Perkenalkan namaku Zulaikha.
Aku kini sudah menikah, usia pernikahan ku dengan suami berjalan 5 bulan dan masih hangat-hangatnya.
Dan aku pun sering berfikir mengapa aku tidak kunjung hamil?
Tetapi, aku mengenyahkan fikiran itu, aku berfikir Allah masih belum memberikan karena, belum saatnya.
Aku pun pasrah.
Aku dan suamiku kini tidak tinggal di rumah mertuaku ataupun di rumah orang tuaku, melainkan suamiku sudah menyiapkan rumah impiannya.
Walau tidak sebesar rumah orang tuaku, ataupun mertuaku.
Tetapi, aku sangat nyaman dan lebih leluasa.
Dan tepatnya kini, keanehan suamiku mulai ku rasakan.
Tiba-tiba saja ia marah besar sesaat ia baru saja pulang dari kantor.
Aku yang sedang menyiapkan makan malam, tiba-tiba dikejutkan dengan cekalan tangan yang erat.
Suamiku menarik, bukan tapi menyeret diriku hingga ke kamar kami.
Ia pun menjatuhkan aku diatas ranjang.
Menjambak, menampar dan tak segan juga menci*m bibirku dan berakhir ia mengigitnya, hingga bibirku mengeluarkan darah.
Aku pun berontak, tetapi tenaga suamiku lebih kuat.
Hingga 30 menit, deru nafas juga amarahnya hilang, ia pun tiba-tiba saja meminta maaf atas tindakan yang telah membuat aku babak belur.
Wajahnya dapat dilihat, ia merasa bersalah dengan yang telah ia lakukan beberapa menit lalu.
Aku pun memaafkannya, aku berfikiran positif, jika suamiku tenaga mengalami banyak masalah saat di kantor.
Dan kami akur kembali, suamiku pun izin untuk membersihkan tubuhnya dan aku pun melanjutkan masak yang tertunda.
Dan tak terasa sudah beberapa kali suamiku bertindak seperti itu.
Kini sudah hampir 2 minggu, suamiku melakukan tindakan tersebut.
Tetapi ini lebih parah, di saat kami ingin melakukan hubungan suami-isteri, dia selalu berbuat diambang normal.
Dia selalu menjambak, menampar juga mengigit bibirku saat kami bercium*n.
Dan paling gila lagi, ia memakai peralatan yang entah apa saat kami melakukan hubungan suami-isteri itu berlangsung.
Aku memaklumi, aku berfikir mungkin dia ingin berfantasi yang berbeda.
Tetapi, ini bulan ke 3 ia melakukan fantasi dengan alat-alat aneh itu, dan dapat ku simpulkan, bahwa suamiku memiliki kelainan dalam s*ks.
Aku pun akhirnya menyerah, dan menggugat cerai suamiku.
Kini kami pun bercerai tanpa seorang anak.
Dan keluarga besarku tidak tahu jika suamiku memiliki kelainan s*ks juga mungkin lebih baik aku menutup rapat-rapat aib ini.
Aku pun menata kehidupan aku kembali, memulai kehidupan baru dan juga status baru yakni, janda.
Aku kembali pada rutinitas sebelum menikah, aku ingin kembali bekerja dan mencari lowongan-lowongan pekerjaan.
Walau kedua orang tuaku meminta diriku untuk tidak bekerja terlebih dahulu, dikarenakan aku baru saja ketok palu pengadilan.
Tetapi, aku tidak ingin bayang-bayang kesedihan selama aku menikah dengan 'mantan suamiku' mengganggu fikiran-ku.
Akhirnya, kedua orang tuaku pun mengizinkannya.
Tepat 2 minggu sudah aku menjadi janda, aku akhirnya di terima di salah satu perusahaan retail.
Aku pun menyampaikan kepada kedua orang tuaku, bahwasanya aku di terima di perusahaan tersebut, dan akan melakukan sesi wawancara keesokan harinya.
Singkat cerita, aku pun sudah di terima dan kini sudah bekerja hampir 3 bulan, selama 3 bulan pun aku tak pernah melihat bos ku.
Tetapi aku tidak memikirkan itu, yang aku fikirkan, kini ialah mencukupi kebutuhan kedua orang tuaku, karena mereka sudahlah sangat tua, sebelum aku bercerai, mantan suamiku lah yang mencukupi kebutuhan kedua orang tuaku, dengan artian mengirimi sejumlah uang ke rekening ibuku.
Tetapi, semua telah usai dan tulang punggung keluarga kini berada di genggaman tangan ku.
Kembali ke cerita.
Entah mengapa hari ini suasana perusahaan lebih berbeda, semua pekerja datang lebih pagi dari diriku biasanya, contohnya rekan kerjaku bernama Galuh dan Kalina.
Mereka biasanya akan datang ke perusahaan 20 menit sebelum waktu kantor tiba, tetapi hari ini mereka berdua, tepat pukul 07.00 mereka sudah berada di ruangan kerja kami dengan tampilan yang sangat-sangat rapi, tidak seperti biasanya.
Aku pun tidak mempermasalahkannya, toh itu juga untuk kebaikan mereka berdua.
Mereka itu pasangan kekasih, walau setiap jam, ah bukan, melainkan setiap detik ada saja permasalahan yang mereka timbulkan, yakni pertikaian kecil. Tapi, tidak akan terlalu lama mereka bertikai.
Dan aku pun langsung meletakkan tas kerjaku didalam laci kecil yang tepat di meja kerjaku.
Ketika diriku hendak merapikan meja kerja, Galuh pun menyapa diriku dan ku balas menyapanya.
Dan Kalina pun datang menghampiri diriku, dan mengatakan jika hari ini bos perusahaan akan datang berkunjung bersama putrinya.
Aku pun hanya menanggapinya dengan anggukan, toh hanya berkunjung. Aku pun tahu, akan bersikap seperti apa pada bos ku itu.
Waktu yang di nanti pun tiba, semua pekerja kantor berbaris di lobby perusahaan untuk menyambut bos juga putrinya.
Aku pun berada di deretan paling ujung dekat lift, karena aku sangat bosan jika harus melakukan rutinitas seperti menyambut bos ini.
Tibalah si bos, empunya perusahaan datang. Riuh bisikan yang mengatakan bos perusahaan kami ini tampan, keren, hot daddy dan sebagainya.
Aku hanya menunduk tanpa mau menatap bos ku itu.
Aku pun menghiraukan apapun bisikan-bisikan itu semua, yang aku fikirkan akan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk diatas meja kerjaku itu, aku berharap untuk secepatnya menyelesaikannya, tanpa harus lembur.
Dan tepat pada saat bos juga putrinya berhenti, tepat di hadapan-ku, putrinya itu melihat diriku yang tengah menunduk dan menghampiri diriku.
Tanpa aba-aba ia pun memeluk sebelah kakiku dan bermanja dengan diriku.
Serta mengatakan satu kata yang membuat diriku dan semua pekerja kantor, serta bos ku yang tak lain, daddy nya itu tercengang.
Ya, kata 'mommy' yang di lontarkan putri bos ku itu.
Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat raut wajah kesenangan dalam pancaran mata gadis kecil itu.
Kembali ia memanggil namaku dengan sebutan 'mommy'.
Aku pun berusaha untuk menjajarkan posisi tubuhku, supaya sama dengan gadis kecil itu.
Aku menatap wajahnya juga matanya, penuh dengan binar kerinduan yang mendalam.
Aku pun mengelus wajah imut, putih dan sedikit gembul itu.
Tak lupa mengatakan bahwa 'aku ini bukan mommy nya, melainkan pekerja yang bekerja di perusahaan milik daddy nya itu'.
Tetapi gadis kecil itu terus dan terus merengek memanggil diriku dengan sebutan 'mommy' dan berulang kali aku menghembuskan nafasku dengan kasar.
Melihat situasi yang kurang kondusif pun, bos ku membubarkan semua pekerja dan menyuruh mereka semua kembali bekerja, tinggallah aku, gadis kecil itu berserta daddy si kecil, yang tak lain bos ku.
Aku pun meminta izin untuk kembali ke ruangan ku, tetapi gadis kecil itu terus saya tidak bergelayut manja di sebelah kakiku.
Melihat situasi tidak memungkinkan, bos ku pun menyuruh diriku untuk membawa putrinya bersama dengan diriku ke ruangan dimana aku bekerja.
Mau tak mau,
Suka tak suka,
Aku pun membawa gadis kecil itu, walau dapat aku pastikan ia akan mengacaukan pekerjaan diriku, yang mana akan membuat diriku lembut kali ini.
Aku pun izin untuk kembali ke ruangan dengan membawa serta putri bos ku itu, dan anehnya gadis kecil itu tidak takut dengan orang baru ia kenal, seperti diriku ini.
Dan ia juga melupakan daddy nya.
Dan meminta diriku untuk menggendongnya hingga ke ruangan kerja ku.
Aku pun tak masalah.
Aku berpamitan kepada bos, juga selaku daddy dari gadis kecil yang tengah aku gendong ini.
Dan anehnya, sang daddy tidak menaruh curiga kepada ku, tetapi ia membiarkan putrinya berada pada orang yang baru di kenalnya.
SUNGGUH ANEH TAPI NYATA!
Sesampai di ruangan, aku pun bingung mau mendudukkan putri bos dimana?
Karena di ruangan kerja ku hanya ada 3 meja kerja+kursi sesuai jumlah pekerja.
Tetapi, kebingungan ku pun tidak terlalu lama, tiba-tiba saja seseorang membawakan sofa kecil dan meletakan di samping kursi kerja ku.
Aku heran,
Tetapi, beberapa menit datang bos ku dan mengatakan 'ia sengaja membawakan sofa kecil untuk putrinya, supaya tidak menggangu kerja ku'.
Aku pun tidak bisa menolak, aku kembali melanjutkan pekerjaan ku.
Sebelumnya, aku mengatakan pada gadis kecil itu untuk tidak mengganggu, dan bila ingin sesuatu katakan dan akan aku lakukan.
Tak berbeda jauh, kedua rekan kerjaku, Galuh dan Kalina pun tidak biasanya diam seribu bahasa.
Apakah mereka tengah menggosipkan diriku?
Ah, biarlah.
Aku hanya ingin kerja dan menuntaskan beberapa tumpukan kertas yang membuat mata dan kepalaku rasanya ingin pecah saja, ditambah dengan kedatangan putri si bos.
Bertambah-tambah pusing lah diriku.
Singkat cerita kembali,
Kini hubungan ku dan si gadis kecil terjalin harmonis
Tepatnya, kini kedekatan diriku dan putri si bos sudah berjalan 7 bulan, beberapa minggu lalu bos ku tak lain, daddy si gadis kecil itu melamarku.
Ya, bos ku itu duda satu anak.
Istrinya meninggal dunia saat putrinya berusia satu tahun.
Dan menginginkan seorang 'bunda'.
Aku pun meminta tenggang waktu, tak lupa juga aku mengatakan bahwasanya aku seorang 'janda' dan bos ku tak mempermasalahkannya.
Aku pun tidak menampik dan semua ini.
Kebaikan, tutur kata juga perhatian-perhatian yang diberikan bos ku itu, nyata bukan fatamorgana semata.
Malam ini, bos ku dan juga kedua orang tuanya ingin melamarku secara formal, tak ketinggalan gadis kecil itu pun ikut serta.
Memang sebelumnya putri si bos dan bos ku suka berkunjung ke rumah ku, tak ketinggalan berkenalan dengan kedua orang tuaku.
Dan kedua orang tuaku, sudah menganggap putri si bos yang bernama Tiffany KHaerunnisa Malik, sudah seperti cucunya sendiri. Dan bos ku yang bernama Muhammad Malik, sudah di gadang-gadang menjadi menantu kedua orang tuaku yang sangat disayangi.
Mengapa demikian?
Karena setiap Sabtu atau Minggu, Malik dan Tiffany akan datang berkunjung ke kediaman kedua orang tuaku.
Aku kini sudah berani memanggil bos ku dengan namanya, itu pun dengan kesepakatan dariku.
Jika di luar pekerjaan, aku akan profesional.
Ya, aku tahu. Kedua orang tuaku menginginkan diriku lekas menikah dan memberikan cucu untuk mereka, tetapi mereka tidak mengatakan atau menyuruh diriku untuk kembali membina rumah tangga lagi.
Kedua orang tuaku itu, sangat-sangat lah bijak dan tidak mempermasalahkan anaknya mau menikah lagi cepat atau tidak sama sekali.
Dan malam hari pun tiba,
Malik, kedua orang tuanya, dan beberapa sanak saudaranya pun tiba, tak ketinggalan si kecil Tiffany, pun ikut dalam rombongan itu.
Aku, Malik juga Tiffany kompak menggunakan baju bermotif batik, yang beberapa minggu lalu sudah di siapkan maminya Malik, yang tak lain adalah, calon ibu mertuaku itu.
Pernah terbesit dalam benak ku, jika calon ibu mertuaku itu akan memiliki sifat yang ketus dan sombong, karena memiliki putra yang tampan juga mapan, tak ketinggalan perusahaan yang setiap harinya berkembang pesat.
Tetapi, semua itu salah. Melainkan, calon ibu mertuaku itu sangat-sangatlah baik hati dan juga menyayangi diriku, layaknya putri sendiri.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar dan khidmat.
Tanggal pernikahan pun ditentukan, pihak keluarga Malik tidak ingin adanya pertunangan, mereka semua ingin secepatnya aku dan Malik menikah.
Untuk menghindari gosip, fitnah dan paling fatal khilaf yang dapat menimbulkan keresahan di kedua pihak keluarga.
Tepat, 3 minggu dari sekarang, tanggal pernikahan diriku sudah di tetapkan.
Dari menyewa gedung, undangan, baju pernikahan, cincin pernikahan, prasmanan juga sebagainya sudah di rundingkan.
Jika gedung beserta makanan yang akan di persiapkan adalah urusan calon ibu mertuaku, tetapi baju pernikahan berserta cincin pernikahan akan aku dan Malik yang mencari.
Walau, butik dan toko perhiasan dari rekomendasi dari mami Yuli, calon ibu mertuaku.
Aku pun terima saja, toh aku pun tidak tahu butik dan toko perhiasan mana yang memiliki kualitas bagus, versi calon mertuaku itu.
Keputusan pun sudah diambil, mereka pun pamit pulang dan jika ada perubahan maka mereka semua akan datang dan merundingkan kembali.
Aku pun bekerja seperti biasanya, dan hari ini Tiffany tidak ikut daddy nya ke kantor.
Malik mengatakan jika Tiffany tengah diajak ibu mertuaku berkebun di rumah utama, yakni rumah kedua orang tua Malik.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, kini aku sudah cantik dengan pakaian pernikahan ku.
Aku sengaja tidak mengundang mantan suami juga mantan kedua mertuaku itu, karena aku tahu mereka tidak akan menyetujui untuk datang ke pernikahan kedua ku ini.
Dan setelah proses akad dan di lanjut dengan resepsi hingga pukul 22.00 waktu setempat.
Akhirnya, selesai juga.
Tiffany, yang awalnya ingin tidur berdua dengan aku dan Malik, dibujuk rayu oleh ibu mertuaku dan meng-imingi akan mendapat adik.
Dan berhasil!
Kini kehidupanku menjadi lebih berwarna, bahagia dan sejahtera.
Aku memiliki suami, putra-putri yang menggemaskan, serta kedua orang tua dan kedua mertuaku yang sangat-sangat kompak juga harmonis.
Tidak ada lagi kata perpisahan,
Tidak ada lagi kata kekerasan,
Semua berakhir bahagia dan HAPPY ENDING.
~~TAMAT~~