Entah hari apa dan tanggal berapa, aku sudah lupa. Pada waktu itu, aku berangkat sekolah pagi sekali sehingga ketika aku sampai di sana, tak ada seorangpun yang datang. Sekolah masih terlihat begitu sepi. Akupun menunggu teman temanku sambil mengerjakan tugas di taman sekolah di dekat air terjun. Setengah jam kemudian, anak anak sudah mulai datang walaupun hanya satu, dua. Tapi tiba tiba saja mataku tertuju pada laki laki yang baru turun dari mobil. Ia terlihat begitu keren. Pemandangan yang begitu sempurna hingga membuat mataku tak berkedip. Aku benar benar terpesona melihat ketampanannya. Tak ku sangka, di tempat sekolahku ada makhluk sekeren dan setampan dia.
Aku merasa malu ketika dia melihat ke arahku dan aku tetap menatapnya. Aku pun langsung menunduk dan berpura pura membaca buku. Barulah ketika dia pergi, aku menoleh ke arahnya lagi.
Sejak itu aku langsung senyum senyum sendiri ketika mengingatnya, wajahnya begitu imut dan unyu unyu. Yah walaupun wajahnya mungil dan gemesin, ia tetap terlihat sangat keren dan tampan bahkan terlihat seperti dewasa, mungkin karena sikapnya yang ramah.
Tepat pada saat jam istirahat, aku pergi ke toilet. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang hingga ia terjatuh. Aku meminta maaf tanpa melihat siapa orang yang sudah aku tabrak. Karena aku sudah tak tahan ingin segera BAK (buang air kecil), akupun meninggalkan dirinya dan langsung masuk ke dalam toilet. Setelah selesai BAK, aku langsung pergi munuju kantin untuk mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan. Saat aku lagi menikmati makanan yang telah aku pesan, tiba tiba seorang laki laki tanpa permisi langsung duduk di sebelahku. Aku pun menoleh ke arahnya dan “WOW”, ternyata dia adalah laki laki yang aku lihat tadi pagi. Aku tak menyangka, dia mau duduk di sampingku. Hatiku bergetar, jantungku berdetak lebih cepat bahkan tubuhku terasa panas dingin. Baru kali ini aku merasakan hal seperti ini. “akankah aku jatuh cinta padanya?” tanya aku dalam hati.
“Namamu siapa?” tanya laki laki itu membuyarkan lamunanku.
“Resti kak. Kakak sendiri siapa namanya?” tanya aku balik. Gak sopan rasanya jika dia menanyakan namaku sedangkan aku tak menanyakan namanya.
“Virgo. Orang yang baru saja di tabrak oleh kamu pas di depan toilet.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku merasa kaget mendengarnya. Tak ku sangka, orang yang aku tabrak tadi ternyata orang yang sudah bikin aku terpesona akan ketampanannya.
“Maaf kak. Tadi aku gak sengaja.” Ucapku sedikit menunduk. Tak berani menatap wajahnya.
“Iya gak papa. Aku gak marah kog. Kamu anak kelas satu IPA B ya?” tanya virgo sok akrab.
“Iya kak. Kog kakak tau?”
“Iya soalnya aku pernah melihat kamu masuk ke kelas itu.”
“Oh.”
Sejak percakapan di kantin itu, aku dan kak virgo semakin hari semakin akrab saja. Setiap jam istirahat sekolah, aku selalu menghabiskan waktuku untuk ngobrol bersamanya bahkan setiap pulang sekolah, aku dan dia selalu pergi bersama untuk membeli buku, nonton di bioskop, pergi ke mall, pergi ke pantai dan pergi ke tempat tempat yang indah dan tentunya romantis hehe.
Bahkan sekarang ia selalu jemput aku ke rumah setiap kali mau berangkat sekolah. Dia selalu perhatian dan selalu memanjakanku. Ketika aku ada tugas dan aku tak bisa mengerjakannya, ia selalu membantuku hingga dia seperti guru privat bagiku yang selalu aktiv mengajar aku tiap hari. Yah tiap habis maghrib dia selalu datang kerumahku untuk belajar bersama. Bahkan kedua orang tuaku sangat kagum sama kak virgo, selain tampan ternyata ia juga sangat pintar. Orang tuaku tak marah jika aku dekat dengannya karena sejak aku kenal dan berteman dengannya, nilai sekolahku semakin meningkat. Dan itu membuat orang tuaku semakin bangga terhadapku.
Semakin hari, aku dan kak virgo semakin lengket saja. Hingga semua teman teman di sekolahan mengira aku dan kak virgo sedang menjalin hubungan. Aku merasa risih setiap kali ada orang yang mengatakan kalau aku pacaran sama kak virgo. Saat aku mengatakan kalau aku ingin menjauhinya tapi kak virgo malah berkata,
“Kamu tak perlu menjauhiku. Aku ingin kamu tetap seperti ini. biarlah semua orang mengatakan apa, aku tak peduli. Selama aku merasa nyaman berada di dekatmu, selama itu pula aku ingin kamu selalu ada di dekatku.”
“Tapi kak?”
“Resti bagaimana jika kita pacaran?”
“Maksud kakak?”
“Yah aku ingin kamu menjadi pacarku. Kamu mau kan?” tanya kak virgo.
Aku tak pernah menduga, kak virgo akan mengajakku pacaran. Hal ini merupakan mimpi indah bagiku. Aku tak perlu berfikir lama untuk menjawab pertanyaan kak virgo. Aku langsung menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan kak virgo tadi.
“Sungguh kamu mau jadi pacarku?”
“Iya kak. Aku mau jadi pacar kak virgo. Yang akan selalu ada buat kakak dan mengisi hari hari kakak.”
“Makasih ya, aku senang dan aku merasa sangat bahagia karena aku bisa mempunyai pacar sebaik dan secantik kamu.”
“Aku juga bahagia mempunyai pacar setampan kak virgo.”
“Emang aku tampan?” goda virgo, membuatku malu hingga pipiku merah merona.
“Iya.” Jawabku tersipu malu.
“Hahahaha, kenapa pipimu merah. Malu ya?... udah gak usah malu. Resti, aku sayang sama kamu.”
“Aku juga sayang sama kak virgo.”
Mulai hari itu aku resmi menjadi pacar kak virgo, cowok tampan yang jadi rebutan para cewek cewek di sekolahku.