Hai, ini aku coba ganti judulnya krn dri kmrin review terus 😭
------
Awalnya semua berjalan lancar tak ada sesuatu yang mencurigakan dalam rumah tangga kami. Canda dan tawa selalu menghiasi keseharian kami sejak SMP, dan akhirnya kami memutuskan menikah sejak 1 tahun yang lalu.
"Sayang besok aku akan melakukan perjalanan dinas ke luar kota mungkin selesainya malam"
"Hem tak masalah yang penting kau berhati-hati disana"
Cup
Rendra adalah nama suamiku, dan aku Gleysa istrinya. Ia bekerja di salah satu bank swasta sedangkan aku bekerja sebagai penulis buku, yang mana membuatku lebih sering berada di rumah.
.
"Sayang aku berangkat dulu sampai jumpa nanti malam ya"
"Iya sayang hati-hati di jalan. Jangan lupa menghubungiku setelah sampai"
"Iya tenang saja aku akan menghubungimu. Bye"
Namun.....
Sudah lebih dari 3 hari sejak ia pamit ke luar kota tanpa memberiku kabar sama sekali. Aku menghubungi kantornya dan bertanya perihal jadwal suamiku namun mereka berkata, bahwa Rendra meminta perpanjangan waktu dinas luar kotanya.
Sungguh aneh, biasanya ia akan menghubungiku terlebih dahulu untuk meminta persetujuanku tapi sekarang ia hilang bagai di telan bumi.
Waktu berlalu, sudah seminggu sejak kepergiannya tanpa memberikanku kabar sama sekali. Bahkan setiap kali aku menelepon nomornya selalu tak aktif.
Aku selalu berpikir positif, mungkin saja pekerjaannya sangat banyak.
.
"Sayang kenapa kau baru kembali dan kenapa tak menghubungi sama sekali ?" tanyaku sambil memeluk sosok yang sangat aku rindukan itu. Rendra baru saja kembali ke rumah setelah 10 hari ia dinas ke luar kota.
"Maaf aku sangat sibuk dan disana susah sinyal sayang" jawab Rendra sembari buru-buru melepas pelukanku.
"Oh ya sudah. Kau ingin mandi ? Aku akan menyiapkan air untukmu" ucapku seraya memaksakan senyum.
"Tak perlu aku akan menyiapkannya sendiri. Kau memasak saja untuk makan malam nanti ya" jawab Rendra langsung melangkah perlu ke arah kamar.
Aku hanya memandangi senduh dirinya yang sudah menghilang di balik tembok sana. Mungkin ia sangat lelah, pikirku positif.
Aku mencoba mengumpulkan kembali semangatku dan mulai melanjutkan masakan yang sudah aku selesaikan sebagian.
Aku meletakkan beberapa lauk pauk kesukaan Rendra dan menatanya dengan sangat rapih di atas meja makan. Aku memutuskan memanggilnya di kamar karena sudah hampir sejam ia belum turun juga.
"Sayang" panggilku melihat sekeliling yang ternyata kosong. Aku mendengar suara shower yang masih menyala yang menandakan sang empuhnya masih mandi.
Sungguh aneh, tak biasanya Rendra mandi sangat lama. Aku ingin mengetuk pintu kamar mandi sebelum akhirnya aku mendengar sesuatu yang sangat aku hafal.
Suara desahan yang cukup terdengar jelas di pendengaranku meski pun suara di dalam sana setengah berbisik.
Rendra tak memanggil namaku melainkan nama wanita lain. Aku sangat syok. Sungguh aku terkejut. Nafasku naik turun dengan emosi yang membludak tapi aku coba menahannya.
Suara desahan itu terdengar sangat merdu di dalam kamar mandi, membuat aku merinding dan menangis secara bersamaan.
Aku terlalu syok sampai aku hanya bisa berdiri kaku di depan pintu kamar mandi.
Klik.
Suara pintu terbuka dan aku buru-buru menjauh dari pintu itu.
"Eh" Rendra pun terlonjak kaget melihatku sedang berada di kamar. Ia salah tingkah dan berusaha menormalkan kembali wajahnya.
"He'em apa kau sudah selesai memasak ? Aku sangat lapar sayang" ucapnya sembari berjalan terburu-buru keluar kamar. Ia sudah memakai baju gantinya dari dalam kamar mandi. Tak seperti biasanya ia seperti itu.
"Iya aku baru saja masuk ingin mengajakmu makan. Ayo kita makan" ucapku menggandeng tangannya turun ke bawah. Aku berusaha menahan air mataku agar tak jatuh.
Kami pun makan malam dengan suasana yang hening. Hanya terdengar suara sendok beradu. Beberapa kali tatapan kami berbenturan, namun yang aku lihat hanya sebuah tatapan penyesalan terpantul dari matanya.
Suara canda dan tawa yang biasanya kami perlihatkan pada satu sama lain seakan tak pernah terjadi. Kami larut dalam pikiran kami masing-masing.
Selesai makan kami langsung menuju kamar untuk berisitirahat, dan untuk kesekian kali pun aku terkejut akan perubahan dirinya. Ia biasanya akan memelukku ketika tidur, tapi sekarang ia seperti menjaga jarak dariku.
Waktu semakin larut, Rendra sudah tertidur nyenyak sedangkan aku masih memikirkan hal tadi. Aku memperhatikan wajahnya baik-baik, sosok tampan dan baik yang sangat aku cintai. Meski pun kami belum memiliki anak, namun pria itu tak mempermasalahkannya.
Aku terus memperhatikan wajah damainya, sampai disatu titik aku menemukan bercak merah di lehernya. Aku syok dan kembali terkejut. Sejak kapan tanda itu ada karena biasanya ketika kami sedang berc*nta lelaki itu tak ingin ada bekas merah di lehernya.
Tanganku gemetar menyentuh bercak itu, aku sungguh berharap itu bukan seperti yang aku pikirkan. Namun semua itu terbantahkan dengan apa yang aku lihat sekarang. Bajunya yang tersingkap sedikit ke atas memperlihatkan bercak-bercak merah yang sama persis.
Aku mengangkat bajunya dengan penuh ke hati-hatian, dan apa yang aku lihat sangat melukai hatiku. Bercak merah yang sangat aku tahu berasal dari mana, terlihat jelas sampai di dada bidang itu.
Aku menangis dan menutup mulutku erat-erat berusaha agar tangisku tak pecah saat itu juga.
Sejak saat itu semua berubah, hanya ada kehampaan dalam rumah tangga kami. Rendra tak pernah menyentuhku sama sekali sejak kepulangannya 1 bulan yang lalu.
"Sayang, aku akan melakukan perjalanan dinas kembali besok. Mungkin sekitar seminggu aku akan kembali"
"Iya hati-hati ya" balasku tersenyum
.
Aku berada di dalam taksi sedang membuntuti mobil yang berada tak jauh di depan. Aku sungguh gugup dan sangat was-was. Aku takut apa yang aku pikirkan selama ini adalah kebenaran.
2 jam perjalanan yang bagiku terasa 1 hari, membuatku sangat lelah mungkin karena tekanan yang aku rasa.
"Nona, apa anda ingin turun disini atau saya parkir sampai di depan lobby ?" Suara dari sopir taksi itu membuyarkan lamunanku. Aku melihat sekeliling dan menemukan sebuah hotel yang tidak terlalu mewah ada di seberang sana.
"Ah sudah sampai. Saya turun disini saja. Apakah mobil yang tadi masuk ke hotel ini ?"
"Betul nona"
"Baiklah. Terima kasih" aku membayar dan memberi sedikit tips untuk sopir tersebut.
Aku berjalan ke arah lobby dengan kaki yang kian lama makin gemetar.
"Permisi, saya ingin memesan kamar dekat dengan kamar yang lelaki tadi pesan" ucapku pada resepsionis. Aku sempat melihat Rendra memesan kamar dan berlalu pergi.
"Ah iya nona. Silahkan lakukan pembayaran"
"Terima kasih"
Aku sudah berada di dalam kamar yang tepat berada di sebelah kamar Rendra. Menunggu waktu yang tepat untuk memperjelas semuanya.
Waktu sudah semakin larut, aku mengecek handphone milikku berharap ada pesan dari orang yang ada di sebelah kamar ini namun hasilnya nihil. Aku mencoba meneleponnya namun tak diangkat sama sekali.
Menunggu dan menunggu, hanya itu yang aku lakukan sampai rasanya mataku kian berat dan aku tertidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika aku terbangun karena suara yang cukup berisik datang dari kamar sebelah, cukup terdengar karena memang ini bukan hotel mewah.
Aku mencari dari mana asal suara itu, suara yang membuatku sangat merinding.
Deg
Aku terkejut ternyata suara itu berasal dari kamar Rendra. Aku terdiam cukup lama sampai akhirnya aku memberanikan diri berdiri di depan pintu yang akan menentukan nasib rumah tangga kami kedepan.
Aku memutuskan pergi ke meja reseptionis untuk meminta tolong membuka pintu kamar Rendra karena tak mungkin aku mendobrak benda kayu itu.
Awalnya mereka menolak, namun setelah aku menjelaskan situasinya dan mengancam mereka untuk aku laporkan ke kantor polisi akhirnya mereka menyetujuinya.
Aku dan beberapa staf hotel berjalan cepat ke tempat yang menjadi tujuanku. Aku terdiam sejenak dan masih mendengar suara laknat itu.
Aku memberi isyarat pada mereka untuk membuka pintu. Perlahan pintu itu terbuka semakin lebar menampilkan pemandangan yang sangat menjijikan bagi kami semua, terlebih diriku. Membuatku seketika mual dan hampir pingsan.
Objek di depan sana sangat terkejut melihat kami, terlebih laki-laki itu yang sedang berada di atas seorang wanita sedangkan di atas wanita itu ada seorang wanita lagi. Berbagai alat-alat yang tak ku ketahui fungsinya terdapat di atas tempat tidur dan lantai kamar.
Aku melihat dengan jelas kedua wanita itu sangat menikmati perc*ntaan panas yang diberikan oleh Rendra meski pun sekujur tubuh mereka mengeluarkan darah.
Rendra berdiri dan memakai piyamanya, ia berjalan menghampiriku yang sudah tumbang berada di dekapan seorang staf wanita.
"Sa..sayang.. i..ini a..aku bisa jelaskan" ia berucap lirih dengan mata berkaca-kaca sambil memegang tanganku. Aku langsung menepisnya kasar dan memandangnya penuh dengan rasa jijik.
"Dasar sialan !!"
PLAK
PLAK
PLAK
3 tamparan aku layangkan ke pipi mulusnya yang seketika mengeluarkan darah segar dari sudut bibir itu.
Aku menangis dan meraung kencang, mendorongnya agar tak mendekatiku.
"Ma..maaf sa..sayang hiks" ucapnya sambil menangis di hadapanku. Aku sudah seperti mayat hidup yang hanya memandangi nya datar dengan penuh kebencian.
"Jadi ini yang membuatmu berubah ? Kalau aku memang tak bisa memuaskanmu silahkan kau bersama mereka" ucapku seraya bangkit berdiri dan melangkah menuju kasur yang sudah sangat berantakan dengan darah dimana-mana.
Rendra mengikutiku dan berusaha memelukku tapi aku menolak dengan tegas.
Aku sungguh jijik, sangat jijik. Aku sangat ingin memukul kedua wanita itu yang memandangku penuh ketakutan, namun satu hal yang membuatku lebih terkejut lagi karena mereka berdua masih sangat kecil.
"Berapa umur kalian ?" tanyaku datar.
" 11 ta..tahun"
Aku menghela nafasku berat dan berusaha sekuat tenaga menahan air mataku yang ingin jatuh kembali. Rendra sudah berumur 29 tahun dan ia menggagahi bocah yang seharusnya lebih cocok menjadi anaknya saja.
"Sejak kapan ?" Aku berbalik dan menatap datar Rendra yang sudah gemetaran.
"Sa..sayang a..aku"
"JAWAB !!" teriakku lantang. Semua staf hanya bisa membatu di dekat pintu tak berani ikut campur.
"Se..sejak se..sebulan yang lalu sa..sayang" ucapnya ingin meraih tanganku tapi tetap aku tepis kasar.
Aku menghela nafasku lemas, berarti sejak kepergiannya waktu itu. Aku menatapnya dengan rumit dan penuh kekecewaan. Kalau dugaanku benar, berarti ini sangat berbahaya. Lelaki itu harus segera ditolong. Aku berjalan mendekat ke arahnya dan memegang pipinya yang aku tampar tadi.
"Apakah kau sakit hem ?" Tanyaku lembut setelah berhasil menguasi emosiku.
"Sa..sayang hiks.. ma..maaf" lelaki itu memelukku erat seakan sangat takut aku tinggalkan. Tubuh kekarnya bergetar hebat, aku tak pernah melihatnya seperti ini.
"Ma..maafkan a..aku ja..jangan tinggalkan a..aku hiks"
Akhirnya air mata yang aku coba tahan agar tak jatuh lagi luruh begitu saja. Aku memeluknya erat berusaha menghapus bayang-bayang menjijikan itu.
"A..aku sa..sakit sa..sayang. Ma..maaf tak memberitahumu.. hiks"
"Se..seharusnya kau katakan padaku hem ? A..aku mungkin bisa me..membantumu Ren. Se..seharusnya kau la..lakuan itu pa..daku ja..jangan pada orang lain" ucapku menangis sambil memukul pinggungnya.
"Ma..maaf sa..sayang aa..aku takut akan menyakitimu tak mu..mungkin a..aku memukulmu. A..aku tak ingin ka..u terluka"
"Kau memang tak menyakiti fisikku Ren, tapi ka..u menyakiti hatiku hiks hatiku sa..sangat sakit dasar kau brengsek !!" Teriakku diakhir kalimat.
"Ma..maaf"
Aku melepaskan pelukannya dan memandangi wajah yang sangat aku cintai sekaligus yang telah mengecewakanku.
"Aku memaafkanmu tapi maaf kita harus bercerai"
"A..apa ? Ti..tidakk a..aku tak mau sayang hiks tidak" ucap Rendra histeris sambil memelukku kembali dengan sangat erat.
"Maafkan aku yang mungkin selama ini belum menjadi istri yang baik untukmu hem ? Maaf kalau selama ini aku kurang memperhatikanmu dengan baik sehingga kau menyimpang seperti ini"
"Ti..tidak sa..sayang ja..ngan tinggalkan aku ti..dak hiks"
"Maafkan aku tapi keputusanku sudah bulat. Mari kita bercerai hem ? Meski pun kita berpisah kita akan menjadi teman hem ? Aku akan menemanimu berobat. Apa kau mau ?"
"A..aku mau tapi ja..jangan tinggalkan aku"
"Hei, aku sudah bilang kita akan tetap bisa berteman. Hanya saja kita sudah tak terikat oleh status apapun. Kalau kau beruntung, ketika kau sudah sembuh dan saat itu kita masih memiliki rasa yang sama mungkin kita bisa rujuk kembali. Asalkan kau mau berobat dan sembuh"
"Ba..baiklah" akhirnya Rendra menyetujui hal ini. Aku tahu ia pasti terluka karena telah melukai hatiku, dan mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa membuatku mempercayainya. Tapi aku juga tak mungkin meninggalkannya sendiri disaat masa terburuknya.
Lelaki ini adalah lelaki terbaik sebelum hari ini. Dulu ia memperlakukanku dengan saat baik, menjagaku dari orang-orang yang membully ku ketika sekolah dulu.
Aku dan Rendra sudah mengenal sejak SMP, dan hanya dia yang ingin berteman denganku tulus. Ia adalah teman pertamaku di sekolah ketika semua orang menjahuiku, mencemo'ohku, menyakiti fisik dan hatiku, dan aku pun akan melakukan hal itu untuknya sekarang.
Aku akan membantunya sembuh dari penyakitnya agar ia bisa normal kembali.
.
Tak terasa sudah 6 tahun aku tinggal di apartmentku bersama sosok bocah lelaki tampan berusia 5,5 tahun. Dulu ketika aku menemani Rendra berobat, aku merasakan tubuhku cepat lelah, sering pingsan dan porsi makanku bertambah banyak.
Rendra yang kala itu sedang menjalankan pengobatannya sangat khawatir melihatku lemah, ia memaksaku untuk memeriksakan diri. Alangkah terkejutnya kami mendapati kenyataan bahwa aku hamil 3 bulan.
Tentu saja kami sangat bahagia walau pun kami sudah bercerai namun kami berdua saling mendukung satu sama lain.
Dengan kehamilanku pada saat itu, Rendra semakin rajin berobat dan ingin sembuh dengan cepat. Ia ingin menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak, dan masalah dua anak perempuan yang dulu sempat bersama Rendra sudah di selesaikan secara kekeluargaan, Rendra juga membayar komisi yang sangat besar, dan juga karena memang kedua anak itu tidak melakukannya secara paksa meski pun kenyataannya Rendra sempat di tahan 2 tahun sebagai bentuk rasa bersalahnya.
Ting.
Ting.
Bunyi bel terdengar menandakan ada orang yang datang. Aku berjalan ke arah pintu dan melihat sesosok pria yang terlihat lebih dewasa di usianya yang sudah 35 tahun.
"Hai" ucap pria itu tersenyum hangat padaku. Ini pertama kalinya kami bertemu sejak 3 bulan yang lalu saat dinyatakan bahwa lelaki di hadapanku ini telah sembuh total, ia pamit untuk mengurus bisnis yang ia bangun dari nol ketika keluar dari penjara 4 tahun yang lalu. Ia bekerja keras untuk bisa memperbaiki hidupnya yang rusak, demi masa depan yang lebih baik. Dengan keteguhannya itu, ia berhasil membuat bisnis restorannya berdiri tegak.
"Hai" balasku tersenyum sambil menahan air mataku. Ternyata 6 tahun tak mengubah rasa cintaku padanya, meski pun sempat disakiti dengan sangat dalam namun aku tahu lelaki yang ada dihadapanku sekarang sudah berusaha melakukan yang terbaik untukku dan anak kami.
Aku memeluknya dengan sangat erat seraya bersyukur Tuhan masih memberikan kami kesempatan bersama dengan pribadi kami yang jauh lebih baik.
"DADDY !!"
"Oh boy daddy sangat merindukanmu"
Kami bertiga berpelukan dengan sangat erat seakan tak ingin terpisahkan lagi.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku dan terima kasih masih mau menerimaku yang penuh kekurangan ini. Aku tak akan menyakitimu lagi. Aku tak akan pergi lagi. Aku akan menempel terus pada kalian berdua" ucap Rendra berbisik di telingaku.
"Hem terima kasih karena sudah berubah menjadi Rendra yang lebih baik. Aku juga mencintaimu"
Kami saling berpandangan penuh rasa cinta. Sungguh aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena cinta diantara kami berdua tak hilang justru malah semakin bertambah.
Masa lalu yang buruk mengajarkan kami untuk lebih saling terbuka.
Masa lalu yang buruk membuat kami kuat dihari ini.
Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua selama ia mau berubah menjadi manusia yang lebih baik.
TAMAT