Sekelompok Remaja tiba di sebuah villa untuk berlibur di desa Praja Mukti, penyerahan kunci menjadi awal mula petualangan mereka.
"Ini kunci villanya, selamat berlibur ya anak anak!!" ucap seorang pria tua.
Surya sebagai ketua tim remaja itu menjawab, "Baik pak, terimakasih.."
"Sama sama, ingat!! jaga adab dan sopan santun selama berada di rumah ini. jangan ada yang berbicara sembarangan, apalagi melakukan yang aneh aneh." pesan pria itu.
Anak anak itu menjawab, "Baik pak.."
Pria itu tersenyum, lalu ia pergi. kemudian sekelompok remaja itu masuk ke dalam areal villa.
"Ahh.. sampai juga, setelah tadi terjebak macet dan hujan lebat." gumam Ikhsan, salah satu teman Surya.
Dhika, salah satu anak lokal yang ikut menginap menyimpan tasnya di sebuah kamar. lalu ia berjanji untuk mengungkap kematian sepupunya itu.
"Sabar Ya Ara, nanti Dhika akan selidiki soal kematianmu." ucap Dhika sambil menatap foto Tiara.
Surya dan anak anak lainnya menyusul ke kamar, lalu mereka menyimpan tas masing masing diatas meja.
"Sudah mau magrib, kita shalat berjamaah disini saja.. oh iya, kalau mau ambil air wudhu dimana ya Dhika??" tanya Surya.
Dhika menjawab, "Ayo ikut saya.."
Kelima Remaja itu ke tempat pemandian di bagian belakang villa itu, lalu disana ada pancuran air yang akan mereka gunakan untuk mengambil air wudhu.
"Disini Surya, nanti Fajar, Ilham, dan Aji ikut mengantri saja karena pancuran ini hanya ada satu yang berfungsi." jelas Dhika.
Surya menjawab, "Yowes, tidak apa apa.. saya duluan ya!!"
Setelah mengambil air wudhu, kelima anak anak itu menjalani ibadah shalat magrib dengan Surya sendiri sebagai Imam.
usai shalat magrib, Surya pergi ke dapur untuk memasak mie instant. saat melintasi lorong menuju dapur, pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang tertutup rapat.
"Kok ruangan ini tertutup ya?? perasaan semua ruangan pintunya terbuka.." gumam Surya.
Dhika yang melintas menghampiri Surya yang terdiam di depan sebuah ruangan misterius lalu menanyakan ada apa di dalamnya.
"Ruangan apa ini Sur??" tanya Dhika.
Surya menjawab, "Entahlah, tapi penasaran juga. kita buka aja yuk!! kebetulan misi saya bersama teman teman kesini untuk mengembalikan reputasi villa ini."
"Iya, siapa tau ada petunjuk kematian sepupuku." kata Dhika.
Surya membuka ruangan itu, lalu kedua lelaki itu hanya menemukan ruangan kosong dengan sofa yang tersusun rapi.
"Tidak ada apa apa.. kita lanjut masak mie aja yuk!!" seru Surya.
Dhika mengangguk, "Hmm.. benar juga.."
Di Villa lain, Keluarga besar Surya bertemu dengan keluarga pak Samdul. sahabat lama orangtua Surya.
"Suatu kebanggan bisa mengundang keluarga besar pak Reno, dalam acara makan bersama sekaligus perkenalan antara ananda Safira dan putra saya Dudul." ucap pak Samdul.
Safira merasa bimbang sekaligus takut, apalagi ia belum mengetahui jika rencana ayahnya mengajaknya kesini untuk menjodohkan ia dengan anak sahabatnya.
Safira Nur Anjani Januar : Assalamualaikum, kak Surya lagi dimana?? kok enggak ikut kesini??
Surya Ageng Pradikta Syabana : Waalaikumusallam, ini kakak mau masak mie instant. kakak enggak ikut, kakak lagi menginap di sebuah villa yang letaknya enggak jauh dari tempat kamu.
Safira Nur Anjani Januar : Kak, aku lagi mau dijodohin sama anaknya sahabat ayah.. gimana dong?? mau nolak tapi takut persahabatan ayah rusak.
Surya Ageng Pradikta Syabana : Yowes, kamu tolak saja.. daripada kamu memaksakan menerima nanti rumah tangga kamu akan hancur berantakan.
Pak Samdul merebut ponsel dari Safira, namun saat beliau melihat isi dari ponsel itu. ia malah melihat sosok wajah anak kecil dengan mata yang memerah.
"Aaaaa!!!!!"
Dhika mengambil sebuah boneka, tak lama ia merasakan ada hawa merinding menerpa dirinya.
Dengan mengucapkan doa, Dhika mengangkat boneka itu lalu menyimpannya di sebuah lemari kayu.
"Dhika, ini mienya sudah matang.. ayo makan dulu!!" seru Surya.
Dhika menoleh, "Oke.."
Saat Dhika menutup kembali ruangan itu, sesosok gadis kecil muncul dengan wajah yang tersenyum dan wajahnya yang sangat cantik karena Dhika tadi berdoa terlebih dahulu sebelum mengambil boneka itu.
Dhika, Surya dan anak anak lainnya menyantap mie instant itu. lalu Surya menceritakan soal keanehan yang terjadi, "Gais, tadi kan saya buka ruangan terkunci bersama Dhika. nah, kok pas masuk itu udaranya berubah jadi dingin, padahal diluar suhunya tidak sedingin itu."
"Hmm... menarik juga, nanti kita shalat isya disana. sekalian cek beberapa tempat, siapa tahu ada petunjuk soal penyebab villa ini sulit laku." seru Ikhsan.
Surya dan Dhika mengangguk, "Oke.."
Setelah shalat isya, Surya mempersiapkan semuanya bersama kawan kawannya. terdiri dari setting kamera hingga lighting untuk mengungkap masalah di villa yang mereka huni.
"Kamera siap??" tanya Surya.
Fajar menjawab, "Siap.."
Mereka pun memulai penelusuran itu, Ilham dam Aji membuka sebuah lemari tua. dimana disana ada sebuah boneka dan seragam sekolah dasar, jika di perhatikan ternyata seragam itu milik anak perempuan.
"Seragam milik siapa ini?? kok ada disini?? mana bajunya penuh dengan sisa darah lagi.." gumam Surya.
Semakin keanehan ditemukan oleh Surya, teror yang ada di rumah pak Samdul semakin besar dan menyeramkan. kini sesosok hantu perempuan muncul dari balik tempat tidur Safira.
"Wakkkkk!!!!!"
Safira sempat terkejut, lalu ia ingat pada pesan Surya dimana berdoalah semampu yang ia bisa. setelah berdoa, benar saja sosok itu berpindah ke ruangan lainnya.
"Aaa!!! hantu!!" teriak pak Samdul dan Mas Dudul yang tadi sudah diperkenalkan pada Safira.
Kepanikan pun terjadi, namun Safira memilih tetap di kamar seorang diri.
"Kira kira ada kenalanmu yang punya anak usia sekolah dasar yang meninggal tidak??" tanya Surya.
Dhika menjawab, "Setahu saya ada, ya dua tahun lalu anak kelas lima SD berusia sekitar sepuluh tahunan mengalami muntah darah dan kehilangan nyawa saat itu juga."
"Dia sakit??" tanya Surya.
Dhika menjawab, "Maybe, mungkin jika benar ini pakaian miliknya. paling sudah dipensiunkan dan disimpan disini."
"Kita ambil dan kumpulkan di tengah villa ini, nanti kita kirimkan doa.." seru Dhika.
Surya menjawab, "Baik.."
Fajar mengambil foto secara asal menggunakan kameranya, kemudian ia mendapati sosok anak sekolah SMA yang wajahnya pucat.
"Dhika, apakah kamu mengenali ini??" tanya Fajar.
Dhika menjawab, "Ya, ini sosok Zahra atau biasa di panggil Ara. dia sepupu saya yang meninggal dunia karena kecelakaan, seharusnya ada satu lagi sosok anak gadis usia 13 tahunan tapi dia sudah di rescue dan tidak menampakan dirinya lagi."
"Kurasa ada yang tidak beres dengan keluargamu Sur, apa kita susul mereka kesana ya??" tanya Aji.
Surya mengangguk, "Kurasa demikian, yowes kita susul mereka sekarang.."
Kelima anak anak itu pergi ke sebuah Villa yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka menginap.
Dengan menggunakan senter dan bersenjatakan sebuah tongkat, kelima anak itu menerobos gelapnya malam.
Kekacauan semakin terjadi di rumah Pak Samdul, kejadian poltergeist yang terus menerus meneror membuat pak Samdul dan Dudul tertekan.
"Aaaas!!! Hantu!!!"
Safira tetap di kamar, lalu ia selalu berdoa semampu yang ia bisa.
Kelima anak itu tiba di villa pak Samdul, lalu mereka masuk melalui pintu yang tak ditutup. sesaat mereka masuk, ada sosok gadis berbaju piyama dengan mulut sobek muncul dari sebuah kamar.
"Bagi dua tim, satu kejar hantu itu... sisanya kita cek ruangan tempat ia muncul!!" perintah Surya.
Tim Surya mengejar hantu itu yang kabur ke areal belakang, lalu tim Ikhsan masuk ke dalam ruangan tempat gadis itu muncul.
"Ada apa??" tanya Fajar.
Ikhsan menjawab, "Hanya ada tempat tidur, cermin besar dan noda darah di dinding. kita cek satu per satu, siapa tahu ada petunjuk."
"Baik.." jawab Fajar dan Aji.
Dhika dan Surya mengejar hantu itu, tak lama sosok gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ini kayaknya kamar.. tapi feelingku ada pada sofa itu.. ayo kita dekati.." seru Surya.
Dhika menjawab, "Benar juga.."
Dhika membongkar sofa itu, ternyata benar. ada jasad gadis dengan mulut sobek ada di dalam sofa itu.
"Sudah kuduga!! gunakan masker!!" perintah Surya.
Dhika mengangguk, "Baik, sekalian kuhubungi polisi.."
"Aaaaa!!!"
"Bruukkk!!!"
Surya keluar ruangan, ternyata mas Dudul sudah tergeletak tak bernyawa di lantai dasar. lalu pak Samdul tergeletak di tangga dengan luka di kepalanya. Surya pun mengevakuasi Safira dan kedua orangtuanya.
"Ayo keluar!!!" seru Surya.
Dhika berlari dari ruangan tadi, lalu meminta semua orang untuk keluar.
"Semuanya keluar!!!"
Saat semuanya sudah diluar, pintu langsung tertutup dan Mereka pun melihat ada sebuah cahaya di lantai dua. ternyata itu adalah lima gadis yang meninggal dunia karena pak Samdul, baik itu karena korban lari, dibunuh dan lainnya.
"Mereka sudah tenang!! besok pagi kita bisa pulang.. polisi sudah saya hubungi kesini.." kata Dhika.
Pada pagi harinya, Surya, Fajar, Aji dan Ikhsan menyaksikan pria pemilik villa yang ia sewa, dan pak Samdul dibawa oleh polisi untuk di proses hukum. kemudian mereka melambaikan tangan pada Dhika yang memilih mengabdi dan membersihkan nama baik beberapa villa itu seorang diri.
Tammat...