"hei... Tunggu..!!"
"Kamu mau kemana.. jangan pergi.. aku mau kamu tetap disini bersamaku.."
"AARRGGHHTT...!!!" (hosh.. hosh.. hosh..) Dewi terbangun dari mimpinya dan dia nampak ngos-ngosan sampai keringat bercucuran di wajahnya.
"wi.. Dewi.. kamu gak kenapa-kenapa nak?" Tanya seorang ibu muda, tiba-tiba sudah duduk di sebelah kasur dewi.
"Gak mah.. aku gak apa-apa" jawab dewi masih ngos-ngosan.
"Ini, kamu minum dulu ya sayang" ucap ibu itu sambil menyodorkan segelas air putih.
"Makasih mah.." jawab dewi sembari meraih gelas itu, lalu dia meminumnya dengan perlahan.
"Coba kamu cerita sama mamah, kamu tadi mimpi apa sampai kamu seperti ini?" Tanya mamah dewi sedikit khawatir.
"Aku juga ga tau mah, tapi mimpi itu serem banget.." jawab dewi sambil mengerutkan dahinya.
"Ya sudah nak, ga usah di ingat lagi. Sekarang kamu kembali tidur ya, ini sudah malam. Besok kamu harus berangkat sekolah kan?" Ucap mamah dewi sambil mengelus rambutnya dewi.
Dewi pun hanya mengangguk pelan dan kembali merebahkan badannya dan kembali tertidur.
Pagi yang cerah pun datang, suara burung berkicau riang di dampingi matahari yang bersinar menembus jendela kamar dewi dan menyoroti tepat di atas kasur dimana dewi masih tertidur.
"Hoaammm....." Suara itu keluar dari mulut dewi sambil dia merenggangkan badannya yang masih sedikit kaku.
Tak lama kemudian terdengar suara dari arah dapur memanggil namanya
"Dewi...!!! Bangun nak, sudah pagi.." ucap mamah nya dari arah dapur.
"Iya mah, ini juga udah bangun kok.." jawab dewi sambil keluar dari kamar dan mengalungkan handuk di lehernya.
"Pagi mah.." ucap dewi menyapa mamahnya yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi juga sayang.. cepet kamu mandi sana, terus kamu sarapan. Nanti kamu telat berangkat sekolah" ucap mamahnya dewi.
"Siap mah.." jawab dewi sambil berjalan menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian dewi sudah selesai mandi, dan dia langsung bergegas ke kamarnya untuk siap-siap berangkat sekolah.
"Mah.. aku berangkat dulu ya.." ucap dewi sambil berlari menuju pintu rumahnya. "Assalamu'alaikum.." ucap dewi lagi.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab mamhnya dewi " eh.. sayang kamu ga sarapan dulu.." ucap mamah nya lagi, tapi sudah tak ada jawaban lagi dari dewi.
Sesampainya di sekolah dewi langsung menuju kelas dengan tatapan kosong, hingga pada akhirnya dewi menabrak seseorang yang tepat sedang berjalan di depannya.
"BRUUAAAAKKK....!!!" suara buku berjatuhan di lantai.
"Sorry.. sorry.." ucap dewi sambil segera membantu orang itu membereskan bukunya yang berserakan akibat dewi.
"I.. iya.. ka.. gak kenapa-kenapa kok.." jawab orang itu yang ternyata dia adalah adik kelas di sekolahnya dewi, cewe itu bernama nadia.
Ya.. nadia memang di kenal kutu buku di sekolahnya, sampai satu sekolah sering ngebully dia apa lagi kakak kelas. Tapi tidak dengan dewi, meskipun dewi terkenal di sekolahnya tapi dewi anak yang sangat baik. Maka dari itu banyak banget anak-anak yang menyukainya, terutama di kalangan anak-anak cowo sekolah itu.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan.." tanya dewi lagi sambil mengerutkan dahinya.
"Ehm.. iy.. iya.. ka.. aku gak kenapa-kenapa kok.." jawab nadia dengan kepala tertunduk.
"Maaf yaa.. tadi aku jalannya meleng" ucap dewi sambil mengembalikan buku-buku milik nadia yang di pungut dewi tadi.
"Iy.. iya kak gak apa-apa.." jawab nadia lagi sambil mengambil buku di tangan dewi.
Tanpa di sadari mata dewi terfokus ke salah satu buku yang di bawa nadia, dan dewi merasa tertarik dengan buku itu.
"Eh.. nad, itu buku apa?" Tanya dewi sambil menunjuk ke arah buku yang ada di tangan nadia.
"Oh.. ini.." jawab nadia sambil melihat bukunya. " Ini buku cerita horor kak.." jawab nadia lagi.
"Wah.. kaya ya seru itu, aku boleh pinjem sebentar gak bukunya?" Tanya dewi lagi.
"Ehm.. boleh, kalau kakak emang mau pinjam.." jawab nadia, "nih ka, ambil aja.. buat kakak baca di rumah.." ucap nadia lagi sambil menyodorkan buku yang di maksud dewi.
"Wah.. makasi ya nad.. " ucap dewi, "aku janji.. nanti aku balikin kalau aku udah selesai bacanya ya.." ucap dewi lagi.
"Iya kak.. kalau gitu, aku ke kelas dulu ya kak.. permisi.." ucap nadia sambil berjalan menuju kelasnya, begitu juga dengan dewi.
Di kelas jam pelajaran terasa lama sekali, seolah-olah waktu berhenti berputar.
Hingga akhirnya...
"Teng.. teng.. teng.." bunyi lonceng pulang sekolah berbunyi.
Semua teman sekelas dewi bersorak dan berlomba-lomba keluar dari kelas, dewi hanya bisa tersenyum dan berjalan di belakang teman-temannya yang keluar dari kelas dengan sangat gaduh.
"Dew.. dewi.." panggil teman sekelas dewi, sebut saja namanya Riko.
"Hei.. Riko.. ada apa?" Jawab dewi sambil membalikkan badannya menghadap riko.
"Hemm.. pulang bareng yuk, aku anter kamu pulang mau gak?" Ucap riko sambil tersenyum malu.
Ya, riko memang sudah menyukai dewi sejak ajaran baru di mulai hanya saja riko enggan untuk mengakuinya.
"Boleh.." jawab dewi sambil tersenyum manis.
"Yok.." ucap riko lagi sambil berjalan beriringan dengan dewi menuju kendaraan riko yang terparkir di area parkiran sekolah.
Waktupun berjalan, tak terasa dewi sudah sampai di depan rumahnya. Dan riko pun sudah pergi dari rumahnya dewi.
Seperti biasa di rumah, dewi selalu sendirian. Karena mamahnya yang pergi kerja dan pulang larut malam.
Bahkan menjelang pagi bila kerjaan mamahnya belum selesai dan mengharuskan mamahnya dewi lembur di kantornya.
Dewi langsung berjalan menuju kamarnya, dia langsung rebahan di kasurnya yang nyaman.
Sesekali dewi larut dalam pikirannya, hingga dia teringat buku yang dewi pijam di sekolah tadi pagi.
Dewi pun langsung meraih tas sekolahnya dan mengambil buku cerita horor milik nadia itu.
Dewi mengamati sampul buku itu, yang langsung membuat bulu kuduk berdiri. Dewi pun langsung membaca buku itu lembar demi lembar hingga dia tertidur.
"Dewi..." Entah suara dari mana memanggil nama dewi dengan lirih, yang bisa membuat bulu kuduk langsung berdiri.
"Dewi.." suara itu terdengar lagi.
"Kau harus ikut bersamaku.." ucap suara misterius itu.
"TIDAK.. TIDAK..!!" terik dewi kencang.
"PERGI KAMU..!! PERGI..!! JANGAN GANGGU AKU..!!" teriak dewi lagi.
"Hii.. hi.. hi.. hi.." suara itu kembali terdengar kali ini berupa ketawa cekikikan kencang yang membuat telinga dewi sakit saat mendengarnya.
"PERGI...!! PERGI KAMU..!!" teriak dewi lagi sambil menutup kedua telinganya.
"Hii.. hii.. hii.. hii.." suara itumasih terdengar bahkan menjadi lebih kencang dari sebelumnya.
Sampai tiba-tiba....
----------------------------------------------
"BRUUAAAKKK...!!" dewi terjatuh dari tempat tidurnya.
"Hosh.. hosh.. hosh.." suara nafas dewi tak beraturan, keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya.
"Ah.. cuma mimpi" gumam dewi dalam hati sambil mengelap keringat di wajahnya.
Disitu dewi baru tersadar seisi rumahnya gelap gulita. Lalu dewi berjalan menelusuri lorong menuju dapur rumahnya untuk mengambil segelas air dan terduduk di kursi makan, dia sejenak larut dalam lamunannya.
Hingga tiba-tiba....
"SRRAAKKK....!!!" ada suara dari ruang tamunya dewi.
Dewi langsung tersadar dari lamunannya, matanya langsung mengarah ke arah sumber suara itu berasal.
Dewi berjalan pelan melewati lorong gelap di rumahnya, sesekali dewi menoleh kebelakang, tapi setibanya di ruang tamu tidak ada apa-apa di sana. Yang membuat bati dewi sedikit lega.
"Ahh.. gak ada apa-apa" ucap dewi sambil duduk di sofa.
Belum lama dewi duduk tiba-tiba...
"SSSSSHHHHH....!!!!" Terdengar suara air mengalir dari kamar mandinya, dewi yang terduduk pun langsung terkejut dan langsung beranjak dari duduknya, kembali berjalan menuju kamar mandi.
Dewi berjalan sangat hati-hati dan perlahan, dia takut ada orang jahat di dalam rumahnya.
Tapi sama halnya dengan di ruang tamu tadi, tidak ada siapapun di kamar mandi itu.
Dewi pun segera masuk ke kamar mandi dan mematikan kran air yang terbuka.
Kejadian aneh pun terjadi lagi, baru saja dewi berjalan dua langkah dari arah kamar mandi tiba-tiba kran air yang sudah dewi matikan kembali terbuka dengan sendirinya.
Dewi pun menoleh kembali kebelakang dan mematikan kembali kran air itu.
"Aneh.. bukannya sudah aku matikan tadi?" Gumam dewi dalam hati.
Tapi saat dewi membikan badannya untuk keluar dari kamar mandi itu, lagi-lagi kran air itu terbuka kembali, dewi yang belum melangkahkan kaki nya kini mulai cemas, dia mengerutkan dahinya dan mulai memberanikan diri untuk membalikkan badannya.
"AARRGGHHTT..."
Dan betapa terkejutnya dewi saat melihat sosok yang berada di dalam bak mandinya, sosok itu tersenyum menyeringai ke arah dewi dengan mata merah melotot yang hampir keluar, mukanya hancur oenuh darah dengan rambut nya yang panjang tak karuan.
Dewi teriak histeris melihat sosok itu, dia pun langsung berlari meninggalkan kamar mandi menuju kamarnya.
Dewi langsung loncat ke kasurnya dan menarik selimutnya menutupi semua badannya, nafas dewi ngos-ngosan, keringat dingin mengucur deras, dadanya berdebar hebat tak karuan.
"KRREEETTT... KRREEETTT..." suara langkah kaki menaiki tangga terdengar sangat mengerikan. Di susul dengan suara seseorang yang memanggil-manggil namanya.
"DEWI..." suara itu terdengar lirih dan berbisik tapi sangat membuat telinga dewi sakit saat itu.
"DEWI.." suara itu terdengar lagi, kini semakin dekat seperti berada tepat di samping dewi.
Dewi pun memberanikan diri melihat siapa itu, dewi perlahan membuka selimutnya dan betapa terkejutnya dewi saat melihat sosok seram yang tadi dia lihat di kamar mandi.
"AAARRRGGGHHHTTT....!!!!"
----------------------------------------------
Ternyata tadi itu dewi hanya bermimpi, kini muka dewi terlihat pucat pasi. Mamahnya yang mendengar dewi teriak ketakutan langsung bergegas ke kamar dewi.
"Dewi.. kamu kenapa sayang?" Tanya mamahnya khawatir.
"Haah.. gak mah, aku gak kenapa-kenapa" jawab dewi sambil menarik nafas panjang dan sangat terlihat jelas keringat yang bercucuran deras di dahinya.
"Kamu mimpi buruk lagi.." ucap mamah dewi.
"Iya mah, kali ini mimpinya aneh banget dan serem lagi.." jawab dewi masih syok dengan mimpinya sambil mengerutkan dahinya.
"Ya sudah nak, kamu mandi sana sudah sore sebentar lagi adzan maghrib. Kamu jangan lupa sholat maghrib" ucap mamah dewi sambil mengelus rambut anak ya itu.
"Mamah abis maghrib mau keluar sebentar ya, klien mamah minta ketemu buat bahas proyek nanti" sambung mamah dewi lagi. Dewi yang mendengar itu hanya mengangguk pelan dan beralih dari tempat tidurnya.
Malampun tiba menunjukkan jam 00:30 wib, tapi mamahnya dewi tak kunjung pulang.
Ternyata mamahnya dewi tak langsung pulang ke rumah beliau langsung melanjutkan perjalanannya ke luar kota untuk mengejar deadline besok pagi.
"KRIINGG.. KRIINGG.. KRIINGG.." suara ponsel dewi terdengar nyaring.
"Halo assalamu'alaikum mah.." sapa dewi di telpon
"Mamah kok belum pulang sih.." ucap dewi lagi.
"Halo nak, wa'alaikumsalam.." jawab mamah dewi,
"Maaf ya sayang, mamah lupa ngabarin kamu kalau mamah harus langsung berangkat ke luar kota buat ngejer deadline besok pagi. Maafin mamah ya, kamu harus sendirian untuk beberapa hari ini" jawab mamahnya dewi lagi.
"Oh.. iya mah, gak apa-apa kok.." ucap dewi sedikit kecewa bercampur gelisah, karna tau dia akan sendirian di rumah untuk beberapa hari.
"Mamah berapa hari di luar kota?" Tanya dewi.
"Gak lama kok sayang, cuma 3 hari aja. Kamu hati-hati ya di rumah" jawab mamahnya dewi.
"Ya sudah sayang, mamah mau lanjutin perjalanan lagi. Kamu hati-hati ya, jangan lupa makan biar sakit magh kamu gak kambuh." Ucap mamah dewi lagi.
"Iya mah.. mamah juga hati-hati ya mah" ucap dewi.
"Tut.. tut.. tut.." suara telpon terputus terdengar.
Malam itu dewi larut dalam kesendiriannya, dia hanya di temani suara TV di ruang keluarganya.
Hingga sesuatu terjadi...
"TOK.. TOK.. TOK.."
suara pintu rumah dewi terdengar ada yang mengetuk, dewi pun memicingkan matanya ke arah pintu sambil berpikir keras siapa yang mengetuk pintu tengah malam seperti ini.
Tapi seperti biasa dewi tak begitu menghiraukannya, samapi ketukan pintu itu pun terdengar kembali.
"TOK.. TOK.. TOK.."
suara pintu terdengar kembali, dewi hanya menoleh ke arah pintu, tetapi sekarang dewi mulai penasaran siapa yang mengetuk pintunya malam-malam begini, dengan sedikit takut dewi mulai berjalan ke arah pintu.
Sesampainya dewi di ambang pintu dewi perlahan mengintip situasi di luar dengan sedikit celah gorden di jendelanya yang tepat berada di samping pintu rumah dewi.
Betapa terkejutnya dewi yang melihat sosok pocong sedang mengetuk pintu rumahnya dengan menggunakan kepalanya yang terikat tali itu.
"TOK.. TOK.. TOK.."
suara ketukan pintu terdengar kembali untuk ketiga kalinya. Dewi benar-benar ketakutan saat itu, kakinya lemas, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Dewi mundur perlahan menjauh dari jendela.
"DEEPP..."
Langkah kaki dewi terhenti saat dewi merasakan ada sesuatu menghalangi langkahnya, seperti ada sesuatu di belakang tubuhnya saat itu. Dengan dada yang berdebar hebat, dewi memberanikan diri untuk membalikkan badannya.
Dengan perlahan dewi mulai membalikkan badannya.
Dan....
----------------------------------------------
AARRGGHHTT...!!!"
dewi teriak sekuat-kuatnya, karna dia kini melihat sosok pocong yang berada di teras rumahnya, kini sudah berdiri tepat di belakang badannya.
Pocong itu melihat ke arah dewi dengan mata keluar sebelah dan penuh belatung di mukanya, dan lagi bau yang sangat busuk menyengat hidung, di tambah lagi wajah pocong itu yang sangat menyeramkan dengan air liur yang menetes.
Dewi langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci kamar tidurnya, dia pun langsung loncat ke tempat tidurnya dan menarik selimut menutupi semua tubuhnya.
Nafas dewi masih ngos-ngosan dan dadanya masih berdetak kencang tak beraturan, di tambah kini keringat dingin yang mulai mengucur deras.
Tidak hanya sampai disitu, tidak lama kemudian dewi mendengar samar-samar seseorang melempar kerikil kecil ke arah jendela kamarnya.
"KLOTAK.." suara lemparan kerikil terdengar, tapi kali ini dewi sudah benar-benar ketakutan. Dia tak berani melihat siapa yang melempari jendela kamarnya.
"KLOTAK.." suara lemparan kerikil itu terdengar kembali, dewi yang sedari tadi berada di balik selimutnya menjadi semakin ketakutan.
Dewi mulai membaca doa dan ayat-ayat pendek yang dia hafal, tapi percuma doa dan ayat-ayat yang biasa dewi lafalkan serasa hilang dari ingatannya.
"KLOTAK.." suara lemparan kerikil terdengar untuk yang ketiga kalinya.
Sampai pada akhirnya dewi tertidur karna sudah tidak kuat dengan gangguan malam itu dan di tambah dewi sangat kelelahan.
Tak disangka dewi bermimpi kembali...
"Dewi..." Suara itu sayup terdengar memanggil namanya lirih.
"Dewi.. ayo ikut bersamaku.." suara itu semakin mendekati dewi.
"Gak.. aku gak mau.." ucap dewi sambil memundurkan badannya kebelakang.
"Siapa kamu.. kenapa kamu selalu mengganggu ku.." ucap dewi lagi yang kini sudah terpojok.
"Hii... Hii... Hii... Hii... Hii..." Sosok itu malah menertawakan dewi, seakan menledek dewi yang sudah terpojok dan sangat ketakutan.
Tak lama sosok itu semakin mendekat ke arah dewi, tangan kuntilanak itu semakin dekat menuju ke arahnya.
Sosok itu seperti ingin mencekik leher dewi yang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain rasa takut yabg sangat takut.
Dewi hanya bisa berteriak-teriak histeris, berharap kuntilanak itu bisa gilang dari pandangannya.
"Pergi... Pergi kamu...!!!" Teriak dewi kencang, tapi nyatanya sosok kuntilanak itu tidak takut dengan teriakan dewi.
Hingga akhirnya....
"AARRGGHHTT....." Dewi terbangun dari tidurnya, seluruh badannya di basahi keringat, di tambah nafasnya yang tak beraturan.
"Hosh... Hosh... Hosh... Hosh..." Suara nafas dewi terdengar memecah keheningan kamarnya.
"Siapa hantu itu?" Gumam dewi sambil mengerutkan dahinya. "Kenapa dia selalu datang di mimpiku?" Gumam dewi lagi.
Tiba-tiba suara handphone berdering keras, membuat dewi terperanjak dari lamunannya.
"KRIINGG... KRIINGG... KRIINGG..." Suara jam beker memecah lamunan dewi.
Tangan dewi dengan cepat menggapai jam itu ternyata sudah menunjukan jam 5 pagi, dengan cepat dewi mematikan alarmnya.
Dewi segera beranjak dari tempat tidurnya dan siap-siap berangkat menuju sekolah.
----------------------------------------------
Pagi itu di sekolah, dewi bertemu kembali dengan nadia.
"Nad... Nad... Nadia..." Teriak dewi berulang memanggil nadia.
Nadia pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu dan tersenyum.
"Iya kak.." jawab nadia sambil menundukan kepalanya di kala dia tau kalau yang memanggilnya adalah dewi. Entah kenapa setiap nadia berpapasan dengan dewi dia selalu melakukan hal yang sama, dan di tambah lagi teman-teman sekolahnya yang menatap aneh ke arah nadia dengan tatapan aneh, sambil berbisik-bisik satu sama lain.
"Ini... Buku kamu, aku balikin. Makasih yaa..." Ucap dewi sambil menyodorkan buku yang di pinjam dewi tempo hari.
"Oh.. iya ka, sama-sama" jawab nadia sambil meraih buku itu dan masih dengan muka tertunduk.
Tak sengaja nadia berpapasan dengan 3 kakak kelas di koridor sekolah, dan mereka memang terkenal sebagai siswa-siswa tukang bully di sekolahnya.
"Hey... Hey... Guys... Coba lihat, siapa ank yang ada di samping kita ini?" Tanya salah satu dari mereka sebut saja Ruri. "Ngomong-ngomong sendiri kaya orang gila... Dasar anak aneh..." Ucap ruri lagi sambil sedikit mendorong pundak nadia.
"Haa... Haa... Haa... Haa..." Teman-teman ruri yang lain dan anak sekolah yang berada di koridor itu menertawakan nadia.
Nadia hanya bisa tertunduk dan menahan tangisnya, dewi yang melihat kejadian itu tampak bingung dengan ucapan teman sekelasnya ruri.
"Nadia kamu gak kenapa-kenapakan?" Tanya dewi sedikit cemas melihat kondisi nadia saat itu. Nadia hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"Heran yaa.... Sekolah ellite kaya gini kok.. bisa-bisanya menerima siswa aneh kaya gini?" Ucap deva salah satu teman genk ruri, sambil sedikit menarik baju nadia.
"Tau nih.. orang aneh kok bisa ada satu sekolah sama kita.." ruri kembali menyauri ucapan deva.
Dewi yang sedari tadi melihat ruri dan kawannya meledek nadia menjadi emosi, dan memberanikan diri berbicara kepada mereka. Namun aneh, tak satupun dari mereka yang mendengar perkataan dewi.
"Maksud kalian tuh apa.. nadia tuh gak aneh, dia lagi ngomong sama gw dari tadi di sini.. masa kalian semua vak ngeliat gw, apa kalian pura-pura buta.." ucap dewi panjang lebar.
Tapi tetap saja tak ada yang menggubris ucapan dewi itu.
Dewi nampak kebingungan dan aneh sendiri, kenapa teman-temannya tidak bisa mendengarkan ucapan dia, sedangkan nadia bisa.
Nadia yang melihat tingkah laku dewi hanya tertunduk sembil sesekali melirikan matanya ke arah dewi.
Tak di sangka dewi yang sudah emosi sedari tadi ingin menampar ruri.
Tapi....
"SPLAASSHHHH....." tangan dewi menebus tubuh ruri, dan dewi yang melihat itu langsung terkejut.
Dewi tak dapat menyentuh tubuh teman-temannya itu, wajah dewi semakin terlihat ketakutan dan dewi memalingkan mukanya ke arah nadia yang sedari tadi masih tertunduk diam.
"Nad.. kamu lihat barusan?" Tanya dewi aneh. "Kok aku gak bisa nyentuh ruri.. deva dan anak-anak lainnya?" Tanya dewi lagi sambil melihat ke dua tangannya.
Nadia yang masih tertunduk kini memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap dewi.
"Maaf kak.. kakak emang sudah meninggal beberapa hari yang lalu." Jawab nadia seakan membuat petir yang menyambar dewi.
Dewi yang mendengar jawaban nadia itu terperanjak kaget, seolah tak percaya akan perkataan nadia barusan.
"Gak... Gak mungkin nad..." Ucap dewi terbata-bata.
"Gak mungkin gw udah mati..!!" Ucap dewi lagi sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi emang gitu kenyataannya, anak-anak satu sekolah udah tau semua kalau kak dewi memang sudah meninggal." Ucap nadia lagi sambil mengerutkan dahinya.
"Tapi kenapa kamu bisa lihat aku? Dan riko...??" Tanya dewi heran.
"Karena aku memang bisa melihat mahluk tak kasat mata, dan kak riko..." Ucap nadia sampai akhirnya nadia terdiam sejenak.
"Kak riko... Dia juga sudah meninggal, bersamaan dengan kak dewi 3 hari lalu. Karna sebuah kecelakaan mobil" jawab nadia.
Dewi yang mendengar penjelasan nadia langsung teringat kejadian 3 hari lalu...
"Dew.. gimana ini.. rem mobil gw blong.." ucap riko histeris
"Serius ko.." jawab dewi yang terlihat histeris juga.
"Rik.. awas depan lu jurang..." Teriak dewi memecah suasana cheos saat itu.
Dan...
"AARRGGHHTT...."
suara teriakan dewi dan riko pecah.
"BRUUAAAKKK...."
suara mobil jatuh menerobos dinding penghalang jalan dan masuk ke dalam jurang.
Saat itu mamah dewi yang mendengar kabar kecelakaan anaknya bersama riko langsung histeris.
Tim kepolisian dan patroli menemukan jasad dewi dan riko yang sudah tak bernyawa, dengan luka yang parah.
Jasad riko dan dewi langsung di bawa ke rumah duka masing-masing.
Tapi disini, jasad dewi tak langsung di kuburkan oleh mamahnya.
Yang saat itu masih belum terima kepergian anak semata wayangnya dewi.
Mamahnya masih suka mengelus rambut dewi, menggantikan bajunya tiap pagi dan malam.
Seolah-olah dewi masih hidup dulu.
dewi yang mengingat kejadiaan 3 hari lalu itu menangis terisak.
dia kembali pulang kerumahnya, dan kembali masuk ke kamarnya.
melihat jasadnya yang sudah terbujur kaku dan membusuk.
terlihat jelas wajah dewi yang sudah mulai menghitam dan banyak belatung memenuhi wajahnya, badannya mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat hidung.
tak banyak pula warga sekitar yang mendapat teror dari arwah dewi, tak lama kemudian warga yang sudah mulai kesal dengan teror arwah dewi pun berbondong-bondong, menghampiri rumah dewi sembari mwmbawa polisi.
"bu rusmi.. buka pintunya.." ucap salah satu warga sambil menggedor-gedor pintu rumah dewi.
"buka bu.. atau pintunya kami dobrak dari luar" ucap warga yang lain.
"krreeettt..."suara pintu terbuka terdengar.
dan saat pintu di buka, bau busuk menyeruak dari dalam rumah itu menyeruak ke luar rumah, membuat warga-warga mual dan ingin muntah rasanya.
"hemm.. bau banget.. bau busuk.." ucap salah satu warga sambil menutup hidungnya dan menahan rasa ingin muntahnya.
"Iya.. ada apa bapak-bapak?" Tanya ibu rusmi yang tak lain adalah mamahnya dewi.
"Biarkan kami masuk untuk membawa mayat dewi dan mengeburkan mayat itu dengan layak." Ucap pak RT sambil sedikit mendorong pintu rumah buk rusmi.
"Tidak pak.. jangan bawa anak saya.." jawab ibu rusmi sambil menangis histeris tak rela anaknya di bawa paksa.
"Ayo bapak-bapak, kita masuk.." ucap pak RT lagi, sambil melangkah kan kaki nya masuk menyusuri rumah ibu rusmi.
"Jangan pak.. jangan bawa anak saya.." ucap buk rusmi sambil terus menangis histeris dan terduduk lemas di lantai.
Warga yang masuk ke rumah ibu rusmi langsung menghampiri kamar dewi dan membuka pintu kamar itu.
ASTAGFIRULLAH...
----------------------------------------------
Betapa kaget warga yang melihat jasad dewi yang sudah terbukir kaku dan sudah membusuk di atas tempat tidurnya.
"Ya Allah.. ayo bapak-bapak kita angkat jasad ini dan kita mandikan lalu kita kuburkan dengan layak" ucap pak RT sambil menyuruh beberapa orang untuk mengangkat jasad dewi.
Beberapa orang pun masuk ke kamar dewi dan mengangkat jasad itu untuk kemudian di mandikan dan di kuburkan.
Ibu rusmi hanya bisa menangis melihat jasad anak nya di bawa oleh warga.
Dan sosok dewi masih terlihat berdiri di jendela kamarnya, melihat orang-orang yang membawa jasadnya pergi.
Dewi terpaku di jendela itu hingga menghilang begitu saja.
Akankah teror dewi berlanjut.. atau berakhir..??
👻TAMAT👻
Terimakasih gaes sudah membaca ceritaku ini..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian..
Agar aku lebih semangat lagi menulis cerita selanjutnya..
Jangan lupa buat..
💛 Like.. 👍🏻
💛 Vote.. 🥰
💛 Komen.. 💬
Jangan lupa juga baca cerita ku yang lain..
👻 Kumpulan cerita pendek horor
👻 Arwah rosa ( coming soon )