Siang hari yang panas terasa amat membakar kulit. Beberapa kali aku menyeka keringat di dahi.
Saat ini aku tengah berjalan menunju supermarket untuk membeli beberapa barang yang di pinta majikan ku. aku bekerja sebagai ART pada seorang pengusaha kaya di ibu kota.
Namaku Safira putri, usiaku 24 tahun. Aku baru saja tiba di ibu kota tadi pagi setelah menempuh perjalanan 8 jam menggunakan bis.
Cuaca di ibu kota ternyata sepanas ini, aku sama sekali tidak menyangka. Aku terbiasa tinggal di desa B yang cuacanya sejuk jadi begitu tiba di sini aku sedikit udik. Hehehe.
Saat sudah menyebrang tanpa sengaja aku melihat ada 2 orang laki-laki yang berpakaian serba hitam tengah berkelahi dengan seorang laki-laki yang berpakaian formal di sebuah gang sepi walau di siang hari seperti ini.
Ia menggunakan setelan jas warna biru tua dan juga sepatu kulit. Gaya pakaian yang seperti itu mirip mas Al yang ada di tv itu loh.
2 orang yang sedang menyudutkan mas Al versi asal tebak berbadan besar-besar, aku biasa melihat yang seperti itu di tv sebagai preman atau mungkin... Hah!!! Aku tersentak dengan pemikiran ku sendiri.
Jangan-jangan mereka pembunuh bayaran...
Tapi masa di siang bolong begini?
Sedang sibuk menerka apa yang sedang terjadi dengan otak pas-pasan ku ini. Tiba-tiba aku tersentak ketika si "mas Al" tersungkur usai mendapatkan tendangan keras di ulu hatinya dari salah satu preman, seketika itu juga darah segar keluar dari mulutnya.
Aku terkejut bukan kepalang hari pertama di ibu kota sudah di suguhi pemandangan seperti ini. Yang benar saja!
Apa?? apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berteriak? Tapi jika ku lakukan apa orang-orang ini akan berbalik menghajar ku? Aku bergidik ngeri membayangkan hal itu.
Tidak!!! Cari cara lain! Bagaimana ya? Aha! Selintas ide muncul di kepala ku. Otak yang pas pasan ini memang jika dalam keadaan terdesak pasti akan bekerja dengan baik
Ku rogoh ponsel di saku celana ku. Mumpung mereka belum menyadarinya kan. ku ambil beberapa gambar mereka kemudian menghubungi nomor polisi setempat.
Saat di yayasan kami sudah di beri tahu nomor-nomor penting di daerah tempat kami bekerja.
Lama sekali pak polisi datang kemari aku sungguh tidak tega juga takut akan terjadi pembuahan. Hingga entah kekuatan dari mana, ku berani kan diri untuk mendekati mereka.
Dengan berjalan mengendap-endap kedua preman yang asik menendangi orang yang sudah terkapar di jalan tidak menyadari kehadiran ku.
Bugh.. bugh..bugh...
Ku hantam tengkuk salah satu dari mereka tiga kali dari belakang menggunakan balok kayu yang sebelumnya mereka gunakan untuk memukul pria malang itu hingga patah.
Dari sinetron yang aku sering tonton untuk menghilangkan kesadaran orang sih seperti itu. Aku bahkan sampai melakukannya tiga kali.
Dan benar orang yang baru saja ku pukul langsung terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepala bagian belakangnya.
Astaga!!! Apa aku baru saja membunuh seseorang?
Seketika tangan ku menjadi gemetar, keberanian yang sebelumnya seperti berkobar dalam dada seolah padam Bak api unggun yang di siram seember air.
Melihat rekannya yang terkapar, satu orang tersisa menatap ku penuh api kemarahan. Ia menggeram dengan mata yang melotot dan wajah yang memerah tangannya pun terkepal kuat.
Ia melangkah dengan pasti kearah ku sembari mengangkat tangan yang terkepal itu kearah wajah ku. Reflek aku pun jongkok sambil menjerit dan menutup telinga serta mataku.
Aaaaakkhhh
Aku gemetar ketakutan. Sungguh ini adalah pengalaman pertama ku. Tulang-tulang ku rasanya lepas dari tempat nya. Lemas sekali.
Namun, hampir saja satu Bogeman mendarat di wajah ku suara sirine polisi memecah ketegangan yang ku rasa. Laki-laki ini pun langsung lari kocar kacir meninggalkan temannya yang tidak sadarkan diri.
Huft!! Hampir saja!
Beberapa polisi datang menanyaiku. Namun, aku hanya bisa mematung. Aku masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.
Hingga suara Geraman tak jauh dari tempat ku berjongkok mampu menyadarkan ku.
Laki-laki itu, dia masih hidup!
Aku berjalan mendekatinya. Mencoba memastikan keadaanya.
Luka luarnya aku pikir tidak terlalu parah. Hanya ada beberapa luka memar. Namun, aku yakin ia menderita luka dalam.
Sembari menunggu ambulance yang di panggil polisi datang. Aku menanyakan keadaanya.
"Tuan! Tuan bisa mendengar saya?" Tanya ku karena dia sama sekali tidak membuka matanya, hanya wajahnya saja yang tampak sesekali meringis.
Melihat keadaanya aku sungguh tidak tega.
"HM" ia menjawab serupa gumaman dan itu pun lumayan jauh dari waktu tadi ku bertanya.
Perlahan-lahan ia mulai membuka matanya.
Deg
Matanya... Matanya.
Indah sekali, warna biru keabu-abuan. Oh apa dia keturunan bule?.
"To..to..tolong" pintanya lirih.
"Tuan!! Tuan bertahan ya! Sebentar lagi petugas medis akan tiba" ujar ku.
Ia kembali terpejam setelah beberapa saat tadi sempat bersuara. Aku panik takut kalau orang ini mati.
Beberapa polisi datang dan membawa pria malang ini ke tempat yang lebih aman. Tak lama berselang ambulance datang kemudian membawanya ke rumah sakit.
Aku di mintai keterangan tentang apa yang terjadi. Ku ceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat.
*****
Beberapa hari setelah kejadian hari itu, aku sama sekali tidak keluar rumah. Aku takut preman itu masih dendam dengan ku perihal temannya yang tertangkap karena aku.
Nyonya rumah juga sama sekali tidak pulang. Aku dengar dari rekan-rekan tuan muda sedang di rawat di rumah sakit jadi nyonya sedang menungguinya.
****
Satu bulan berlalu...
Pagi ini seluruh pekerja di rumah nampak sibuk. Katanya tuan muda sudah di perbolehkan pulang setelah satu bulan di rawat.
Tidak ada yang tahu tuan muda sakit apa hingga bisa di rawat begitu lama. Ini juga kali pertama aku melihat majikan ku yang lainnya.
Yang di tunggu akhirnya tiba. Seorang pemuda yang terlihat gagah walau berjalan dengan tertatih, tampak masuk di tuntun nyonya besar.
Kami semua mengangguk memberi hormat. Jadi ini tuan muda, tampan sih tapi aku tidak tertarik.
Ketika mereka berjalan melewati ku tuan muda memandangi ku dengan intens. Aku jadi risih di perhatikan seperti itu.
Ia berbalik arah menghampiriku, membuat jantung ku rasanya mau copot. Apa aku melakukan kesalahan? Tatapan matanya amat menyeramkan.
"Kau..." Ia mulai membuka suara. Aku menunduk tak berani menatap matanya. Aku takut.
"Ampun tuan!! Apa saya melakukan kesalahan?" Tanya ku lirih.
Semua orang di ruangan ini tampak mengernyit bingung. Begitu juga dengan ku.
"Tidak!! Apa kamu mau... Menikah dengan ku?"
Hah?
Apa ini mimpi? Sontak aku langsung mendongak menatap matanya. Ketika pandangan kami bertemu, aku baru menyadari mata itu? Aku ingat. Mata itu milik pemuda yang di keroyok waktu itu.
Jadi pemuda yang ku selamatkan adalah majikan ku? Wow amazing!!
Nyonya besar tampak menanyakan maksud tuan muda yang baru ku tahu namanya adalah Abidzar.
Tuan Abi bilang, ia telah berhutang nyawa padaku. Jadi untuk membalasnya ia ingin menikahi ku.
Tapi, aku sungguh tidak berminat apalagi ia melakukan hal itu karena menganggap kejadian tempo hari adalah hutang. Aku sungguh tidak pernah meminta imbalan dalam bentuk apa pun.
Menikah dengan seorang pemuda kaya raya memang impian semua orang, termasuk juga aku. Tapi, aku juga tidak akan memanfaatkan keadaan.
Kasta kami jauh berbeda aku tidak ingin karena hal ini semua keluarga nya membenci ku seperti yang sering ku baca di novel-novel. Itu menyeramkan.
Keputusan ku ini dapat di maklumi oleh tuan Abi. Namun, ia tidak akan menyerah katanya.
Tuan Abi ingin menunjukan ketulusannya.
Hingga hari demi hari berlalu tidak terasa 6 bulan sudah dari lamarannya waktu itu, Tuan Abi semakin memberikan perhatian nya pada ku. Ia bersikap lembut dan menunjukan kasih sayang nya padaku.
Nyonya besar pun sering membujuk ku untuk menerima anaknya. Beruntungnya nyonya besar tidak mempermasalahkan status ku.
Keteguhan ku pun luntur seiring berjalan nya waktu. Aku mulai mencintai nya.
"Fitri... Apa kamu belum mencintai ku? Tidak kah kamu bisa melihat ketulusan yang selama ini ku berikan? Menikahlah dengan ku, Fitri! Aku janji akan menjadikan mu ratu ku. Selamanya" ucapnya di suatu malam.
Jangan tanya hatiku saat ini. Hati ku benar-benar bergetar mendengar kalimat nya yang sangat indah. Tidak ada alasan untuk aku menolak nya bukan.
Aku sudah mencintainya, jadi....
"Iya, aku bersedia" ucap ku malu-malu sambil menahan air mata yang ingin keluar.
Satu bulan kemudian...
Dengan di saksikan kedua orang tua ku, nyonya besar dan beberapa tamu undangan Tuan Abidzar resmi menikahi ku.
Kami menjadi raja dan ratu sehari dan ku harap untuk selamanya kami akan selalu bersama. Melewati setiap ujian yang menghadang. Semoga bahagia ini selalu menyertai keluarga kami. selamanya....
Tamat..