Di hari sabtu yang indah itu.Diani seorang gadis desa yang cantik dan juga berwibawa di hadapan semua orang, bertemu dengan seorang lelaki yang sangat tampan. Entah itu adalah kecelakaan atau keberuntungan, Saat laki-laki itu menabraknya dan membuat debaran di jantungnya. Hatinya yang dulunya dingin hampir terkupas hanya dengan satu pegangan dan satu tatapan.
"Hai, apa kau tidak apa-apa?" Tanya sang pria tampan itu, sambil melihat Diani yang seakan-akan menjadi batu.
"Ya aku tidak apa." Jawab Diani dingin.
"Kalau begitu berdirilah, tanganku pegal. Dasar gadis Desa." Dengan tatapan yang dingin pula.
Seketika Diani bangun meminta maaf dan pergi, Tanpa menoleh ke pria itu.
Diani yang kesal kembali kerumah, dan tanpa di sengaja pria itu ada di rumahnya. Diani yang kaget bertanya kepada ayahnya.
" Siapa dia ayah?" tanya diani polos.
"Dia anak teman ayah yang pernah ayah ceritakan padamu dulu. Apa kamu menyukainya ?" Tanya ayah Diani balik.
"Aku tidak akan pernah menyukai pria laknat seperti itu. Kalau begitu aku mau ke kamar dulu Yah, eh sebelumnya dia akan tinggal disini berapa lama? Kalau dia benar tinggal di sini jangan pernah boleh menyentuh tanamanku, bisa-bisa mati nanti." Ucapa Diani Ketus.
"Jaga mulutmu Diani. Apa kamu akan menjadi gadis tak bermatabat ?" Ucap ayahnya yang membuat diani menangis menuju kamarnya.
Ya ayah Diani memang kaya, ambisius dan sayang anak, tapi dia tidak akan segan-segan menghukum diani apa bila diani melakukan kesalahan. Karena Diani adalah anak keluarga terkaya ini satu-satunya.
Sore hari yang cerah di sebuah bukit belakang rumah Diani. Gadis yang baru lulus kuliah jurusan ekonomi ini adalah gadis yang pintar dan pantang menyerah. Walaupun dia banyak laki laki yang mengejarnya namun dia menolak katanya
" Karena dia yakin jodoh bukan di tangan para manusia itu tapi di tangan tuhan jadi aku masih belum bisa memutuskan". Katanya yang membuat ayahnya tertegun.
"Huft besok aku harus menjalani hidup baru di perusahaan, apa aku bisa ya ?" Gumamnya sambil duduk memandang matahari di bukit.
"Kau kan payah pasti tidak bisa. Biarkan saja perusahaan itu menjadi milikku" Ujar seseorang dari belakang ku.
"Siapa ?" Sambil menoleh dan
"Oh kamu ku kira siapa. Kamu yang mau di jodohkan dengan ku ya ? Tidak ku sangka kamu ambisius juga." Ujar Diani meledek.
" Ya aku memang ambisius, tapi kalau aku boleh bertanya, kok kamu bisa tau kalau kita di jodoh kan ? Bukannya kamu anak yang ceroboh dan tidak bisa berfikir ya ?" Sahut sang laki laki itu meledek Diani.
" Apaan sih aku tuh jenius tau. Ya kalau kamu gak percaya ya udah, dan lagi aku tau itu semua dari ayah." Sahut Diani menjawab pertanyaan konyolnya.
"Kamu gak marah aku nuduh kamu kayak gitu ? dan lagi kamu gak sakit hati sama omongan ku ?" Memelas.
"Enggak!" Dingin.
" Kok enggak sih ? ih gak seru" Memelas.
" Dasar anak mama"
" Kamu tuh ya". Mulai geeget.
Mereka terus bercerita yang disisi lain ayahnya Diani melihatnya. Entah apa yang membuat perasaan lega yang tersampaikan di raut wajahnya namanya juga ayah.
"Eh iya siapa namamu ?"
"Firanda. panggil aja Fir. Lalu nama mu Diania Anjas kan ?"
" Iya salam kenal Fir."
" Salama kenal kembali. Btw aku di sini bertugas untuk membantu mu di perusahaan besar itu. Apa kamu tidak keberatan ? Soalnya kan kita di jo" Kata yang tak sampai usai karena sudah terpotong dengan kata-kata Diani.
" Kalau begitu mohon bantuanya aku sangat mengharapkan batuan dari kamu Fir. Dan lagi aku gak akan keberatan kalau kamu gak akan bilang pejodohan lagi."
"Iya."
*KE ESOKAN HARINYA*
Sekarang Diani dan Fir telah sampai di kantor
" Fir, tolong siapkan materi untuk rapat pemegang saham" Diani yang berlaku sebagai bos.
"Iya bu." Fir yang menjadi asisten dari asisten Diani.
Setengah jam kemudian mereka mulai rapat. Rapat satu Setengah jam itu membuat Diani pusing, ya pusing yang membuatnya menghentikan rapat dibtengah tengah dan membuat rapat itu do undur untuk minggu depat.
"Huft pusing" Dalam hati Diani.
" Bu Diani, apa anda akan kembali ke kantor ?" Tanya Nada asiaten Diani.
"Tidak, aku akan maka siang dulu. Baru nanti akan kembali ke ruanganku" Ujarnya
"Oh iya bu, kalau begitu saya kembali dulu !" Kwan Nada.
"Nada apa kamu tidak bisa menemaniku makan siang ? " Tanya Diani.
"Maaf bu. Saya sudah ada janji makan siang" Jawab Nada, terbata bata.
" Ya sudah. Kamu boleh pergi"
Tanpa berpamitan si Nada langsung menghilang. Sesampainya di Cafe dekat kantornya, dia menjumpai sesosok pria yang tidak asing.
"Hai, apa aku boleh duduk disini ?" Sambil menarik dan membuat laki laki itu terkejut.
"Oh Diani. Bagaimana kamu bisa disini?" Tanya laki laki itu.
" Aku sedang lewat saja, maaf membuat mu terkejut"
" Oh iya. Ya sudah duduk lah"
"Iya Jor".
Setelah itu mereka memesan makanan dan makan dengan tenang. Disisi lain ada yang cemburu, siapa lagi jika bukan Fir.
" Kenapa mereka terlihat sangat akrab ? Apa hubungan mereka ? Tidak tidak aku tidak boleh menyerah" ujar Fir dari kejauhan.
"Ya sudah Jor terimakasih" bergegas ingin pergi.
"Eh Di, ada yang mau kutanyakan. Bagaimana jawaban kamu atas apa yang aku tanya kan ?"
"Jawaban nya adalah maaf."
Jordan tersenyum dan tidak berkata apa apa lagi.
Beberapa minggu pun berlalu, Fir yang merasa kesal dengan Diani tiba-tiba pulang kekota tanpa berkomunikasi dengan Diani. Disisi lain Diani sangat sibuk dengan urusanya sebagai bos baru.
Beberapa bulanpun berlalu tapi Diani dan Fir masih memikirkan satu sama lain tanpaereka sadari.
"Bagaimana kabarnya, kenapa aku terus memikirkan Diani dan teman cowoknya itu, apa hubunganya denganku ?" Ucap Fir dalam hati.
"Kenapa waktu itu Fir buru-buru pergi ya ?" Pikir Diani.
*BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN*
Mereka tanpa sengaja di pertemukan di sebuah acara lelang yang menghadirkan beberapa tokoh terpandang di kota itu. Mereka bertemu dan memuji satu sama lain, berbincang dan sampailah pada suatu perbincangan bahwa Mereka sama - sama menyanyangi dan menghawatirkan satu sama lain.
Seminggu setelah itu Fir datang bersama orang tuanya untuk melamar Diani. Gadis yang di fikirkan dia sejak pandangan pertama.
Diani terlihat tersipu malu di hadapan keluarga Fir, dan akhirnya ditetapkan bahwa pernikahanya adalah bulan depan.
*DUA MINGGU SEBELUM PERNIKAHAN*
"Fir, kamu besok bisa ikut aku nggak ?"
"kemana?" tanya Fir
"Ke mama, aku merindukannya, kita sudah akan menikah, jadi aku sangat merindukanya"
"Besok pagi sekali kita kesana"
"Iya, sudah kalau gitu, kamu pulang sana besok aku tunggu"
"Iya"
Setelah kemakam mamanya Diani mereka menuju kesaudara Fir dan Diani yang lainya untuk mengabari kabar gembira itu.
Pada Hari pernikahan mereka terlihat bahagia, mereka tidak mengira bahwa pejodohan yang di tentukan kedua orang tua mereka berjalan dengan lancar.
*TAMAT*
~Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like dan komen. sama tunggu kritikanya~