"Selalu saja aku dibuat suntuk dan pusing dengan semua pekerjaan rumah ini!" Seorang pemuda laki-laki berusia 17 tahun tampak pusing dengan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk di atas meja belajarnya.
Dengan terlihat sangat terpaksa ia berusaha mengerjakan semua pekerjaan rumahnya. Namun tangan dan jarinya sangat berat rasanya jika dipaksakan untuk menulis.
"Arghh!!! Cukup! Aku tidak bisa memaksakannya!" Ia berteriak secara tiba-tiba seraya mengacak-acak kepalanya yang tampaknya sudah benar-benar pusing.
Laki-laki itu pun beranjak dari meja belajarnya meninggalkan semua bukunya, dan melompat merebahkan dirinya di atas kasur dalam posisi tengkurap. Di tengah dirinya sedang rebahan, tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk melalui ponsel miliknya. Dirinya pun meraih sebuah ponsel di sudut ranjang, dan memastikan isi pesan ataupun kontak di ponselnya.
Laki-laki itu menghela napas berat dengan ekspresi datarnya lalu bergumam, "hanya notifikasi iklan toko online?"
"Apa juga yang aku harapkan?" Ia pun membalikkan badannya menjadi terlentang dan lalu kembali berbicara, "sepi sekali ..., tetapi aku sudah biasa dengan kesepian ini, sih. Malangnya dirimu, Putra."
"Daripada bosan karena tumpukan PR, lebih baik aku memainkannya lagi, deh."
Pemuda laki-laki bernama Putra itu beranjak dari kasurnya dan kemudian menuju kembali ke meja belajarnya. Ia tidak berniat untuk melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda, tetapi dirinya malah mengambil sebuah perangkat seperti kacamata berwarna putih yang terletak di sudut meja.
Ia mengambil kacamata putih itu dan kembali ke ranjangnya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya dengan memakai kacamata tersebut, lalu ia memejamkan matanya sejenak dan jari telunjuk terlihat seperti mengaktifkan sesuatu pada pinggiran kacamatanya.
"Hubungkan, dan mulail!"
***
Kicauan burung terdengar sangat indah, dan juga terdengar keramaian aktivitas orang-orang di sekitarnya. Ketika Putra terbangun dan membuka matanya, tiba-tiba ia sudah berpindah tempat dari kamarnya menuju ke pusat kota di sebuah kerajaan.
"Akhirnya ... bisa masuk juga!" Putra melihat ke sekitar, dirinya bisa melihat banyaknya keramaian aktivitas di pusat kota. Banyak sekali pedagang dan kereta kuda yang berseliweran. Ya, sesuai keinginannya, Putra telah memasuki dunia game daring yang akhir-akhir ini membuatnya candu untuk selalu memainkannya.
"Bagus, barang-barang ku masih ada!" Putra sedikit menggulirkan jari telunjuknya ke bawah dan melihat isi penyimpanan miliknya. Ia dapat melihat kemampuan dan status dirinya sendiri pada menu penyimpanan tersebut. Dirinya juga dapat melihat perlengkapan yang dipakainya, dan perlengkapan tersebut termasuk perlengkapan kelas atas.
"Aku tidak biasa dengan baju zirah ini," gumam Putra merasa tidak nyaman. Ia pun memilih baju yang tersimpan pada menu penyimpanan, dan sepertinya dirinya menemukan baju yang cocok.
Ketika Putra memilih baju yang dipilihnya, tiba-tiba saja baju zirah yang sebelumnya ia pakai menghilang dan secara otomatis tergantikan dengan baju yang baru saja ia pilih.
"Aku suka yang ini!" Putra tampak keasyikan melihat penampilannya sendiri yang menurutnya sangat keren dengan baju yang ia pilih. Baju berwarna hitam ditambah dengan adanya jubah berwarna hitam juga, itu cukup untuk membuatnya terlihat sangat keren.
"Aku tidak ingat memiliki yang seperti ini sepanjang aku memainkan karakter ku?" Putra merasa curiga dan berpikir. Ia kembali melihat menu penyimpanan dan memastikan sejarah dirinya mendapatkan baju itu.
DEG.
"Apa?! Tu-tunggu! Jubah pembunuh naga? Sejak kapan aku ...?!" betapa terkejutnya dirinya ketika mengetahui asal-usul jubah atau pakaian yang dipakainya. Jubah atau pakaian yang dipakainya adalah satu-satunya pakaian langka, dan hanya didapatkan oleh seseorang yang bisa atau pernah membunuh sang naga.
Naga adalah monster kelas atas, dan belum ada pemain atau orang yang berhasil membunuh atau menaklukannya. Namun Putra sudah memiliki jubah atau pakaian yang seharusnya menjadi penghargaan untuk orang yang berhasil menaklukkan makhluk itu.
"Ju-jubah itu?"
"Hei, bukankah pakaian itu?"
"Apa jangan-jangan dia ...?"
"Dia berhasil menaklukkan Sang Naga?"
Ya, dirinya langsung menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar dan menjadi bahan pembicaraan. Merasa mendapatkan masalah, Putra pun menggunakan sebuah benda kecil berbentuk sayap kupu-kupu untuk menghilang dari sana. Seketika dirinya menghilang dari tengah keramaian itu seperti menggunakan sihir teleportasi.
"Fiuh ...! Untuk sementara ... menghilang adalah jalan yang terbaik." Putra muncul kembali di tengah dari sebuah hutan yang letaknya tak jauh dari pusat kota tadi. Dirinya kembali membuka menu penyimpanan dan memastikan semua data dirinya.
"Drian?" Putra mengerutkan dahinya ketika membaca nama karakter yang kini pada tubuhnya. "Benar, kok! Ini akun dan karakter milik ku!" dirinya merasa tidak ada yang aneh pada nama tersebut, karena memang 'Drian' adalah nama yang ia pakai ketika membuat akun dan memainkan permainan daring itu.
"Apa yang kalian mau dariku?! Aku tidak memiliki harta yang berharga!"
Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan yang berteriak dan berbicara. Dari nada bicara yang ia dengar, perempuan itu tampaknya tidak suka atau sedang bertengkar dengan orang lain yang menjadi lawan bicaranya. Karena penasaran, Putra/Drian pun mencari sumber suara tersebut.
Ketika menemukan sumber suaranya, Drian langsung bersembunyi di balik pepohonan dan menyaksikan apa yang terjadi. Terdapat seorang gadis berambut hitam sebahu dengan pakaian lusuh yang kelihatannya sedang dalam masalah dengan tiga orang pria yang ada di hadapannya. Tiga pria itu tampak bersenjatakan pedang dan mengancam gadis tersebut yang tidak membawa senjata apapun.
"Apakah mereka ... NPC?" Drian merasa sangat ingin menolong gadis itu. Namun dirinya masih memikirkan apakah itu semua ulah NPC dari game tersebut, atau memang keempat orang di sana adalah pemain asli.
Drian sempat menoleh ke sana ke mari untuk memastikan kalau tidak ada Event Spesial yang sedang berjalan dari game yang dimainkannya. Namun di saat yang bersamaan, ketiga pria itu menyerang gadis tersebut dengan mengayunkan pedang mereka.
"Kau akan menerima akibatnya karena kau tidak mau membayar kami!" teriak salah satu pria dan mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat ke arah gadis di hadapannya.
Gadis itu tidak memiliki celah sama sekali untuk berlari, apalagi memberikan serangan balik hanya dengan tangan kosong. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya seraya melindunginya dengan kedua tangannya, dan berharap dirinya masih bisa selamat dari tebasan itu.
SET!
"A-apa?!"
Di saat itu juga Drian muncul dan menangkis serangan mereka bertiga sekaligus hanya dengan sekali serang menggunakan pedang peraknya.
"Hei, ternyata kalian bukan NPC, ya?" ucap Drian menyapa orang-orang itu. Namun ketiga pria itu terlihat sangat kesal bercampur ketakutan ketika melihat jubah yang dipakai oleh Drian. Sedangkan gadis yang kini berada di belakang Drian hanya bisa terdiam terkejut dengan kehadiran Drian yang tiba-tiba menyelamatkannya.
"Hei, apa kalian tahu peraturan kalau tidak boleh melakukan Player Kill di area ini?" tanya Drian menatap tajam nan dingin ketiga pria yang kini berada di hadapannya.
"Si-siapa sebenarnya kau?!"
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, tidak penting!" sahut Drian dengan santai dan tenangnya sembari memejamkan matanya sejenak memalingkan pandangannya dari orang-orang itu.
Merasa tidak dihargai, ketiga pria itu terlihat sangat kesal dan marah. Mereka kembali menghunuskan pedang mereka ke arah Drian, dan ketika itu juga ketiga pedang yang digunakan mengeluarkan aura berwarna merah.
"Oh, kalian juga bisa menggunakan sihir penguat, ya?" gumam Drian menatap tajam ketiga orang yang sepertinya akan menjadi lawannya.
"Tak peduli siapa kau, kami akan memberikanmu pelajaran karena sudah mengambil target kami!"
Ketiga pria itu langsung menyerang Drian begitu saja. Mereka menebaskan pedang mereka kepada Drian yang hanya bertahan. Drian sendiri cukup kewalahan karena serangan yang mereka buat sangatlah cepat.
"Terlalu cepat!" Drian berusaha menghindar satu serangan yang tiba-tiba dari belakang. Namun sudah terlambat.
Jleebb ..!!!
Satu pria menusuk tubuhnya dari belakang dengan sangat cepat sehingga tidak sempat bagi Drian menghindarinya. Pedang itu tembus dari punggung hingga keluar di bagian depan tubuhnya, namun dirinya tidak merasakan sakit ataupun luka sedikitpun.
"A-apa?!"
"Ti-tidak mungkin!"
Ketiga lawannya dibuat terpaku dan menghentikan serangan mereka ketika melihat Drian baik-baik saja setelah menerima tusukan itu.
"Eh? Apa yang terjadi?" Drian sendiri kebingungan dengan dirinya yang tiba-tiba saja kebal terhadap serangan. Apalagi serangan yang diterimanya menggunakan pedang sihir.
Mengetahui dirinya sangat diuntungkan, Drian pun tertawa sembari mencabut pedang yang menusuk tubuhnya. Ketika pedang itu tercabut, sama sekali tidak meninggalkan luka di sana.
"Apa kalian masih mau lagi?" tanya Drian menatap tajam ketiga pria yang tampak sangat ketakutan di hadapannya.
"Cu-cukup, ambil saja target kami! Kami akan pergi dari sini!" Ketiga pria itu langsung lari terbirit-birit dari sana meninggalkan Drian bersama gadis lusuh itu.
Dengan polosnya, Drian menggaruk kepalanya dan kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Dirinya pun membalikkan badannya untuk memastikan kalau gadis yang ia selamatkan tadi baik-baik saja. Sedangkan gadis itu terpana dan menatap kagum dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Drian.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Drian kepada gadis itu.
"I-iya, terima kasih!" sahut gadis itu dengan sangat ramah seraya menundukkan kepalanya.
Drian menatap curiga terhadap penampilan gadis yang kini ada di hadapannya itu. Pakaian lusuh itu, dan wajah yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya selama memainkan permainan daring ini.
"Apa kau pemain baru di sini?" tanyanya kepada gadis yang baru saja ia temui.
Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya dan menjawab, "iya, aku baru."
Drian menatap kasihan gadis itu, wajah polos dari gadis yang baru saja ia temui cukup untuk membuat hatinya tergerak ingin membantunya.
"Ayo, ikutlah denganku, aku akan membantu mu mendapatkan perlengkapan!" pinta Drian mengajak gadis itu untuk kembali ke kota.
Mendengar bantuan tersebut, gadis itu tersenyum senang dan menjawab, "baik! terima kasih banyak!" seraya mengulas senyuman manisnya yang cukup membuat Drian terpana.
"Boleh aku tahu siapa nama mu?" tanya Drian.
"Alma! Namaku Alma," jawab gadis itu dengan ekspresi ceria.
"Drian, itu namaku, salam kenal," ucap Drian.
***
Sesampainya di pusat kota, Drian pun berjalan menuju ke sebuah toko baju untuk mendapatkan baju yang cocok untuk Alma. Sampai di sebuah toko baju, Drian langsung disambut ramah oleh beberapa penjaga toko di sana. Tak hanya itu, terlihat beberapa pengunjung juga menyambut kedatangan Drian dengan penuh hormat.
Drian sendiri cukup dibuat bingung dengan sikap semua orang di toko itu. Apa mungkin gara-gara dirinya memakai jubah pembunuh naga ini?
"Selamat datang, Tuan dan Nona. Ada yang bisa kami bantu?" sapa ramah seorang wanita penjaga toko itu menyambut kedatangan Drian dan Alma.
"Aku menginginkan pakaian yang bagus dan cocok untuknya," jawab Drain seraya melirik Alma yang berdiri di sampingnya.
"Baik! Nona, silakan ikut saya," sahut penjaga toko itu dengan sangat ramahnya.
"Pilihlah mana yang kau suka, Alma." Drian tersenyum seraya menatap gadis yang bersamanya.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Alma dengan wajah polosnya dan merasa tidak enak hati.
Drian tersenyum dan menjawab, "sudahlah, jangan dipikirkan."
Alma pun mengikuti wanita penjaga toko itu untuk memilih pakaian yang bagus dan cocok untuknya. Banyak sekali pakaian yang bagus di jual di toko itu, namun pakaian yang bagus tentu memiliki harga yang sepadan juga.
Sedangkan Drian hanya menunggu sampai gadis itu selesai memilih pakaian yang diinginkannya. Di kala menunggu, tiba-tiba saja dirinya merasakan perasaan yang tidak enak. Dirinya merasa ada yang mengawasinya dari seberang toko yang di mana di sana hanya ada gang gelap di tengah keramaian kota.
Tak lama kemudian Alma keluar dari ruang ganti dan sudah mengenakan pakaian yang dipilihnya. Pakaian sederhana dengan baju berwarna coklat dan rok selutut berwarna merah. Namun terlihat sangat cocok dan cantik di mata Drian yang terpana dan terdiam ketika melihatnya.
"Ba-bagaimana menurutmu?" Alma berdiri di hadapan Drian dan menanyakan pendapatnya dengan sedikit gugup.
"Sa-sangat cocok untukmu, apakah hanya itu yang kau inginkan?" sahut Drian yang juga terlihat sedikit gugup.
"Iya, ini saja sudah cukup, terima kasih banyak," ucap Alma seraya mengulas senyumnya.
***
Setelah dari toko itu, Drian mengajak gadis yang bersamanya untuk jalan-jalan berkeliling kota. Alma terlihat sangat senang sekali, bahkan kesenangan tak dapat terbendung di wajah yang sangat cantik dan cerianya. Ia juga terlihat sangat suka dengan pakaian yang dipilihnya sendiri.
"Oh ya, bolehkah aku bertanya?" tanya Drian sembari terus berjalan melalui keramaian kota.
"Tentu!" sahut Alma.
"Apa yang membuatmu bermasalah dengan tiga pria tadi?" tanya Drian penasaran.
Alma pun menjawab dan sedikit memberikan penjelasannya. "Aku tidak tahu mereka siapa, ketika aku jalan di hutan itu untuk mencari tanaman, mereka tiba-tiba saja menghadang ku dan memintaku membayar pajak jalan, padahal aku tidak memiliki uang sama sekali."
"Mencari tanaman?" sahut Drian bertanya kembali.
"Iya, tadinya aku ingin mencari Bunga Arcane untuk dijual, tetapi bunga itu ternyata belum tumbuh saat ini," jawab Alma.
Drian hanya diam mendengar jawaban tersebut, begitu pula dengan Alma. Suasana tiba-tiba terasa sangat canggung. Mereka berdua jalan bersama namun hanya diam-diam saja.
"Um ... anu ... se-sekali lagi ... aku berterima kasih padamu, terima kasih banyak karena sudah banyak membantuku. Aku tidak tahu apakah aku bisa membalas kebaikanmu." Alma terlihat mencoba untuk mencairkan suasana, ia berbicara dengan sedikit tertunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
Dengan santainya Drian berkata, "senang rasanya bisa membantu," ucap Drian dengan sedikit melirik Alma di sampingnya seraya mengulas senyum.
SLiingg ...!!!
Duarr ...!!!
Tiba-tiba saja terdapat cahaya berwarna merah yang sangat menyilaukan melesat menghantam Drian dan Alma yang sedang berjalan di sana. Beruntung berkat jubah yang dipakainya, mereka berdua selamat dari ledakan dan hantaman yang terjadi. Namun beberapa bangunan dan orang-orang di sekitarnya yang mendapatkan dampaknya.
"Kau tidak apa-apa, 'kan?" tanya Drian kepada Alma yang pada saat itu berada di dalam jubahnya.
"Aku baik-baik saja, tetapi ... sepertinya tidak ... untuk mereka," jawab Alma menatap kasihan ke arah orang-orang yang terluka akibat serangan yang tiba-tiba itu.
"Wah, wah, ternyata jubah pembunuh naga itu sangatlah kuat, ya? Benar-benar jubah legendaris, menarik sekali ...!" Tiba-tiba muncul seorang pria dengan pakaian serba hitam di langit. Pria itu melayang di atas sana dan menatap ke arah Drian dengan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya.
Drian dapat mengenali pakaian serba hitam yang dipakai oleh pria itu. Pakaian serba hitam itu adalah dentitas yang biasa dipakai oleh para ahli sihir kerajaan, dan biasanya dipakai oleh petinggi ahli sihir kerajaan atau pemain dengan kelas penyihir.
"Alma, apapun yang terjadi tetaplah berlindung! Aku merasa ... dia bukanlah orang yang baik," ujar Drian menarik pedang miliknya dan menatap tajam pria yang melayang di atas sana.
Pedang berwarna perak milik Drian tiba-tiba saja berubah menjadi warna hitam keunguan. Pedang itu adalah pedang sihir, dan Drian tampaknya sudah mulai memasukkan sihir pada pedang miliknya. Alma dibuat terpana dan kagum dengan pedang sihir itu.
"Berhati-hatilah!" ucap Alma lalu sedikit menjauh dari sana. Drian mengangguk dan tersenyum yakin kepada Alma.
"Hei, aku menantang mu! Apa kau sudah siap?" tanya pria itu mengeluarkan aura mengerikan berwarna hitam pekat di sekitarnya.
"Ya, dan sebaiknya ... kita lakukan di tempat yang lebih luas dari ini!" Muncul cahaya berwarna biru di sekitar tubuh Drian. Setelah itu ia meloncat terbang melesat mengarah lawannya dengan sangat cepat.
Tiingg ...!!!
Drian mengayunkan pedang miliknya kepada pria tersebut, dan menciptakan percikan cahaya di atas langit kota itu. Drian sangat tidak ingin menyebabkan kehancuran atau kekacauan di kota itu. Di saat itu juga dirinya menggunakan sayap kupu-kupu yang tersimpan di sakunya, dan menghilang dalam sekejap dari langit kota itu.
Alma yang melihatnya langsung dibuat khawatir dengan menghilangnya tiba-tiba Drian bersama orang jahat itu. "Drian," gumamnya seraya mengatupkan kedua tangannya di atas dada, tatapannya berkaca-kaca dan dirinya sangat berharap Drian baik-baik saja.
-***-