Kiamat Zombie bukan hanya didalam sebuah film,para manusia terinfeksi oleh virus yang mereka ciptakan sendiri,saling makan memakan,mereka sudah kehilangan akal
Kota kota besar yang kini menjadi bangkai,tak ada kehidupan yang aktif,tak ada pemukiman yang tetap,kami semua kembali menjadi manusia nomaden
Asap kota bekas terbakarnya pabrik pabrik besar, hingga menutup pandangan kami untuk melihat matahari
Di sinilah aku berdiri,seorang manusia yang tersisa berkumpul bersama orang orang bringas yang tak segan-segan untuk memenggal kepala keluarga mereka
Namaku Tama,aku tak memiliki kekuatan pernapasan atau kekuatan apapun,aku hanya mengandalkan apa yang aku miliki untuk diriku sendiri
Aku berdiri diatas sebuah mobil off-road berwarna putih yang dihiasi darah darah para mayat hidup, tak lupa sebuah senjata api yang kami curi dari markas militer yang sekarang sudah menyatu dengan para Zombie
"Bagaimana...Geta?...Apa kau melihatnya?"Tanya ku kepada seorang pria yang usianya lebih muda daripada aku,dia adalah geta sebuah nama samaran
Geta memegang sebuah teropong yang ia tempelkan di depan matanya, melihat gerak gerik sang mayat hidup supaya perjalanan kami tak harus bersusah payah melawan mereka
Tujuan kami adalah tidak memiliki tujuan,kami hanya bertahan hidup selama mungkin,didalam dunia yang sudah mati
"Aku melihatnya...Seorang wanita!"Tutur Geta
"Apa!...Ternyata masih ada manusia yang hidup"Jawab Will, seorang wanita iblis yang gemar menabrakkan mobilnya kepada zombie zombie itu,dia bukanlah wanita dengan lipstik merah
Ia wanita dengan napsu membunuh yang selalu berkobar setiap saat
"Will gerakan mobil mu kearah wanita itu,jika kita bisa menyelamatkannya,kita mendapatkan seorang pembantu"Ujar ku
"Tidak!...Itu tak mungkin,para Zombie sudah mendekati tubuhnya,kita bisa bisa jadi makanan mereka"Larang Geta yang masih menempelkan teropongnya
"Itu benar Tama... Kendaraan ku memang cepat,namun jika dihadapkan dengan mereka,kita tak punya perlindungan lain"Jawab Will
Aku bukanlah orang penyabar,jika aku berkeinginan maka keinginan itu harus terselesaikan,bahkan aku harus kehilangan satu mataku demi sepotong kue coklat
"Baiklah,jika kalian tak bisa membawaku kesana,maka aku yang akan membawanya kemari!"Teriak ku penuh semangat
"Tunggu Tam...!"Will menahan ku,namun ku gubris omong kosong belaka itu
Aku berlari dengan sepatu dan seragam militer yang lagi lagi kami curi,dengan sebilah belati di pergelangan kaki ku sebelah kiri dan beberapa granat yang aku bawa
"Ayo manusia, majulah!"Teriakku
Para zombie itu memalingkan wajahnya mereka yang sudah tak berbentuk,mulut mereka mengeluarkan cairan hitam yang amat kental nan pekat,dan bau badannya,bahkan lalat tak akan hingga
Mereka berlari dengan kaki kaki busuk mereka,tulang tulang yang mulai rontok membuat badan mereka sedikit condong
"Bagus,ayo lebih dekat lagi"Gumam ku sembari tanganku menyiapkan sebuah ledakan besar
mereka mulai berkumpul di satu titik,aku mulai bersiap untuk rencana ini,aku yakin kegagalan tak mungkin gagal, karena karakter utama tak mungkin gagal,dan aku adalah karakter utama didalam hidupku sendiri
"Majuu!"
Aku melemparkan granat ke arah para mayat hidup itu berkumpul,lalu ku berlari ke arah samping dan bergerak maju mendekati sang wanita berpakaian putih itu
"Duuuaarrr"
Granat itu meledak dengan begitu kencang,memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya
Tak lama potongan potongan tubuh itu terbang kemana-mana, melepaskan diri bagaikan puzzle yang dibanting
Darah mereka menetes bagaikan hujan,rintikan darahnya menetes hingga wajah ku
"Hei...Hei Apa kau masih hidup?"Tanya ku kepada wanita itu
Ku pegang nadi di tangannya,aku masih merasakan sedikit denyut nadi,aku menggendongnya di belakang punggung ku,menembus asap asap hitam bekas ledakan sebelumnya
Mobil milik Will sigap,ia langsung membanting gas hingga asap hitam keluar dari belakang
"Cepatlah!"Teriakku
Namun tanpa ku sadari,satu Zombie masih mengejar kami, langkah kakinya begitu cepat nan sigap,aku terkejar
"Will cepatlah!"Teriak ku lagi
"Diamlah!"Racau Will
Zombie itu melompat ke arah belakang tubuh ku,dengan ini aku berpikir bahwa ini adalah akhir dari perjalanan ku
Namun sebuah peluru meremukkan tengkorak zombie itu, saat ku lihat ke depan,geta lah yang menembakan peluru itu
"Kerja bagus Geta...Kau Malaika ku"Candaan ku kepadanya
"Ayo cepat naik!"Perintah Will
Aku langsung melompat ke dalam mobil,dengan wanita yang berhasil aku selamat kan.
*****
"Annita kau harus bisa memusnahkan mereka...Mereka adalah dosa ayah...Hasil dari tangan kotor ayah...Apa kau bisa menebus dosa ayah ini"
Mata wanita itu terbuka,aku bisa merasakan nafasnya yang tak beraturan
"Hei...Apa kau baik baik saja?"Tanya ku dengan senyuman manis
"Siapa kau...Dimana ini?"Wanita itu malah menanyakan hal lain,ya mungkin wajar saja,namun bagaimana ia bisa tergeletak di tengah jalan?
"Tenang saja...Aku yang telah menyelamatkan mu,jadi anggaplah aku sebagai pahlawan mu... Lalu kita di dalam bank"Jawab ku
"Bank?...Apa yang kau bakar itu adalah...Uang?"Tanya wanita itu
"Cik...Itu tak penting, siapa namamu?...Lalu apakah kau berasal dari lab itu?"Tanyaku dengan tatapan mengancam
"Namaku Annita...Ya aku memang berasal dari lab,ayahku yang sudah membuat mereka menjadi seperti ini"Jawab wanita itu tanpa keraguan sedikitpun
"Hei... Katakan apa rencana kalian sebenarnya?"Dengan Emosi Will mengangkat bahunya hingga tubuhnya ikut terangkat
"Tenanglah Will...Ingat apa rencana kita"Jawab ku menengnangkan wanita iblis itu
"Jika aku memberi tau kepada kalian,apa kalian akan membantu ku?"Tanya wanita itu tanpa perasaan bersalah sedikitpun
"Apa rencana kalian?"Tanya Geta menyahut Annita
"Sebenarnya rencana ini bukanlah menjadikan manusia menjadi mayat mati yang kalian lihat sekarang"
"Lalu apa?"Potong Will dengan begitu kasar
"Genosida"Jawab wanita itu langsung pada point pertanyaan
"Genosida...Apa maksudnya?"Tanya ku penuh kebingungan,aku paham apa maksud dari genosida namun jangkauannya terlalu luas untuk dijadikan sebagai sejarah...Bahkan melebihi holocaust
"Jika aku lanjutkan,apa kalian mau membantu ku?"Tanya Annita dengan pertanyaan yang sama
"Apa yang harus kami lakukan?"Tanya ku balik
"Jika aku mengaktifkan suar di lab tempat Virus itu diciptakan,semua manusia yang sudah terinfeksi akan musnah seketika,disaat itulah Genosida selesai,lalu kalian yang selamat,bisa menikmati dunia ini dengan bebas"Jelasnya dengan nada antagonis
"Apa kau sudah gila?...Kau membunuh semua kelas kami,lalu kau tiba-tiba muncul menjanjikan kebebasan pada kami?...Dimana pikiran mu profesor!!"Bentak Will
Will memiliki pengalaman terburuk diantara kami bertiga,ia harus membunuh adik satu-satunya yang selalu ia rawat,orang tuanya pergi entah kemana, meninggalkan mereka di kota yang amat keras
"Aku tau itu...Aku adalah seorang pembunuh... Mungkin aku pantas mati...Namun ini bukanlah keinginan ku...Ini adalah keinginan ayah ku...Aku selalu dicuci otaknya oleh orang itu,bahkan disaat ia mati... Dia membebankan dosanya kepada ku"Jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca
Aku sedikit iba melihatnya,jika dipikir-pikir satu satunya jalan hanyalah mengikuti rencananya,jika semua manusia mati makan akan kembali ke peradaban sebelumnya.
"Baiklah....Aku akan membantumu"Ujar ku tanpa keraguan menyelimutiku
"Jika Tama yakin,aku akan yakin"Susul Geta
Will masih berpikir keras,namun tak lama dia mulai berbicara
"Aku akan ikut"Jawabnya lemas
*****
Surya mulai tenggelam, diakhiri dengan munculnya sang purnama
Malam itu begitu sunyi,kami berempat duduk memutari api unggun yang kami buat dengan segepok kertas di bank, merencanakan semuanya,satu demi satu langkah,tak lupa mendengar alasan Annita sang keturunan dari sang dalang dibalik semua ini
"Lalu bagaimana...Apa kau yakin dengan rencana ini?"Tanyaku meyakinkan Annita
"Tentu saja...Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh,tak ada cara lain"Jawab Annita dengan yakin
"Baik jika kau yakin,toh kalau gagal kita hanya mati"Jawab ku
"Sesuai dengan rencana sebelumnya,Aku dan Annita akan bergerak di depan,lalu Will dan Geta akan melindungi kami dari belakang"Jelas ku
"Baiklah"Jawab mereka bertiga serentak
Kami mulai mengepak semua selongsong peluru, dengan senjata api dan pisau di tangan kami, Mobil putih Will yang tak bosan bosannya ku pandangi mulai bergerak,menembus mayat mayat hidup yang masih bisa bergerak di malam hari
"Sekarang!"
Selongsong peluru mulai berjatuhan dari senjata hitam ini, suaranya memekikkan malam yang begitu sunyi
Laju mobil Will semakin kencang, hingga angin terasa menampar pipi kami
"Itu gedungnya,menara tinggi itu,kita harus menghidupkannya"Ujarnya
"Ahhh, eratkan gengaman kalian,jangan sampai kalian mencium aspal itu"
Mobil putih miliknya terus dipacu, hingga menabrak pintu kaca lab.
"Bergegaslah"Teriak ku
Aku sembari menggandeng tangan Annita yang terasa dingin berlari menuju tombol suar itu berada
Langkah kami begitu berbeda,Kaki Annita kurang mengimbangi langkah kaki ku,ia tertinggal
"Cepatlah Annita"Teriak ku
Nafasnya sudah menggebu-gebu tak beraturan,Para zombie itu terus mengejar kami, selongsong peluru emas terus ditembakkan oleh Geta,suaranya memekakkan telinga ku
Mobil putih milik Will berhenti bergerak,di tengah ruangan itu,Geta satu satunya orang yang memegang senjata tak berhenti melepaskan setiap peluru yang ia masukkan
"Cepatlah Tama!"Teriakannya
Aku sudah bisa melihatnya,tombol merah yang terpasang di tengah tengah besi
"Itu dia, cepat!!"
Aku semakin menguatkan tenaga ku,Aku bopong tubuh Annita,lalu melemparkannya ke arah tombol itu berada
"Cepatlah Annita!!!"
Annita dengan tangannya yang kecil menekan tombol merah itu,tiba tiba saja,suara gemuruh terdengar dari berbagai arah,terasa amat kuat hingga mampu menggetarkan ruangan ini
"Will Geta kita ber..."Saat aku membalikan tubuh ku,perasaan ini tiba tiba kandas
Tubuh Will dan Geta bagaikan gula yang dihinggapi puluhan semut,satu persatu tubuhnya koyak seperti kertas yang disobek
"Will?...Getaa!!!"
Aku terbangun dengan nafas yang aneh,aku tersadar dengan selimut yang masih menempel di setengah tubuhku
"Haaah....Mimpi buruk lagi...Kau mengganggu ku tidur"Racau ku
Aku beranjak dari tempat tidur ku,membuka gorden putih yang terpasang di belakang jendela
Sinar matahari yang begitu terik menembus hingga membuat mataku begitu silau,hingga aku tak bisa lagi melihat adikku yang sedang memakan orang tua ku sendiri.