Hari ini adalah hari pertamaku masuk kerja. Ya, setelah melalui seleksi yang cukup ketat beberapa hari yang lalu, akhirnya kemarin aku mendapatkan pesan via chat, kalau aku dinyatakan lolos dan mulai bisa bekerja hari ini.
Jujur, aku tak menyangka jika aku bisa lolos di sebuah perusahaan ternama, mengingat saat seleksi kemarin, aku hanya menjawab apa adanya dan sebisaku. Aku yakin dari ratusan peserta yang ikut seleksi, banyak di antara mereka yang lulusan dari universitas ternama dan mungkin nilai mereka jauh lebih tinggi dariku. Apalagi mengingat penampilan mereka yang sangat rapi dan terlihat menarik.
Berbeda denganku, yang hanya berpakaian kemeja putih yang sedikit kusut karena belum di setrika dan rok hitam yang hanya sampai lutut, memakai kaos kaki dan sepatu fantovel dengan tinggi lima cm.
Dan dari ratusan yang ikut seleksi kemarin, hanya ada dua orang saja yang lolos, karena memang hanya ada dua lowongan pekerjaan. Sebagai sekretaris Boss dan di bagian akuntan.
Aku bangun jam lima pagi, lalu sholat, bersih-bersih kamar kosanku dan langsung mandi. Hari ini aku memakai baju kemeja pendek dan celana panjang warna hitam, kaos kaki dan sepatu fantovel yang sudah aku cuci bersih. Tak lupa aku memakai make up agar wajahku tak pucat dan tak kusut. Aku juga memakai sedikit lipstik agar membuat wajahku semakin cerah. Rambutku aku ikat agar semakin rapi dan tak mengganggu saat aku bekerja nanti. Karena biasanya jika rambut gak di ikat, akan membuat konsentrasiku bisa pecah karena sibuk mengurus rambut.
Untungnya juga di perusahaan itu tak terlalu ketat masalah penampilan, boleh bebas, asal rapi, sopan dan tak terlihat urakan. Setidaknya itulah yang aku tau.
Oh ya aku tinggal di kos-kosan kecil, karena sejujurnya aku ini anak yatim piatu, yang di buang oleh orang tua aku sejak kecil. Dan saat umurku 17 tahun, aku memutuskan untuk keluar dari panti, aku ingin hidup mandiri dengan bekerja sambil sekolah. Hingga akhirnya kini aku bisa lulus sarjana walaupun dengan nilai pas-pasan. Setidaknya aku bisa jadi sarjana dan kini aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Setelah memastikan semuanya rapi, aku langsung keluar dari kamar kosanku, tak lupa aku mengunci pintu agar tak ada orang lain masuk. Walaupun tak ada barang yang berharga, tetap saja aku harus hati-hati.
Mengingat kosanku yang terlalu masuk ke dalam, akhirnya aku jalan kaki lebih dulu menuju jalan raya. Sepanjang jalan aku mendengarkan lagu menggunakan headset, sambil sesekali ikut menyanyikan lagunya.
Sesampai di jalan raya, aku memilih naik angkot karena lebih murah, beginilah nasib kalau tak punya kendaraan, harus berangkat lebih pagi karena harus menunggu angkot. Itupun angkotnya kadang gak langsung jalan karena masih harus cari penumpang lain.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ada angkot yang berhenti di depanku. Aku langsung naik dan memilih duduk paling belakang dekat jendela.
Di dalam angkot, cukup sepi. Hanya ada satu orang laki-laki tampan dengan memakai kaos oblong dan celana pensil yang hanya sampai lutut.
"Mau kerja, Mbak?" sapanya ramah.
"Iya, Mas," jawabku tersenyum ke arahnya.
"Kerja di mana?" tanyanya.
"Di Perusahaan Evsa Group," jawabku. Kulihat dia mengangguk-anggukkan kepala.
"Sudah lama kerja disana?" tanyanya yang membuat aku mulai risih. Walaupun aku tau, dia mungkin hanya ingin mengajak ngobrol saja.
"Ini hari pertamaku kerja," balasku sambil memainkan hp. Aku mematikan lagu yang di putar sedari tadi, lalu mencabut headset di telingaku dan menaruh headset itu ke dalam tas.
Walaupun dari tadi aku dengerin musik, namun aku tetap mendengar jika ada orang yang mengajak bicara, itu karena aku memutar lagu dengan nada rendah.
"Ah," aku melihat pemuda itu memegang perutnya.
"Kenapa?" tanyaku, yang melihat wajahnya keringatan.
"Entahlah, tiba-tiba saja perutku sakit," ujarnya sambil memegang perutnya.
"Astaga, aku harus gimana?" tanyaku bingung.
"Pak, turun di puskesmas terdekat ya, Pak," ucapku ke sopir angkot.
"Iya, Mbak," jawabnya.
Setelah beberapa menit angkotpun berhenti, untung ada puskesmas terdekat, kalau jauh, kan kasihan pemuda ini harus menahan rasa sakit.
Aku membantu pemuda itu untuk turun dari angkot, lalu aku membayar angkot itu menggunakan uangku. Aish, padahal itu uang jatahku buat makan siang, tapi gara-gara pemuda ini aku harus bayar dua kali lipat. Tapi ya sudahlah, semoga Allah mengganti berkali-kali lipat.
Aku membantu dia untuk periksa ke puskemas, untungnya puskesmas itu sepi, mungkin karena masih pagi sekali. Jadi tak perlu ambil kartu dan nunggu antrian.
Pemuda ini langsung di periksa oleh dokter, dan ternyata penyakit magh nya kambuh. Dokter itu pun menyuntik pemuda ini dan menyuruhnya untuk istirahat dulu sampai merasa nyaman.
Aku juga membelikan bubur di depan puskemas dan menyuapinya dengan pelan, tak lupa aku juga membeli sebotol air putih dan minyak pijat.
"Sini perutnya aku oles ini dulu, biar nyaman," ujarku sambil membuka baju kaosnya. Sejujurnya aku malu melakukannya, tapi aku harus bertindak cepat agar ia sembuh, dan aku bisa segera pergi dari sini
Pemuda itupun seakan sudah pasrah mau di apain, setelah membaluri perutnya, aku segera menyuapi dia makan. Hanya sedikit, tapi gak papa yang penting ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Setelah memastikan dia selesai makan dan minum. Aku langsung pamitan pergi karena aku harus bekerja.
Dia pun menganggukkan kepala dan mengucapkan terimakasih.
Setelah itu aku langsung berlari dari sana, aku tak perlu bayar puskesmasnya, toh aku yakin dia bisa bayar sendiri. Lagian aku tak punya uang jika aku harus membayar perawatan dia.
Aku memilih naik ojek, walaupun sedikit mahal setidaknya aku sampai di perusahaan tepat waktu. Setelah perjalanan hampir 15 menit, karena ojeknya ngebut dari tadi, akhirnya sampai juga di depan perusahaan. Aku langsung membayar ojek tadi dan berlari menuju resepsionis dan menanyakan ruangan Ibu Ratna. Resepsionis itu mengatakan bahwa ruangan Ibu Ratna ada di lantai dua, ruangan sebelah kiri nomer 10.
Aku segera berjalan cepat menaiki tangga, walaupun di sini ada lift, namun resepsionis tadi sudah mewanti-wanti agar aku tak memakai lift tersebut. Karena lift itu hanya untuk boss dan orang-orang terpenting saja.
Sesampai di lantai dua, aku langsung menuju pintu nomer 10. Tak lupa aku mengetuk pintu dan mengucap salam. Setelah ada suara "Masuk". Aku pun membuka pintu itu secara perlahan.
Di sana aku bertemu dengan seorang wanita yang mungkin jika di lihat dari umurnya masih 30 an. Tapi entahlah berapa umur aslinya, karena di zaman sekarang. Umur 50 tahun pun terlihat seperti umur 20 an, kalau pintar merawat diri, apalagi jika memakai perawatan mahal pasti akan sangat awet muda.
Di sana aku memperkenalkan diriku, sedangkan Ibu Ratna hanya mendengarkan saja. Setelah aku selesai memperkenalkan diri, baru ia mulai memberitahu bahwa aku ternyata bekerja sebagai sekertaris boss. Sungguh aku tak menyangka, kalau aku akan mendapatkan posisi yang sangat penting itu.
Ibu Ratna menjelaskan semua tugas-tugasku nantinya, ia juga memberikan sebuah maps, yang setelah aku baca ternyata itu adalah kontrak kerja.
Aku membaca dengan teliti, dan betapa kagetnya aku melihat nominal gaji yang akan aku dapatkan nantinya. Ya Tuhan, aku bisa mendadak kaya setelah ini.
Setelah membaca sampai akhir, baru aku menandatangani beberapa lembar yang artinya setelah ini, aku resmi menjadi karyawan tetap dengan jabatan yang cukup penting di Perusahaan ini.
Sungguh, entah aku mimpi apa sampai Tuhan berbaik hati memberikan aku kesempatan yang sangat langka ini. Dan aku harus bekerja keras, aku tak ingin mengecewakan boss yang sudah berbaik hati mau menampung aku untuk bekerja di sini.
Setelah selesai tandatangan, dan memberitahu pekerjaanku apa saja ke depannya, barulah Ibu Ratna mengantarkan aku ke ruangan Boss atau CEO, pemilik perusahaan ini.
Kulihat jam sudah menunjuk pukul sembilan, itu artinya aku ada di ruangan Ibu Ratna selama dua jam lamanya.
Entah kenapa saat menuju ruangan boss, jantungku berdebar-debar, semoga aja nantinya bos ku itu baik, ramah, gak suka marah-marah, dan bisa membuat aku nyaman bekerja di sini.
Setelah sampai di depan ruangan CEO, Ibu Ratna mengetuk pintu, setelah di suruh masuk. Barulah Ibu Ratna membuka pintu, dan ia masuk ke dalam. Aku pun berjalan di belakangnya.
Ibu Ratna memperkenalkan aku, namun Boss itu tak mau menghadap ke arah Ibu Ratna. Ia memilih menghadap ke arah belakang, entah apa yang sedang ia lihat.
"Keluarlah," ucapnya dengan suara dinginnya. Setelah itu, Ibu Ratna pun melihat ke arahku dan tersenyum, ia menepuk bahuku, sambil mengatakan, "Semangat ya kerjaannya. Jangan mengeluh, Boss kita emang dingin dan cuek Tapi dia sangat baik," bisiknya lalu setelah itu, ia pergi dari sana meninggalkan aku berdua dengan si Boss.
Entah kenapa jantungku semakin berdebar. "Ya Tuhan, aku kenapa? Tak mungkin aku punya penyakit jantung, kan?" gumamku dalam hati.
Setelah berdiri hampir 5 menit, barulah boss itu memutar kursinya dan menghadap ke arahku.
"Kamu," ucapku kaget, bagaimana aku gak kaget, melihat pemuda yang di angkot tadi duduk di kursi mahal itu dengan jas mahal tentunya.
Dia tersenyum ke arahku. "Selamat datang di Perusahaan Evsa Group," ucapnya ramah, tak sedingin tadi.
Aku hanya menganggukkan kepala, karena aku bingung mau menjawab apa.
"Ayo sini, duduk," ujarnya. Aku pun melangkahkan kaki, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja miliknya.
"Kita belum kenalan, kan? Perkenalkan aku Rangga Aditya Mahardhika. Mulai sekarang, kamu akan jadi sekertarisku. Terimakasih ya, sudah menolongku tadi," ucapnya dengan santai.
"I ... iya," jawabku gugup. Entah bagaimana pemuda ini sudah ada di sini.
"Santai aja, aku gak makan orang kok," ucapnya terkekeh, seakan-akan ada yang lucu.
"Maaf jika tadi aku berbicara dingin saat ada Ibu Ratna, aku emang bersikap dingin di hadapan Ibu Ratna dan semua karyawan di sini. Aku punya alasan kenapa melakukan itu," ujarnya menjelaskan.
"Iya gak papa," kataku. Lagian ia tak perlu minta maaf, toh dia tak punya salah, terlebih dia adalah bosku saat ini.
"Aku gak nyangka, bisa bertemu kamu di angkot, dan kamu juga orang yang baik hati yang mau menolongku, dan sekarang kamulah yang jadi sekertarisku," ujarnya mengobrol santai. Aku pun yang awalnya merasa sangat tegang, akhirnnya mulai bisa ikut santai juga.
"Aku gak tau, gimana kalau gak ada kamu disana. Sekali lagi terimakasih. Nanti uangnya aku ganti ya, buat yang bayar ongkos angkot tadi, sama beli bubur dan air mineral," ujarnya.
"Enggak usah, aku ikhlas kok," ucapku. Walaupun tadi sempat keberatan karena uangku buat bayar angkot dan beli bubur, tapi aku sudah mengikhlaskannya.
"Aku tau, tapi aku akan tetap menggantinya," ujarnya dengan senyuman manisnya. Astaga, aku bisa punya penyakit deabetes kalau gini terus.
Jujur, laki-laki yang bernama Rangga ini, memang sangat ramah sekali. Bahkan ia juga memberitahu aku pekerjaanku, padahal sebelumnya Ibu Ratna juga sudah memberitahu tentang apa saja yang harus aku lakukan. Mungkin karena Rangga takut aku melakukan kesalahan, hingga ia menjelaskan ulang kepadaku.
Sejak saat itu, aku mulai dekat dengan Rangga, bahkan saat jam makan siang, Rangga mengajak aku makan bersama di ruangannya sambil mengobrol. Rangga selalu mendapatkan makanan khusus yang emang di buat untuknya.
Bahkan Rangga juga yang mengantarkan aku pulang sampai jalan raya depan kosanku. Karena emang mobilnya gak bisa masuk sampai depan kosanku, karena gangnya yang terlalu sempit.
Hari-hariku, mulai berwarna-warna. Aku sangat betah kerja disana karena selain Rangga yang sangat baik padaku, teman-teman di sana juga baik dan menyambutku dengan hangat. Bahkan aku juga punya beberapa teman yang sangat dekat denganku.
Mereka juga menggosipkan aku ada hubungan dengan Rangga, karena kata mereka, sebelumnya Rangga tak pernah sedekat itu dengan karyawannya. Aku pun hanya menanggapinya dengan senyuman, karena aku terlalu malas untuk menjelaskan bahwa aku dan Rangga tak ada hubungan apa-apa, dan murni hanya karena masalah pekerjaan.
Tak terasa hampir sebulan aku bekerja di sana, gajiku sepertiganya aku kasihkan ke ibu panti, sebagiannya lagi untuk aku beli baju dan pergi ke salon agar memperbaiki penampilanku. Dan sebagainnya lagi untuk kebutuhanku. Dan jika ada lebihnya, buat di tabung untuk kebutuhan mendesak.
Sekarang kehidupanku sudah membaik, dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Dan mungkin bulan depan, aku akan mencari kosan yang lebih layak dan yang dekat dengan tempat kerjaku agar aku tak terlalu buru-buru setiap paginya.
"Ra," panggil Rangga saat jam pulang kerja.
"Iya, Pak," jawabku sambil membereskan beberapa berkas untuk aku taruh di laci, dan menguncinya dengan rapat. Sebagian berkasnya, akan aku bawa pulang untuk di kerjakan di kosan. Aku juga punya laptop pemberian Rangga, katanya agar aku bisa mengerjakan pekerjaan ku di kosan dengan tenang. Awalnya aku menolak, tapi karena dia bilang ini termasuk fasilitas kantor, aku pun menerimanya.
"Jangan pulang dulu ya, tunggu aku," ucapnya sambil mematikan komputernya. Setelah selesai, barulah ia menghampiriku. Ruanganku emang berada di ruangan Angga. Kata Ibu Ratna dulu, khusus sekertaris punya ruangan sendiri, dan ruangan itu tepat di sebelah ruangan Angga. Tapi entahlah, kenapa Angga memintaku satu ruangan dengannya. Aku sendiri sih gak masalah, malah aku senang karena sesekali bisa menatap wajah Angga yang sangat tampan bahkan seperti pangeranku di dunia haluku hehe.
"Ayo pulang, tapi ikut aku dulu ya bentar," ajaknya dan aku hanya bisa menganggukkan kepala, mana mungkin aku berani menolak permintaannya.
Setelah itu, aku dan Rangga pun naik mobil, ternyata dulu saat Rangga naik angkot, itu karena terpaksa, mobilnya mogok di jalan, dan ketika ada angkot lewat, ia pun langsung menaikinya tanpa fikir panjang, hingga akhirnya bisa bertemu denganku dan bisa seakrab sekarang. Sedangkan mobilnya yang mogok, tentu ada orang yang datang dan membawanya ke bengkel, tak mungkin Rangga membiarkan mobil mahalnya tergeletak begitu saja di pinggir jalan.
"Mau kemana?" tanyaku saat ada di dalam mobil.
"Resto, temani aku dulu ya, aku lapar," ucapnya lembut. Lagi-lagi aku hanya bisa menganggukan kepalaku.
Hhh ... sejujurnya berada di dekat Rangga, tak baik buat jantungku. Karena aku selalu merasa berdebar-debar. Ya, aku tau. Aku jatuh hati pada bossku sendiri, tapi tak mungkin aku terang-terangan menunjukkan rasa sukaku apalagi mengatakan jika aku mencintainya, aku sangat sadar diri, siapa aku. Dan aku juga sangat sadar, aku tak pantas untuknya
Setelah perjalanan setengah jam, akhirnya Rangga memarkirkan mobilnya. Lalu ia mengajak aku masuk ke dalam resto.
Di resto itu, Rangga memesan ruang VVIP, dimana fasilitas dan pemandangan sangat indah ketimbang yang khusus orang biasa. Terlebih itu di pinggir jendela sehingga bisa melihat ke luar jendela yang langsung tertuju ke taman.
Rangga memesan makanan dan minuman, sambil menunggu makanan. Ia mulai membuka percakapan.
"Ra, kamu punya pacar?" tanyanya membuat aku kaget.
Aku menggelengkan kepalaku, "Enggak, Pak," jawabku.
"Jangan panggil, Pak. Kita lagi di luar kantor, panggil Mas aja," ucapnya dan aku pun lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepala tanpa mau membantah ucapannya.
"Syukurlah kalau kamu gak punya," ujarnya tersenyum ke arahku.
"Ra," panggilnya lagi.
"Iya," jawabku.
"Maukah kamu jadi istriku," ucapnya santai, namun tidak denganku. Aku bahkan sampai melongo mendengarkannya.
"Maksudnya apa ya?" tanyaku untuk memastikan, aku tak mau GR dulu.
"Aku suka sama kamu, Ra. Sejak di angkot itu, enggak tau kenapa, aku nyaman saat ada di dekat kamu, dan aku rindu saat berjauhan dengan kamu. Aku tau, mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku gak bisa memendam perasaanku terlalu dalam lagi. Aku mencintaimu, Ra," ujarnya sambil menggenggam tanganku yang ada di atas meja.
"Mas Rangga serius?" tanyaku.
"Iya, aku serius. Kamu mau kan jadi istriku?" tanyanya seperti penuh harap.
"Iya," jawabku tanpa berfikir panjang. Karena aku sadar kesempatan tak mungkin datang dua kali, terlebih aku juga mencintai Rangga, yang merupakan bossku sendiri.
"Makasih, Ra. Aku akan segera memperkenalkan kamu dengan orang tuaku untuk melamar kamu dan menjadikan kamu istriku," ucapnya sambil mengecup tanganku.
Ya Tuhan ... jika ini mimpi, jangan bangunkan aku. Tapi jika emang ini kenyataan, terimakasih Tuhan. Terimakasih atas kebahagiaan yang Engkau berikan, setelah apa yang aku alami saat ini. Sekarang Tuhan memberikan aku kebahagiaan, mempertemukan aku dengan jodohku yang sangat tampan, mapan, baik dan sangat pengertian.
"I Love My Boos," gumamku dalam hati.