"Bodoh! Plak ...."Suara bapak menggema ke seluruh ruangan rumah suara sabetan dan tamparan kembali aku dengar perlahan aku masuk dalam rumah dan menuju asal suara.
"Bapak!" teriakku kencang saat aku tahu bapak sedang menghajar ibu.
"Arrgghhh ...."Kembali suara bapak menggema dan membanting pintu serta menguncinnya.
Kugedor pintu berkali-kali tetapi bapak tak menggubris dan membunyikan musik keras-keras berulangkali kakiku mendobrak pintu, tetapi semua usahaku sia-sia.
Dengan tangisku akhirnya aku tertunduk lemas di depan kamar bapak entah apa yang terjadi di dalam sana yang kudengar hanya suara musik yang kencang.
Hingga akhirnya aku teringat akan masa kecilku yang cukup bahagia, tetapi ibu terlihat sering sakit sakitan dan jarang sekali keluar kamar mungkin dalam satu bulan ibu keluar kamar dapat di hitung dengan jari apalagi saat bapak datang pasti ibu tak pernah keluar dari kamar.
Hingga akhirnya aku masuk SMA bapak memaksaku untuk tinggal dengan nenekku dan melarangku untuk sering sering pulang dan Mbok Mina pun langsung dipecat begitu saja.
Tapi aku tak pernah merasa curiga dengan semua ini hingga hari ini. Entah mengapa aku sangat merindukan ibu di tengah liburan setelah skripsi sengaja aku pulang tak memberi kabar ibu atau bapak dengan maksud memberi kejutan pada mereka.
Saat memasuki halaman suasana masih sepi, tetapi begitu di teras suara bapak mulai terdengar dengan berteriak dan mengumpat pada ibu dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.
"Arrgghhh ...."Kembali bapak mengumpat dan berteriak kemudian membuka pintu dengan kasar.
Melihatku terduduk di depan pintu bapak langsung pergi sembari membetulkan bajunya, bibirnya masih terus mengumpat sepanjang jalan.
Aku langsung memburu masuk ke dalam kamar kulihat ibu meringkuk dengan tubuh penuh bulir-bulir merah dan pipinya membengkak merah karena bekas tamparan.
"Bu ...."Tangisku dan langsung memeluk ibu.
Tubuh ibu yang lemah tak mampu menggapai pelukannku kembali tubuhnya jatuh.
Tangisku pecah saat melihat sudut bibir ibu mengeluarkan darah.
"Faisal bawa ibu pergi dari sini, ibu sudah capek, ibu sudah enggak kuat lagi Nak." Tangis ibu yang di tahannya.
Dengan susah payah ibu berusaha berdiri kini kakinya yang putih nampak jelas banyak luka lebam merah hingga sampai ke biru-biruan menandakan luka yang lama dan baru.
"Ya, Bu. Faisal akan bawa ibu pergi jauh dari sini.Ya, Bu."
Kini ibu berusaha menjangkau almari dengan kubantu akhirnya ibu mengeluarkan kotak dan beberapa map dalam lemari serta meraih tas yang tergantung di dalam lemari lalu menyerahkan padaku.
"Tolong kau lihat isinya apa masih lengkap."
Dengan tubuhnya yang masih lemah ibu melihatku mengeluarkan isinya dan melihatnya satu persatu
"Teliti lagi jangan sampai ada yang tertinggal."
"Kita pergi Faisal, sebelum Bapakmu kembali," ucap ibu sembari memasukkan beberapa helai baju dan semua barang-barang tadi.
Berjalan sedikit tertatih hingga beberapa kali akan terjatuh hingga kami tiba depan jalan dan grab yang kupesan pun juga sudah datang.
Setelah menunjukkan alamat sementara untuk kami singgahi akhirnya mobil ini melaju dengan tenang hingga sampai tempat tujuan.
Di sinilah aku setelah tiga tahun dari kejadian itu dan ibuku sudah berpulang satu tahun yang lalu.
Kini dengan modal yang kupunya akhirnya aku bisa membuka usahaku sendiri dan yang membuatku lebih menyakitkan ternyata ibu telah mengalaminya sejak kelahiranku dan sejak itu bapak berubah.
Saat ini usiaku juga bukan muda lagi aku sudah berumur dua puluh delapan tahun tapi aku juga belum mau menikah dan aku lebih suka melanjang dengan hidup bebas.
Dan apa yang kutakutkan terjadi juga padaku, sikap dan perlakuan ayah ternyata ada padaku.
Sikap aroganku, kerap marah dan dengan sekuat tenagaku aku berusaha untuk tidak main tangan sudah bergonta ganti Dokter untuk konsultasi tentang sikapku ini, tetapi semua serasa menemui jalan buntu.
Semua karyawan yang bekerja padaku bertahan selama satu tahun itu juga suatu prestasi sendiri.
Apalagi Art di rumah, rumah tempat pelampiasan amarahku, semua barang terlempar begitu saja saat aku marah dan itu membuat Artku sering bergonta ganti hingga tak terhitung jumlahnya.
Hingga iklan yang kupasang di surat kabar pun tak ada respon hingga akhirnya aku menaikkan nominal gaji Artku hingga lima juta perbulan.
Seminggu, dua minggu hingga dua bulan telfon kuberdering hingga kesepakatan kami buat dan sang penelfon mau datang ke rumah.
Hari ini minggu, masih pagi bel rumah sudah berbunyi aku masih bergelung dalam selimutku
dengan malas aku turun dari ranjang ke luar dari kamar dan membuka pintu.
"Pagi Tuan, saya yang menelpon kemarin," ucap gadis ini sembari menunduk.
"Hem, masuk dan maaf jika rumah saya berantakan."
Kulihat sesaat gadis ini berhenti. "Siapa namamu?"
"Nama saya Nuke,saya lulusan SMA dan umur saya delapan belas tahun."
"Seperti janji saya di iklan,saya akan menggaji Anda lima juta sebulan untuk jam kerjanya hingga pukul satu siang dan pagi pukul delapan harus sudah tiba di sini kau siap?"
"Ya,saya siap Tuan."
Nampak gadis ini memindai sejenak ruangan kemudian tangannya dengan cekatan membersihkan ini dan itu.
Hingga pukul satu siang semuanya sudah beres dan gadis ini pulang.
Waktu berjalan hingga satu bulan semua masih di batas normal hingga suatu masalah di kantor memicu emosiku masih kuingat saat itu tanpa alasan yang jelas aku memarahi Nuke dan dia hanya menunduk saja tanpa bicara dan hanya melihatku saja saat aku melemparkan semua barang dan mengenai kakinya hingga terluka. sesaat aku kembali tersadar dan langsung memburunya.
"Maaf, maaf."Kata-kata ini yang terus aku ulang dan ulang.
Dengab diamnya gadis ini mundur dari dekatku dan sedikit menjauh melihat lukanya sesaat, tetapi tak merespon setiap ucapanku hanya kakinya saja melangkah menuju kotak p3k yang ada di sudut ruangan.
'Sabar Nuke demi lima juta dan dua adikmu juga ibu,' batin Nuke sembari mengeluarkan perban dan membebat lukanya.
Kini tanpa banyak bicara kembali mengerjakan semua dari awal hingga pukul dua semua beres dan gadis ini kembali pulang.
Setelah kejadian itu Nuke semakin menjauh saat aku sampai di rumah dan kerjaannya belum selesai dia memilih mengerjakan yang lainnya.
Waktu berlalu aku masih sering marah dan melampiaskannya pada gadis ini tetap gadis ini masih seperti sikapnya diam dan sedikit menjauh
Hingga tak terasa sudah satu tahun Nuke bekerja untukku hingga pagi ini emosiku kembali meledak karena usaha yang aku jalankan di korupsi dan amarahku langsung meledak hanya melihat wajah Nuke setiap cacian dan umpatan aku lampiaskan padanya membuang semua barang yang ada hingga semua berserakan dan berhamburan di lantai.
Dengan emosi yang masih memuncak saat Nuke ingin mencegahku memecahkan meja kaca dengan kasar aku menamparnya dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh dan terantuk sudut meja keningnya seketika mengeluarkan darah.
Namun, Nuke tak menangis dan
tiba-tiba berdiri mendekat ke arahku.
"Kau sakit, kau gila jadi ini ajaran Bapakmu untuk menghormati wanita, hah!Kau gila!" teriak Nuke akhirnya.
Mendengar kata bapak emosiku kini tersulut seketika aku menjambak rambutnya tetapi gadis ini tidak menunjukkan rasa sakitnya.
"Puas!Tuan tak berpikir jika aku Ibumu, apa Tuan akan memaki dan menghajarnya?"
Sesaat tanganku melepaskan cengkeramanku.
"Apa hak Tuan selalu memarahiku, mencaciku kalau tidak demi gaji lima juta itu dan demi ibuku dan dua adik perempuanku tak mungkin aku bertahan di sini, demi apa?"
Tak ada air mata yang keluar Nuke sesaat mendekat padaku.
"Plak ... ini untuk hatiku yang sakit, plak ... ini untuk cacian Tuan, plak ... ini untuk harga diriku dan mulai saat ini saya berhenti."
Ini kata-kata terakhir yang kudengar dari Nuke dan setelahnya aku tak mendengar kabar lagi darinya
Aku masih saja menunggu dia datang hingga dua bulan akhirnya aku memutuskan untuk menyewa seseorang untuk mencari Nuke, tetapi semuanya nol dan kabar yang kuterima juga sangat mengejutkan ternyata Nuke adalah mahasiswi drop out jurusan sikolog dan terpaksa harus ke luar karena tak ada biaya.
Seketika ada yang luka di hatiku. "Nuke di mana kau bantu aku untuk sembuh," gumanku lirih.
Kini secara bertahap aku kembali terapi seperti dulu dan mencoba untuk mengontrolnya dengan obat yang harus kukonsumsi secara teratur.
Benar aku sakit dan aku gila.
Hingga perjalanan yang aku lakukan di sebuah kota yang terpencil dengan tempat wisata sebuah pantai yang sangat indah.
Sudah satu minggu aku di sini ternyata aku betah berlama-lama di pantai ini hingga sore suasana masih ramai.
Entah halusinasiku atau aku yang terlalu merasa bersalah samar-samar kudengar suara mirip Nuke dengan segera aku mencari sumber suara itu.
"Nuke.Ya, itu Nuke," ucapku pelan.
Benar semakin lama suara itu makin mendekat kulihat Nuke sedang tertawa dengan tiga orang wanita satu wanita sudah berumur dan dua lainnya masih terlihat remaja.
Saat ini aku tak berani mendekat , sesaat tamparan Nuke masih terasa dan terasa baru tadi Nuke menamparku.
Masih melihatnya dari tempatku duduk saat ini Nuke tengah memandang langit di penghujung sore entah apa yang sedang ada dalam pikirannya hingga rangkulan sang ibu membuyarkan lamunannya.
Semua masih dalam pengamatanku hingga ke empat wanita itu pergi aku masih mengikutinya hingga mereka masuk dalam rumah yang sederhana di tepi pantai.
Hingga dua hari Nuke masih terlihat bersama-sama dengan ketiga wanita ini.
Dan ini hari ketiga terlihat Nuke duduk sendiri menatap lautan luas dengan perlahan aku mendekat dan duduk di sebelahnya.
Cukup lama hingga dia menyadari kehadiranku dan langsung berdiri dan hendak pergi tetapi tanganku langsung meraihnya.
"Nuke,jangan pergi. Please aku mohon."
"Maaf Tuan, sebaiknya Anda pergi dan jangan menganggu saya karena saya tidak mau berhubungan dengan laki-laki sakit dan gila seperti Anda, maaf saya harus pergi."
"Nuke. Please bantu aku untuk sembuh!Ya, aku sakit, aku gila bantu aku Nuke!" teriakku dan itu membuat Nuke berhenti dan berbalik melihatku.
"Pergilah ke Dokter dan ahlinya aku tidak bisa membantu Tuan," ucapnya sembari berlalu.
"Tolong Nuke." Kini aku berdiri dan langsung merangkulnya, "tolong jangan pergi lagi dariku aku memerlukanmu tolong bantu aku untuk sembuh.
End