Ini adalah Jessica, sedang bersembunyi di celah-celah batu. Jessica sangat tidak menyukai cahaya, oleh karenanya dia jarang aktif di siang hari, dan lebih suka keluyuran di malam hari. Terdengar seperti vampir atau kupu-kupu malam bukan? Tapi jangan salah… Jessica BUKAN keduanya.
Perkenalkan, Jessica, si kalajengking punya Dito. Kalajengking betina ini baru datang siang tadi. Dito membelinya dari kenalan di Facebook.
Jessica berbahaya. Sengatan ekornya dapat menyebabkan bengkak, nyeri, bahkan demam. Itu sebabnya dia ditempatkan di sebuah aquarium berukuran 35 x 15 x 15 sentimeter, dengan penutup khusus di atasnya.
Di antara celah bebatuan, Jessica berjalan-jalan di rumah barunya. Dito lumayan baik hati mendesain rumah Jessica sedemikian rupa. Dia beri alas berupa bebatuan kerikil. Dia buatkan gua kecil berbahan dasar tanah liat. Tidak lupa, dia siapkan tutup botol sebagai wadah minum – sebenarnya Jessica ini tipe desert scorpion yang tidak membutuhkan banyak air. Jessica tampaknya bisa hidup bahagia di enclosure barunya itu.
Setelah asik mengamati Jessica, Dito beranjak ke kamar, mengambil ponsel. Mahasiswa kupu-kupu semester empat itu menghubungi temannya lewat Whatsapp.
Dito : (Cing.)
Terlihat nama kontak yang tertera di gawai Dito adalah “Kucing”. Aneh. Tapi ini hal lumrah bagi Dito. Dia biasa menamai kontak teman-temannya dengan nama-nama hewan.
Selang beberapa menit, Kucing membalas.
Kucing : (Kenapa, Ru?)
Sedangkan Kucing, dia memanggil Dito dengan panggilan “Biru”. WHAT? Cerita macam apa ini? Biar tidak bingung, kilasan balik ini akan menjelaskan mengapa dua orang aneh itu menamai kontak Whatsapp mereka dengan nama-nama freak.
***
Di toko buku Barkah Books and Comics, BBC, Dito sedang membaca buku kumpulan cerpen berjudul Starrynight. Tiba-tiba seorang cewek di depannya terlihat mencurigakan, membungkukkan badan seperti ingin melongok bagian sampul. Cewek itu pun berkata, “Itu Starrynight edisi kedua, ya?”
“Iya.”
“Eh, gue mau, dong,” pinta cewek itu.
Dito yang malas bercekcok dengan perempuan – apalagi stranger – memberikan bukunya begitu saja. Setelah dapat bukunya, cewek itu langsung ke meja kasir. Di situ Dito mulai curiga kalau si cewek mau membeli bukunya, padahal buku tadi tidak untuk dijual, melainkan dibaca di tempat. Dan, Starrynight edisi kedua lumayan langka. Kalau cewek itu membawa kabur bukunya, bisa gawat.
Buru-buru Dito menghampiri cewek aneh tadi. “Lo mau bawa ke mana, bukunya?”
“Pulang, lah. Ini kan bisa dipinjam,” jawabnya.
“Tapi gue belum selesai baca. Gue kan udah rela ngalah, jangan lah lo bawa pergi juga bukunya. Nanti gue susah lagi nyarinya,” pinta Dito, agak memelas.
Cewek berambut sebahu itu melirik ke atas, berlagak seperti sedang berpikir – padahal sebenarnya sedang menggantungkan jawaban. A few moments later, dia memberikan ponselnya, lalu berkata, “Nih, tulis aja nomor hp lo.” Dito pun mengetik nomor ponselnya.
“Nama lo siapa?” ucap cewek itu lagi.
Ini yang diwaspadai Dito, NAMA. Dia tidak mau asal memberi tahu nama aslinya kepada orang asing, jika tidak perlu-perlu banget.
“Biru,” jawab Dito spontan.
“Hah? Biru?” tanya cewek itu menatapnya sangsi. “Kok aneh banget.”
“Al Biruni. Panggil aja Biru,” tegas Dito. “Lo tau, kan, Al-Biruny astronom Islam? Nama gue terinspirasi dari dia.” Cowok berkacamata minus 4 ini terlampau kreatif dan pintar mengarang.
Cewek itu manggut-manggut saja, walau sebenarnya tidak tahu siapa itu Al-Biruny.
…
Beberapa hari berlalu. Dito mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Nomor asing : (Ini Biru, kan?)
Sesaat, Dito menerawang dulu maksud pesannya. Apakah ini penipu, orang gila, atau sekadar bocah iseng? Diingatnya berkali-kali, baru ia tersadar pernah mengaku sebagai Biru.
Dito : (Iya.)
Nomor asing : (Hehe, maaf ya lama bacanya. Nanti kalau udah selesai, langsung gue kabari lo deh, Dito.)
“WHAT THE F!” Dito terperanjat. Dari mana orang asing itu tahu namanya?
Dito : (Lo tau nama gue dari mana?)
Nomor asing : (Mungkin lo lupa ganti nama Whatsapp lo.)
PLAK!
Dito menepuk jidatnya. Baka1....
Dito : (Iya, deh, gue ketahuan.)
Nomor asing : (J)
Dito : (Gue tunggu ya bukunya.) (Oh iya, gue belum tau nama lo siapa? Biar adil kasih tahu juga dong!)
Nomor asing : (Hmm… nggak ah.)
Seperti biasa, Dito malas berdebat dengan perempuan. Jadi dia menyimpulkan sendiri.
Dito : (Yaudah, gue panggil lo Kucing, ya.)
Karena foto profil Whatsapp cewek asing itu adalah kucing.
…
Setelah berminggu-minggu, Dito jadi akrab dengan Kucing. Mereka sering mengobrol santai tentang kehidupan sehari-hari lewat daring. Kadang juga bertemu untuk bertukar pikiran. Lama kelamaan, nama asli Kucing terkuak.
Lewat akun Instagram, nama asli Kucing ternyata adalah Jessica. Sekarang mereka sama-sama sudah tahu nama asli masing-masing. Tapi mereka tetap bercakap dengan memanggil nama saat pertama kali mengenal, yaitu Biru dan Kucing.
Dirasa kilasan balik ini cukup, kita akan kembali ke cerita Jessica.
***
B : (Gue baru beli pet, nih, Cing.)
K : (Apaan, tuh? Jangan bilang lo beli kucing!)
B : (Bukan. Ini lebih cantik dari kucing, haha.)
K : (Iya, deh. Yaudah apaan, kasih tau!)
B : (Gue beli kalajengking.)
K : (HAH?! LO GILA, YA?!)
B : (Haha, mau tau apa lagi yang lebih gila?)
K : (Apaan?)
B : (Gue namain kalajengking ini “Jessica”.)
K : (Nggak waras lo, Biru!)
Bukan tanpa alasan Dito menamai kalajengkingnya Jessica. Tapi perlu diketahui, bukan karena Jessica si Kucing, itu hanya kesamaan yang tidak diharapkan. Nama Jessica menurut Dito mudah diingat, dan juga nama itu identik dengan perempuan atau betina. So simply, kan?
Hari-hari Dito perhatikan jadwal makan kalajengking berukuran 5 sentimeter itu. Jessica hanya butuh makan seminggu sekali. Makanannya juga mudah didapat, tinggal datang ke kios burung, lalu minta satu atau dua ekor jangkrik. Hewan peliharaan yang ramah kantong. Kehebatan lainnya, Jessica bisa berkembang biak sendiri, tanpa adanya pejantan. Kemampuan ini disebut Parthenogenesis2. Ini bisa jadi ladang bisnis bagi Dito. Hanya saja, ternyata mengembangbiakkan kalajengking itu tidak semudah yang dibayangkan.
Berkali-kali Jessica keguguran. Telur-telur yang belum masak harus mati secara alami. Ini bahkan terjadi sampai dua generasi kehamilan Jessica – dalam satu generasi kehamilan, bisa memakan waktu tiga bulan. Dito tidak tahu harus berbuat apa. Apakah karena kandangnya tidak nyaman? Atau karena nama Jessica membawa sial? Daripada memikirkan hal yang tidak pasti, Dito lebih baik membiarkannya terjadi secara alami. Mau Jessica berhasil berkembang biak atau tidak, itu urusan takdir.
Sampai pada titik jenuh merawat Jessica, kurang lebih hampir setahun, Dito memutuskan untuk melelangnya di Facebook. Keputusan ini tidak lepas dari keinginannya memelihara Channa3. Karena tidak punya aquarium lagi, rencananya Dito akan mengubah kandang Jessica menjadi aquarium ikan.
Setelah memasang iklan di grup Facebook, akhirnya ada orang yang mengontak Dito. Orang itu menawarkan lima puluh ribu rupiah untuk Jessica. Harga itu sebenarnya turun dua puluh ribu dari harga awal. Dito lagi-lagi dibuat bimbang. Tidak banyak orang yang menawar Jessica, karena kalajengking jenis ini sudah banyak di pasaran hewan eksotis. Tapi, ia kembali teringat hasratnya memelihara Channa. Dan itu menguatkan keputusannya.
Dalam kesedihan yang tak tampak, Dito mengirim Jessica menggunakan jasa antar paket. Tentu dia sudah mengemasnya sebegitu savety, agar abang pengantar paket tidak terancam.
Mengingat nama Jessica, cowok itu jadi teringat Kucing. Sudah lama dia tidak berbicara dengannya. Mungkin ini saatnya menanyakan kabar kawan dadakannya itu. Mereka pun sepakat bertemu di BBC.
“Gimana kabar lo, Cing?” Dito duduk di sampingnya, agak canggung karena sudah lama tidak mengobrol.
“Dit,” ucap Kucing, membuat Dito agak terkejut. Selama ini Kucing jarang memanggil nama aslinya. “Gue pengin lo nggak manggil gue Kucing lagi. Bisa kan panggil gue Jessica aja?”
“Tapi, kan, gue udah biasa manggil lo gitu.”
Kucing, atau yang sekarang maunya dipanggil Jessica menghela napas. Helaan napas dan sayu matanya sepertinya tidak dapat dipahami Dito, bahwa cewek setahun lebih muda dari Dito itu lagi bad mood.
“Udah ya, gue mau pulang,” ucap Jessica, tetiba pergi tanpa alasan jelas.
Setelah pertemuan singkat itu, Jessica jarang mengabari Dito. Dito pun sama. Mereka jadi saling tidak berkabar lagi. Yah, tapi itulah Dito, tidak mau memusingkan problematika seperti itu. Dia cuma fokus mengurus bisnis akun medsosnya.
…
Hari berjalan tanpa terasa. Hari raya Idul Fitri bahkan sudah tiba. Dito mengirimi pesan copy paste bertuliskan “Minal aidin wal faizin. Maafkan sekeluarga, ya.” Bla bla bla… kepada teman-temannya.
Saat sedang mencari satu per satu kontak teman-temannya, ada satu nama yang nyangkut, Kucing. Diingat-ingat, dia punya salah kepada cewek itu karena terus menerus memanggilnya Kucing. Dengan perasaan tidak enak, Dito mengirim pesan kepadanya.
(Minal aidin ya, Kucing meong meong!)
Tak lama kemudian, Jessica membalas.
K : (Iya.)
Sangat singkat. Hal itu membuat Dito semakin merasa sungkan melanjutkan percakapan. Tapi ia beranikan diri bertanya.
D : (Gue ada salah ke lo, ya?)
K : (Nggak, kok, hehe. Tadi gue lagi silaturahmi ke rumah aunti. Jadi balasnya singkat.)
Jawaban itu sedikit memberikan napas lega buat Dito.
…
Momen Idul Fitri berlalu hampir setahun – tepatnya sekitar 10 bulan. Dito kembali ke aktivitas sehari-hari. Selama itu pula, dia kembali abai pada Jessica. Yang dipikirkannya hanyalah KONTEN, KONTEN, KONTEN! Dan bagaimana cara menambah followers Instagram.
Saat sedang mengedit gambar, tetiba notifikasi dari Jessica masuk.
K : (Apa kabar, Ru?)
B : (Baik. Lo?)
K : (Iya, gue juga.)
B : (Bagus deh kalau gitu.)
K : (Biru, lo mau tau nggak?)
B : (Apa?)
K : (Akhirnya… gue punya cowok! Yes, seneng banget setelah berlama-lama menjomlo.)
B : (Udah kayak masuk Universitas Harvard aja lo, seneng banget.)
K : (Iyalah, emang kek lo. Betah jadi JOMLO LUMUTAN!)
B : (Iya dah iya.)
Percakapan itu tidak terlalu digubris Dito.
K : (Lo nggak mau ngucapin congrats, gitu?)
B : (Buat apa?)
(…)
Ada jeda sesaat akibat kalimat impulsif Dito.
Chatting-an juga jadi terkendala karena aplikasi edit foto yang sedang Dito gunakan mendadak error. Foto-foto yang sudah diedit belum tersimpan. Dito menjambak-jambak rambutnya. Frustasi.
Sial! Bisa stress, nih, gue! Batinnya mengeluh dahsyat.
Dilihatnya chat terkahir dengan Jessica tadi. Senyum Dito mereka. Sebauh ide muncul di kepalanya.
B : (Jes….)
K : (Tumben manggil gue Jessica.)
B : (Sebenarnya, gue nggak seneng denger kabar lo punya cowok. Ada yang mau gue bicarain dari dulu.)
Dengan entengnya dia berkata seperti itu. Tanpa memikirkan lebih jauh akibatnya.
K : (Serius?)
B : (Iya. Lo mau nggak ketemuan di Kafe Janjian?)
Jessica dibuat berekspektasi besar.
K : (Yaudah, kapan?)
B : (Weekend ini.)
…
Akhir pekan, setelah dari Gramedia, Dito datang lebih awal ke Kafe Janjian. Dipesannya Red Velvet untuk menghilangkan dahaga.
Di ambang pintu masuk, Jessica terlihat baru datang. Dia mengederkan pandangan, mencari Dito. Ternyata cowok careless itu duduk di luar. Gadis itu pun segera menghampiri.
“Bulu… bulu…,” sapa Jessica mengejek. Bulu maksudnya Blue (Biru).
“Meong… meong…,” balas Dito.
Mereka membuka obrolan dengan topik-topik ringan, seperti rencana Jessica masuk universtas, dan jurusan apa yang ingin dia ambil. Setelah itu, obrolan mulai masuk inti pembicaraan.
“Oh iya, katanya ada yang mau lo omongin?” tanya Jessica.
“Begini, Jes, sebenarnya dari dulu gue pengin nembak lo.” Dito memasang raut wajah serius. “Tapi, gue agak malu.”
“Beneran?” respon Jessica, yang juga tak kalah serius.
“Iya.”
Jessica menarik napas panjang. “Kenapa, sih, nggak lo bilang aja dari dulu? Sebelum gue punya pacar.”
“Ya mau bagaimana lagi.” Dito memasrah.
Cewek yang sekarang rambutnya dikuncir ponytail, dengan setelan cardigan itu menerawang ke langit-langit, berpikir sekaligus mencari solusi. “Lo beneran suka sama gue?” tanyanya lagi untuk memastikan.
“Iya.”
“Gini aja, deh. Gue juga sebenarnya nggak terlalu suka sama cowok gue yang sekarang. Orangnya terlalu posesif. Jadi, nanti gue bi….”
“APRIL MOP!” pintas Dito, tiba-tiba memekik. Dia pun tertawa puas berhasil mengerjai Jessica. Dan, Jessica juga ikut tertawa. Tetapi tawa itu palsu.
…
Setelah hari itu, Dito kembali ke aktivitas membuat konten dan menulis cerpennya. Tanpa ia sadari apa yang telah dilakukannya terhadap Kucing-nya. Sekarang, kucing itu mencari tempat baru yang lebih nyaman. Berat bagi seekor kucing meninggalkan tempat yang telah memberikan kenyamanan selama berbulan-bulan, tapi begitulah adanya.
Dito, baru menyadarinya setelah lama berlalu. Seperti kata pepatah “Sudah tiada, baru terasa”. Dan itu ia kenang sebagai tahun-tahun kehilangan Jessica, baik itu Jessica kalajengking maupun Jessica Kucing. Dua Jessica berbeda spesies yang memberikan cerita masing-masing bagi hidupnya yang kosong.