“Hai Al, lagi apa?” tanya Viska, anak kelas 2 IPA B.
“Hai juga, gi baca novel nih.”jawabnya sambil melirik ke arah Viska yang berdiri di sampingnya.
“Hemmm apa aku boleh duduk di sini?” tanya Viska ramah.
“Boleh, duduk aja.” Jawab Aliando, kali ini ia tak melihat ke arahnya lagi melainkan tetap menunduk membaca novel kesukaannya.
“Serius amet sih bacanya. Tentang apa sih?” lagi lagi viska bertanya membuat Aliando jadi risih dan gak bisa menikmati buku yang kini di pegangnya.
“CINTA” jawab aliando yang sudah mulai kesal karena dari tadi viska bertanya terus.
“Ohhhhh.....boleh gak, kalau nanti aku pinjem buku itu kayaknya asyik banget deh sampai kamu serius gitu bacannya.”
“Iya, boleh.”
“Al kamu haus, gak?...kalau haus, aku belikan minuman ya...? panas-panas gini paling enak kalau minum yang dingin dingin loh.” Tawar viska yang ingin terus mengajak aliando untuk ngobrol.
“Aku gak haus.” Jawab aliando cuek.
“Oh,,,, kamu masih marah ya sama aku?” tanya viska hati hati.
“Gak. Kenapa aku mesti marah??” tanyak balik aliando. Kini ia menutup bukunya, ia sudah tak berminat untuk membacanya lagi gara gara dari tadi viska terus saja mengajaknya untuk ngobrol.
“Masalah kemaren”.
“Kenapa dengan kemaren?” tanya aliando acuh tak acuh.
“Kamu ngeliat aku bergandengan tangan dengan rendykan? Itukah sebabnya kemaren kamu marah marah sepanjang hari dan membentak bentak teman teman kamu. Bahkan sekarang sikapmu acuh tak acuh terhadapku.” Jawab viska datar.
“Emang apa hubunganya denganku jika kamu bergandengan tangan dengan cowok lain? Kita kan gak ada hubungan apa apa? Kemaren aku marah karena tim basketku kalah dalam pertandingan vinal melawan SMA Purbawangsa. Jadi kamu jangan salah faham dan aku merasa sikapku sekarang biasa biasa aja. Jika kamu merasa sikapku cuek, itu mungkin hanya perasaanmu saja. Karena kenyataannya, aku tidak cuek. Dari tadi kamu nanya, aku selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan kalau sikapku acuh tak acuh? Sudahlah tak perlu di bahas lagi, aku mau pulang.” Ucap aliando lalu beranjak dari tempat duduknya. Saat ia ingin melangkahkan kakinya, viska segera memegang tangan aliando.
“Aku mohon jangan pergi.” Pinta viska.
“Kenapa kamu melarangku pergi? Emang kamu punya hak apa sampai berani ngomong kayak gitu?”
“Al, ini masih jam berapa? Ini belum waktunya pulang? Emang kamu gak mau ikut pelajaran ke tiga dan ke empat? Pak sofyan dan bu leily pasti marah banget jika sampai mereka tau ada siswanya yang bolos dan pulang sebelum waktunya.”
“Itu bukan urusanmu dan kamu jangan ikut campur.” Bentak aliando.
“Al, kamu kog gitu sih sama aku?” tanya viska tak mengerti dengan sikap aliando akhir akhir ini.
“Terserah aku mau kasar apa enggak. Jika kamu tak suka lebih baik kamu jauhi aku.”
“Al....” viska sudah tak tau lagi harus bicara apa.
“Lepasin tanganku.” Ucap aliando tapi viska masih tetap saja tak mau melepaskan tangan aliando, ia memegangnya dengan erat.
“Gak, aku gak mau melepaskan tanganmu. Kamu kenapa? Kenapa akhir akhir ini kamu sering kasar sama aku? Tolong kasih tau aku. Jika aku punya salah, aku minta maaf.” Teriak viska yang sudah tak tahan lagi melihat sikap dingin aliando. Untunglah mereka berada di taman yang jauh dari keramaian sehingga di pastikan tak akan ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Aliando hanya diam tampa ekspresi. Entah kenapa hatinya begitu sakit. Sebenarnya ia tak tega melihat viska sedih seperti ini tapi ia tau harus berbuat apa dan bersikap bagaimana. Melihat al diam, viskapun mencoba untuk terbuka tentang perasaan yang selama ini ia simpan rapat rapat dalam hati.
“Al aku suka sama kamu. aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Tapi kenapa selama ini kamu gak pernah peka tentang perasaanku. Kamu fikir, aku mau bergandengan tangan dengan cowok lain. Kamu fikir, aku mau makan siang di kantin dengan cowok lain. Kamu fikir, aku mau goncengan ama cowok lain sepulang sekolah. Gak al, aku gak suka dengan semua itu. Akupun juga tak mau melakukan hal seperti itu. Tapi aku terpaksa melakukannya, aku terpaksa al. Aku ingin membuat kamu cemburu. Aku fikir, kemaren kamu marah marah karena aku melihat aku bergandengan tangan dengan rendy. Tapi ternyata dugaanku salah. Al coba kasih tau aku, apa kurangnya aku sampai sampai kau tak suka sama aku. Cowok cowok banyak yang berusaha untuk deketin aku, cari perhatian di depanku bahkan mereka terang terangan menyatakan perasaanya di depanku tapi kenapa kamu gak? Aku tak butuh mereka yang aku butuhkan adalah kamu. Aku tak peduli mereka suka sama aku, yang aku pedulikan hanyalah kamu seorang. Hanya kamu yang aku inginkan. Hanya kamu yang aku mau.” Viska mununduk, ia menangis terisak isak. Sebenarnya ia tak ingin mengungkapkan perasaannya dalam situasi seperti ini tapi ia juga tak tahan melihat sikap aliando yang kasar dan dingin terhadapnya.
Sedangkan aliando sendiri, ia seakan akan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ini seperti mimpi baginya. Ia tak menyangka bahwa viska berusaha membuatnya cemburu. Ia juga tak menyangka kalau selama ini viska menyimpan rasa padanya. Ia bahkan tak menyangka kalau selama ini viska berharap lebih padanya. Andai saja ia tau dari awal, mungkin ia tak akan marah marah dan bersikap dingin pada viska. Sebenarnya ia berubah jadi kasar dan suka marah marah karena ia kesal dan bosan melihat sikap viska yang hampir tiap hari selalu ganti ganti pasangan.
Aliando memegang kedua tangan viska lalu ia memeluknya dengan erat dan mencium kening viska.
“Jangan menangis lagi.” Ucap aliando sambil menghapus air mata viska.
“Al, aku sayang sama kamu.” kata viska dengan suara datar dan pelan.
“Iya, aku juga sayang sama kamu. Maafin aku ya karena aku sudah kasar sama kamu. Maaf karena kau sudah marah marah sama kamu. Maaf karena aku sudah bersikap dingin sama kamu. Maaf karena kau acuh tak acuh sama kamu. Maaf jika selama ini aku gak peka tentang perasaanmu. Maaf jika aku sudah banyak melukai hati dan perasaanmu. Aku benar benar minta maaf. Aku sayang sama kamu dan itu udah dari dulu sejak saat pertama kali kita bertemu di perpustakaan. Saat itu, aku sudah jatuh hati sama kamu namun aku tak berani mengungkapkan perasaanku. Maaf, andai saja aku mau jujur dari awal mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Sekali lagi aku minta maaf. Aku janji, aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan bahagiain kamu.” Aliando memeluk viska lebih erat lagi, ia pun juga berjanji akan bersikap lebih ramah dan menjadi cowok super romantis untuk viska.
Tiba tiba saja viska merasa kepalanya begitu sakit.
“Al, kepalaku sakit banget.” Ucap viska lirih, ia juga mengeluarkan darah dari hidungnya.
Aliando yang tadinya merasa senang dan bahagia kini jadi panik seketika.
“Vis, kamu kenapa?” tanya aliando yang merasa sangat hawatir takut viska kenapa napa.
“A..Aku....”belum selesai viska berbicara, ia langsung jatuh pinksan.
Aliando segera membawa viska ke rumah sakit. Ia juga segera menghubungi orang tuannya viska. Untunglah dia masih menyimpan nomer mamanya viska.
Tak lama kemudian, mamanya viska datang bersama suami dan keluarga besarnya.
“Nak ali, bagaimana kondisi viska?” tanya bu raisya, mamanya viska.
“Entahlah tan. Sampai sekarang viska masih ada di dalam dan masih di tangani oleh dokter.” Jawab aliando. Ia heran kenapa mamanya viska sampai membawa keluarga besarnya untuk menjenguk viska. Sebenarnya apa yang terjadi pada viska sampai mereka terlihat panik dan sedih.
“Mama, jangan menangis. Papa yakin viska adalah anak yang kuat. Ia pasti bisa melawan rasa sakitnya.” Pak hendro, suaminya buk raisha berusaha untuk menenangkan istrinya.
“Pa, mama takut. Mama takut viska akan meninggalkan kita untuk selama lamanya.” Jawab bu raisha yang menangi dalam pelukan suaminya.
Aliando yang mendengar pembicaraan mereka semakin tak mengerti padahal viska Cuma pinksan tapi kenapa mereka sampai ngomong kayak gitu. Emang viska punya penyakit apa? Tanya aliando dalam hati.
Setelah cukup lama mereka menunggu akhirnya dokter keluar juga dari dalam ruangan di mana viska di tangani.
“Dok, bagaimana keadaan putri kami?” tanya pak hendro.
“Maaf pak, kami sudah berusah semaksimal mungkin tapi ternyata tuhan berkehendak lain. Kangker itu sudah merenggut nyawa putri anda.” Jawab dokter itu dengan nada kecewa karena tak bisa menyelamatkan hidup viska.
Aliando yang mendengar ucapan dokter itu, ia langsung masuk ke dalam, menemui kekasihnya yang sudah tiada.
“Viska, kenapa kamu tinggalkan aku secepat ini? kenapa? Padahal kita baru saja jadian tapi kenapa kamu tega membuat kau patah hati seperti ini. Kenapa kamu harus mengungkapkan perasaanmu jika pada akhirnya kamu akna meninggalkan aku untuk selama lamanya. Maafkan aku, maaf karena aku sudah bikin kamu sedih. Maafkan aku viska..” ucap aliando,ia menangi di samping viska. Ini seperti mimpi buruk baginya. Ia tak tahan dengan semua ini. ia merasa sangat terpukul. Tanpa berfikir panjang, ia pun mengakhiri hidupnya menyusul kepergian viska.