Siang itu aku didatangi oleh gembolan cowok-cowok ganteng. Mereka adalah Silver Band yang saat ini digandrungi oleh kaum hawa disekolah ku.
"Kamu yang namanya Metta?" tanya seorang laki-laki bernama Willi.
"Iya, aku. Ada apa Kak?" tanyaku.
"Aku dengar dari anak-anak sini, kamu suka nyanyi ya? Suaramu katanya merdu. Gini, di band kami mau nambah satu vokalis cewek untuk nyanyi bareng vokalis kami Alfin," ucap Andre, gitaris di band ini.
"Kak Alfin?" Aku cukup kaget mendengar nama itu, pasalnya cowok bernama Alfin ini adalah cowok tampan yang ada di grup band ini. Jujur, aku begitu mengidolakannya. Mungkin bukan cuma aku, tapi seisi sekolah terutama wanita, begitu memuja laki-laki bernama Alfin itu.
Aku menatap wajah Alfin, cowok ganteng dengan lesung pipi khas nya. Siapa wanita bodoh yang menolak masuk di grup band ini!
Kali ini Alfin ikut bicara, dia mendekat lalu duduk disampingku. Ada rasa canggung, debaran keras memenuhi hatiku. Ada apa denganku?
"Metta, kamu temenin aku nyanyi ya, dilagu baruku ini. Please, bantu aku ya!" pintanya sambil memegangi tanganku.
Aku hanya mengangguk pelan, menyetujui keinginan mereka untuk bergabung di band Silver milik mereka.
*****
Keesokan harinya, kami mulai latihan bernyanyi diiringi musik. Ada rasa canggung dan malu saat menatap lawan bernyanyi ku, yang tak lain adalah Alfin. Kami sempat beberapa kali mengulang lagu, bukan karena suaraku jelek, melainkan karena ekspresi ku yang begitu takut saat disentuh oleh Alfin.
Aldo sang pemain drum mulai kesal, matanya melotot menatapku.
"Heh, anak baru! Mau sampai kapan, ini lagu diulang terus? Apa sih masalahnya, kamu cuma disentuh tangannya aja oleh Alfin. Kenapa keliatan canggung banget! Ini lagu, lagu romantis. Kalau kamu nyanyi kaya ilfil gitu, ya..., gak cocok!" ucap Aldo memakiku.
Mataku berkaca-kaca, kenapa aku harus dimarahi oleh mereka? Apa salah, jika aku malu disentuh oleh Alfin?
*****
Waktu terus berjalan, sudah hampir satu bulan aku bergabung dengan band ini. Namun aku tetap saja tidak bisa mengendalikan hatiku jika disentuh oleh Alfin.
Aldo marah, dan membanting tongkat drumnya.
"Mau sampai kapan? Saya gak mau latihan, kalau vokalis wanitanya masih dia!" teriak Aldo.
Aku kaget, sampai air mataku mengalir deras. Willi, Andre dan Alfin menghampiri ku. Mereka mencoba menenangkan hatiku.
"Udah, gak usah diambil hati, Aldo emang orangnya gitu! Asal jeplak, gak mikirin perasaan orang," ucap Willi.
"Jangan nangis, nanti cantiknya ilang!" ucap Alfin menggodaku.
"Cieh... Ada yang ngegombal nih," tawa Andre.
"Apaan sih kalian," ucap Alfin malu.
"Sudahlah Kak, lebih baik cari pengganti saya. Saya gak pantes ada di band ini!" ucapku.
Akhirnya setelah kejadian itu aku memutuskan untuk berhenti menjadi vokalis di Band Silver milik mereka. Ada rasa rindu yang menyeruak isi hatiku. Kerinduan menatap laki-laki bernama Alfin dari dekat. Kami memang satu sekolah, tapi kami jarang bertemu karena mereka memang sibuk dan jarang mengunjungi sekolah.
Hari itu aku dan Febi sahabatku sedang ngobrol, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Alfin dihadapan ku. Sontak membuat seisi sekolah langsung ramai, mendekat kearah kami. Band Silver ini sudah pernah beberapa kali masuk televisi, jadi mereka sudah seperti seorang artis disekolah.
Aku terpaku menatap kehadiran laki-laki itu, dia tersenyum kearah ku sambil memberikan bunga. Apa artinya bunga mawar yang dia berikan padaku ini?
Sontak, semua orang heboh dan mulai bergosip. Tapi tidak apalah, aku suka digosipkan dengan laki-laki baik dan semanis Alfin.
"Aku rindu kamu, Metta! Biasanya, aku bisa dengan leluasa menatap wajahmu. Sekarang, tiba-tiba saja kau menghilang dari pandanganku. Kembalikan hatiku yang telah kau curi," tawanya.
"Kak Alfin disini? Ngapain?" tanyaku.
"Nemuin kamu, Ta!" ucapnya.
"Aku cinta padamu, " ucap Alfin sedikit berbisik.
Aku terkejut, sama mereka yang menonton drama yang dibuat Alfin. Aku tidak bergerak, rasanya hatiku meleleh mendengar pernyataan cintanya.
Akhirnya aku tersenyum sambil mengangguk, dan disitulah awal kami pacaran. Aku diminta Alfin untuk kembali menjadi vokalis di Band itu. Ya, tentu aku tidak menolak!
Hanya saja ada yang berbeda, disana hanya ada Andre, Willi, dan cowok baru bernama Tito. Akhirnya mereka menjelaskan, bahwa Aldo memilih keluar dari Band itu.
"Apa karena aku? Kak Aldo keluar?" tanyaku.
"Gak kok. Dia memang orangnya kaya gitu! Emosian, ntar juga balik lagi kesini," ucap Willi.
"Ada acara Minggu ini, disalah satu stasiun TV. Kita bakal manggung, bersiap ya!" kata Alfin sambil mendekap tubuhku.
Willi dan Andre melotot, pasalnya laki-laki bernama Alfin ini bukan laki-laki yang romantis. Jadi, merangkul ku adalah hal paling langka yang dilakukannya.
"Kalian pacaran?" tanya Andre.
Kami berdua hanya mengangguk, senyum terpancar dari bibir Alfin.
"Iya, kami pacaran!" jawab Alfin.
"Sejak kapan? Lah, kok gak ngomong-ngomong sih?" ucap Willi kaget.
"Kemarin. Aku menemui Metta, aku ngajak dia balik ke band kita, sambil ngungkapin perasaanku padanya," ucap Alfin membuat mereka mematung.
Aku adalah wanita pertama yang ditembak Alfin, biasanya wanita yang rebutan ingin menjadi pacar Alfin.
"Pantas kalian sekarang gak canggung lagi! Ternyata kalian pacaran!" tawa Willi.
"Tapi itu bagus, setidaknya mereka jadi kompak dan tidak canggung lagi," ucap Andre.
Kamipun memulai latihan, entah kenapa aku merasa nyaman. Aku tidak malu-malu dipeluk dan disentuh oleh Alfin.
Hari itupun tiba, band kami tampil disebuah stasiun televisi. Dan yang paling membuat kami bahagia, ada produser rekaman yang mau mengontrak band kami.
Saat sedang berpesta merayakan keberhasilan kami, tiba-tiba Aldo datang menghampiri kami.
"Maaf, ternyata kalian memang hebat! Aku salah, telah meragukan kemampuan Metta. Aku benar-benar minta maaf," ucap Aldo dengan wajah sedih.
"Kami sudah memaafkan mu, sudah kemari! Kami ingin kau kembali menjadi drummer di band ini," ucap Alfin.
"Terimakasih. Tapi Metta, apa kau mau memaafkan aku?" tanya Aldo.
"Tentu Kak. Aku sudah memaafkan kesalahan mu," ucapku dengan senyum.
Setelah kejadian itu, kami semakin dekat. Aku bahagia bisa dekat dengan mereka. Dekat dengan anggota band itu, dan dekat dengan kekasihku, Alfin.
Berawal dari pertemuan dengan Alfin sebagai anggota band, kini aku menjadi kekasih Alfin. Laki-laki tampan yang dipuja banyak wanita. Seperti mimpi, semua begitu indah.
Ini adalah awal perjalanan cintaku bersama Alfin. Menjalani kisah cinta yang baru saja dimulai.
Tamat