibalah kami di sebuah restoran, sebuah restoran bernuansa tenang dan romantis, kami makan malam dengan begitu nikmatnya dan sesekali mengobrol, di tengah obrolan dia bilang kalau selama ini dia tidak pernah lupa denganku, orang yang menolongnya saat dia dalam keadaan lemah.
Makan malam pun berakhir, sebelum kami pulang, tiba tiba bos meminta waktu tuk berbicara berdua denganku
"Lira, aku menyukaimu. Selama ini aku gak bisa melupakanmu sejak saat itu kau menolongku, ku mohon jadilah kekasihku, terlepas dari status kita di perusahaan".
" Hah jadi kekasih bos? " tanyaku bingung
"Iya, panggil aku Nevan jangan bos. Jadi gimana, maukah kamu jadi kekasih ku? " Tanya nya memastikan.
Setelah aku berpikir sejenak, akhirnya aku menerimanya. Dia pun memelukku, bahagia rasanya.
END^