Satu bulan sebelum pandemi, masih pukul sepuluh Zia gadis cantik dengan postur tinggi semampai, lulusan kedokteran masih berusia dua puluh tahun, memiliki ibu juga seorang Dokter dan juga sebagai mentor bagi anaknya. Tidaklah salah jika Zia menjadi gadis cerdas, lulus dengan kumlaut dan semua kecerdasan,iq tinggi di dapat dari kedua orang tuanya.
Sejak lulus ibunya langsung mengajaknya pindah di pinggiran kota, semua nyaman-nyaman saja dan saat ini Zia dan ibunya sedang melakukan penelitian rahasia di mana semua informasi akan datang lewat paket.
Seperti pagi ini. "Bu ... paketnya sudah tiba!" teriaknya kencang.
"Taruh saja di pojok Zia dan langsung bungkus dengan box kaca yang sudah ibu siapakan, hati-hati jangan sampai paket itu tersentuh olehmu."
Dengan hati-hati Zia menutup paket itu dengan box kaca yang ukurannya tiga kali lipat dari ukuran paket itu.
Memiliki lab sendiri meskipun peralatan yang di gunakan tak secanggih di lab-lab besar di kota.
Masih berkutat dengan penelitiannya mencatatnya dan menyimpannya di kartu memori.
Setelah melakukan tugas dari ibunya kini Zia juga ikut masuk dalam lab membantu sang ibu saling bertukar informasi mencatat dan menyimpannya.
Mereka akan keluar dari lab saat makan, ke kamar mandi atau sekedar mencari udara segar di halaman belakang tak terasa hampir satu bulan mereka meakukan kegiatan itu hingga dengan tanpa sengaja Zia menyalakan televisi.
Setiap chanel yang di tonton beritanya sama tentang pandemi yang sedang melanda seluruh dunia.
"Bu!" teriak Zia kencang.
Sang ibu dengan tergesa menghampiri Zia berjalan mendekat.
"Ada apa zia?" tanya sang ibu sembari membetulkan kaca matanya.
"Lihat Bu, semua stasiun tv menyiarkan berita yang sama di luar pandemi sedang terjadi Bu dan ...." Belum selesai Zia langsung berlari keluar.
Setelah sampai di ruang tengah tepatnya dipojokan tempat dia meletakkan bunga itu. Sejenak matanya melotot tanda tak percaya dengan apa yang terjadi dan yang dilihatnya.
Bunga yang diletakkan di sudut kini tengah tumbuh besar dan sudah mengeluarkan tongkolnya.
"Tapi ...." Aku sedikit mendekat ingin melihat dengan jelas benda apa itu karena saat dilihat dari dekat tongkol bunga ini telah di penuhi dengan hewan-hewan kecil yang meloncat dan ada yang terbang dengan warnanya yang hitam legam.
Belum juga aku melihat dengan dekat ibu telah menarikku dan mendorongku masuk dalam lab dan menutup dengan sandi.
Aku masih terkejut saat ibu mendorongku tetapi kini aku lebih terkejut dengan apa yang kulihat. Kutu-kutu ini terbang dan mengeluarkan suara bisingnya
mendengung, kutu ini seakan memiliki pemimpin dimana mereka terbang bergerombol dan berpencar.
Aku dan ibu masih diam tanda tak percaya. "zia cepat tutup sela-sela pintunya dengan bubuk itu," ucap ibu sembari berdiri.
Seketika ribuan kutu itu langsung terbang melesat menuju sumber suara dan langsung menabrak dinding kaca "Bu ...."Panggilku sedikit keras.
Kembali kutu-kutu ini berdatangan, melihat ini akhirnya ibu memintaku untuk diam.
Hingga beberapa menit kutu-kutu ini masih terus terbang bergerombol dan memutar di seluruh ruangan.
Melihat ini aku dan ibu akhirnya memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat tetapi dengan tergesa aku menjatuhkan hingga menimbulkan bunyi yang nyaring tetapi sepertinya suara bunyi ini tak berpengaruh sama sekali.
Melihat ini akhirnya aku dan ibu mencoba menyalakan suara televisi dengan keras sama itu juga tak berpengaruh pada kutu-kutu ini.
Rasa penasaran dengan kutu ini kini ibu menyalakan lampu tapi masih tidak berpengaruh mereka seperti tidak merespon apa yang kami lakukan.
Kini aku dan ibu berkomunikasi dengan menulis dan mengambil kesimpulan sementara bahwa kutu ini akan merespon jika itu suara dari makhluk hidup sesaat aku dan ibu saling menatap.
Ya,akhirnya kesimpulan kami final yang menjadi target dari kutu ini adalah mahkluk hidup bisa manusia, hewan dan tumbuhan.
Masih dengan bahasa tulis akhirnya kami bekerja dengan diam hanya mata kami yang berkedip. Hingga tiga hari di dalam lab ini akhirnya ibu membuat suplemen makanan untuk kami agar kenyang lebih lama dan suplemen itu tidak membuat kami ingin ke belakang sama sekali dan tidak berkeringat.
Tak terasa hampir satu bulan kami di sini di dalam lab ini kini hanya tinggal satu gerombol kutu yang masih berterbangan dan hinggap di dinding kaca lab.
Televisi yang tadinya padam kini menyala dengan sendirinya tanpa suara hanya terlihat sosok mengerikan yang berjalan hilir mudik.
Sesaat aku dan ibu menatap layar televisi dan beberapa menit kemudian televisi itu mati dengan sendirinya.
Kini aku dan ibu tinggal menyelesaikan tahap terakhir dari penelitian kami. Ya, kami serasa dikejar sesuatu yang setiap saat mengancam nyawa kami.
Tak terasa sudah tiga bulan kami melewati penelitian ini dan
kutu-kutu ini berangsur pergi.
Aku dan ibu merasa sedikit heran dengan cepat ibu mengajak untuk berkemas, mengemas hasil penelitian kami dalam botol-botol kecil dan di masukkan dalam box bersekat.
Dan berkas-berkas dan data-data langsung kami masukkan dalam brankas hanya tas punggung yang di desain tahan air dan api untuk melindungi box ini.
Hingga akhirnya kutu-kutu ini
benar-benar bersih bersamaan dengan terdengarnya suara sirine yang sangat panjang dan membuat telinga kami pengang. Namun, ada keanehan kembali terjadi listrik tiba-tiba padam, alat-alat elektronik
tiba-tiba tak berfungsi.
Akhirnya ibu memberi kode padaku untuk keluar dari tempat ini dengan membalur tubuh kami dengan bubuk yang berwarna putih dengan bau yang sangat menyengat begitu juga dengan wajah kami.
Perlahan kami melangkah dan memindai setiap ruangan yang kami lewati hingga kami tiba di area depan rumah kami, sejenak aku tertegun tak ada tumbuhan sama sekali semua mati gersang dan suhu udara sangat panas.
Kembali melangkah keluar kulihat cimiku tinggal kulitnya saja, secara tiba-tiba ibu menarikku sedikit mendekat karena ada segerombol manusia berjalan dengan ujudnya yang menjijikkan matanya melotot berdarah, mulutnya mengeluarkan liur yang terus menetes dan badannya sudah terkoyak di sana sini dengan luka yang menimbulkan bau anyir dan busuk bercampur jadi satu.
Sesaat sosok itu berhenti dan mengendus. Namun, sesaat kemudian kembali berjalan dengan langkah gontai.
Namun, sedetik kemudian mereka berhenti lagi dan kembali mengendus sesaat salah satu dari mereka berteriak nyaring.
Aku dan ibu masih melihat kejadian ini hingga secara tiba-tiba kutu kutu itu telah datang dan menyerang entah apa itu yang di dalam gerumbulan sosok itu.
Sesaat kemudian kutu-kutu itu telah terbang menjauh lagi tetapi ada hal yang aneh di sini kulihat segerombol sosok yang berteriak tadi langsung pergi dan berganti beberapa sosok baru.
Sesaat kemudian tingkah mereka mulai aneh mereka menggaruk tubuh mereka hingga berdarah-darah dan darah yang keluar dari tubuh mereka mereka jilat bergantian hingga mereka benar-benar terpuaskan.
Ibu langsung menatapku menyadari bahwa kini aku ingin muntah melihat semua ini.Ibu langsung membekap mulutku rapat-rapat agar tak menimbulkan suara.
Hingga beberapa menit kemudian ibu kembali mengajak kuberjalan lagi dan kini kami berjalan meniru jalan mereka, sepanjang jalan yang kami temui hanyalah sosok-sosok ini tak ada tumbuhan yang hidup bahkan suara burung pun tak terdengar.
Tak ada satupun kutu-kutu itu
di mana mereka membentuk sarang nya atau mereka memiliki inang berbagai pertanyaan kembali bergejolak di hatiku.
Ibu dan aku berjalan dengan siaga hingga akhirnya kami hampir tiba di pusat kota tetapi ternyata keadaan lebih mengerikan.
Semua bangunan sudah hancur dan di penuhi kutu-kutu saat ini kutu-kutu itu sudah mulai menempel
dimana-mana.
Zia dan aku berusaha untuk terus maju tetapi keberuntungan belum ada dipihak kami secara tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan posisi kami berada di tengah-tengah para sosok ini.
Serbuk yang kami balurkan pada tubuh kami perlahan mulai luntur dan saat hujan turun seperti ini ternyata sosok-sosok ini melemah dan kesempatan ini kami buat untuk mencari tempat persembunyian.
Berusaha menjaga napas kami agar tak terendus oleh sosok-sosok ini. Saat kami bisa mencapai tempat persembunyian ibu segera membuka tas punggungnya. "Kini waktunya uji coba dan kita gunakan penangkal ini," ucap ibu dalam bahasa kami.
Dengan cepat dan tak ingin membuang waktu ibu langsung menyuntikkan tiga botol sekaligus padaku dan pada ibu. Tepat bersembunyi di jalan raya aku dan ibu melihat banyak mobil terbengkalai dengan pelan aku dan ibu mendekati mobil itu semua kunci masih terpasang sempurna.
Tapi anehnya semua mobil ini tak berfungsi hingga akhirnya aku dan ibu mundur teratur di dalam kap mobil terdengar suara mendengung.
Akhirnya aku dan ibu paham jadi mereka bersembunyi di tempat yang hangat. Langkah kami terhenti saat secara tiba tiba kami di tarik oleh beberapa orang yang bermasker.
Terus menarik tangan kami hingga kami tiba di sebuah tempat yang aneh di mana separuh dari tempat ini tandus, gersang dan separuhnya lagi subur menghijau.
Aku dan Zia saling berpandangan tanda tak percaya hingga kami berdiri beberapa saat dan akhirnya kami boleh masuk.
Aku sedikit tersenyum memberi kode pada Zia untuk berhati-hati, berjalan mengikuti beberapa orang yang membawa kami hingga kami tiba di sebuah aula besar dan beberapa orang ini pun berhenti.
Tak lama kemudian keluar laki-laki paruh baya dan wajahnya nampak masih tampan.
Melihatku laki-laki ini langsung tersenyum. "Perkenalkan namaku, Wheets." Mendengar nama ini seketika Zia memegang tanganku dan menuliskan sesuatu di tangan ku dengan jarinya .
Aku Wheets penyandang dana terbesar untuk penelitianmu dan aku harap kau berhasil menemukan penangkalnya. .
Dengan mengangkat satu jarinya orang-orang yang tadi menarikku kini telah merebut paksa tas punggungku. Memeriksa isinya dan sesaat kemudian menyerahkan tas itu pada Wheets.
"Bawa mereka di tempat yang aman dan lindungi mereka." Sesaat kemudian Wheets tersenyum.
"Biarkan mereka istirahat," ucapnya sembari berlalu pergi.
Hingga beberapa jam akhirnya ada yang memanggil kami dan membawa kami di sebuah tempat di mana masih ada beberapa manusia seperti kami.
End