Hancurnya kepercayaan
“Jika kamu benar-benar tulus mencintai seseorang apapun yang ia lakukan dan ia rasakan pasti kamu akan tahu dan akan merasakannya pula tanpa harus mendengarnya langsung dari dirinya, inilah yang namanya sebuah ikatan batin ketulusan seseorang”.
PROLOG
Aku adalah seorang mahasiswa, kini aku sudah memasuki semester 2 dalam menuntut ilmu dalam sebuah Institut Negeri di Indonesia. Aku merupakan salah satu orang yang suka pendiam dan pemalu dengan orang yang belum dikenal, tetapi aku menjadi cerewet ketika orang itu sudah kukenal, aku juga suka bergaul dengan banyak orang termasuk banyak cowok bahkan teman-temanku kebanyakan cowok, karena menurutku jika bergaul dengan cowok itu merupakan anugerah dalam hidup karena aku bisa dijagai seperti ratu dalam kerajaan (halusinasiku).
Selain itu, aku juga adalah seorang yang sangat tulus jika mencintai seseorang dan tak pernah insafnya karena sering disakiti, bahkan paling mudah melupakan kesalahan orang walaupun itu sangat menyakitkan. Aku hanya menganggapkannya sebagai hal sepele yang harus kulewati dan menjadikan itu sebagai pelajaran dimasa lalu untuk menata masa depan yang penuh harapan. Menjadi seorang wanita yang tulus itu adalah hal yang sangat mulia dan harus kusyukuri dalam hidupku.
Semua orang pasti ingin menempatkan posisiku saat ini yang mampu memiliki ketulusan hati walaupun sudah berulang-ulang dikecewakan bahkan dilupakan saat tidak dibutuhkan tenagaku. Semakin hari aku semakin kagum dengan caranya memperlakukanku dan semakin ada niat dalam hatiku untuk selalu bersamanya dalam setiap hari hidupku. Namun, apa dayaku semua impian dan harapan itu hanyut dalam sekejap karena ia kembali bahagia dengan pilihannya.
Ingin tahu dengan kisahku? Jangan lupa dibaca ya! Kisahku selanjutnya………
Pertemuan tanpa disengajakan
Awal kisahku dimulai dengan pertemuan kami saat aku bersama dengan sahabatku pergi untuk sekedar mencari ketenangan karena sangat membosankan dengan tugas kuliah dan kami memilih untuk pergi kepantai karena bagiku itu adalah tempat ternyaman saat aku merasa lelah ataupun ada masalah dalam hidupku.
“Hei, bolehkah aku berkenalan denganmu?“ kata seseorang yang tak pernah kukenal dengan suaranya yang datang menghampiriku dan langsung saja ia menyodorkan tangannya dan menyalamiku, perkenalkan aku Arendy Ray panggil saja aku Ray, kalau boleh tahu siapa namamu?, ucapnya.
“Namaku Inesya Aldhira biasa di panggil Dhira” jawabku sambil diam dan malu karena sikapnya yang begitu serobot seolah-olah sudah pernah bertemu sebelumnya, kemudian aku langsung pergi.
Namun, ketika aku ingin beranjak aku merasa ada yang menahan tanganku, benar saja aku melihat Ray memegang pergelangan tanganku. Lalu aku balik dan bertanya “ ada apa lagi? Belum cukup dengan perkenalanya atau aku membuat kesalahan padamu?” kataku. Aku memang orangnya suka posesif dengan orang yang baru kenal tetapi tenang aja aku orangnya asyik kok kalau sudah kenal.
“Nggak sih, aku hanya ingin meminta nomor ponselmu kali aja kita bisa temanan gitu!”, ia menatapku dan menaikan salah satu alis matanya.
“Cuma itu aja, okey boleh juga! 082…….. udah aku sudah boleh pergikan?”, tanyaku padanya.
“Okey.. Makasih ya semoga kita bisa berteman baik”.
Setelah kami sudah selesai berfoto-foto dan banyak aktivtas yang kami lalui untuk sekedar menghilangkan rasa bosan kami, waktupun terus berjalan dan saatnya kami pulang karena sudah hampir magrip. Baru saja membaringkan tubuh karena rasanya sangat lelah karena sudah menghabiskan waktu cukup banyak dengan berkeliling, tiba-tiba hpku berdering dan langsung saja aku melihat layar hpku dan ada panggilan dari nomor yang tak kukenal.
+6281……is calling………
“Nomer siapa ini?” batinku. Setelah aku pikir-pikir “ Ah, angkat sajalah siapa tahu ada yang penting”, pintaku. “Hallo.. ini dengan siapa? Dimana? Ada yang bisa kubantu?”, tanyaku secara berturut-turut.
“Heii..aku Ray, cowok yang bertemu denganmu saat di pantai!, nggak ada juga aku hanya memastikan apakah kamu sudah pulang atau belum?” katanya sok peduli padaku.
“ Oh iya! Aku baru aja sampai satu menit yang lalu”, jawabku dengan datar. Dan cukup lama kami menghabiskan waktu untuk berbasa basi walaupun hanya lewat hand phone.
Entah apa yang kurasakan
Seiring dengan berjalannya waktu kami pun semakin akrab dan sering bertemu, walau hanya sekedar bercanda dan membahas hal konyol. Entah ada apa dengan diriku aku merasa sangat nyaman bila dekat dengannya, aku tidak tahu dengan perasaannya padaku. Sehingga pada suatu saat ia mengunggkap isi hatinya padaku tepatnya satu bulan setelah perkenalan sekaligus pertemanan kami dimulai.
“Dhir.. ada yang aku mau ngomong sama kamu! Tapi aku harap kamu jangan kecewaian aku!”, katanya dengan nada serius.
“Ya.. kamu mau ngomomg apa?, apakah memang harus sekarang?”, jawabku dengan rasa gugup tapi dalam hati senang.
“Jujur sejak awal pertemuan kita aku sudah jatuh hati padamu, sudah lama aku ingin mengungkapkannya tetapi kita belum kenal lebih jauh dan aku juga merasa terlalu buru-buru, pasti kamu juga mengira bahwa aku hanya mempermainkan perasaanmu, terserah padamu mau nerima aku atau tidak intinya aku sudah jujur dengan perasaanku sendiri dan setidaknya aku sudah lega karena tidak lagi pendam rasa dalam hatiku” pintanya dengan sangat serius.
Entah karena rasa gugup atau belum bisa menerima apa yang di katakan Ray tadi, aku hanya bisa diam dan merenung aku harus jawab apa? Batinku. Cukup lama aku diam dan aku mulai membuka pembicaraan lagi.
“Apakah kamu bisa memberiku waktu untuk menjawabnya?”, kataku bernegosiasi dengannya. “Okey.. jika itu keputusanmu aku memberimu waktu dalam dua hari untuk menjawab, dan aku harap jawabannya tidak mengecewakanku karena sudah membuatku menunggu!”, jawabnya seperti memaksaku menjawabnya sekarang.
Mungkinkah kau selamanya bersamaku?
Dua hari telah berlalu setalah aku dan Rey bersepakat untuk memberikan jawabanku padanya. Dan tepat hari ini tanggal 21 februari aku memutuskan dan Rey menerima jawabannya dariku. Dan kembali lagi kami bertemu di suatu tempat yang sangat sederhana namun, sangat nyaman dipandang oleh siapapun yang mengunjunginya yaitu apertemen tempat tinggalku. Kami memilih untuk duduk dekat balkon sambil melihat pemandangan dari jendela karena letak tempat itu berada di lantai 5. Dari awal pertemuan kami dibalkon saat ini tak sepatah katapun yang keluar dari kami, bahkan kami masih nyaman ditemani kesunyian yang tak terciptakan.
“Dhir…apakah kamu sudah putuskan jawabannya?” akhirnya Ray membuka pembicaraan dan itu membuat aku kaget karena hari ini juga aku harus putuskan apa yang akan kutanggung kedepannya dan tentu sudah ku pikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
“ya.. aku sudah punya jawabannya, aku nerima kamu dan hari ini kita resmi jadian!”, kataku dengan rasa gugup. “Benarkah?, kamu yakin dengan keputusanmu?”, tanyanya seolah ragu dengan keputusanku. Sebenarnya, aku berat menjalani hubungan ini karena kami memiliki perbedaan yaitu keyakinan kami berbeda bahkan sangat jauh berbeda denganku. Namun, apalah dayaku aku dihantui rasa nyaman dan ingin bersama dengannya dalam hidup ini.
Kekecewaan itu datang secara tak diundang
Setelah sekian banyak hal yang sudah kami lewati, satu bulanpun berlalu dan sudah banyak kenangan yang telah kami ukirkan bersama baik suka maupun duka. Hingga pada suatu aku dikagetkan dengan pertanyaannya yang begitu mendesak bagiku seolah memaksaku untuk memutuskannya dalam waktu yang singkat.
“Dhir, kita sudah melangkah sejauh ini, bagaimana menurutmu tentang hubungan kita kedepannya nanti?”, tanyanya membuatku terpaku. Padahal dari awal kami sudah bersepakat bahwa jalani saja dulu dan endingnya biar Tuhan yang menentukan. Entahlah apa yang ia pikirkan.
“Menurutku, seperti kesepakatan awal kita jalani saja dan endingnya biar Tuhan yang menentukan, setidaknya kita sudah melakukan tugas kita sisanya biarlah Tuhan yang akan memutuskannya apakah kita akan terus bersama atau hanya sekedar pertemuan saja”, jawabku dengan sangat yakin.
“Ya, emang aku tahu Dhir.. tetapi aku juga butuh kepastian yang pasti karena aku juga ada targetnya tersendiri”, katanya, membuatku rasanya ingin menangis. Memang ini pernyataan yang sangat menyakitkan bagiku karena seolah ia mendesakku untuk memutuskan antara bertahan dengan rasa terbeban karena sudah mempertahankan ego untuk tetap bersamanya sedangkan ia saja seolah ingin mengakhirinya ataukah aku memilih untuk mengakhiri semua kisah kami dengan rasa keterpaksaan untuk merelahkannya. Setelah beberapa jam kemudian aku menjawabnya dengan berat hati. Ya memang aku adalah seorang yang tidak ingin membuat seseorang menunggu kepastian apalagi mempertahankan egoku hanya untuk menciptakan kebahagiaan sepihak.
“Ray… jika emang kamu sudah memiliki targetnya tersendiri, dan mungkin saja sejauh apapun kita melangkah jika tak ada yang mengalah di antara kita, maka hubungan kita tak akan pernah ada ujungnya nanti!”. Jawabku mencoba menahan air mata seolah kuat dengan semuanya padahal nyatanya aku sangat tidak rela. Tetapi dari dulu aku sudah memiliki prinsip dan komitmen bahwa “Apapun yang terjadi dalam hidupku, aku cukup menerima dan mensyukurinya sisanya biarlah Tuhan yang akan bertindak, sesakit apapun aku akan tetap kuat karena aku punya Tuhan yang luar biasa, ikhlas atau tidak ikhlas aku harus mengikhlaskan semuanya karena tidak ada yang akan bertahan dalam hidup ini selain kebahagiaan yang diberikan Tuhan dalam hidup saya”.
Sejak hari itu, kami sudah mulai merasa asing dan ketika bertemu saja tak lagi saling menyapa. Namun, dengan seiring berjalannya waktu tepat satu bulan setelah kandasnya hubungan kami, kini sudah mulai merasa biasa-biasa saja antara kami, seperti orang yang sudah lama berkenalan dan cukup akrab kami bercanda dan memulai kehidupan yang baru.
Pada hari selanjutnya, ketika kami berkumpul dengan sahabat-sahabatku seperti biasa, aku melihatnya dengan menggunakan motor CBR dan menggonceng seorang cewek yang sangat erat pelukannya pada Ray. Dan setelah aku cari tahu ternyata cewek itu adalah mantan kekasihnya. Dari situlah aku sadar bahwa target yang ia maksud adalah ia balikan dengan mantannya karena masih ada beban perasaan dengan mantannya tersebut. Sejak saat itu kami hanya menjalani hubungan pertemanan biasa. Dan kedekatan kami sangat membuat semua orang yang melihatnya risih, karena kedekatan kami lebih dari sekedar teman biasa.
Hancurnya kepercayaan yang aku bangun
Dan pada suatu hari ia memutuskan untuk membangun kembali hubungan kami hanya aku tidak mau karena aku tidak ingin dikecewakan lagi. Hingga pada hari berikutnya entah, apa yang membuatku menyetujui apa yang ia putuskan.
“Dhir, jika kamu masih nyaman denganku mengapa kamu tidak ingin membangun kembali hubungan kita?”, tanyanya secara tiba-tiba.
“Hmmmm…untuk apa membangunnya kembali jika nantinya yang aku dapatkan hanyalah kekecewaan darimu?”, jawabku dengan rasa kecewa.
“Dhir aku berjanji aku takkan lagi membuatmu kecewa untuk kedua kalinya, tolong berikan aku kesempatan untuk memberbaiki semuanya!” serunya.
Memang dari dulu ia ingin melanjutkannya lagi dengan catatan bahwa ia sudah tidak ada lagi hubungan dengan mantannya, dan benar-benar ia hanya ingin memperbaiki hubungannya denganku, namun aku yang tak pernah menghiraukannya, bukannya aku tidak ingin hanya rasa trauma dalam hatiku lebih besar dari pada rasa sayangku padanya. Dan aku juga orangnya tak ingin egois dengan perasaanku sendiri sehingga aku memutuskan.
“Okeeyy..jika itu mau kamu dan bisa membuatmu bahagia aku setuju untuk melanjutkannya, tetapi dengan ketentuan bahwa aku tidak ingin dikecewakan untuk yang kedua kalinya”. Jawabku dengan tatapan serius pada Ray.
“Makasih ya sayang, aku janji aku akan manfaatkan kesempatan yang kamu berikan dan aku janji tak akan pernah mengecewakanmu untuk kedua kalinya!”, katanya padaku sambil merangkulku.
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan, tak terasa kisah kami terus berlanjut sudah hampir 2 bulan lamanya. Sehingga disuatu hari kecewa itupun menghampiriku. Entah hari ini Ray merasa berbeda dengan hari yang lain, tidak seperti biasa jika liburan ia menemuiku, jalan-jalan atau sekedar duduk sambil basa basi hal konyol asal membuat kami tertawa bareng. Karena aku merasa ada yang aneh sehingga aku memutuskan untuk menanyakan keberadaannya.
Ray…..Berdering……. Panggilan ditolak…..
“Ray, kamu dimana? aku butuh bantuan kamu nih!”. Aku mengirim pesan padanya.
“Aku lagi diluar, lagi sibuk urusan kantorku!. Jika ada perlu tunggu saja aku selesaikan urusanku nanti aku akan kontak kamu!”. Jawabnya perjelas, bahkan tak lagi memakai kata sayang, kami berdua seolah orang asing yang baru saja berteman.
“Oh iya…. Maaf menganggu, lanjut dan semangat ya!”. Jawabku. Dan tak ada balasan lagi darinya.
Karena aku sangat bosan maka aku memutuskan untuk keluar dengan matic kesayanganku sekedar mencari udara segar. Ketika sampai diperempatan yang begitu padat karena memang ini jam-jam pulang kantoran. Tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat sebuah motor CBR yang sama sekali tak asing bagiku, aku mencoba mendekatinya dan benar saja itu Ray dengan mantan kekasihnya.
“Ray….. hallo selamat siang kak!” sapaku pada cewek itu yang langsung menatapku dengan tatapan sinis dan Ray yang kaget karena binggung mengapa aku berada di situ. Mulai dari saat itu aku benar-benar kecewa dengan Ray. Aku memilih untuk menghindar dan mengikhlaskan semuanya karena aku rasa Ray lebih bahagia dengan ceweknya itu, aku juga sadar bahwa jika aku benar-benar tulus maka aku adalah orang paling tersakiti, tetapi mau bagaimana lagi aku hanya bisa pasrah dan ikhlaskan semuanya.
-Marselin Djara Huru-
14/04/2022