Di sebuah kantin yang letaknya tak jauh dari ruang guru. Terdapat beberapa anak yang sedang menikmati makanan yang ada di meja mereka. Terlihat Viana dan Chelsi sedang membahas ujian yang akan di adakan satu minggu mendatang. Di saat mereka lagi asyik ngobrol, Andre datang menghampiri mereka.
“Duduk dre.” Ucap Viana sambil menggeser kursi kosong yang berada di dekatnya.
“Makasih Vin. Aku ke sini cuma mau ngasih tau kalau.....”. Jawab Andre yang masih berdiri memandang ke arah mereka berdua.
“Mau ngasih tau apa?” tanya Viana heran.
“Anton sakit. Sekarang dia ada di ruang UKS.” Jawab Andre yang sedikit merasa hawatir dengan keadaan sahabatnya, Anton.
Mendengar kekasihnya sakit, Viana langsung kaget seketika. Ia seakan akan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Andre. Bagaimana mungkin Anton sakit secara tiba tiba padahal tadi pagi ia masih baik baik saja. Bahkan tadi ia sempat melihat Anton sedang bermain bola basket bersama teman temannya di lapangan olah raga.
“Vin,kamu gak papa?” tanya Chelsi yang dari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka.
“Iya, aku gak papa Chel.” Jawab Viana dengan suara pelan tapi terdengar jelas di telinga Chelsi.
“Dre, makasih ya udah ngasih tau aku. Sekarang aku mau ke UKS dulu.” Kata Viana dengan wajah yang masih tegang. Andre hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepala.
“Chel, kamu gak usak ikut. Lebih baik kamu sekarang masuk kelas aja. Tak lama lagi bell akan berbunyi.” Ucap Viana sambil melihat jam tangannya.
“Iya, Vin.” Jawab Chelsia simpel.
Viana pun pergi ke ruang UKS yang berada di ujung kelas XI IPA 2. Ketika ia sudah berada di ambang pintu, tiba tiba matanya tertuju pada dua anak yang sudah sangat ia kenal berada di samping Anton yang terbaring lemah di tempat tidur yang berukuran kecil. Layaknya seperti tempat tidur yang biasa di pakai di rumah sakit.
Viana diam, kakinya sulit untuk melangkah. Ia ingin masuk tapi di dalam ada shasha dan Dilla. Ia takut terjadi keributan jika ia tetap maksa untuk masuk. Shasha dan Dilla pasti tidak akan menyukai kehadirannya. Tapi jika ia keluar, ia merasa seperti cewek yang tak berguna. Di saat Anton butuh dia di sampingnya tapi ia hanya melihat Anton dari jarak jauh. Tak terasa air mata Viana menetes. Ada rasa sakit yang menusuk di dadanya. Setelah berfikir agak lama akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelas.
“Vin, kamu kenapa?” tanya Chelsi melihat sahabatnya dengan wajah sembab.
“Aku gak papa Chel.” Jawab Viana yang duduk di samping Chelsi
“Hemmm katanya mau ke UKS?”
“Gak jadi?”
“Loh kenapa?”
“Di sana ada Shasha dan Dilla.”
“Emang kenapa kalau ada mereka?”
“Aku males yang mau bertengkar dengan mereka. Kamu tau sendirikan, Shasha sangat menyukai Anton. Dan sejak ia tau kalau aku dan Anton menjalin hubungan, ia sangat membenciku bahkan ia selalu mencari gara gara untuk memancing emosiku.”
“Iya sudah, kamu gak perlu sedih. Kamu bisa jenguk Anton setelah pulang sekolah.”
“Iya. Tapi jujur saat ini aku begitu sangat menghawatirkan keadaannya. Aku ingin ada di sampingnya.”
“Hemmm kalau gitu ayo aku temenin.”
“Tapi Chel di sana ada Shasha dan Dilla.”
“Kamu gak perlu hawatir. Selama ada aku, mereka gak mungkin macem macem. Aku bisa pastikan, gak akan ada keributan.” Jawab Chelsi. Sejak dia menjadi ketua osis, gak ada satu orangpun dari teman temannya yang berani padanya apalagi dia adalah anak dari kepala sekolah di SMA Al-Ghofur, tempat di mana saat ini ia sedang menuntut ilmu. Bahkan Chelsi juga merupakan cucu kesayangan dari seorang yang mempunyai yayasan Al – Ghofur. Jangankan teman temannya, guru pun tak ada yang berani padanya.
Namun walaupun dia adalah anak pak kepsek dan cucu dari orang yang punya yayasan, ia tak pernah sombong. Chelsi selalu menghormati yang tua seperti guru guru dan kakak kelasnya dan ia juga menghargai yang muda seperti teman sekelasnya dan juga adik kelasnya. Chelsi sangat akrab terhadap siapapun. Yah Chelsi emang sangat ramah pada siapa saja sehingga tak heran jika banyak yang ingin berteman dengannya. Apalagi Chelsi mempunyai otak yang jenius, dari kecil ia selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya dan itu membuat ia sangat terkenal di sekolahnya. Tak hanya pintar, ia juga mempunya body yang sangat bagus seperti seorang model apalagi dengan wajahnya yang seperti berbie, imut dan gemesin. Membuat ia terlihat sempurna.
Mungkin banyak laki laki yang terpesona dengan kecantikan dan kepandaian yang di miliki oleh Chelsi. Namun tak ada satupun di antara mereka yang berani mengungkapkan perasaannya. Entah apa karena mereka sungkan atau karena mereka gak berani karena menyadari bahwa Chelsi adalah cucu dari pemilik sekolahan di mana mereka semua mengemban ilmu apalagi dengan jabatan ayahnya sebagai kepala sekolah membuat mereka sangat menyadari bahwa mereka tak ingin menyakiti dan membuat masalah dengan Chelsi.
“Baiklah aku percaya, makasih ya Chel untuk semuannya.”
“Gak usah bilang makasih. Aku adalah sahabatmu sejak kita masih kelas satu SMP dan sekarang tak terasa kita sudah kelas dua SMA. Yah sudah hampir lima tahun kita bersahabat. Lalu bagaimana mungkin aku tega membiarkanmu kesusahan. Aku akan selalu ada buat kamu. selama aku bisa bantu, pasti akan aku bantu.”
“Kamu emang baik Chel. Aku bersyukur mempunyai sahabat sebaik kamu.”
“Aku juga bersyukur mempunyai sahabat seperti kamu Vin.”
“By The Way kamu yakin mau nemenin aku di UKS?”
“Iya aku yakin. Emang kenapa?”
“Nanti kalau bu yuni mencari kita gimana? Beliau paling gak suka jika ada muridnya yang bolos di saat jam pelajarannya. Mungkin dia gak akan berani marah sama kamu tapi kita akan membuat beliau kecewa karena kita meninggalkan kelas di saat jam pelajaran di mulai.”
“Kamu gak perlu hawatir masalah itu. Hari ini ada rapat guru sampai jam 12, jadi untuk kelas kita jam ke tiga dan ke empat kosong, gak ada pelajaran.”
“Kamu tau dari siapa?”
“Ayah. Tadi aku kirim pesan sama ayah. Tapi ayah bilang jangan di ganggu karena ia sedang ada rapat dengan beberapa dewan guru. Dari situ aku tau, kalau bu yuni gak mungkin bisa mengajar kita untuk hari ini karena kemungkinan selesai rapatnya jam 12.”
“Oh begitu. Yah yah aku ngerti sekarang. Syukur deh aku senang dengarnya. Iya sudah ayo berangkat.”
“Oke.”
Mereka pun pergi ke UKS, sesampai di UKS ia melihat Shasha dan Dilla masih ada di sana. Viana merasa takut tapi Chelsi hanya tersenyum. Ia memegang tangan Viana dan menariknya untuk lebih mendekat pada Anton yang masih tak sadarkan diri.
“Hei Sha, Dil. Sudah lama di sini?” tanya Chelsi menyapa mereka terlebih dahulu.
“Iya. Kamu dan Viana ngapain di sini?” tanya balik Shasha yang tidak suka melihat Viana ada di ruangan itu juga.
“Sama seperti kamu dan Dilla. Sebagai teman yang baik, aku dan Viana ingin melihat keadaan Anton. Apakah kalian merasa terganggu dengan kehadiranku dan Viana di sini. Jika iya, maka aku dan Viana akan keluar.” Jawab Chelsi dangan ramah sambil tersenyum.
“Oh gak, kamu gak ganggu kog. Malah aku senang jika kamu mau menemani Anton di sini soalnya aku dan Dilla harus masuk kelas. Kalau gitu, aku dan Dilla keluar dulu.” Ucap Shasha yang tak berani mencari gara gara dengan Chelsi.
“Oke. Hati hati dan selamat belajar.” Kata Chelsi melihat kepergian Shasha dan Dilla keluar dari ruangan osis.
“Vin, berhubung mereka sudah gak ada. Aku mau keluar dulu ya.”
“Loh kenapa harus keluar?”
“Aku gak ingin menjadi obat nyamuk di sini lagian kamu pasti butuh waktu berdua untuk berduaan dengan Anton. Aku akan tunggu di luar UKS jika ada apa apa kamu bisa panggil aku. Semoga dengan kehadiranmu di sampingnya, membuat ia segera sadar.”
“Amiiinnnnnn.....makasih ya Chel atas pengertiannya.”
“Iya sama sama. Aku keluar dulu.”
“Oke.”