Pagi yang begitu cerah begitu menawan, namun semua itu tak berpengaruh dengan hati seorang gadis cantik dan manis. Dia Anjani Putri, gadis itu terlihat kesal setelah perdebatannya dengan sang ayah di rumah tadi.
Jani menghela nafas pelan, berusaha menenangkan dirinya yang terlanjur emosi. Betapa kecewanya dia, melihat sang ayah mempercayai perkataan istri barunya itu dari pada dirinya.
"Cih ironis sekali. " makinya dalam hati.
PART 1
Jani berjalan sambil mengumpati ibu tirinya, tak mempedulikan orang orang yang menganggap aneh dirinya. Terlihat keributan tak jauh dari tempatnya berdiri, membuat gadis itu mengerutkan kening. Jani bergegas mendekati kerumunan itu, terlihat seorang pria yang tergeletak di jalan dengan bersimbah darah.
"Kenapa kalian hanya diam hah, cepat bawa pria itu ke rumah sakit. " bentak Jani pada orang orang di sana.
Salah satu dari mereka menghubungi ambulan, tak lama mobil itu datang. Tubuh pria itu di bopong ke dalam dan Jani ikut masuk, menemani pria asing yang tak sadarkan diri.
Mobil Ambulan itu melesat menuju ke rumah sakit.
#rumah sakit
Jani berjalan mondar mandi, dia menunggu di luar. Saat ini Dokter tengah menangani pria itu di dalam UGD, berkali kali gadis itu menghela nafas berat.
Setelah menunggu lama dokter ke luar, Jani buru buru mendekat. "Bagaimana keadaan pria itu dokter? " tanya Jani tanpa basa basi.
"Apa Nona istri dari pasien? " tanya Dokter.
"Eh. " Anjani tersenyum kikuk mendengar penuturan dari dokter barusan, terpaksa dia mengangguk.
"Ya dia suami saya!
"Begini nona awalnya kondisi suami Anda sempat kritis namun sekarang telah membaik, hanya tinggal pasien sadar saja. "
"Tapi Dok, tak ada masalah yang serius 'kan seperti pasien amnesia atau semacamnya!
"Tidak Nona, kalau begitu saya permisi, Saya akan memindah pasien ke ruangan VIP! Dokter langsung pergi, Anjani bernafas lega mendengar penjelasan dokter. Gadis itu langsung menepuk bibirnya, merutuki mulutnya yang berbicara sembarangan.
Anjani masuk ke dalam ruangan pria itu, mengamati tubuh kekar yang kini tengah terbaring lemah di ranjang pasien. Diapun merasa kasihan, bagaimana mungkin pria tampan itu terluka parah seperti ini.
"Siapa kamu Tuan, kenapa kamu bisa terluka seperti ini. " gumam Anjani dengan pelan nyaris tak terdengar. Diapun kini bingung, tak mengenal pria yang dia tolong ini, hingga tak bisa menghubungi salah satu keluarga pria asing itu.
Drt
drt
Mendengar ponselnya berdering, Jani segera ke luar. Gadis itu mengobrol dengan sahabatnya melalui telepon, setelah itu mendudukkan dirinya di kursi tunggu.
"Aku harap pria itu bukan buronan polisi. " gumamnya pelan dengan nada takutnya.
Pria itu membuka matanya perlahan, meringis merasakan rasa sakit di kepalanya. Dia menyentuh kepalanya yang di perban, lalu bersandar di kepala ranjang dan mengamati sekitarnya. Tak lama Jani masuk ke dalam ruangan, gadis itu terkejut melihat pria asing itu telah sadar.
"Tuan kau sudah sadar? "
"Siapa kau? " tanyanya dengan suara baritonnya.
"Aku Anjani Putri, orang yang menolongmu tuan. Kalau boleh tahu siapa nama Anda!
Pria itu terdiam beberapa saat, lalu kembali menatap Anjani dengan raut datarnya.
"Aldrich. "
"Terimakasih telah menolongku nona."
Anjani mengangguk singkat, gadis itu terlihat risih dan tak nyaman, kala manik kelam milik Aldrich menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Saya harus pergi Tuan, permisi! Anjanipun berbalik dan hendak melangkah ke luar dari ruangan.
"Tunggu!
Anjani kembali melihat kearah Aldrich, menunggu pria itu kembali berbicara lagi. Aldrich menghela nafas panjang, dia merasa was was namun terpaksa meminta tolong pada gadis yang telah menolongnya. "Aku pinjam ponsel kamu, boleh'kan? "
"Ya. " Anjani menyerahkan ponselnya, Aldrich segera menghubungi seseorang. Setelah selesai dia mengembalikan ponsel itu, Anjani langsung pergi setelah urusannya dengan pria itu selesai.
Tak lama seorang pria masuk ke dalam ruangan Aldrich, pria itu membungkuk sekilas kearahnya sambil menyerahkan paperbag. Aldrich menerimanya, pria itu segera mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, setelah itu ke luar diikuti sang asisten.
"Liam, sebaiknya kau usut kejadian yang aku alami hari ini dan selain itu cari informasi mengenai gadis bernama Anjani Puteri. " titahnya pada sang asisten.
"Baik Tuan. " Asisten Liam melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit. Di dalam mobil, Aldrich terlihat tengah memikirkan sesuatu, lalu terdengar suara helaan nafas berat.
"Jika aku tahu siapa dalangnya, aku tidak akan membiarkan dia hidup tenang. " desis Aldrich dengan suara gerakan tertahan. Asisten Liam hanya diam, dia sangat tahu jika suasana hati bossnya saat ini begitu buruk.
"Anjani Puteri, siapa kau sebenarnya? " tanyanya dalam hati. Aldrich begitu penasaran dengan gadis itu, terlihat bagaimana sikap Anjani yang terbilang cuek padanya.
"Liam, kita langsung ke mansion ku. "
"Baik Tuan Al. " sahut pria itu singkat tanpa membantah.