Malam perpisahan. Malam ini di aula utama sekolah telah disulap menjadi sebuah ruangan yang dipenuhi dengan gemerlap lampu hias dan beberapa hiasan yang cantik lainnya. Di atas panggung sedang berlangsung pertunjukan drama musikal.
"Nanti Bagas cover lagu apa?" Tanya Wulan pada sahabatnya, Hani.
"Aku nggak tahu juga. Waktu dia latihan nggak dibolehin ikut. Katanya kejutan,"
"Pasti surprise banget ini nanti. Secara kan di cinta banget sama kamu. Ah, jadi inget waktu dia ngajak kamu pacaran, mana aku jadi obat nyamuk lagi."
Hani jadi membayangkan saat Bagas mengajaknya pacaran. Padahal hari itu Bagas dan dirinya baru bertemu 3 kali, tapi entah dorongan dari mana Hani menerimanya. Sampai detik ini dia tidak merasakan penyesalan menerima Bagas sebagai pacarnya. Bahkan Hani baru mengetahui nama Bagas saat mereka baru jadian.
Suara tepuk tangan meriah membuat Hani tersadar dari lamunannya. Rupanya pertunjukan drama musikal telah berakhir.
Dua pembawa acara maju ketengah panggung. Mereka adalah Dian dan Kevin.
"Gimana nih pertunjukan drama musikal dari perwakilan kelas sebelas?" Tanya Kevin
Suara penonton riuh menanggapi pertanyaan dari pembawa acara. Memang drama musikal yang di bawakan kelas sebelas tadi sangat bagus dan yang paling penting adalah pemeran utama pria dalam dramanya lah yang membuat penonton perempuan semakin bersorak. Namanya Ardi. Hani tahu nama cowok itu karena sejak hari pertama cowok itu masuk ke sekolah banyak kelas 12 yang membicarakannya. Banyak yang bilang bahwa Ardi adalah duplikat dari Bagas.
"Yahh, sayang sekali kita udah sampai di akhir acara nih. Eits tapi jangan sedih dulu karena setelah ini ada yang special kok. Kevin, setelah ini ada siapa sih?" Tanya Dian yang dibuat-buat seakan ia tidak tahu padahal kan saat gladi bersih pasti udah tahu susunan acaranya.
"Katanya habis ini tuh dari orang yang paling di idolakan satu sekolah. Dia mau nyanyi loh!"
Mendengar kata idola satu sekolahan membuat penonton perempuan semakin histeris. Hani? tidak usah ditanya, jantungnya berdetak udah kayak habis lari maraton 10 kilo dalam waktu 10 menit.
"Nyanyi? buat siapa tuh? Pasti buat aku? Ya kan, Kev? Semuanya setuju kan?"
Penonton menyoraki Dian yang tingkat percaya dirinya sangat tinggi.
"Sudah-sudah, simpan dulu suaranya buat nanti habis dia tampil, tapi yang pasti dengar-dengar dia mau nyanyiin ini buat orang yang spesial. Kalian jangan pada baper ya, ha-ha-ha."
"Oke, nggak usah lama-lama. Aku yakin ini cewek-cewek udah pada nggak sabar. Untuk penampilan selanjutnya, mari kita sambut. Bagas!"
Seorang cowok masuk membawa sebuah gitar. Suara penonton yang saling bertanya-tanya bersahutan memenuhi aula. Siapa cowok itu?
"Bukannya ini bagian Bagas ya, Han?" Heran Wulan
"Iya," Hani heran, kemana Bagas?
Kedua pembawa acara juga kebingungan. Cowok itu duduk ditempat yang sudah disiapkan dengan mic didepannya.
"Mungkin kalian bertanya-tanya siapa saya. Nama saya Rafa. Saya disini mewakili Bagas untuk tampil karena Bagas tidak bisa hadir, tapi ada sebuah janji yang Bagas harus tepati. Janji itu kepada Hani. Hani Virgiana, saya menyampaikan ini langsung dari Bagaskara. Andai Bagas bisa datang, dia ingin mengatakan bahwa dia ingin berterimakasih sama kamu karena kamu mampu membuatnya tersenyum walau hanya mendengar suaramu. Bagas mencintai kamu dengan tulus. Ini adalah lagu yang akan Bagas nyanyikan untuk kamu. Dia juga meminta maaf karena tidak bisa menyanyikannya langsung untuk kamu."
Jemari Rafa mulai memetik senar gitar dan bait demi bait lagu dinyanyikannya.
~You don't know, babe
When you hold me
And kiss me slowly
It's the sweetest thing
And it don't change
If I had it my way
You would know that you are
You're the coffee that I need in the morning
You're my sunshine in the rain when it's pouring
Won't you give yourself to me
Give it all, oh
I just wanna see
I just wanna see how beautiful you are
You know that I see it
I know you're a star
Where you go I follow
No matter how far
If life is a movie
Oh you're the best part, oh oh oh
You're the best part, oh oh oh
Best part
It's the sunrise
And those brown eyes, yes
You're the one that I desire
When we wake up
And then we make love
It makes me feel so nice
You're my water when I'm stuck in the desert
You're the Tylenol I take when my head hurts
You're the sunshine on my life
I just wanna see how beautiful you are
You know that I see it
I know you're a star
Where you go I follow
No matter how far
If life is a movie
Then you're the best part, oh oh oh
You're the best part, oh oh oh
Best part
If you love me won't you say something
If you love me won't you
Won't you
Love me, won't you~
Suara tepuk tangan dan berbagai pujian mengenai betapa merdunya suara Rafa memenuhi aula. Berbeda dengan Hani. Ia justru terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Wulan yang melihatnya pun bertanya, "Ada apa, Han?" tapi Hani hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu kemana, Bagas?" pikir Hani.
Setelah mengucapkan terima kasih, Rafa turun dari panggung menuju backstage. Semua pasang mata tertuju pada Kepala Sekolah yang menuju ke tengah panggung.
"Selamat malam anak-anak. Maaf ibu mengganggu penutupan acara ini, tapi Ibu disini hanya untuk menyampaikan sebuah berita duka dari keluarga Nak Bagaskara. Beliau ingin meminta maaf atas nama Nak Bagaskara dari kelas 12 IPA 1. Beliau juga meminta doa agar Nak Bagaskara diterima disisi-Nya."
Seluruh orang di aula terkejut bukan main. Mereka seakan tidak percaya ucapan kepala sekolah barusan.
"Hani, kamu nggak papa kan?" Wulan melihat Hani yang sudah ingin menangis. Ia langsung memeluknya.
Hani menatap Wulan dengan mata yang sudah memerah menahan tangisnya. "Ini nggak beneran kan? tadi sore Bagas masih telfon aku, Wulan. Bagas udah janji kalo besok kita mau ke pantai. Bagas nggak pernah mengingkari janjinya." Hani menangis.
siswi-siswi yang mengidolakan Bagas dan teman-teman sekelasnya juga menangis.
"Mari berdoa untuk Nak Bagaskara sesuai kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai," Kepala sekolah memimpin doa untuk Bagas.
Semuanya diam untuk berdoa, tapi tidak bisa dihindari suara tangis masih terdengar. Siapa yang tidak merasa kehilangan sosok Bagas? Hampir semua yang ada di aula mengenal Bagas. Bagas yang merupakan Mantan ketua OSIS, pemenang olimpiade IPA, dan kapten basket itu sangat banyak penggemarnya. Bagas dikenal dengan pribadi yang baik, ramah, dan suka membatu teman-temannya. Bahkan terlihat kepala sekolah juga meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Bagas itu ibarat kesayangan para guru dengan sifatnya yang disiplin dan rajin.
"Selesai. Terima kasih yang sudah dengan tulus mendoakan Nak Bagaskara. Selamat malam." Kepala sekolah turun dari panggung.
Pembawa acara melanjutkan penutupan. Hani keluar dari kerumunan dan Wulan yang melihatnya pun mengejar.
"Han! Hani! Kamu mau kemana?" Wulan menarik pergelangan tangan Hani.
"Aku harus cari Rafa! Aku harus tahu dimana Bagas!" Hani menghempas pegangan Wulan dan pergi ke backstage.
Di backstage sangat sibuk dan banyak orang mondar-mandir mengurus acara. Shinta yang kebetulan ada di backstage menghampiri Hani. Ia adalah teman sekelas Bagas dan mantan wakil ketua OSIS.
"Han? Kamu nggak papa kan? Kamu yang sabar ya." Kata Shinta sembari merangkul Hani.
"Dimana Rafa? Dimana cowok yang tadi bawain lagu dari Bagas?" Tanya Hani
"Dia baru aja pergi. Kamu---Han! Hani!" Hani tak menghiraukan panggilan Shinta, ia langsung pergi ke parkiran.
"Kamu liat Hani nggak, Shin?" Tanya Wulan yang baru saja tiba.
"Dia keluar. Nyari Rafa, cepetan kamu susul!" Wulan mengangguk dan menyusul keluar.
Begitu sampai diluar, Wulan melihat Hani yang sudah masuk ke mobilnya. Ia langsung berlari dan mengetuk jendela mobil Hani.
"Han, Turun! Aku minta kamu turun sekarang!"
Hani menurunkan jendela mobilnya. "Kenapa sih, Lan!"
Wulan membuka pintu mobil Hani dan menarik Hani keluar.
"Kamu pikir aku bakal biarin sahabat aku nyetir sendiri dengan kondisi kayak gini?! kamu duduk di kursi samping biar aku yang nyetir!"
Begitu mereka masuk ke mobil, Wulan langsung melajukan mobilnya menuju rumah Bagas.
Rumah Bagas cukup ramai dan yang paling menyesakkan adalah adanya bendera kuning di sana dan Banyak tetangga yang datang untuk takziah. Hani dan Wulan masuk ke rumah Bagas. Hani melihat Tante Nita yang tak lain adalah ibunya Bagas dan Om Fahri ayahnya Bagas.
Hani duduk di samping Tante Nita yang tengah menatap kosong jenazah Bagas di depannya. "Tante Nita," panggil Hani
Tante Nita menoleh, "Hani," Tante Nita langsung memeluk pacar dari anaknya. Hani sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Sejak Bagas memperkenalkan Hani padanya, Tante Nita sudah tahu bahwa Hani adalah gadis yang baik.
"Iya, Tante. Hani turut berduka cita ya, Tante. Hani juga kehilangan Bagas, Hani..." ia tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya juga sakit merasakan kepergian Bagas, ia hanya mampu mengeratkan pelukannya pada Tante Nita.
"Hani, Tante tahu kamu juga sama kehilangannya. Sebelum Bagas pergi, Bagas bilang kalau kamu juga harus bahagia dan jangan terus-menerus merasa kehilangan."
"Tante, Bagas udah mengisi hari-hari Hani selama 2 tahun. Apa Hani bisa bahagia tanpa Bagas?"
"Tante tahu itu sulit, tapi Bagas sendiri yang ingin kamu tetap bahagia dan jangan terus-terusan merasa kehilangan."
"setelah ini Hani pasti akan merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup Hani karena Hani udah terbiasa dengan keberadaan Bagas."
Tante Nita memeluk erat Hani. Ia tidak bisa melihat Hani menangis seperti ini. Matanya melihat wajah tenang Bagas. Anak laki-laki yang ia sayangi sudah pergi untuk selamanya.
"Tante ijinin aku tinggal disini sampai pemakaman Bagas ya, Tante?
"Boleh, tapi kamu tadi sudah menghubungi ibu kamu kalau kamu berada disini?"
"Hani keluar dulu kalau gitu, mau telfon ibu."
"Di kamar Bagas aja, Hani. Sekalian nanti kamu tidur di sana saja." Hani mengangguk kemudian pergi menuju kamar Bagas yang berada di lantai 2.
Hani membuka pintu kamar berwarna coklat tua itu. Saat ia melangkahkan kakinya masuk, wangi parfum Bagas menyeruak masuk ke hidungnya. Ia merindukan pelukan Bagas. Pelukan yang selalu menenangkannya.
Semua terasa seperti mimpi. Perayaan kelulusan? Bahkan sejak ia datang ke acara itu perasaanya sudah tidak karuan. Ada perasaan mengganjal yang tidak bisa ia jelaskan. Ternyata inilah maksud dari perasaan itu.
Ponsel Hani berdering. Sebuah panggilan masuk dari Ibunya. Segera ia menekan tombol hijau disana.
📞 "Hani? Kamu dimana ,Nak? Ibu khawatir. Ibu dapat kabar tentang Nak Bagas, apa itu benar?"
"Hani baik-baik aja, Bu. Sekarang Hani ada di rumah Bagas. Bagas udah nggak ada, Bu."
📞 "Iya, Hani. Kamu tenangkan diri kamu. Ibu tahu kamu kehilangan Bagas, tapi kamu juga harus ikhlas. Bagas sudah bahagia di atas sana. Ibu juga merasa kehilangan, Bagas seperti anak ibu sendiri. Besok ibu kesana,"
"Iya, Bu. Hani nginap di sini. Hani nggak mau ninggalin Bagas sampai hari pemakamannya."
📞"Iya. Jangan sedih terus ya,"
Panggilan terputus. Hani mendudukkan dirinya di sofa. Hatinya sangat sakit.
"Seperti inikah rasa kehilangan yang sebenarnya?"
Hani melihat isi kamar Bagas. Matanya tanpa sengaja melihat sebuah foto. Foto dirinya dan Bagas saat pergi ke pantai bersama. Perayaan satu tahun mereka dengan melihat sunset bersama. Saat paling indah dalam hidup Hani dan saat yang takkan terlupakan olehnya.
Hani memeluk erat foto itu karena ia sadar setelah ini ia tidak akan pernah merasakan pelukan Bagas lagi. Ia menyalurkan semua kesedihannya.
Bukan sejam, sehari, sebulan, setahun, tapi selamanya. Bagas pergi selamanya.
****
Proses pemakaman telah selesai, tapi suara tangis tak berhenti sejak tanah pertama menutupi tubuh Bagas. Tante Nita tak henti-hentinya menangis di pelukan suaminya dan di sampingnya ada Rafa.
Wulan melihat Hani. Ia sampai heran, kenapa Hani tidak menangis?
"Hani, Wulan, Om sama tante pulang dulu ya? Ayo Raf?"
Hani dan Wulan mengangguk.
"Rafa masih pengen disini, Ma."
Om Fahri hanya mengangguk kemudian merangkul Tante Nita dan mengajaknya pulang.
"Han? Jangan ditahan. Perasaan kamu akan nambah sakit kalo kamu tahan terus kayak gini." kata Wulan
Hani langsung memeluk Wulan. Akhirnya ia membiarkan air mata yang sudah ditahannya sejak tadi keluar. Ia tidak mau membuat Tante Nita semakin sedih dengan air matanya.
"Kamu siapanya Bagas?" Tanya Wulan pada Rafa
"Aku sepupunya Bagas."
"Gimana? Gimana semua ini bisa terjadi? Kenapa Bagas bisa kecelakaan?" Kini Hani yang bertanya.
Rafa melihat nisan Bagas.
"Sore itu kamu terima pesan dari Bagas kan? pesan kalau Bagas nggak bisa jemput kamu. Pesan itu aku yang kirim karena saat itu Bagas udah kritis. Dia kecelakaan waktu mau beli kado untuk annive kalian yang tepat hari ini."
"KENAPA KAMU NGGAK KASIH TAHU AKU SEBELUMNYA?!!"
"Han, tenang." Wulan mengusap bahu Hani.
"Bagas sendiri yang minta buat nggak kasih tahu kamu. Dia nggak mau kamu sedih. Dia pengen banget nyanyiin lagu itu langsung, tapi dia udah nggak bisa. Dia minta buat aku gantiin dia. Bagas nggak mau ngecewain kamu."
"Justru ini yang bikin aku kecewa. Aku sayang sama Bagas, tapi aku nggak bisa nemenin dia saat nafas terakhirnya."
"Han, keputusan Bagas untuk nggak ngasih tau kamu itu pasti juga untuk kebaikan kamu. Tolong jangan marah kayak gini. Saat ini kita ada di makam Bagas, tanahnya pun masih basah."
"Aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik karena Bagas pernah bilang kalau kamu adalah perempuan satu-satunya yang berhasil bikin dia sadar bahwa cinta tulus itu nggak akan hilang meski nyawanya sudah akan berakhir. Itu artinya di ujung nafas terakhir Bagas, dia masih mikirin kamu."
Rafa berbalik dan meninggalkan area pemakaman.
"Kamu dengar kan, Han? Bagas itu tulus cinta sama kamu. Dia juga ingin kamu bahagia meski dia nggak bisa di samping kamu lagi."
"Kamu pulang dulu aja ,Lan."
"Maksud kamu?"
"Aku mau disini dulu."
"Enggak, Han. aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian."
"Please, Lan."
"Ya udah. Aku pulang dulu. kalau ada apa-apa telfon aku. Aku nggak mau sahabat terbaik aku ini kenapa-kenapa."
Wulan kembali memeluk Hani sebelum pergi meninggalkan area pemakaman.
Setelah Wulan pergi, Hani berjongkok di samping makam Bagas.
"Happy second anniversary. Terimakasih sudah menjadi pacar yang perhatian selama 2 tahun ini. Enggak nyangka hadiah anniversary kedua kita akan sangat menyakitkan. Sekarang aku jadi tahu bagaimana rasa sebuah kehilangan yang sebenarnya. Maaf, aku nggak ada di samping kamu saat kamu benar-benar akan pergi. Aku cinta sama kamu. Kamu yang tenang di sana ya, aku akan selalu berdoa untuk kamu. Kamu nggak akan pernah aku lupain karena kamu punya posisi tersendiri di hati aku. Bagaskara aku sangat mencintai kamu,"
Meski berat, Hani mulai melangkahkan kakinya pergi. Ia berhenti sebentar dibawah pohon Kamboja dan menyalakan ponselnya. Ia membuka aplikasi untuk mengirim pesan. Di bagian teratas tertera nama Bagaskara. Ia membukanya. Pesan mengenai Bagas yang mengajaknya untuk ke pantai menarik perhatiannya.
"Harusnya saat ini kita ada di pantai kan?" lirihnya
SELESAI...
Dear Bagaskara,
Bagaimana kabarmu di sana?
Apa yang sedang kamu pikirkan?
Disini aku masih memikirkan mu.
Aku ingin bisa menemuimu lagi dan memandang senyum indahmu, senyum yang dulu pernah kau berikan padaku.
Peraturan yang mengatakan bahwa setiap pertemuan harus ada perpisahan. Aku ingin melanggarnya.
Cinta memang menyakitkan tapi mengucapkan selamat tinggal jauh lebih menyakitkan.
Dan hari itu lebih menyakitkan saat kamu pergi untuk selamanya tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku.
Bisakah kamu berada disini sebentar lagi?
Bisakah aku memelukmu untuk kesekian kalinya?
Bisakah kamu tetap disini saja, bersamaku?
*****
Terimakasih yang sudah berkenan membaca...
Maaf kalau feel nya kurang terasa...
Jangan lupa mampir ke ceritaku ya...
Judulnya 'Kami dan Kenangan' dan 'Cinta dan Luka'
Jangan lupa like dan comment...