#silahkan di baca kk
Kala itu matahari tengah bersinar dengan terang. Terlihat disalah salah satu kota di Indonesia sekumpulan anak manusia tengah menunggu seseorang dengan resah dan mereka terlihat bosan. Detik demi detik telah berlalu. Menit demi menit telah kita lewati untuk menunggu. Bagaikan sebuah rindu yang tak berujung temu.
Hingga hampir dua jam mereka menunggu seseorang tapi tak kunjung datang. Telah terbesit niatan untuk meningglkan orang itu, nanum hati tak tega.
Hingga yang ditunggu-yunggu pun datang. Terlihat kak Arun sedang berlari dengan ransel pink kesayangannya itu. Mereka yang awalnya mau memarahi sepasang manusia yang ngeret banget itu, tapi tak jadi mereka malah tertawa terbahak-bahak saat melihat kak Arun berlari dan syal dan rambut yang dibiarkan tergerai menari-nari tertiup angin. Di tambah lagi karena saat kak Arun berlari di belakangnya ada kak Dey yang ikut berlari. Jadi mereka seakan sedang syuting film india gitu. Yang lari-larian gak jelas dikota.
"huuuf... capek banget” keluh kak Arun. Setelah beberapa detik kak Arun dan kak Dey tersadar akan sesuatu “ kalian kenapa malah tertawa?” Temannya kak Dey sambil menatap semua teman-temannya curiga. Yang ditanya malah berlagak tak dengar.
.
.
.
Mereka malah masuk kedalam mobil yang sudah menunggu lama dan bersipa berangkat. Kak Dey merasa dianggurin, tak ambil pusing ia pun ikut masuk.
Emang dasarnya kak dey yang tak bisa diam dia kembali bertanya lagi “ eeh aku tadi tanya loh , kenapa kalian tertawa, malah gk di jawab ?” tanya kak dey dengan wajah juteknya. Semuanya hening dan enggan menjawab. Kak Dey menatap teman-temannya satu persatu mulai dari si tomboi kak Eka, si kalem kak Windy, sobat karipnya kak Reza dan kak Ade, lalu si kembar kak Angga dan kak Sandi tak lupa sepasang manusia yang sedang di mabuk asmara kak Iksan dan kak Afni juga di tatapnya tapi tak kunjung respon juga. Hingga kak Dey lelah dan bertanya ke sang supirnya yang tak lain adalah kak Yosi kakak tertua kita semua “pak supir kenapa semua pada diam sih?” “enak aja panggil-pangil pak, emang kapan aku kawin sama mak luh tong” jawab kak Yosi sekenenanya. Dan kak Dey yang terlanjur betek akhirnya ikut diam juga dan memasang wajah sok imutnya itu tapi aslinya tak imut banget. Wkwkw ...
.
.
.
Keheningan di dalam mobil itu tak berlangsung lama, karena telah di pecahkan oleh si es batu siapa lagi kalau bukan kak Ade. Satu-satunya cowok yang keras kepla kayak batu dan sifatnya dingin kayak es makanya kita sering nyebut kak Ade itu kak es batu. Eheh maap ya kak ade 😂
kak ade berkata “ dah lah dey ngapa tuh muka di tekuk gitu kayak cucian baju dirumah yang belum kering” kak dey mau menjawabnya tapi di potong sama kak iksan “ kak tuh muka jangan dimut-imut gitu ah, bikin jijik aja” kak dey malah makin jengkel dan yang lain malah tertawa terbahak-bahak lagi tapi hanya sebentar karena mereka menjutkan aksi diamnya. Poor kak Dey di cuwekin lagi
Hingga tanpa kak dey sadari semua teman-temannya saling pandang-pandangan dan mengagukkan kepalanya hinga tiba-tiba “wahahahahhaha.... wooi uda..uda wahhahahha” tawa kak dey dan kak aru mengelegar di dalam mobil dan yang lainya juga ikut tertawa. Mereka semua ternyata kompak ngelitikin kak Dey dan kak Arun sebagai hukuman telatnya.
Ini kecuali kak yosi yah kan kak Yosi lagi nyetir mobil. Kalau kak Yosi ikut ngelitikin kak Dey yan bisa lain ceritanya.
.
.
.
Setelah merasa hari cukup malam, kami pun kembali ke tempat cam dan kami bertemu ditenda untuk bernyanyi bersama didepan api unggun sambil emikmati lezatnya mie instan yang lezatnya mengalahkan pasta termahal didunia.
Sebuah moment yang indah bagi kita, duduk didepan api unggun di temani para teman-teman yang sudah seperti saudara dari berbagi daerah di indonesia. Kala itu rembulan bersinar terang. Hamparan binatang dilangitpun tak kalah indah. Seakan tau jika kita sedang tertawa bahagia berama.
Dingin malam tak memadamkan semangat kita untuk terus tertawa dan bercanda berama di temani hangatnya api ungun. Saat keheningan tercipta. Salah satu diantar kita memetik senar gitarnya, menyayikan lagu kesukan kita semua sebatas patok tenda.
Seakan tersihir dengan petikan senar gitar itu, kita hanya bisa diam membisu. Tak sadar setetes, dua testes air mata bercucuran keluar. Kita terharu. Ya dia adalah kak eza orang yang berhasil membuat malam yang penuh tawa itu.berubah menjadi malam yang mengaharukan.
Hingga air mata kita tak berhenti menetes.
“Jangn lah berlarut untuk kesedihan yag dimana kita sedang bersama dan berkumpul” kak kak ifan sambil merangkul orang yang ada di kanan dan kirinya, hingga kita semua saling berpelukan dan menangis haru bahagia.
Setelah itu mereka melepaskan pelukan mereka dan kembali memikmati momnet indah mereka walau masi terasa canggung karean ini pertama kalinya mereka bertemu secara raga dalam nyata.
Malam itu adalah malam yang tak ingin kita lupakan. Malam yang sangat berhaga. Karena malam itu sangat mengharukan. Tapi suasana haru itu tak berlangsung lama.
Karena si kembar dari bangka belitung itu berulah lagi. Kak Sandi yang tak suka suasa sedih-sedih bombai ditambah kak Angga yang emang dasarnya jahil. Mereka menyemprotkan bengsin ke arah api unggun. Dan secara tiba-tiba api berkobar lebih, Membuat kita reflek, saling berpelukan. Kak arun tak sengaja meluk kak dey. Kak afni yang lasung bersembunya di balik badan kak iksan. Dan kak Windy ,kak Eka,kak Eza,kak Ade,kak Ifan reflek saling berpegang tangan. setelah sadar akan hal konyol itu kita semua saling berpandang pandangan dan tersenyum kikuk.
Hingga tanpa abah abah-abah kita mengelitikti kak Sandi dan kak Angga tapi gagal karena si kembar dari bangka belitung itu melarikan diri. Dan kita pun juga ikut berlari mengejar si kembar dari bangka belitung itu sambil terawa bahagia.
END